Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Teladan. Tampilkan semua postingan

Aku Ingin Berjuang....

Written By Rudianto on Selasa, 01 Maret 2011 | 09.45

Seorang pemuda belia dari kabilah Aslam sedang termenung sendirian agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu bertubuh kuat, gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh berbagai tantangan. Badanya tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang sedang dilakukan oleh yang lain, jihad fisabilillah. Adakah jalan yang lebih afdol dan lebih mulia dari jihad fisabilillah..? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dn ridho Allah SWT. "Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik", kata hati pemuda itu. Yah,.....sebab disana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju juang jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakan wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal berpantang mati.

Maut akan menimpa dimana pun kita berada. yakin bahwa umur itu satu. kapan kan sampai batasnya, hanya Allah yang maha tahu. Bagaimana sebab dan kejadianya, takdir Allah lah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari manusia. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah disaat manusia sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin berada dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, ataukah di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas temapt tidurnya. Semua itu hanya Allah lah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendirilah yang dapat dibawa menghadap penguasa yang Esa kelak.

Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci ditengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan angan-angan dan tujuan harapan mereka. Mereka yakin, dibalik hiruk-pikuknya peperangan Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal baginya. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagi noda. Baik itu berupa noda-noda aqidah, niat-niat jahat, berbagi dosa perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka yang mulia itu menunjukan kepribadian yang baik dan luhur. Semua sesuai dengan ajaran agama yang murni. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercu suar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.

Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. "Harus ! harus dan mesti aku berbut sesuatu. Jangan kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hamabtan dan penghalang mencapai tujuanku." Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut ini menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu memang masih belia, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangksan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitanya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuan? Seababnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan senjata apa-apa yang dapat dipakainya untuk berperang karena kemiskinan dan kefakiranya. Sebab pikirnya, tidak mungkin untuk terjuan ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan berfungsi apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja, dia tidak mampu. Inilah yang menjadikan pemuda itu berfikir panjang lebar. Otaknya bekerja keras agar hasratnya yang besar berjuang dapat tercapai. Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah SAW. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar.

Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidk mengharapkan apa-apa dari keikutsertaanya berjaung. Dikatakanya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah; Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: "Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?". "Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!" jawab pemuda itu. "Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu", tanya Rasulullah SAW kemudian. "Saya tidk mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjaungan itu ya Rasulullah", jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila terdengar panggilan seruan untuk berjaung jihad fisabilillah. Demi Allah! jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dlam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.

Celakalah mereka yang besar dan tegap badan serta tubuhnya namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu yang tepat hai pemuda! semogalah Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi kemulyaan Islam, budi pekerti yang mulia menuju alam yang bahagia sejahtera lahir batin. Benar, kaum muslimin sangat memrlukan jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnya pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasrat cita-cita keinginan itu.

Rasulullah SAW akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: "Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan perlatan berperang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya." Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Katanya kepada si Fulan: "Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku." Orang yang tidak jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil mengucapkan: "Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah SAW." Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: "Terima kasih sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terima kasih.........Terima kasih." Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Wajahnya bersinar gembira. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temanya yang keheranan dan bengong. Tanyanya: "Hai, hendak kemana engkau?", "Aku akan menuju janntul firdaus yang selebar langit dan bumi", jawab pemuda itu dengan singkat dan tepat.
09.45 | 0 komentar

SINOPSIS (MATINYA SI KICAU BURUNG)

Written By Rudianto on Rabu, 12 Januari 2011 | 14.29

Sebagai saudagar kaya yang memiliki apotik besar di kota Naisabur, Fariduddin al-‘Aththar, merasa tersinggung atas pertanyaan seorang Darwisy, “Bagaimana kamu bisa mati dengan meninggalkan kekayaan yang begini hebat?”. Dengan sedikit kesal Fariduddin menjawab, “Tidak ada bedanya, aku akan mati sama dengan caramu mati.” Sang Darwisy tanpak merenung sejenak lalu menatap wajah Fariduddin dengan tajamnya seraya mengatakan, “Tidak mungkin! Aku tidak memiliki sesuatu apa pun kecuali kusykul (sejenis mangkuk) dan selimutku ini. Apakah engkau masih juga berkata bahwa engkau akan mati seperti caraku mati?”.

Sekarang Fariduddin yang balik menatap wajah Darwisy tajam-tajam. Anehnya sang Darwiys justru tersenyum. Di wajahnya tampak seberkas cahaya. Yang semula wajahnya kusut layaknya seorang peminta-minta berubah bersinar terang. Senyumnya tampak amat bahagia ketika ia berusaha menunduk dari tatapan Fariduddin. Lalu dengan pelan tapi penuh kepastian ia membuka selimutnya dan sekali lagi sekilas menatap pendek ke wajah Fariduddin. Sambil tetap tersenyum ia menebarkan selimutnya di lantai apotik persis di kaki Fariduddin dan menaruh kusykul-nya di ujung selimutnya. Selanjutnya ia merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di atas kusykul-nya sambil mengatakan, “Beginilah caraku mati.” Dan Darwisy itu benar-benar mati ketika itu juga di dekat kaki Fariduddin dalam keadaan tersenyum.

Sejak peristiwa itu, Fariduddin menempuh jalan spiritual sebagai seorang Zahid dan meninggalkan kekayaannyaa untuk melakukan pengembaraan spiritualnya. Banyak buku yang ditulis tentang makna hidup dan kemajuan spiritual bagi manusia. Yang sangat terkenal adalah Manthiqu al-Tahir (Kicau Burung). Ia terus hidup dalam pengembaraan spiritualnya layaknya seorang Darwisy, sampai akhirnya ia tertangkap oleh tentara Mongol.

Ketika ia mau dibunuh oleh tentara penyerbu, datang seorang kaya yang ingin menebusnya dan menjadikannya budak dengan imbalan yang sangat tinggi. Tentara Jengis Khan sepakat dengan harga yang ditawarkan itu, akan tetapi Fariduddin menolaknya karena harga itu terlalu mahal buat dirinya. Lalu datang seorang menawarkan pembebasan dengan tebusan sekarung gandum. Dengan serta merta Fariduddin menyetujui. Kesal atas sikap Fariduddin yang telah menyia-nyiakaan waktu mereka, para tentara Mongol, akhirnya ia langsung dipancung. Fariduddin pun mati dalam keadaan tersenyum, persis seperti Darwisy mati di tokonya.
14.29 | 0 komentar

KENIKMATAN, PUJIAN, DAN KESEGANAN. HATI-HATI YAH!

Written By Rudianto on Selasa, 04 Januari 2011 | 08.48

Ibnu Mas'ud adalah sseorang sahabat terkenal. Nama lengkapnya ialah Abdullah bin Mas'ud Ghafil al-Hadzaly bin Hubeb (meninggal tahun 32 H). Nasab Ibnu Mas'ud terkadang dinisbatkan kepada Ibunya, Ummu ‘Abd. Ia termasuk tokoh terkemuka di kalangan sahabat dan orang yang terdahulu memeluk Islam. Dialah orang pertama yang berani membaca al-Qur`an dengan jahr (suara keras) di Makkah. Meninggal dalam umur 60 tahun. Pernah berhijrah dua kali dan ikut serta dalam perang Badar dan peperangan lainnya.

Ibnu Mas'ud menerima transformasi al-Qur’an langsung dari Nabi Saw sebanyak tujuh puluh-an surat. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda tentang dirinya, “Barangsiapa yang ingin membaca al-Qur’an dalam kondisi masih segar sebagaimana diturunkan, maka bacalah sesuai bacaan Ibn Ummu ‘Abd.”

Ibnu Mas'ud adalah shahabat yang paling memahami asbabunnuzul ayat-ayat al-Qur`an dan dikenal sebagai orang yang tekun melayani Nabi Muhammad Saw. Dialah yang biasa memasangkan kedua sandalnya, mengambilkan air untuk wudhunya, dan mengambilkan bantal untuk tidurnya.Ia pernah diutus ‘Umar bin al-Khaththab untuk mengajar agama kepada penduduk ke Kufah bersama ‘Ammar bin Yasir. Sepeninggal Umar, ‘Utsman mengangkatnya jadi Amir di Kufah, lalu mencopotnya dan memeritahkannya agar kembali ke Madinah.

Berikut salah satu kata-kata hikmahnya yang maknanya sangat dalam. Ibnu Mas'ud mengingatkan kita semua agar berhati-hati terhadap nimat yang kita peroleh, pujian orang kepada kita, dan keengganan orang membuka aib kita. "Betapa banyak orang terpedaya dikarenakan keni'matan yang ada padanya; betapa banyak orang terfitnah dikarenakan pujian yang diarahkan kepadanya; dan betapa banyak orang tertipu dikarenakan orang segan membuka aibnya kepadanya."
08.48 | 0 komentar

IBU YANG BERLARI-LARI DI ANTARA DUA BUKIT

Written By Rudianto on Selasa, 23 November 2010 | 08.22

Bisa jadi kisah Siti Hajar dan anaknya Ismail as merupakan bagian dari kisah tragika yang membangkitkan kesadaran diri kita akan suatu nilai dalam kehidupan. Faktanya kisah itu terus-menerus menginspirasi jutaan manusia di sepanjang sejarahnya. Bulan ini jutaan manusia, dari berbagai penjuru yang jauh (fajjun ‘amiq) datang ke tempat yang paling dimuliakan, Makkah al-Mukarramah. Mereka tengah menangkap makna kisah itu dan berusaha menghayatinya secara empirik demi memperkuat religuitas untuk kepentingan perjalanan spiritual mereka.

Ketika itu terik padang pasir menguras peluh siapa pun yang berjalan apa lagi yang berlari. Siti Hajar menggendong anaknya yang masih menyusui erat-erat sambil berjalan cepat mengikuti Nabi Ibrahim yang membawa mereka ke satu tempat yang belum sepenuhnya dimengerti oleh sang ibu. Dan, Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya di tempat itu, di sisi ka'bah, di sekitar padang pasir yang luas, di kelilingi bukit-bukti batu yang keras. Tidak ada seorang pun yg tinggal di sekitarnya. Tiada air dan tiada pula orang yg menemaninya selain Ismail as yang selalu didekapnya.

Nabi Ibrahm as, sang ayah, hanya menyediakan satu kantong berisi kurma dan satu bejana berisi air buat anak dan isterinya. Kemudian ia pergi meninggalkan mereka di tempat yang ternyata kemudian menjadi pusat pradaban tauhid itu. ”Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Nabi Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah kami memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’dan sujud.” (QS, al-Hajj [22]: 26)

Rasa dan naluri keibuan Siti Hajar benar-benar berontak ketika ia mendapati suaminya akan meninggalkan dirinya bersama anaknya di tempat yang lengang itu. Ia lalu mengejar Ibrahim dan membiarkan Ismail meronta-ronta dan menangis dalam bungkusan sehelai kain.

Siti Hajar berteriak, "Wahai Ibrahim ke mana engkau akan pergi? Dan engkau tinggalkan kami di lembah yang sepi, tidak ada tetangga, dan tidak tersedia apa- apa." Siti Hajar terus mengulang-ulang teriakannya. Suaranya memantul-mantul di dinding-dinding bukti batu. Lalu ditelan kesepian padang pasir. Sementara, di langit sanai, ribuan Malaikat mengepakkan sayapnya, mengalunkan tasbih dan tahmid, memuji kebesaran Allah swt, menyambut peristiwa yang paling mengharukan itu.

Gema dan pantulan teriakan Siti Hajar serta riuh rendah suara tasbih dan tahmid di langit sana, mengusik Nabi Ibrahim as untuk membalikkan badan dan menoleh ke Istrinya. Di hadapan isteri yang dicintainya Ibrahim pun merunduk tafakkur. Dan sang isteri menatapinya dengan ekspresi meminta kepastian. Keheningan pun menghentikan sementara desir angin padang pasir, suara-suara gema, dan riuh rendah tasbih dan tahmid seakan-akan semuanya menanti apa yang akan ditanyakan selanjutnya oleh seorang ibu dan isteri kepada suami yang dicintainya.

Dengan ekspresi memohohon kepastian, Siti Hajar berkata, "Apakah Allah swt yang memerintahkan hal ini kepadamu wahai suamiku.?" Ibrahim as menjawab singat seraya menatap isterinya dengan penuh kepastian, "Ya, benar". Siti Hajar kemudian berkata dengan penuh kepastian pula, "Kalau begitu, Allah swt pasti tidak akan menyia-nyiakan kami."

Ketika itulah angin padang pasir berdesir kembali seraya mengeluarkan bunyi yang asing, suara-suara gema memantulkan bunyinya lebih mengharukan, dan suara riuh tasbih dan tahmid menjadi gemuruh memenuhi angkasa. Semuanya seolah-olah mengamini apa yang dikatakannya dengan penuh keriangan. Siti Hajar pun berbalik dan meninggalkan suami tercintanya dengan kerelaan dan kepastian, kembali menemui anaknya. Siti Hajar memandangi suaminya sampai jauh hingga akhirnya tak tampak lagi.

Selanjutnya, Nabi Ibrahim as melanjutkan perjalanannya. Ketika ia sampai di sebuah bukit, di mana istri dan anaknya sudah tak melihatnya lagi, ia menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a,"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang di hormati. Ya Tuhan kami (yg demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebgian manusia cenderung kepada mereka dan rezekilah mereka dari buah2an,dan mudah2an mereka bersyukur." (QS, Ibrahim [14]: 37)

Sementara itu Siti Hajar tetap menyusui anaknya dan minum sisa air pemberian suaminya. Namun, ketika air yang ada dalam bejana itu telah habis, dan ia ia merasa haus serta anaknya menjadi kehausan pula, ketika itulah sesungguhnya drama kemanusiaan sedang berproses seolah-olah menjadi tragika.

Sebagai seorang ibu, ia merasa iba melihat anaknya yang kehausan, meronta-ronta karena ingin minum. Kemudian ia meninggalkannya dan pergi mencari air. Ia naik ke bukit yang kemudian diberi nama Shafa' itu, sebuah bukit yang terdekat dengan tempat Ismail diletakkan. Dari atas bukit kedua matanya mengapu lembah-lembah yang mengelilinginya dengan harapan akan tampak mata air. Akan tetapi ia tidak melihatnya sama sekali.

Kemudian ia turun dari bukit Shafa dan terus berlari-lari menuju satu bukit yang kemudian disebut Marwah. Ia berdiri di atas bukit itu dan mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya dengan harapan dapat menemukan mata air. Akan tetetapi tidak menemukannya juga. Secara dramatik, Siti Hajar terus berlari-lari antara bukti Shafa dan Marwah sampai 7 kali.

Ketika Hajar berada di bukit Marwa untuk yang ke 7 kalinya, ia mendengar suara yang menakjubkan itu. Ia menoleh ke arah suara yang berbunyi, "Tenanglah". Siti Hajar sejenak tertegun dan tafakkur mendengar suara yang ditujukan kepada dirinya. Dengan seksama ia menyimak suara itu dan terdengarnya kembali. Lalu ia berteriak ke arah suara yang menenteramkan jiwanya itu, "Suaramu telah terdengar. Apakah engkau membawa setetes air? Tolonglah kami!"

Dikisahkan, Malaikat menghampiri Ismail yang sedang menangis kehausan. Lalu menggerak-gerakkan tanah dekat tumit Ismail as di dekat zamzam sehingga keluarlah air yang memancar. Rasa gembira membuncah di hati Siti Hajar melihat peristiwa yang menakjubkan itu. Ia lalu berusaha untuk menampung dengan tangannya dan mengisikannya ke dalam bejana pemberian suaminya itu. Dan mata air itu terus memancarkan airnya dengan derasnya. Dan Malaikat itu mkemudian berkata kepadanya, "Jangan khawatir di sia2kan, karena sesungguhnya di sini ada Baitullah yang akan di bangun oleh anak ini dan bapaknya. Dan Allah tidak akan menyia2kan kekasihNya.”

Sesungguhnya segmen perjalanan anak manusia yang dialami Siti Hajar adalah cermin kesetiaan seorang ibu terhadap titah Tuhannya. Kesetiaan itulah yang memancar pada kesejatiannya sebagai ibu dan sebagai isteri yang ditandai dengan kasih sayang dan ketulusan. Masihkah ada Siti Hajar lain di dunia yang ingar bingar dengan kebencian dan kecurigaan ini?

Ust Abu Ridho
08.22 | 0 komentar

PEREMPUAN DENGAN DUA IKAT PINGGANG

Written By Rudianto on Senin, 22 November 2010 | 08.15

Asma, perempuan yang tumbuh di lingkungan keluarga kaya dan elit, sangat dikenal di lingkungan sosialnya. Ayahya, Abu Bakar al-Shiddiq, orang paling kaya dan terpandang di kaumnya, suku Quraisy yang sangat dihormati dan disegani. Selain kecantikannya di atas rata-rata, Asma, seperti halnya saudaranya, Aisyah isteri Rasulullah saw, dikenal sebagai perempuan yang cerdas, lincah, dan prigel.

Perpaduan antara kedudukan keluarga yang membesarkannya dengan kecantikan, kecerdasan, serta keprigelan dirinya, secara umum, berpotensi kuat dirinya menjadi perempuan manja dan bahkan sombong sekalipun. Akan tetapi, potensu itu sama sekali tidak tumbuh pada diri Asma.

Meskipun ia sebagai anak perempuan orang kaya dan terpandang, ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki sifat pemurah, kuat pendirian, berani, serta menjadi teladan perempuan sebayanya. Kelahirannya di tengah-tengah tradisi jahiliyah pun tidak membuat dirinya sebagai tipe perempuan produk budaya masyarakatnya. Asuhan keluarga Asma yang masih kokoh memelihara nilai-nilai fitrah membuat dirinya tumbuh sebagai perempuan yang berkarakter terpuji dan memastikannya sebagai figur seorang muslimah sejati. Bahkan Asma termasuk kelompok perempuan pertama yang masuk Islam.

Ia dikenal sebagai wanita tangguh yang berumur panjang, meskipun namanya pendek. Perjalanan hidupnya tidak sependek namanya. Allah memberinya umur panjang hingga 100 tahun, kecerdasan berpikir, dan keteladanan yang sangat inspiratif.

Keterlibatannya dalam momen–momen perjuangan Islam memastikan dirinya berada dalam barisan perempuan pejuang yang disegani. Hal itu antara lain dibuktikannya pada peristiwa sangat penting dalam sejarah Islam. Saat-saat menjelang hijrah dia sangat aktif membantu proses hijrah Nabi Muhammad saw bersama ayahnya. Ia dikenal sebagai perempuan berjibaku mengirimkan bekal makanan dan minuman di setiap terjadi peperangan. Bahkan ketika ayahnya, Abu Bakar bersama Nabi Muhammad saw berada di Gua Tsur, menjelang hijrah ke Yatsrib, dialah yang berani menjadi pengirim makanan buat mereka.

Tampaknya, nilai-nilai Islam yang bertahta dengan kokoh di dalam jiwanya, membentuknya menjadi pribadi yang kuat, memiliki pandangan hidup, sikap, serta cita-cita yang lurus. Keperibadiannya pun menjadi matang. Hal itu setidak-tidaknya terlihat jelas ketka ia dengan sekuat tenaga bersusah payah membantu perjalanan Rasulullah saw bersama ayahnya dari Mekkah ke Madinah.

Dalam peristiwa yang paling monumental itu, Asma menunjukkan kesejatiannya sebagai seorang perempuan berhati baja dengan semangat pengorbanannya yang luar biasa. Ia sama sekali tidak merasa takut terhadap ancaman dari kaumnya. Bahkan ia turut memantau perkembangan keamanan di sekitar kota Mekkah yang sedang genting.

Selanjutnya, ia sanggup melintasi padang pasir dan menaiki bukit terjal sambil membawa bekal makanan dan informasi berharga bagi Rasulullah dan ayahnya yang sedang bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy di gua Tsur. Dengan cerdiknya ia kemas dan ikat segala persiapan hijrah serapih mungkin di atas punggung unta. Untuk itu ia harus mengoyak ikat pinggangnya menjadi dua. Sejak itulah ia terkenal dengan sebutan Dzatun Nithaqain, “Perempuan dengan Dua Ikat Pinggang”.

Ketika ia hendak mengikat karung makanan dan tempat minuman yang akan dikirim kepada Rasulullah saw dan Abu Bakar as. Pada waktu itu, Asma’ tidak memiliki tali untuk mengikatnya. Ia lalu merobek dan membelah ikat pinggangnya hingga menjadi dua. Satu untuk mengikat karung makanan dan satu lagi untuk mengikat tempat air minum. Ketika Rasulullah mengetahui hal ini, beliau berdoa, “Semoga Allah menggantikan ikat piinggang Asma’ dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di surga.” Begitulah kisah dirinya memperoleh sebutan itu.

Kesejatian Asma tampak lebih jelas ketika ia dengan ketulusannya siap untuk dinikahi oleh Zubair bin Awwam, seorang pemuda dari kalangngan keluarga biasa. Bahkan ia tidak memiliki harta, kecuali seekor kuda perang dan sebidang tanah pemberian Rasulullah saw. Ia bukan pula dari kalangan ningrat. Ia sama sekali bukan keturunan orang terpandang, apalagi berdarah biru. Bahkan Zuber dibesarkan dan dididk oleh seorang ibu yang lama menjanda.

Sikap Asma seperti itu bisa jadi akan sukar dicerna oleh orang tua dan gadis-gadis yang pola dan gaya hidupnya telah tenggelam dalam budaya materialistik seperti sekarang ini. Bagi Asma sikap yang diambilnya itu tidak menjadi problem psikologis dirinya. Ia tidak pernah merasa kecewa dan bahkan selalu setia melayan suaminya.

Jika suaminya sedang sibuk menyebarkan dakwah atau menjalankan tugas dari Rasulullah saw, Asma’ tidak segan-segan merawat kuda perang Zubair. Ia dengan senang hati merumput dan memanggulnya di atas kepalanya dengan berjalan serta menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya. Hasil perkahwinannya, Allah menganugerahi mereka seorang anak yang cerdas yang diberi nama Abdullah bin Zubair.

Gambaran otentik kesejatian dan ketulusan Asma sebagai seorang isteri, ibu, dan perempuan pejuang telah diabadikan dalam satu riwayat yang bersumber dari dirinya. Asma adalah hamba Allah, perempuan, isteri, dan ibu secara total. Keperibadiannya adalah sejarah otentiknya yang selalu memancarkan keteladanan bagi puteri-puteri, isteri-isteri, dan ibu-ibu dalam setiap generasi. Berikut adalah penuturan tentang dirinya yang paling terus terang.

“Dari Asma binti Abu Bakar Ra, ia berkata, “Zubair menikahiku sedangkan dia tidak memiliki harta kekayaan berupa barang tetap, tidak juga hamba sahaya. Pokoknya ia tidak punya kekayaan selain alat penyiram dan seekor kuda. Setiap hari saya harus memberi makan dan minum kudanya, menjahitkan gharbah (tempat air yang terbuatdari kulit)nya, membikinkan tepung padahal saya tidak pandai membikin roti dan biasanya yang membikinkan roti tetangga-tetangga saya dari kalangan wanita Anshar yang terkenal kepiawaiannya membikin roti.

Setiap hari saya harus mengangkut biji-bijian, dengan cara meletakkannya di atas kepalaku dan kelak harus saya tumbuk, dari sebidang tanah milik Zubair yang merupakan hadiah dari Rasulullah SAW. Padahal jarak tanah itu dengan rumah saya dua pertiga farsakh (satu farsakh sama dengan sekitar 3 mil)

Pada suatu hari saya pulang dari tanah Zubair dan di atas kepalaku seonggok biji-bijian (yang akan saya tumbuk) . Dalam perjalanan saya bertemu Rasulullah SAW bersama seseorang dar kalangan Anshar. Nabi lalu memanggilku seraya mengatakan ikh ikh (ucapan yang ditujukan kepada binatang kendaraan agar merunduk untuk dinaiki) agar saya membonceng di belakannya. Tentu saja saya akan malu berjalan bersama laki-laki dan saya ingat betul bahwa suami saya Zubair orangnya sangat pencemburu. Rasulullah SAW juga sangat tahu bahwa saya pasti malu. Maka Rasulullah SAW berlalu.

Kemudian saya sampai ke rumah dan menemui Zubair dan saya katakan padanya, “Saya berjumpa Rasulullah SAW bersama sahabatnya di jalan sedangkan di atas kepalaku ada seonggok bji-bijian. Lalu ia merundukkan binatang kendaraannya agar aku naik, Tentu saja saya malu dan saya ingat kecemburuanmu.” Zubair berkata, “Demi Allah kamu mengangkut biji-bijian itu jauh lebih berat (menjadi beban psikologis yang berat) bagi saya dibandingkan dengan naiknya kamu bersamanya .” Asma melanjutkan kisahnya dengan mengatakan, “Sampai akhirnya ayahku, Abu Bakar, mengirim seorang pembantu yang menggantikanku mengurusi kuda (siyasatu al-faras) dan ketika itu seolah-olah saya menjadi orang merdeka.” (HR, Bukhari).

Ditulis oleh: Ust Abu Ridho
08.15 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung