Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Penyebab Penyakit Jasmani dan Penyakit Hati

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 05 Desember 2017 | 22.12

📚 Seri Kajian Kitab Ighatsatul Lahfan - Menyelamatkan Hati dari Tipu Daya Setan

*Penyebab Penyakit Jasmani dan Penyakit Hati*

Badan yang sakit adalah yang tidak sehat, kondisinya tidak normal disebabkan oleh terjadinya kerusakan yang merusak indra dan fungsi normalnya. Mungkin kemampuan indranya hilang sama sekali, seperti buta, tuli dan buntung. Atau barangkali berkurang disebabkan oleh kelemahan alat indra, sekalipun masih berfungsi. Atau barangkali tetap mampu mengindra sesuatu, tetapi berbeda dari yang semestinya, misalnya ia merasakan sesuatu yang manis menjadi pahit, yang baik menjadi buruk dan yang buruk menjadi baik.

Contoh kerusakan fungsi normal adalah seperti melemahnya kemampuan mencerna, memegang, mendorong dan menarik, sehingga ia menderita sakit sesuai dengan kadar ketidaknormalannya. Meskipun demikian, ia tidak sampai mati. Ia masih memiliki semacam kekuatan untuk mengindra dan berfungsi.

Ketidak normalan ini disebabkan oleh kerusakan kammiyah (kuantitas) atau kaifiyah (kualitas).

Kerusakan pertama terjadi disebabkan oleh kekurangan unsur sehingga memerlukan penambahan atau karena kelebihan unsur sehingga memerlukan pengurangan.

Adapun kerusakan kedua terjadi karena terlalu panas, terlalu dingin, terlalu basah, atau terlalu kering. Bisa pula karena keempat hal tersebut kurang dari kadar normal, sehingga perlu mendapatkan pengobatan sesuai dengan kebutuhan.

Pangkal kesehatan adalah menjaga stamina, menghindarkan diri dari faktor penyebab sakit dan membuang unsur yang rusak. Perhatian dokter senantiasa berkisar pada ketiga hal mendasar ini. Ketiganya telah terkandung dalam Al-Qur’an dan ditunjukkan oleh “Yang menurunkannya sebagai obat dan rahmat”.

Mengenai penjagaan stamina, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memerintahkan musafir atau orang yang sakit untuk berbuka pada bulan Ramadhan. Musafir akan mengganti puasa apabila telah kembali dari bepergian, sedangkan orang yang sakit menggantinya setelah sembuh. Ini demi menjaga stamina mereka. Sebab, puasa bisa menyebabkan orang yang sakit semakin lemah, sedangkan musalir perlu meningkatkan stamina disebabkan oleh beratnya perjalanan, padahal puasa justru melemahkannya.

Mengenai penghindaran diri dari faktor penyebab sakit, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah melarang orang yang sakit menggunakan air dingin ketika berwudhu dan mandi, apabila hal itu membahayakannya. Allah memerintahkannya agar bertayamum untuk menghindari sakit yang bisa mengancam kesehatan fisiknya. Maka bagaimana pula dengan sakit yang bisa mengancam kesehatan batinnya?

Adapun mengenai pembuangan unsur yang rusak, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memperbolehkan orang yang melakukan ihram, yang ada gangguan penyakit pada kepalanya, untuk mencukur rambutnya. Dengan pencukuran tersebut, uap-uap yang mengganggu kesehatannya akan hilang. Ini merupakan cara pembuangan yang paling mudah dan ringan. Dengan ini, Allah telah mengingatkan kepada cara pembuangan lain yang lebih dibutuhkan.
Saya pernah membicarakan hal ini dengan salah seorang tabib (dokter) terkemuka di Mesir, lalu ia berkata, “Demi Allah, sekiranya saya melakukan perjalanan ke Barat untuk mengetahui faedah ini niscaya itu merupakan perjalanan yang kecil,” atau sebagaimana yang dikatakannya.

Bila ini telah diketahui maka akan diketahui pula bahwa hati itu membutuhkan tiga hal:

1. Sesuatu yang bisa menjaga staminanya, yaitu iman dan wirid-wirid yang dibaca setiap hari.

2. Perlindungan dari faktor-faktor yang membahayakannya. Itu dilakukan dengan menjauhi dosa, maksiat dan pelanggaran.

3. Pembersihan dari segala unsur rusak yang timbul padanya. Itu dilakukan dengan melakukan taubat yang sebenar-benarnya dan memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Pengampun.

Penyakit hati adalah sejenis kerusakan yang terjadi padanya, yang akhirnya merusak penglihatan dan keinginannya terhadap kebenaran. Ia tidak melihat kebenaran sebagai kebenaran, tetapi sebagai kebalikannya atau daya penglihatannya berkurang. Kehendaknya terhadap kebenaran juga rusak, sehingga ia membenci kebenaran yang bermanfaat, mencintai kebatilan yang berbahaya, atau keduaduanya bercampur aduk padanya dan inilah yang terjadi pada umumnya.

Karena itu, kata _al-maradh_ (penyakit), kadang-kadang ditafsirkan dengan _asy-syakk_ dan _ar-rayb_ (keraguan), sebagaimana perkataan Mujahid dan Qatadah dalam menafsirkan firman Allah: _fii quluubihim maradh_ (di dalam hati mereka ada penyakit), yakni: keraguan.

Kadang-kadang kata tersebut ditafsirkan dengan _syahwatuz-zina_ "keinginan untuk berzina”, sebagaimana penafsiran dari firman Allah: _fayathma‘alladzziina fi qulubihim maradh_ “ sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya”.

Jadi, penyakit pertama adalah penyakit syubhat sedang yang kedua adalah penyakit syahwat. Kesehatan bisa dijaga dengan menggunakan hal yang serupa dengannya, sedangkan penyakit bisa ditolak dengan menggunakan hal yang bertentangan dengannya. Penyakit akan semakin kuat dengan adanya hal yang serupa dengan penyebabnya dan akan hilang dengan adanya hal yang bertentangan dengan penyebabnya. Demikian pula, kesehatan bisa dipelihara dengan hal yang serupa dengan penyebabnya serta melemah atau hilang dengan hal yang bertentangan dengannya.

Badan yang berpenyakit akan merasa sakit oleh sesuatu yang tidak menyakitkan bagi badan yang sehat, misalnya sedikit panas, sedikit dingin, sedikit gerakan dan sebagainya. Demikian halnya apabila hati sakit, ia akan terganggu oleh sedikit saja adanya syubhat atau syahwat. Ia tidak mampu menolak ketika syubhat dan syahwat datang kepadanya. Sedangkan hati yang sehat dan kuat ketika didatangi oleh syubhat dan syahwat yang berlipat ganda dari itu, mampu menolaknya dengan kekuatan dan kesehatannya.

Ringkasnya, *bila hati yang sakit terkena oleh sesuatu yang serupa dengan faktor penyebab penyakitnya, niscaya penyakitnya kian bertambah, kekuatannya melemah dan ia akan tercampakkan dalam kebinasaan, kecuali apabila memperoleh apa yang bisa memulihkan kekuatan dan menghilangkan penyakitnya.*

•┈◎❅◎❀🌺❀◎❅◎┈•

✍ *Ighatsatul Lahfan - Ibn Qayyim Al Jauziyyah*

*➡ Repost By*
Rudi Abu azka

*🔍kunjungi my blog:*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🌏https:// abuazkacollection.blogspot.com*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
*🔍Fanspage :*
*🌏https://www.facebook.com/ibnukatsironline/*
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

*Silahkan Bagikan Artikel Ini Dengan Tidak merubah Isi Artikel, Semoga Menjadi Amal Jariyyah*

*وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

0 komentar:

Posting Komentar