Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Tanggapan Untuk Pihak Yang Kontra Sinetron Omar (Umar bin Khattab)

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 22 Agustus 2012 | 20.10


Ramadhan baru berlalu. Apabila anda memperhatikan dengan teliti, selama Ramadhan kemarin ada sebuah stasiun televisi yg menayangkan acara ‘sinetron’ dengan judul “Omar”. Omar yg dimaksud di sini adalah Umar bin Khattab, salah seorang sahabat Rasululloh SAW yg menjadi khalifah ke-2 usai Abu Bakar Shiddiq, usai wafatnya Rasululloh SAW.
Saya, terus terang, tidak mengikuti dari awal. Hanya sempat melihat beberapa adegan saja. Hal ini dikarenakan istri saya lebih suka menonton “Para Pencari Tuhan”. Namun, saya melihat sinetron ini sebagai tayangan alternatif selain PPT.
Dari beberapa teman, saya dapatkan info bahwa sinetron Omar ini sangat bagus ceritanya. Terutama untuk mengenal lebih dekat sahabat Umar, seorang pemimpin yg barangkali sudah jarang kita temui (atau malah tidak ada). Karenanya saya merasa pemimpin seperti inilah yg dibutuhkan kaum muslim sekarang, bukan sekedar agamanya saja yg Islam tapi kelakuannya korup. ;-(
Tapi, tak dinyana, saya temukan juga komentar yg mengecam dan tidak menyetujui sinetron Omar ini. Beberapa alasannya:
1. Memvisualisasikan sahabat.
2. Sinetron ini dikhawatirkan akan merembet ke sinetron lain dg tema yg (dinilai) lebih membahayakan, seperti sinetron Nabi&Rasul yg lain, yg ujung2nya akan mengarah ke sinetron ttg Rasululloh SAW.
3. Adegan2 jahiliyah dalam sinetron dikhawatirkan akan ditiru.
4. Adanya maksiat dalam sinetron tersebut.
5. Para aktor dan artis memerankan adegan maksiat/jahiliyah dalam sinetron tersebut, merupakan tindakan yg maksiat juga. Bahkan bisa menjurus ke kafir.
6. Penafsiran penonton yg salah terhadap visualisasi para sahabat (seperti masalah jenggot, dsb).
Tanpa mengurangi rasa hormat dan kekhawatiran yg dirasakan oleh orang2 yg mengecam dn kontra dg sinetron Omar ini, saya justru melihat kebalikannya (dari sudut pandang yg berbeda).
1. Tidak ada larangan memvisualisasikan sahabat. Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada larangan untuk memvisualisasikan sahabat dalam bentuk apapun. Bahkan kita bisa melihat visualisasi wajah Ali bin Abi Thalib. Bahkan saya juga sering melihat ‘wajah’ Ali bin Abi Thalib diperjual belikan di beberapa toko buku.
Untuk sahabat yg lain, terus terang saya jarang melihat gambar mereka.
Jika memang sahabat dilarang untuk divisualisasikan, maka seharusnya film Ar Risalah juga dilarang, karena di sana ada banyak visualisasi. Hamzah, paman Nabi, lalu Khalid bin Walid, Bilal juga diperlihatkan di sana. Jadi, alasan visualisasi sahabat, menurut hemat saya, tidak cukup kuat utk melarang sinetron Umar.
Saya malah berpikir, jika visualisasi sahabat dilarang, maka adegan Khalid bin Walid berperang melawan kaum kafir akan menjadi ‘berlebihan’, karena yg terlihat adalah bayangan Khalid menebas dan membunuh musuh2nya. Jangan2 nanti anak-anak berpikir Khalid bin Walid seperti Satria Baja Hitam atau ninja karena bisa membunuh musuhnya dg bayangan saja? Heheheh.. :-)
2. Alasan kedua ini juga terlalu lebay (istilah jaman sekarang untuk hal2 yg terlalu berlebihan tanpa ada dasar yg jelas). Jika sutradaranya benar2 Islami, maka dia tidak akan sembarangan untuk membuat sinetron2 terkait Nabi dan Rasul, apalagi Rasululloh SAW. Hal yg sama, seperti saya tulis di poin 1, film Ar Risalah juga mestinya dilarang, karena menceritakan kehidupan Rasululloh SAW. ;-)
3. Kenapa mesti mengkhawatirkan orang2 akan meniru adegan2 jahiliyah yg ada di sinetron? Tanpa melihat saja, kita sudah bisa melihat begitu banyak adegan jahiliyah yg dilakukan. Betapa banyak orang menyembah berhala2 modern, berupa uang, jabatan, dan hal2 lainnya. Orang2 jaman sekarang, saya yakin, insya ALLOH lebih cerdas. Mereka tidak akan sembarangan meniru, apalagi hal2 yg jelek.
Justru yg mestinya lebih diperhatikan adalah adegan2 di sinetron2 yg ditayangkan di stasiun2 televisi Indonesia. Adegan jahiliyah yg ditayangkan justru lebih mengerikan dan membahayakan daripada adegan jahiliyah di sinetron Omar. ;-)
4. Sama seperti poin 3, saya melihat adegan2 maksiat di sinetron Omar justru merupakan REALITA di jaman jahiliyah. Justru yg mesti dipikir bahwa Islam menghapus dan melarang tindakan2 jahiliyah dan maksiat. Ini kok malah berpikir sebaliknya? ;-)
5. Namanya juga akting. Selama para aktor dan artis (yg beragama Islam) memang tidak benar2 melakukan adegan maksiat/jahiliyah dalam kehidupan sehari2, ya tidak masalah. Lagipula, adegan mabuk misalnya, ya tidak perlu dg benar2 minum minuman alkohol atau minuman yg memabukkan kan?
Jika yg dikhawatirkan adalah ucapan2/dialog2 yg menghina Rasululloh SAW/Islam/ALLOH SWT, maka yg mestinya diperhatikan adalah begitulah tindakan/peristiwa yg terjadi saat itu. Ketika seseorang belum mendapat hidayah, maka kebencian terhadap ALLOH SWT, Islam, dan Rasululloh SAW akan terlihat sedemikian nyata.
Dan bagi para aktor dan artis mesti diingat, bahwa dialog2 itu hanyalah film semata, jangan sungguh2 dilakukan dg hati dan perasaan, karena saya setuju dan paham ttg kekhawatiran para aktor dan artis menjadi kufur juga di hadapan ALLOH SWT.
Bagi saya, sudah banyak perbuatan maksiat/jahiliyah/menjurus ke kufur yg dilakukan tanpa perlu menonton sinetron ini. Jadi, tidak perlu terlalu khawatir.
6. Penafsiran yg salah terhadap sahabat bisa dikurangi dengan memberikan penjelasan singkat, entah itu di awal film, pertengahan, atau di akhir film. Lagipula, namanya juga penafsiran terhadap wajah atau bentuk fisik sahabat, menurut saya tidak perlu dipermasalahkan. Bukan hal yg penting/esensi. Justru mestinya perilaku para sahabat yg mesti dikedepankan.
Intinya, saya tidak sependapat dg orang2 yg khawatir dengan ‘ancaman’ dan bahaya yg muncul dari sinetron Omar ini. Justru saya melihat pembuatan sinetron Omar ini sebagai upaya untuk memperkenalkan dan mendidik anak dan generasi muda mengenai sahabat2 Rasululloh SAW.
Dengan kemajuan jaman dan teknologi, maka perlu dipikirkan cara dan metode dakwah yg bisa diterima oleh masyarakat (dan generasi muda). Tentu saja dalam batas2 kewajaran. Tidak perlu membuat film ttg sahabat Rasululloh SAW dg kostum seperti Satria Baja Hitam atau Power Ranger. Justru, cukup dibuat sinetron2 seperti Omar ini, yg memperlihatkan kelebihan2 para sahabat tersebut.
Setidaknya dg sinetron2 seperti ini, generasi muda bisa mengenal para sahabat dan bisa mengurangi (sedikit) dampak budaya yg tidak Islami yg disebarkan oleh para musuh Islam dg program ghazwul fikrinya.
Yang saya sesalkan, orang2 yg kontra dg sinetron Omar ini TIDAK MEMBERI SOLUSI bagaimana cara memperkenalkan para sahabat kepada generasi muda. Hanya bisa mengkritik saja. ;-)
Semoga berguna.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

setuju

Anonim mengatakan...

Saya setuju sekali sama coment di atas,masyarakat sekarang sudah terlalu banyak di cekoki sinetron2x yg merusak dampaknya anak2x sangat terasa...saya berharap lebih banyak sinetron2x islami khususnya kisah2x para sahabat agar anak2x kita juga punya kebanggan akan Islam dan punya figur yg bisa di contoh

Anonim mengatakan...

coba di gugling sejenak,,,ada beberapa artikel yang menjelaskan kenapa dilarang memvisualisasikan sahabat...

Posting Komentar