Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Prinsip Ilmu Ruqyah Syar'iyyah

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 31 Oktober 2017 | 11.49

*Prinsip Ilmu Ruqyah*
Agar kita tidak salah atau agar dapat meminimalisir kesalahan, bahkan bisa juga Allah akan memberi taufiq dengan munculnya teori-teori yang baru yang memudahkan proses ruqyah di masa yang akan datang, ruqyah tidak lagi terkesan menakutkan-membuat trauma masyarakatterkesan aib karena jadi tontonan-terj CV onan-terj adi fitnah dalam majelisnya. Maka penulis sarankan untuk mengkaji ilmu ruqyah dengan merujuk dan memahami berulangkali kitab- kitab sebagai berikut:
1. Wiqoyatul Insan Minaj Jin wa asy Syaiton, karya Ini air yang mata  bdk mata mata in id Abdus Salam Bali
2. Ash-Shorimul Battar fi Tashoddi Lisaharotil Asrar, karya Wahid Abdus Salam Bali
3. Ari-Ruqyah As-Syar’iyyah wat Thib wa Ilajul Mashuur min Shohihl Bukhori wa
Fathul Barri, karya Muhammad basan Muhammad hasan ismail
4. Qowaid ar ~Ruqyah asy Syar’iyyah, karya Dr. Abdulloh bin Muhammad Sadhan
5. Kaifa Tua’Iiju Maridhaka, karya Dr. Abdulloh bin Muhammad Sadhan
6. Fathul Haqqil Mubin fii Ahkami Ruqa ash -Shor’i was Sihir wal 'Ain, karya Abu Baro’ Usamah bin Yasin al Ma’ ani
7. Ad-Daa’ wad Dawa' karya imam Syamsudin Muhammad bin Abi Bakr ibni Qayyim al Jauziyah
8. Ighosatul Lahfan min Masho'idis Syaitin, karya imam Syamsudin Muhammad bin
Abi Bakr ibnu Qayyim al Jauziyah
9. Ath-Thib a-Nabawi, karya imam Ibnu Qayyim
10.AI-Furqon Baina AuIia’ur Rohman wa Auliya as Syaitan, karya ibnu Taimiyah
11.Risalatus Sihr, syaikh Abdul Aziz Bin Baz
12.Madarijus Salikin, karya imam Ibnu Qayyim al jauziyah
13. Zaadui Maad bab at Thib an Nabawi, karya imam ibnu Qayyim al Jauziyah
14. ‘Idhohul Bayan fii ‘Ilajul mass wa Sihr wa Iiddzaul Jann, karya Abu Mush’ab Thal’at bin Fu’ad
15. Halal Harom Ruqyah oleh Musdar Bustamam Tambusai
16. Ensiklopedi Jin, Sihir dan Perdukunan oleh Musdar Bustamam Tambusai
17. Setan Diantara Dengki dan 'Ain, Abu Baro Usamah Bin Yasin Al Ma'ani
18. Ruqyah Syar'iyyah Panduan Syara  dan Batasan-batasannya, Abu Baro Usamah Bin Yasin Al Ma'ani
Alhamdulillah sebagian besar buku buku di atas sudah ada terjemahannya, jadi tidak ada lagi alasan untuk tidak mau belajar dan mendalami lagi dan terus memperdalam ilmu ruqyahnya.
Sejumlah kitab di atas di sebutkan bukan untuk tujuan lain selain sebagai bentuk aplikasi dari hadist Rasulallah  yang menyatakan:
“Barang siapa yang melakukan pengobatan dan ia tidak tahu ilmunya sebelum mengobati maka ia bertanggung jawab.”
Hadist ini menekankan bahwa ilmu itu harus dikuasai sebelum mengobati. Jadi belajar dulu yang benar sampai paham baru praktek lapangan. jadi siapa saja yang mengambil bagian tanggung jawab pengobatan (ruqyah syar'iyyah) sementara  ia tidak mengetahui ilmunya maka ia bertanggung jawab dengan kesalahan mal praktek terhadap pengobatan yang ia lakukan.
Karena ruqyah adalah bagian dari agama maka kesalahan tidak hanya dibebankan pada dirinya dari sisi tindakan pengobatan akan tetapi juga cara pandang, ilmu, fatwa, dasar pemahaman dan lain-lain juga menjadikan ia terbebani dan bertanggungjawab di hadapan Allah dan Rosulnya tentang benar tidaknya apa yang ia yakini dan lakukan.
Keterangan:
(1) = menunjukkan proses interaksi yang terus menerus dalam mendalami ilmu ruqyah.
(2) = Teknik ruqyah dibangun dari teori dan praktek
Dengan demikian ruqyah syar’iyyah adalah tanggungjawab kita semua dan bukan hanya dibebankan pada raqi atau peruqyah saja. Para ustadz pun juga bertanggung jawab terhadap ruqyah yang syar’i ini yang merupakan bagian dari kesempurnaan Islam. Tanggungjawab di sini bukan saja dalam ranah keilmuan akan tetapi juga tanggungjawab langsung praktek lapangannya. Bentuk tanggung jawab ini juga sudah dicontohkan oleh salaful ummah seperti Imam Ahmad bin Hambal, syaikh Ibnu Taimiyah atau ulama abad 14 H seperti Syaikh Abdulloh bin Baz, Syaikh Wahid Abdus Salam Bali, Syaikh Abdulloh bin Muhammad As-Sadhan, Syaikh Abu Barro’ Usamah bin Yasiin, dan lain-lain.
📚 Ruqyah Syar'iyyah Tanpa Kesurupan
✍ Ustadz Arifuddin M. Pd. I
📮dishare kembali Abu Azka
💿Maktabah Rlc


0 komentar:

Posting Komentar