Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Bahaya Syahwat Popularitas

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 11 Juli 2012 | 02.23

SYAHDAN suatu hari Imam Abu Hanifah melihat seorang anak kecil bermain-main di lumpur. Ia khawatir jika anak itu, dengan lembut ia menasehatinya, "Wahai Nanda, hati­-hati! jangan sampai engkau jatuh di lumpur itu." Tak disangka, sang anak menjawab dengan bagus, "Wahai Imam, Tuan juga harus berhati-hati, jangan sampai Tuan terjatuh (berbuat salah). Karena jatuhnya (berbuat salah) seorang ulama, berarti kehancuran bagi alam semesta.!" Imam Abu Hanifah takjub dengan nasehat anak yang cerdas ini.

Sejak mendengar nasehat ini, Abu Hanifah tidak segera menjawab pertanyaan jika ada yang bertanya. la tidak tergesa-gesa berfatwa, jika ada yang meminta fatwa dalam suatu perkara, maka Abu Hanifah akan mempelajari perkara tersebut selama sebulan bersama murid-muridnya. Hal ini yang membuat Ibnu 'Abidin, seorang ulama Hanafiyah yang tersohor mengabadikan kisah indah ini dalam masterpiece-nya, "Hasyiyatu Ibnu 'Abidin."

Subhanallah, menakjubkan kehidupan Imam ini. Hari ini, sangat langka mendapatkan ulama seperti Abu Hanifah; tidak gegabah dan sembrono menjawab pertanyaan dan memiliki ketelitian yang sangat tinggi.

Ulama Hari ini dan Umar
Di masa kini, sangat mudah menjumpai orang bicara dan berfatwa dalam urusan agama. Begitu mudah mereka berbicara tentang Islam. Padahal ia tidak memahaminya dengan baik. Berbeda dengan salaf, jika mereka dimintai pendapat tentang sesuatu dalam masalah agama, mereka akan menyarankan penanya untuk bertanya kepada ulama lain. Dalam kitab "Akhlaq Ulama" Imam al-Ajiri meriwayatkan;

Hajjaj bin Umair mengisahkan, "Suatu kali aku bertanya kepada Al-Qomah tentang suatu masalah. Ia berkata, 'Tanyakan kepada Ubaidah'. Akupun bertanya kepada imam Ubaidah, namun ia malah berkata, 'Tanyakan kepada al-Qomah'. 'Justru al Qomah lah yang menyuruhku menemuimu.' Terangku. Imam Ubaidah berkata, 'Kalau begitu, tanyakan kepada Masyruq - ulama tabi'in-.' Aku pun bertanya kepada Masyruq, ia malah menyarankan aku untuk bertanya kepada al­-Qomah, 'Aku disuruh oleh Al Qomah untuk bertanya kepada Imam Ubaidah, lalu Ubaidah memintaku untuk bertanya kepadamu.' Jelasku kepada Imam Masyruq. 'Kalau begitu tanyakan kepada Abdurrahman bin Abi Laila.' Saran Masyruq. Untuk kesekian kalinya aku belum mendapat jawaban. Aku tanyakan masalah itu kepada Ibnu Abi Laila, namun ia tidak suka menjawab. Lalu aku kembali ke Masyruq, ku ceritakan semua yang terjadi. Ia pun berkata, 'Manusia yang paling berani berfatwa adalah orang yang paling rendah ilmunya."


Karena ingin dikenal baik, cerdas, berilmu atau zuhud, tidak jarang seorang ustadz menjawab pertanyaan hanya berdasarkan dugaan, belum mendalami dengan baik. Dalam perdebatan, seringkali seorang aktifis berani menyusun argumen dengan ngawur hanya karena ingin memenuhi syahwat bicaranya, padahal topik yang dibicarakan adalah perkara dien.

Tabi'in As-Sya'bi    berkata, "Sesungguhnya kalian terlalu mudah berfatwa dalam suatu masalah, andaikan masalah tersebut diajukan ke Umar bin Khattab, niscaya ia akan mengumpulkan seluruh veteran Perang Badar untuk dimintai pendapatnya tentang itu."

Salah satu sebab seseorang 'gegabah' dalam berfatwa dan menghukumi sebuah perkara dien adalah karena sudah terlanjur masyhur dan populer. Atau dalam istilah Syaikh DR. Musa AsY-Syarif, "matang prematur," terlanjur dituakan, diidolakan, dikenal sementara ilmunya belumang. la menegaskan, aktifis atau da'i yang 'matang prematur' ini adalah salah satu sebab kehancuran Islam..

Mewaspadai Popularitas
Suatu kali, sahabat Syadad bin Aus menangis. la kemudian ditanya, "Apa yang menyebabkan Engkau menangis?" Ia menjawab, "Karena aku mengingat suatu hal yang pernah kudengar Iangsung dari Rasulullah. Beliau bersabda,'"Yang paling aku khawatiikan menimpa ummatku adalah kesyirikkan dan syahwat yang tersembunyi.'"

Kemudian aku bertanya kepada Beliau "Wahai Rasulullah, apakah umatmu akan berbuat syirik sepeninggalanmu?" Rasulullah menjawab; "Ya, tetapi syiriknya mereka bukan menyembah matahari, bulan, batu, ataupun patung. Tetapi mereka syirik dengan memperlihatkan kepada manusia amal­-amal mereka -agar terkenal baik-. Adapun syahwat tersembunyi adalah, seseorang diantara mereka melaksanakan puasa, di saat puasa ia tergoda oleh syahwat dunia, iapun membatalkan puasanya -untuk memenuhi syahwat dunianya-." (HR. al-Baihaqi)

Cinta popularitas adalah penyakit syahwat yang sangat berbahaya. Salah satu efek orang yang cinta popularitas adalah sangat susah berkata jujur. Orientasinya bagaimana mendapatkan sanjungan manusia. seorang tabi'in yang bernama Ibrahim bin Adham berkata,   
"Orang yang rnencintai popularitas tidak akan bisa membenarkan Allah."

Abdah bin Sulairnan mengisahkan "Aku pernah bersama Abdullah bin Mubarak dalam suatu peperangan disalah satau daerah kekuasaan Romawi. Ketika kami berhadapan dengan musuh, keluarlah jagoan dari pihak musuh mengajak kami untuk perang tanding terlebih dahulu. Maka keluarlah salah seorang dari pasukan Islam, dalam beberapa saat la berhasil menikam dan membunuh musuh tersebut. Lalu keluar lagi seorang' jagoan musuh, ia pun terbunuh di tangan rnujahid itu. Kemudian keluar lagi jagoan musuh, dan nasibnya sama dengan dua kawannya; ia mati ditangan mujahid tadi.

Kemudian kaum muslimin berkerumun di sekitar mujahid ksatria tadi, namun ia menutupi wajahnya dengan kain. Lalu kupegang kainnya, dan kutarik hingga terlihat wajahnya: Ternyata ia adalah Abdullan bin Mubarak. "Wahai Abu Amru, engkau termasuk orang yang menjelekkanku," kata Ibnu Mubarak kepada Abdah bin Sulairnan.

Sungguh para salaf adalah manusia-manusia shalih, berbaur bersama manusia dengan akhlaknya yang mulia. Semua aktifitasnya diorientasikan akherat. Harapannya hanya ridha Allah. Ketakutan terhadap adzab Allah, menjadi pengawas yang membuat mereka selalu khawatir akan keselarnatan dirinya.

Berbeda jauh dengan kebanyakan orang yang diulamakan atau ditokohkan dewasa ini. Cinta popularitas dan senang memiliki pengikut banyak menjadi penghancur kebaikan mereka.

Thalhah bin Muthorrif adalah seorang qari' (ahli al-Qur'an). yang menjadi guru, bagi penduduk Kufah. Mereka belajar al-Qur'an darinya. Ketika ia melihat banyak orang yang berduyun-duyun belajar kepadanya, maka ia mendatangi A'masy lalu memperdengarkan bacaan al-Qur'an kepadanya. Setelah itu orang-orang lebih sering mendatangi A'masy dari pada ke Thalhah.

Demikian khawatirnya Para ulama salaf dalam menjaga hatinya agar tidak tertimpa penyakit riya' lalu menumbuhkan virus baru yang lebih berbahaya, cinta popularitas. Karena mereka sadar, kesudahan cinta popularitas dan riya' sangat menyengsarakan, sebagaimana Allah jelaskan,"Dan Karni hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debiu yang berterbangan." (Qs. Al-Furoon: 23) Nas'alullah al'Afiyah.

0 komentar:

Posting Komentar