Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

MUNGKIN SEBENARNYA TIDAK SEBERAT DENGAN APA YANG DIRASA

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 22 Desember 2010 | 03.41

Setiap manusia semestinya dapat merasakan secara obyektif apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya, rasa kenyamanan atau ketidaknyamanan. Pada umumnya, nyaman dan tidaknya perasaan seseorang tergantung pada faktor penyebab eksternal yang menjadi pemicunya. Akan tetapi terkadang orang juga dapat merasakan kenyamanan dalam dirinya, merasakan rasa aman, tak ada sesuatu yang mengancam, merasakan kebahagiaan tanpa dapat mengidentifikasi faktor penyebab eksternalnya secara pasti. Demikian halnya dengan perasaan gelisah, cemas, dan lain-lain. Adakalanya dapat diketahui pasti faktor penyebabnya, namun seringkali ketidaknyamanan tersebut sanag diri tidak dapat diketahui apa yang menjadi faktor pemicunya.

Demikian halnya ketika seseorang berhadapan dengan suatu persoalan dalam kehidupannya. Boleh jadi persoalan tersebut akan dirasakan olehnya sebagai suatu hal yang sangat membebani diri, memberatkan, sukar dipecahkan, dan menimbulkan ketidaknyamanan. Sementara persoalan yang sama bagi orang lain dirasa sebagai suatu hal yang sepele dan dengan mudah dapat dipecahkan.

Oleh karena itu, kondisi obyektif suatu persoalan tidak secara otomatis dapat menimbulkan kenyamanan atau ketidaknyamanan bagi orang yang mengalaminya. Namun juga ditentukan oleh faktor penghayatan atau respon subyektif individu terhadap persoalan tersebut. Penghayatan subyektif seseorang terhadap suatu masalah dapat dipengaruhi oleh kualitas intelektual, cara pandang terhadap suatu persoalan, tingkat sensitifitas individu dalam merespon rangsangan eksternal, dan sikap terhadap persoalan yang menggambarkan kondisi obyektif batiniah atau mental seseorang.

Sedangkan kondisi obyektif batiniah seseorang, dalam pandangan Islam, ditentukan oleh sejauhmana kesiapan totalitas dirinya dalam menerima dan berserah kepada Allah dengan segala ketentuan dan tata aturan-Nya. Bagi mereka yang bulat keberserahan dirinya kepada Allah, akan diberi petunjuk dan dimudahkan langkahnya. “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (QS, al-An’am [6]: 125) Sebaliknya siapa yang totalitas dirinya tak siap untuk berserah kepada-Nya, maka baginya akan terus-menerus dilanda kesusahan, “Dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS, al-An’am [6]: 125)

Kenyataan ketakutan dan kecemasan adalah perasaan yang lebih merajalela daripada yang disadari oleh kebanyakan orang. Ini lagi-lagi menunjukkan bahwa faktor subyektif sangat menentukan perasaan seseorang tentang berat dan ringannya suatu persoalan yang sedang dihadapi. Banyak persoalan kehidupan manusia dewasa ini semakin berlarut-larut dan menjadi amat berat untuk diiselesaikan dikarenakan didominasi oleh kecemasan tingkat rendah yang konstan. Misalnya, rasa takut yang tidak jelas bahwa sesuatu yang amat buruk bakal terjadi, bahwa kehidupan terus akan bertambah buruk. Dengan sikap subyektif seperti itu orang akan menjadi terkondisi untuk mencari apa pun yang dapat mengurangi kecemasan mereka. Sedangkan dalam pencariannya itu, dengan kecemasan subyektif yang telah mendominasinya, biasanya justru membiakkan persoalan baru bagi dirinya yang menyebabkan terjadi akumulasi persoalan.

Secara psikologis optimisme menjadi pintu pertama menuju penyelesaian masalah walaupun secara real masalah itu sendiri belum teratasi. Kondisi jiwa yang diliputi optimisme akan melahirkan keceriaan Ibrahim bin Adham menuturkan tentang suasana hati yang penuh keriangan dan keceriaan yang dialami sepanjang hidupnya, "Kami hidup dalam suasana bila raja-raja itu tahu maka mereka akan menggorok leher kami dengan pedang mereka.".

Akhirnya, orang-orang yang telah diberi hidayah dikarenakan totalitas dirinya telah menerima dan berserah kepada Allah dengan segala ketentuan dan tata aturan-Nya, dalam menghadapi kegawatan dan kedahsyatan yang paling gawat dan dahsyat pun, ia tetap tidak mengalami kesusahan. Mereka mampu menghadapi situasi paling kritis tanpa harus cemas dan khawatir. “Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh Para malaikat. (Malaikat berkata): "Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu". (yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran - lembaran kertas. sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama Begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; Sesungguhnya kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS, [21]: 103-104). Wallahu A’lam.

0 komentar:

Posting Komentar