Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Ramadhan, Bulan Suci atau Bulan Lawakan?

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 14 Juli 2012 | 16.23

Alhamdulillah, Ramadhan yang dinanti akan segera tiba. Dialah Ramadhan yang teramat Mulia. Posisinya yang tinggi membuatnya disebut sebagai Bulan Yang Agung (sebutan yang tidak pernah disematkan pada bulan yang lainnya), di bulan tersebutlah pahala dari amalan kita dilipatgandakan. Bahkan seperti yang kita ketahui bersama berpuasa di bulan Ramadhan menjadi salah satu dari 5 sendi dalam mendirikan Islam.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Allah akan membalas secara langsung orang yang berpuasa.“Puasa itu untuk-Ku dan Aku langsung membalasnya. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kesenangan, yaitu kesenangan ketika berbuka puasa dan kesenangan ketika berjumpa dengan Tuhannya. Sungguh, bau mulut orang berpuasa lebih harum dari pada aroma kesturi.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Di Bulan Agung ini pula dosa-dosa kita berpotensi besar untuk diampuni, kita coba simak hadits berikut : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dan masih banyak hadits2 lain yang menyatakan kehebatan, keAgungan & keDahsyatan bulan Ramadhan ini yang bisa kita telaah.

Disisi lain harus disayangkan & diakui, seringkali kedatangan Ramadhan hanya menjadi sebuah rutinitas yang tidak menyentuh ruhiyah sama sekali, yang akhirnya ditafsirkan sebagai Bulan special dengan pengertian yang dangkal. inilah Bulan dimana tidak bebas makan dan minum semaunya, bulan dimana sebentar lagi Lebaran Dimana kita harus mempersiapkan kedatangannya dengan membeli baju-baju baru, makanan-makanan lezat nan mewah sehingga akhirnya mendorong harga sembako menjadi tak terkontrol. Membeli baju baru tentu bukan hal yang dilarang ataupun salah, namun jika Ramadhan yang mulia itu hanya diidentikan dengan hal-hal material yang amat kecil itu, tentu amat disayangkan Bukankah memiliki hati yang baru nan bersih lebih utama, bukankah pula memiliki semangat baru untuk membangun kepribadian islami yang kaffah setaun kedepan jauh lebih manfaat. Jadi bahasa diplomatisnya, bo ya Ramadhan itu kita gunakan dulu untuk menempa diri, membina akhlak, memperindah Ruhiyah & menata hati dulu lalu kemudian barulah (kalaupun mau & mampu) kita berbenah secara materi. Berikut adalah salah satu link yang dapat kita jadikan bahan untuk mempersiapkan Ramadhan kali ini : Tentu saja ini sebuah kesempatan istimewa, karena bukan saja bilangan umur kita kian bertambah, tapi juga belaian kasih Ar-Rahmaan akan menghampiri kita lagi.

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, Ramadhan adalah penghulu (pemimpin) dari sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal keistimewaan Ramadhan saja yang akan suka cita bila Ramadhan akan tiba.

Sepatutnya kita harus mempersiapkan diri baik-baik guna menyambutnya. Bagaimana caranya? Langkah-langkah berikut ini barangkali bisa membantu.

1. Mengulangi kembali pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan puasa. Hendaknya kita memasuki dan menjalani puasa dengan pengetahuan, pedoman-pedoman yang baik, serta pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Pelajaran itu bisa seputar rukun, syarat sah, syarat membatalkan, perkara-perkara sunnah dan makruh, serta hikmah yang terkandung di dalamnya.

2. Persiapan ruhani, yaitu menenangkan jiwa dalam menghadapi bulan puasa. Rasulullah dan para sahabat mempersiapkan kedatangan Ramadhan sejak enam bulan sebelum bulan tersebut tiba.

3. Memperbanyak doa sejak bulan ini (Rajab dan Sya’ban), semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kesehatan, tenaga, kelapangan, dan kesempatan mengerjakan puasa. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah supaya kita dapat berpuasa dengan hati yang jujur, tulus dan jauh dari riya’, ujub, dan segala penyakit yang menghilangkan pahala puasa.

4. Menguatkan semangat untuk melaksanakan satu bentuk latihan dengan sempurna agar kita memperoleh predikat sebagai muttaqin (orang yang bertakwa).

5. Siapkan diri untuk menjalankan puasa dengan perkataan dan perbuatan yang baik dengan sepenuh hati serta ikhlas semata-mata karena Allah.

6. Tinggalkan kebiasan-kebiasan yang memberatkan dan merugikan diri, seperti berbelanja berlebihan, tenggelam dalam hiburan, membuang waktu, dan melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan faedah. Hal tersebut justru bertentangan dengan hikmah puasa.

7. Sambutlah bulan puasa dengan cita-cita dan azzam (tekad) yang tinggi dengan memperbanyak ibadah, baik siang atau malam. Ini diperlukan untuk melatih diri dan mensucikan jiwa. Caranya dengan mulai melakukan ‘pemanasan’, yakni dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita sejak bulan Rajab dan Sya’ban.

8. Ucapkan tahniah kepada saudara seiman. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah senantiasa menggembirakan para sahabat saat kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah menggembirakan para sahabat dengan sabdanya, ”Sesungguhnya akan datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati, Allah mewajibkan kamu berpuasa di dalamnya. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu syurga, dikunci semua pintu neraka, dibelenggu semua syaitan. Di malamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebajikan pada malam itu, berartilah diharamkan baginya segala kebaikan untuk dirinya.”

Pembahasan diatas adalah sesuatu yang harus kita perhatikan dan tentu saja menjadi bahan perenungan atau materi pengingat khususnya sekali bagi penulis yang masih berusaha terus menyusun kepingan kebaikan yang berserakan agar dapat melekat kokoh di hati dan menjelma menjadi pribadi muslim sejati yang berakhak mulia. Namun demikian ada satu hal lagi yang membuat hati ini menjadi sedih melihat Bulan Suci Ramadhan diperlakukan. Coba lah anda lihat sekitar anda di Bulan Ramadhan, khususnya lagi layar televisi dirumah anda, coba pindahkan salurannya, semakin dekat waktu berbuka dan di waktu Sahur coba pindah-pindah lagi….monoton bukan. Hampir semua menayangkan lawakan+kuis dengan hadiah berlimpah. Tentu saya tidak ingin menutup mata bahwa benar, ada juga stasiun televisi yang menyiarkan acara yang cukup bermutu, tapi toh itupun sedikit sekali rasanya. Sangat sangat sangat disayangkan…Bulan yang seharusnya penuh hikmah & perenungan ini diselewengkan oleh beberapa pihak menjadi Bulan untuk terbahak-bahak dan berfoya-foya. Alasan klisenya adalah : supaya menunggu waktu berbuka tak terasa, dan waktu Sahur tidak mengantuk. Yaaah….klasik banget alasannya.

Seingat saya waktu kecil dulu ,sebelum “lawak Ramadhan” menjamur seperti sekarang, kami sekeluarga & banyak keluarga lain tentunya, sanggup tuh menanti waktu berbuka tanpa harus melihat guyonan-guyonan konyol. Sahurpun kami bisa menyelesaikannya tanpa harus mengarahkan mata ke televisi untuk sekedar menyaksikan hadiah dibagikan sambil si Artis membanyol dengan “lucunya”. Lagipula, bukankah lebih baik merasa lapar lalu bertafakur saat menunggu waktu berbuka daripada menyaksikan lelucon2 yang terkadang cenderung kasar&merendahkan, ataupun terkantuk-kantuk saat makan Sahur daripada melewatinya sambil terbahak-bahak lalu merendahkan ke-Agungan Ramadhan itu sendiri.

Satu hal menarik lainnya sekarang ini para entertainer di televisi mulai berani & semakin berani mengesampingkan rasa malunya tak peduli kapan & dimana dia tampil. Dulu yang saya ingat pada bulan Ramadhan para entertainer & artis di televisi selalu menggunakan pakaian muslim/mah atau yang setidaknya sopan. Walaupun “gaya” tersebut hanya ditunjukan pada bulan Ramdhan, tapi artinya mereka masih menghormati Bulan Suci dan para ”penghuninya”. Sekarang ini? Jangan Tanya, beberapa artis di televisi bukan hanya tidak berusaha sopan, beberapa diantaranya (kalau tidak mau disebut banyak) malah dengan tenang menggunakan pakaian yang mengumbar aurat…alasannya: mau jadi Pribadi yang apa adanya…wow… terkesan luar biasa alasanya, tapi bukankah kita setiap saat harus berusaha menjadi Pribadi yang sesuai dengan Contoh Nabi & Ajaran Agama? Selain itu ada juga tayangan-tayangan standar seperti senetron dan infotaiment(kalau tidak mau disebut “ghibah-taiment”) yang hanya berganti jam tayang. Belum lagi sinetron religi yang sama sekali tidak religi, yaa hanya dengan tambahan kata “Subhanallah”, “Astaghfirullah” dsb. dari para pemerannya dikombinasikan dengan tambahan peran ustad didalamnya, sinetron biasa pun dapat berubah status menjadi “religi”. Tentu masih banyak tayangan lain yang tidak dapat kita bahas satu persatu semacam tayangan Syirik berbau religi dsb..

Tulisan ini tentu tidak bertujuan untuk menyerang apalagi merendahkan pihak tertentu, tulisan ini hanya sebuah bahan renungan yang mungkin…hanya mungkin, bisa mengajak kita untuk memposisikan Ramadhan di tempat yang layak dan terhormat. Mari kita pelajari lagi bagaimana Rasulullah saw (sebagai sosok utama untuk diteladani) menggunakan waktunya di Bulan Ramadhan, mari kita buka-buka lagi buku kita yang menjelaskan tentang dahsyatnya Bulan Ramadhan ini. Mari kita pikirkan berapa Juz dari ayat suci Alqur’an yang akan kita baca & tadaburi, berapa kali target kita melakukan Qiyamul lail pada malam-malam di bulan yang Agung ini, dimana nanti kita akan ber-Itikaf (khususnya di 10 hari terakhir), dan juga target kita soal amalan-amalan yang akan kita lakukan untuk memenuhi bulan Ramadhan ini . Nabi saw bersabda :
“Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa yang menjumpai bulan Ramadhan, namun setelah bulan itu habis dan ia tidak mendapat ampunan, maka jika mati ia masuk Neraka. Semoga Allah menjauhkannya. Katakan: Amin!. Aku pun mengatakan: Amin. ” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya) ” Semoga kita diberikan kekuatan, memampuan & kemauan keras oleh Allah swt untuk menjadi Pribadi yang dapat memperlakukan Bulan Ramadhan yang Agung ini secantik-cantiknyam, semulia-mulianya & seoptimal mungkin. Amiin.

0 komentar:

Posting Komentar