Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Kesombongan Orang Yang Berharta Dan Berilmu

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 01 Maret 2011 | 08.05

"Qarun berkata, 'Sesungguhnya aku diberi harta ini hanya karena ilmu yang aku miliki.'" (QS Al-Qashash: 78)
Dalam menanamkan sebuah nilai, Al-Qur'an sering menggunakan kisah-kisah masa lalu, baik kisah seorang tokoh yang shalih maupun yang jahat. Tujuan diceritakannya kembali peristiwa itu adalah untuk ibrah, pelajaran bagi mereka yang mau mengaktifkan alah fikirannya.
Di antara tokoh jahat yang paling banyak diulang-ulang dalam al-Qur'an adalah Fir'aun. Dia adalah seorang tiran, yang menindas rakyatnya dengan sangat kejam. Dia bahkan mengaku sebagai Tuhan.
Tentu saja aksi Fir'aun ini tidak dilakukan seorang diri. Tanpa pembantu-pembantunya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mendapat dukungan penuh dari segenap kabinetnya, begitu juga penasehat ahli dan mayoritas anggota parlemen, maka kekuasaan Fir'aun tegak berdiri, kuat sekali.
Salah seorang penopang tiran Fir'aun adalah Qarun, seorang teknokrat andalan yang menjadi tulang punggung ekonomi. Selain cerdas, ia sendiri seorang bisnisman yang sukses. Bahkan pada masanya, ia tergolong konglomerat. Saking kesohornya nama Qarun sebagai orang kaya sampai-sampai barang temuan pada masa kini disebut harta karun.
Sebagai pembantu dekat Fir'aun, tentu tabiatnya tak jauh berbeda dengan bosnya. Ia adalah seorang yang sombong lagi membanggakan diri. Ketika dianjurkan untuk bersedekah, membantu pengusaha lemah atau golongan miskin, maka ia berkata sebagaimana ayat di atas, "Tidak lain, kekayaanku ini adalah karena ilmu (kepintaran)-ku."
Ilmu Dan Kekayaan
Sebelum menciptakan Nabi Adam, moyang pertama manusia, terlebih dahulu Allah menciptakan Bumi. Di planet bumi itulah manusia hidup, berketurunan, sambung-menyambung hingga sekarang. Bumi telah disiapkan Allah untuk manusia sebagai tempat tinggal sekaligus tempat mencari ma'isyah, penghidupan.

Semua kebutuhan manusia tersedia di bumi, mulai dari pangan, papan dan sandangnya. Berbagai fasilitas hidup telah ada, tinggal mendayagunakannya. Di sinilah persoalan muncul, sebab mendayagunakan alam ini haruslah berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu seorang manusia tidak akan mampu mengenali hukum-hukumnya. Tanpa mengenali hukum alam, seorang tidak bisa mengendalikan dan memanfaatkan alam.

Orang awam ketika melihat ombak besar di laut akan merasa ketakutan. Akan tetapi seorang ilmuwan akan berfikir bagaimana cara memanfaatkan ombak besar itu menjadi energi. Sesuatu yang menakutkan ternyata bisa bermanfaat besar bagi yang mengerti.
Berikut ini contoh yang sedikit ekstrem. Bagi orang kebanyakan, perang itu menakutkan, akan tetapi sebaliknya bagi pialang senjata. Jika perlu perang terus dikobarkan, agar senjata semakin laris tanpa berkesudahan. Pialang senjata tentu orang yang sangat mengerti seluk-beluk perang dan memahami psikologi perang.
Antara ilmu dan kekayaan itu memang dekat hubungannya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah ilmu 'keduniaan'. Dengan ilmu itu misteri alam bisa diungkap. Dengan pengetahuan itu pula alam dieksploitasi sesuai dengan kebutuhan.
Meskipun demikian ilmu pengetahuan bukan satu-satunya jalan seseorang bisa mendapatkan kekayaan. Masih banyak faktor lagi yang menentukan penguasaan kekayaan. Di antaranya adalah kesempatan. Tapi faktor yang paling menentukan semua itu adalah Allah swt. Banyak orang pintar yang hidupnya berkekurangan, sementara banyak orang yang tidak pandai, tapi kaya raya. Orang bilang faktor "nasib", tapi yang benar sesungguhnya adalah faktor Allah swt. Barangkali inilah yang tidak dimengerti atau setidak-tidaknya tidak diakui oleh Qarun.

Ilmu Dan Kesombongan

Qarun dan orang-orang kafir sejenisnya seringkali menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan. Mereka menjadi besar kepala ketika mendapat karunia ilmu, apalagi jika sudah menyandang beberapa gelar, baik di depan maupun belakang namanya. Mereka lupa bahwa ilmu itu merupakan karunia Allah swt yang mestinya disyukuri.

Al-Qur'an menggambarkan orang-orang di atas sebagai kelompok mereka yang tidak tahu diri. Allah berfirman:
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian jika Kami berikan kepadanya nikmat, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Az-Zumar: 49)
Beberapa dasawarsa yang lalu, Edmond Leech dengan sombong mengatakan bahwa tugas Tuhan sudah waktunya diambil alih oleh para ilmuwan. Telah beribu-ribu tahun dunia ini diperintah dan dikuasai oleh Tuhan. Sudah saatnya kini Tuhan turun tahta, menyerahkan pengurusan dunia kepada para ilmuwan.

Menurutnya, selama ini dunia ini hanya diatur secara amatiran. Karenanya berbagai gejolak terjadi di mana-mana. Kejahatan dan kriminalitas, kekerasan bahkan peperangan, di samping kemiskinan dan kelaparan, telah menghiasi wajah dunia. Sudah saatnya dunia diatur secara profesional. Dan yang paling layak adalah ahli sains.

Edmond Leech kemudian menyusun sederet rencana. Pertama ia akan mengatur kelahiran manusia. Ia ingin manusia yang lahir adalah orang yang unggul, baik secara fisik, pikiran, maupun kejiwaan. Manusia yang cacat dan kurang cerdas tidak selayaknya lahir di dunia.

Menurut ahli sains ini, hanya orang tertentu yang telah memenuhi syarat-syarat sempurna saja yang boleh melahirkan anak. Sisanya harus rela tidak melahirkan jabang bayi. Karenanya semua ibu harus menjalani pemeriksaan ketat untuk menentukan layak tidaknya punya anak. Tidak hanya ibunya tapi juga bapaknya, sebab seorang anak akan mewarisi tabi'at dan gen dari orang tuanya. Seperti memilih padi varitas unggul, hanya dari bibit yang unggul saja yang diproses. Jumlah kelahirannyapun ditentukan sekalian, termasuk perbandingan lelaki dengan perempuannya.

Kini angan-angan atau lamunan Edmond Leech sudah dilupakan orang. Proyek ambisius itu gagal total. Yang tejadi justru sebaliknya. Di negara-negara Barat, tempat berkumpulnya para ahli sains, telah lahir jutaan bayi tanpa direncanakan. Semakin banyak saja bayi yang lahir tanpa diketahui siapa bapaknya. Masih untung jika diketahui siapa ibunya, karena banyak juga yang setelah melahirkan kemudian sang ibu minggat entah ke mana.

Entah sudah berapa teori yang dihasilkan manusia untuk menjadikan dunia ini aman, tenteram, sejahtera lahir dan batin. Berbagai cara telah mereka upayakan. Akan tetapi semua kandas di tengah jalan.
Kini kita bertanya-tanya, setelah sains dan teknologi berkembang secara revolusioner seperti sekarang, dunia damai seperti yang dicita-citakan semua orang kok belum juga terwujud? Kenapa peperangan terjadi silih berganti, tak pernah berhenti? Kenapa masih ada jutaan rakyat miskin terlunta-lunta, bahkan mati karena kelaparan?
Mana ahli filsafat? Mana ahli politik? Mana ahli ekonomi? Mana ahli sains? Kapankah mereka akan menggantikan tugas Tuhan? Mungkinkah?

Banyak orang yang menjadi besar kepala, sombong lagi membanggakan diri ketika beroleh ilmu. Mereka merasa bahwa dengan ilmunya akan mampu mengatasi segala problem di muka bumi. Orang-orang seperti ini jika menjadi ahli ekonomi akan berperan sebagai Qarun. Jika ahli politik akan berperan seperti Haman. Jika jadi pemimpin akan seperti Fir'aun.

Ilmu Dan Ulama

Berbeda dengan orang yang beriman. Bagi mereka ilmu adalah karunia Allah, sekaligus merupakan ujian. Ilmu adalah alat bagi manusia untuk menjalankan tugas dari Allah sebagai khalifah di muka bumi.
Keyakinan seperti itulah yang menjadikan mereka tidak sombong dan bangga diri. Justru sebaliknya mereka bertambah takut kepada Allah. Ibarat padi, semakin tua semakin merunduk. Demikian juga seorang mukimin yang berilmu, semakin banyak ilmunya, maka semakin merunduk kepalanya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang yang berilmu)." (QS. Faathir: 28)
Orang yang berilmu semakin tahu bahwa di balik rahasia alam ini adalah kebesaran Allah. Tidak ada daun kering yang tertiup angin, yang jatuh entah di mana, kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Tidak ada semut hitam, berjalan di malam yang kelam, di atas batu hitam pula, kecuali Allah mengetahuinya.
Dengan pengetahuan seperti itu, maka seorang 'alim akan terus berusaha semakin mendekati Allah. Selain berfikir, ia selalu berdzikir, menyebut Asma-Nya. Orang-orang seperti ini bisa disebut sebagai Ulil Albaab. Kepada mereka Allah menyeru:
"Maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu." (QS. Ath-Thalaq: 10)

Peringatan Allah selain dalam al-Qur'an, juga bisa diketahui melalui gejala alam. Semua peristiwa alam ini adalah ayat-ayat Allah, sekaligus merupakan sinyal-sinyal bagi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Orang-orang seperti inilah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat di atas yang lain. Allah berfirman:
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)

0 komentar:

Posting Komentar