Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Memahami Politik

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 31 Januari 2013 | 16.10

Dahulu pernah sebagian orang memahami makna politik itu jahat dan kotor.Tapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tidak lagi ditemukan istilah jahat dan kotor . Yang ada 3 makna (1) Ilmu pengetahuan mengenai ketata negaraan (2) Segala urusan dan tindakan, misalnya kebijakan, siasat, dsb. (3) Kebijakan dan cara bertindak menghadapi suatu masalah, termasuk masalah perdagangan (h.694).

Dengan melihat pengertian yang baru tersebut, tergambar derngan jelas bahwa istilah “ busuk “ itu, tidak ditemukan. Kemungkinan jika ada, hal itu karena kebijakan seorang politikus dalam sesuatu. Semisal meniru ala Machiavelis yang menghalalkan semua cara untuk mencapai tujuan. Dusta, sogok menyogok dan korupsi.Kalau salah dari tiga itu dilakukan, pastilah terdapat ada ke -busuk- an yang tercium dalam masyarakat. Kalau kebijakan “ busuk “ menjadi syarat, maka bukan hanya politikus yang berbuat seperti itu, tapi termasuk sebagian instutusi semacam perguruan tinggi negeri atau perusahaan negara juga melakukan. Sehingga istilah KKN yang menjadi ciri perjuangan reformasi, dilakukan dengan terang-terangan oleh lembaga negara.Misalnya hanya famili atau kelompoknya yang dapat menguasai lembaga yang dipimpinnya turun tenmmurun.

Namun kita tidak ingkari, bahwa akhir-akhir ini sesuai pemberitaan media massa, kebusukan sebagian kalangan eksekutif, yudikatif dan legislatif, terasa baunya dimana-mana. Akibatnya, konotasi busuk bagi politikus kembali menjelma, sekalipun tidak ditemukan lagi dalam Kamus Besar. Hal itu lebih diperburuk karena sebagian caleg-caleg baru, bermunculan menggunakan ijazah palsu, salinan kartu penduduk orang yang sudah meninggal dan penggunaan politik uang, dalam mencapai tujuan, padahal baru mau dipilih.(Atagfirullah !).

Makna politik :Sekalipun dalam Kamus Besar tidak terlihat lagi ada makna jelek atau busuk, namun sesuai kenyataan diatas, maka banyak pemain politik atau penguasa dan penegak hukum memperlihatkan kebusukan dirinya dalam masyarakat.

Sekedar untuk menyegarkan pemikiran, pendapat pakar politik memang bervariasi. Dalam buku Ilmu Politik karya I.K.Syafiie dikatakan, jika sarjana hukum menulis tentang politik, maka yang bersangkutan akan mengaitkan dengan berbagai peraturan, jika ia seorang administrator, maka ia akan menyuguhkan bagaimana pelayanan, sedang jika ia seorang politikus, maka perhatiannya adalah kekuasaan.

Untuk mematok mana pemerintahan dan politikus yang jelek (busuk) dan baik (harum) keputusan penilaian, adalah kitab suci Al-Qur’anlah yang berasal dari Tuhan,paling tepat.Apalagi Muhammad SAW, pembawa Al-Quran, disebut penyempurna semua akhlak yang ada (Liutammima Makarim al-Akhlaq). Demikian cara menghentikannya.

Politik dalam Bahasa Arab disebut Siyasah (strategi).Dalam Bahasa Inggeris disebut Politicks (cerdik atau bijaksana). Para ahli politik sangat sulit memberikan defenisi yang tepat, diantaranya :

(1) The study of the formation, forms and prosesses of the states and governments, maksudnya ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari asal mula, bentuk-bentuk, proses negara-negara dan pemerintahan (Wilbur White,1947).

(2) Ilmu politik menyelidiki negara dalam keadaan bergerak (Adolf Grabowsky).

(3) Politik berasal dari kata “Polis” yang berarti “ Negara kota”. Diartikan, hubungan khusus antar manusia yang disebut kekuasaan (Robert Dahl).

Dari tiga pakar politik diatas, penulis condong memahami bahwa politik yang berarti Siyasah, adalah strategi dan kebijakan, yang dilakukan seorang Pemimpin (istilah agamanya Imam, Khalifah, Amir, Sultan, Wali, atau Mulk (Raja) atau Rais (Presiden) dalam mengatur negara /masyarakat, baik pemerintahan atau kemiliteran atau dakwah).

Jika pengertian itu yang dipahami, maka betapa banyaknya yang dapat dijumpai kisahnya dalam Al-Quran. Demikian praktek Nabi-nabi, Khalifah dan pemerintahan Islam.

Syarat-syarat Negara:Dalam Ilmu Politik syarat pokok berdirinya suatu negara, ada 4 :

1.Adanya pemerintah.

2.Adanya wilayah.

3.Adanya warga negara.

4.Adanya pengakuan.

Pemerintah atau penguasa adalah syarat mutlak berdirinya suatu negara. Dan pada vigur penguasa itulah lahir semua kebijakan yang terencana yang namanya eksekutif. Sejak dari dahulu tokoh agama, banyak yang berhadapan keberutalan penguasa. Atau tokoh agama itu sendiri yang berubah menjadi pemimpin, setelah melalui ujian berat. Dalam agama Kristen misalnya dikenal pemerintah Pontius Pilatus memerintahkan agar Yesus Kristus disalibkan. Dalam agama Yahudi yang dibawa Nabi Musa menentang pemerintahan Fir’aun, akhirnya diusir bersama pengikutnya, melaksanakan pengembaraan (eksodus) besar-besaran. Dalam agama Islam dikenal Nabi Muhammad sebagai Rasul, juga menjadi pemimpin umat yang beragama Islam, Yahudi dan Nasrani di Medinah, yang melahirkan “Piagam Madinah” setelah 13 tahun berhadapan pemerintahan biadab kaum Musyrikin/Jahiliyah di Mekah.Kemudian dilanjutkan oleh Khalifah al-Rasyidin dan sebagian kerajaan Islam. Sistem terakhir, ada yang baik dan ada yang jelek, karena terjangkiti pengaruh nepotisme.

Sistem politik Amerika :Menurut IK Syafiie, dalam Ilmu Politik, bahwa Rudal yang dibuat itu bukan untuk membunuh binatang, tapi dibuat untuk menghancurkan manusia dan gedung-gedung. Jadi untuk itu Konglomerat Amerika menghendaki agar perang tetap ada, agar manusia tertentu bertekuk lutut.Uni Sovyet seteru nomer satu Amerika hanya tinggal dalam peta sejarah saja.Bersamaan jatuhnya negeri-negeri komunis di Eropah Barat, Uni Sovyet perlahan-lahan ambruk pula.

Bukan rahasia lagi bahwa Yahudi memiliki lobby yang kuat di pemerintahan Amerika Serikat, menyebabkan Amerika tunduk kepada negara kecil ini.

Fakta yang kita sudah lihat, adanya program penghancuran bangsa Palestina tidak terhalang. Demikian Afganistan dan Irak, dengan berbagai dalih yang tidak rasional, terlihat kompak. Maka wajarlah Pemimpin bangsa kita, didepan Kongres Inteleketual Islam se dunia baru-baru ini, menilai adanya ketidak adilan negara adidaya terhadap negeri muslim

Sejalan pula yang dikatakan tokoh-tokoh yang lain bahwa politik Amerika Serikat menanamkan kepada masyarakatnya bahwa tujuan politik Amerika untuk kesejahteraan umum, penegak demokrasi dan HAM serta kedamaian dunia. Tapi apa yang terjadi, justru sebaliknya, Amerika sendiri penginjak-injak demokrasi dan HAM kelas kakap dunia. Inilah yang namanya Politikus busuk, yang menghalalkan segala cara.

Islam & Kenegaraan :Menurut DR.Khalid Ibrahim Jindan, yang mengutip pendapat Ibnu Taimiyah bahwa sunnah atau hadis Nabi memberikan argumen rasional, betapa perlunya ada kepemimpinan dan kenegaraan. Diantaranya : “Bila ada tiga orang melakukan perjalanan, maka selayaknya seorang diantaranya, ada yang menjadi pimpinan “.Selanjutnya :” Enam puluh tahun berada didalam pemerintahan tirani, lebih baik dari pada satu malam tanpa pemerintahan “(Al-Siyasah,1951:174).

Dari dua hadis yang banyak dijiwai isi Al-Quran, tentang perlunya ada “Imamah ” dari rasul-rasul, dapat dipahami, peran politik itu disadari sebagai tugas agama dan kedamaian masyarakat, sekaligus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena dengan sendirinya, diyakini akan lebih mudah mengatur pembagian zakat, penegakkan keadilan, pelaksanaan syari’at, yang akan mengantar lahirnya negara “Baldatuh Tthayibah Warabbun ghafur” (pemerintahan yang adil makmur, damai yang diridhai Allah).

Dalam menegakkan keadilan dan menghentikan kemungkinan adanya praktek kebusukkan maka “amar makruf dan nahi mungkar” harus berfungsi maksimal agar mampu menuju masyarakat tauhid, yang mengakui hanya satu Tuhan, tempat mengabdi sebagai sistem utama (Liya’budun).

Hal itu diproyeksikan dalam setiap awal salat, dengan bacaan “ Bahwa hidup matiku, semuanya untuk Allah semata “. Sedang larangan korup, juga diperingati agar dalam salat “Orang yang suka menyalahi Imam (korup sujud dan ruku’nya) akan dibangkitkan mukanya menjadi muka himar “(HR.Bukhari).

Mengenai penyebab utama timbulnya politikus busuk, jika dalam dirinya telah terkontaminasi kegilaan mencintai dunia (khususnya harta) berlebihan. Istilahnya “Hubbuddun-ya ”(tergila-gila kepada dunia terutama harta untuk turunan ). Pernah dikemukakan Rasul “Jika perutnya dipenuhi emas, niscaya masih mencari lagi perut (untuk dipenuhi), padahal yang akan memenuhi perutnya nanti, adalah tanah (HR.Bukhari).

Akhirnya, cara menghentikan tuduhan politik busuk yang kini marak diperbincangkan masyarakat, yang bagaimanapun disembunyikan, akhirnya berbau juga. tiada lain kecuali bertobat dan bertekad melaksanakan hakikat hijrah, “Menghentikan sifat serakah, kebiasaan berbohong, dan korup dalam salat”. Seorang sufi berkata, jika induk dosa yakni sifat serakah harta dan berbohong menjadi pembalut diri seseorang, maka dosa-dosa lain pasti menyusul dikerjakannya, laksana seekor induk sapi yang menyeberang jalan, anak sapinya pasti menyusul dibelakang induknya, tanpa memperhitungkan kendaraan maut yang akan menabraknya.

0 komentar:

Posting Komentar