Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Cinta Ikhlas

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 01 Maret 2011 | 09.35

Cinta itu perasaan alami jiwa. Ia adalah fitrah yang menjadi salah satu sifat manusia. Ia wujud bila hati tertarik kepada yang dicintainya itu penuh emosi dan gembira karena itu.

Dalam memenuhi keperluan untuk puas dalam cinta,manusia menghadapi krisis nilai. Insan yang mula jatuh cinta akan bersungguh untuk mencapai kepuasan dalam cinta itu. Ada yang menjadi buta dan kabur nilai akibat bercinta.
Tapi bagi yang bijaksana mereka mendambakan cara yang sesuai dan mulia untuk memenuhi keperluan cintanya itu. Insan seperti ini ingin hidup yang bersih dan penuh taqwa.

Sifat Cinta
Cinta itu suci,mahal dan tinggi nilainya. Sifat cinta itu sempurna. Jika tidak, cinta akan cacat. Itulah cinta sebenarnya cinta.

Cinta Muncul Sejak Dilahirkan
Rasa cinta sudah ada di dalam jiwa manusia sejak manusia itu lahir ke dunia. Cuma manusia akan melalui tahap-tahap kelahiran cinta bermula dari cinta kepada belaian ibu ,membawa kepada cinta kepada kekasih dan akhirnya setelah puas mencari cinta suci, maka akan cinta kepada Tuhan. Wujudnya cinta itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasa dan cinta sebenar-benarnya cinta itu suci murni serta putih bersih.

Menerima Cinta
Bila sampai masanya di setiap tahap-tahap cinta, maka Tuhan menjadikan manusia itu bersedia menerima cinta itu. Pada awalnya jiwa itu bersedia menerima cinta, lantas sedia pula untuk bebagi rasa dengan yang dikasihi. Bersedia untuk mengikat setia serta saling memahami. Setia untuk dipertanggungjawapkan karena cinta. Sedia untuk menyerah diri pada yang dicintai.

Cinta Itu Indah
Walaupun bentuk cinta tidak bisa dilihat,tetapi cinta itu indah dan cantik. Cantiknya itu murni dan tidak bertopeng. Bukan saja ia cantik malah suci murni, bercahaya gemerlap dan putih bersih.

Cinta Itu Mengharap Balasan
Cinta antara manusia itu berkehendak kepada jodoh atau pasangan, dari diri yang punya persamaan,dari diri yang asalnya satu. B ila dapat yang dicari,bermakna cinta itu menganggap telah bertemu yang paling sesuai dan cocok dengan jiwanya, untuk bersatu kembali. Kehendak itu timbal balik sifatnya kerana manusia dalam bercinta tidak hanya menerima tapi juga menerima.

Cinta Itu Menaklukkan
Sifat cinta itu ingin menguasai. Dia mau yang dikasihinya itu hanya khusus untuk dirinya. Dia tidak mau cintanya dibagi dengan orang lain. Sifat ini menuntut hak untuk mencintai dan dicintai. Tapi, dalam keinginan menaklukan,ia juga ingin ditaklukan sepenuhnya.

Cinta Itu Mengetahui
Pada asasnya sebenarnya cinta itu mengetahui. Orang yang bercinta tahu siapa yang patut dicintainya. Cinta tidak perlu bertanya. Manusia boleh jatuh cinta tanpa membaca ilmiah atau novel tentang cinta. Mereka tahu apa yang perlu dilakukan. Tapi, cinta cuma tahu bercinta.Ia tidak tahu akan peraturan cinta jika tiada diberikan panduan.

Cinta Itu Hidup
Cinta adalah ibarat manusia, boleh berputik, lalu mekar serta boleh layu dan gugur. Cinta itu punya indra dan perasaan. Cinta mendengar cinta, berkata cinta, melihat cinta. Cinta ada segala-galanya. Sayang, benci, cemburu, gembira, sedih, tenang, tertekan, ketawa dan menangis. Cinta itu hidup sampai satu ketika ia akan menemui mati. Tapi banyak orang berharap agar cinta itu kekal selagi dia masih hidup dan tetap hidup walaupun telah mati.

Cinta Itu Suci
Sebagaimana yang banyak dikatakan orang, cinta itu suci. Sucinya cinta bukan bermakna ia tidak mengharap balasan. Cinta mengharap balasan cinta. Sucinya cinta bermakna ia tidak bernoda dan tidak pula berdosa Itulah sifat asal cinta, ia suci bagaikan anak yang baru lahir. Mereka yang kenal arti cinta akan coba mengekalkan cinta itu sesuci mungkin. Mengekalkan cinta suci bermakna menjauhkan ia dari godaan nafsu yang tidak ada batasan.Karena nafsulah cinta suci jadi bernoda dan berdosa.

Cinta Itu Mempesonakan
Cinta itu bukan saja indah, tapi mempesonakan. Ia bukan karena cinta itu nakal sifatnya tapi karena ia suci dan ber sih. Ia adalah sebagaimana anda melihat pada anak kecil yang comel dan bersih. Dia senyum pada anda dan merapati anda. Anda terpesona kerana bukan saja ianya comel, tapi karena dia adalah insan yang tidak berdosa. Karena sifat cinta yang mempesona ini selalunya manusia itu berbuat silap bila bercinta. Apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya...mempesonakannya dan nampak cantik serta betul walaupun itu adalah satu dosa dan akan menodai cinta itu sendiri. Itulah juga yang menyebabkan orang yang bercinta itu walaupun seorang yang bijaksana, akan menjadi bodoh karena pesona cinta. Akal itu mampu dikalahkan oleh nafsu. Nafsu itu tidak bisa dikalahkan melainkan jika anda sentiasa ingat kepada Tuhan Maha Pencipta.

Apakah itu Bukti Cinta?
Cinta perlukan bukti. banyak orang percaya bahawa bukti cinta itu ialah mengorbankan atau menyerahkan apa saja yang kekasih anda mahu. Mereka percaya jika itu tidak berlaku, maka cinta itu tidak tinggi nilainya.

Sebenarnya anggapan itu tidak tepat. Jika anda beri semua yang dia mahu, apakah yang tinggal pada anda? Benarkah dia cinta pada anda bila dia mahukan pengorbanan anda?
Cinta sejati tidak memusnahkan atau merusakkan diri kekasih yang dicintai. Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri
"Janganlah hendaknya kecintaan anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi lupa dan kebencian anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi hancur" - Saidina Umar Ibnul Khattab -

0 komentar:

Posting Komentar