Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Everlasting Ramadan

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 30 Agustus 2012 | 06.57


tulisan ini dibuat semata-mata untuk pengingat diri. rangkuman dari beberapa kajian Sh. Yasir Qadhi, Sh. Abdul Nasir Jangda, Ust. Nouman Ali Khan, Sh. Omar Suleiman, dan Ustadzah Yasmin Mogahed. semoga menjadi tadzkirah (pengingat) bagi kita semua :)


"Make your whole life like Ramadan, and Death will greet you like Eid" -Young Muslims


Banyak yang berucap "Subhanallah ngga kerasa Ramadan sudah selesai, ngga kerasa sudah Idul Fitri aja".
Dan nanti pun di akhirat semua akan berucap yang sama tentang hidup ini "Ya Allah, serasa saya hidup baru sehari atau setengah hari tiba-tiba sudah hari kebangkitan". Ramadan telah pergi, tidak tau kita kan jumpa lagi atau tidak. Tapi kita tentunya memohon pada Allah agar umur kita sampai pada Ramadan tahun depan dengan persiapan terbaik dan 11 bulan kedepan menjadi bulan-bulan yang barokah.

Ada dua macam golongan yang sedih ketika Ramadan pergi. Golongan yang pertama adalah mereka yang sangat teramat menikmati Ramadan, merasakan indah-manisnya bulan Al-Quran, dan golongan yang kedua adalah mereka yang merasa tidak maksimal beribadah di bulan Ramadan, merasa tidak mendapatkan apa-apa dari Ramadan. Sama-sama sedih tapi nilainya berbeda.

Golongan manakah kita?

Yang manapun golongan kita, ada hal yang tidak boleh dilupa. Bahwa baik di bulan Ramadan ataupun Syawal sekarang ini, kita menyembah Tuhan yang sama: Allahu Al-Kariim. Ya, kita tentunya tidak menyembah Ramadan, maka di luar Ramadan pun stamina ibadah kita pun (seharusnya) sama. Namun, inilah berkahnya Ramadan: betapa Allah mudahkan kita beribadah di bulan suci tersebut. Baca Quran dan Qiyamul Lail terasa lebih ringan dan nikmat, terlebih lagi di 10 hari terakhir i'tikaf. Tiada banding sejuknya saat-saat itu. Bahkan kalo boleh request, kita ingin malaikat Izrail menjemput kita di kala itu. Maka memang diakui oleh para ulama bahwa Ramadan adalah saat-saat mewah dalam ibadah, begitu mudahnya kita mengekang kemalasan. Di luar bulan itu? Adalah wajar ketika ibadah kita tidak sebaik di bulan Ramadan. Syaitan sudah dapat free-access untuk menggoda kita. Perjuangan kita lebih berat. Maka kita harus kuatkan lagi niat dan motivasi kita, dan berdoa lebih kencang lagi. Ramadan selesai bukan berarti Allah mengurangi Kasih Sayang-nya. Ampunan Allah tidak terbatas, meluas, tak terbayangkan!

Terus gimana dong?
Entah, setiap saya denger kajian pasti ustadz/syaikh-nya menyebut hadits ini :

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’(HR Muslim)
Ini reminder keras bagi saya (terutama), karena atas kehendak-Nya sering banget dapet nasihat ini, SubhanaLlah. Ketika Ramadan pergi, ambillah beberapa kebiasaan baik (jika tidak mampu semuanya) di bulan Ramadan yang bisa kita teruskan di Syawal (dan bulan selanjutnya). Lakukan walau kecil dan istiqomahlah! Misal, yang tadinya tidak shalat tepat waktu, maka bawalah kebiasaan itu setelah Ramadan terutama Shubuh. Yang suka tidur ba'da Shubuh, please please please hilangkan kebiasaan ini, sungguh barokah pagi itu tak tergantikan. Yang sebelum Ramadan tidak terbiasa baca Quran, dan di bulan Ramadan mampu khatam sekali, maka setelah Ramadan bawalah kebiasaan itu walau hanya 10 menit per hari. Yang udah suka baca Quran, mulailah mempelajari tafsirnya (sekalian promosi podcast Bayyinah, kajian tafsir oke punya, bisa download disini http://bayyinah.com/podcast/category/juz_amma/) sembari menghafal beberapa surat pilihan. Yang tadinya hobi nonton film 3 kali sehari, setelah Ramadan kurangilah dan perbanyak baca Al-Quran. Yang tadinya pacaran, di bulan Ramadan off, maka lanjutkan off-nya atau nikah aja sekalian di bulan Syawwal. Please, kita lebih suka hubungan yang dicintai Allah kan? Ingat, kerja utama syaitan itu adalah senantiasa membuat manusia memandang indah setiap dosa/kelalaian/maksiat :)  Jangan sampai kita berada di titik yang sama ketika setelah dan sebelum Ramadan. Ibarat kita melompat, meninggi, kemudian jatuh lagi di titik semula. Sungguh menyedihkan kalau kita bisa tarawih setiap hari di bulan Ramadan 8 rakaat, namun 11 bulan kedepannya kita tidak qiyamul lail/tahajud/witir walau hanya 2-3 rakaat.
Adakah kini bekas Ramadan di hati kita? Tunjukkan pada Allah, bahwa kita sedang berusaha menuju derajat taqwa.

Bagaimana kalau kita termasuk golongan yang menyesal karena tidak maksimal di bulan Ramadan?
Sekali lagi, Allah yang kita sembah di Bulan Ramadan, sama Maha Pengampun dan Penyayang-nya di luar bulan Ramadan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Dan jangan batasi Kasih Sayang Allah hanya di bulan Ramadan. Pintu taubat senantiasa terbuka kalau kita mau mengetuknya. Masalahnya syaitan senang sekali membisikkan "yaudahlah, Ramadan kemarin ancur, udah ga ada harapan. lanjut aja deh dosanya". Sekali kita nurut si syaitan , bisa-bisa bulan-bulan berikutnya jadi nightmare buat hati kita yang aslinya pengen deket sama Allah. Kita berlindung pada-Nya dari godaan syaitan yang terkutuk.

Satu hal lagi.
Kita sering lupa atau secara tidak sadar meng-underestimate doa.
Kemudahan kita di bulan Ramadan beribadah itu terjadi semata-mata atas izin Allah. Tidak mungkin kita bisa puasa, tarawih, qiyamul lail, membaca Quran tanpa kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita lemah banget kan ya? Dan memang Allah tidak butuh sedikitpun ibadah kita. Kita yang butuh. Karena Dia Yang Menciptakan dan Mengurus kita dari lahir sampai gede kayak sekarang ini. Dia pula yang Maha Tahu apa yang terbersit di hati ini.
So, jangan sombong atau merasa bangga atas apa yang kita capai di Bulan Ramadan. Sekalinya ada rasa bangga, hancurlah sudah amalan-amalan kita. Sebaliknya kita terus berdoa dan berdoa agar kita senantiasa dimudahkan untuk taat, untuk ibadah, untuk bersyukur, dan untuk terus berdzikir pada-Nya. Memohon pada-Nya dari godaan syaitan, cobaan akhir zaman, dan bisikan hawa nafsu yang udah ngga karuan seandainya Allah tidak menolong kita.

Mari bercermin dari para sahabat Rasulullah saw. Mereka merindukan Ramadan teramat sangat dan berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan Ramadan sejak 6 bulan sebelumnya. Dan 6 bulan setelah Ramadan mereka tetap berdoa memohon agar segala amalan Ramadan diterima oleh-Nya. Subhanallah.

***

Akhir kata, kita mohon pada Allah agar diberi umur yang barokah sampai kita bertemu lagi dengan Ramadan 1434 H. Semoga kita tercatat dalam orang-orang yang bertambah ketaqwaannya, dan 11 bukan ke depan ini menjadi bulan penuh barokah, penuh ketaatan dan kecintaan pada-Nya. Aamiin Ya Robbal 'Aalamiin.

Wallahu a'lam bish shawwab.


P.S. di sela doa, semoga kita tidak lupa untuk menyebut saudara-saudara kita di Palestina, Burma, Syria, dan belahan bumi mana pun yang sedang diuji oleh Allah. Titip doa juga untuk si penulis note ini agar dapat mengamalkan apa yang dia tulis. Jazaakumullahu khayr.



Referensi
"Seeking the Pleasure of Allah Outside Ramadan" - Yasmin Mogahed and Sh. Omar Suleiman
(http://olrserenity.podbean.com/2012/08/21/seeking-the-pleasure-of-allah-outside-of-ramadan-w-sh-omar-suleiman/)
"How to keep the spirit of Ramadan going" - Shaykh Abdul Nasir Jangda (http://www.youtube.com/watch?v=FXF9Rzdyu-U&feature=player_embedded)
"Everlasting Ramadan" - Sh. Yasir Qadhi (http://www.youtube.com/watch?v=1pbeP8rm4hc)
"Blessed Guest - Ramadan and the Quran" - Ustadh Nouman Ali Khan
(http://www.youtube.com/watch?v=1ygnuE_Y-dQ)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

There's no right or wrong technique to make a website. We've
web pages in connection with a real specific
niche market plus internet sites upon totally not related goods.
It’s truly under your control that manner you want to
head out. One point though…you recommend Digg, exactly why do
spent cash possessing a .net.. I’ve always wondered
detail ended up being significant. A remedy is magnificent!
Here is my site - Criminal Record

Posting Komentar