Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

MANUSIA DAN TINGKAH LAKUNYA

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 23 Maret 2014 | 18.06

MANUSIA SEBAGAI OBJEK PSIKOLOGI

1. Manusia sebagai objek psikologi adalah makhluk jasmani rohani yang utuh. Meskipun keduanya bisa dipisahkan di dalam pengertian, namun sangat sulit dimengerti hakikat kesatuannya. Untuk membuktikan adanya psyche (jiwa) sebagai sesuatu yang nyata, telah disepakati tidak mungkin.

Jiwa dan tubuh bagaikan dua sesuatu yang digabung menjadi satu keseluruhan, tetapi merupakan bentuk kesatuan yang penuh misteri dan merupakan satu keseluruhan yang tetap unik dari sejak bertemunya sperma laki-laki dengan ovum wanita di dalarn rahim.

Ketidakmengertian kita itu, sama dengan ketidaktahuan kita tentang menyatunya tebu dengan manisnya, garam dengan asinnya. Dengan demikian yang bisa kita simpulkan dalam hipotesis bahwa eksistensi manusia ialah kesatuan bulat psiko-fisik. Jiwa sebagai kekuatan abstrak yang menimbulkan kesadaran, bersifat subjektif, bebas tapi memerlukan hubungan dengan tubuh. Roh adalah kehadiran (presensi) sentuhan getaran Ilahiyah (impuls) yang bersifat metafisik dan menimbulkan efek yang serba-subjektif. Ia merupakan utusan istimewa dari Tuhan bagi makhluk manusia saja. Akan tetapi is bukan sesuatu milik manusia menurut sewajarnya, juga bukan sesuatu yang bersifat instrumentalistis. Energi-energi yang timbul dari padanya merupakan konsep-konsep meta-empiris.

2. Manusia, adalah makhluk yang diciptakan dari dua suku cadang yang merupakan satu nisbah (relasi dan relevansi) dari segi fungsinya. Jadi, tubuh itu dijiwai, dan jiwa itu dirohi kemudian menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku, Roh inilah yang hanya menjadi urusan Tuhanku karena roh ini merupakan jalur penghubung antara manusia dengan Tuhannya (vertikal) dan saluran yang menghubungkan manusia dengan sesamanya (horizontal) dan antara manusia dengan alam lingkungannya (diagonal). Karenanya manusia dipilih menjadi kholifah-Nya di atas bumi ini dan diperintah agar senantiasa menyucikan (mempersucikan) jiwanya.

3. Manusia mempunyai berbagai gejala psikis karena ia adalah makhluk kesatuan psiko-fisik secara utuh. Sejak dulu sampai kini telah disepakati bahwa gejala-gejala jiwa manusia yang menyatakan diri dalam bentuk tingkah laku itu, tumbuh dan muncul atas dasar dua kekuatan, yaitu kekuatan yang tumbuh dari dalam diri manusia sendiri yang dibawanya sejak lahir berwujud benih-benih atau potensi-potensi naluriah dan kemampuan-kemampuan dasariah. Sedangkan yang kedua diakui muncul karena adanya rangsangan-rangsangan dan pengaruh-pengaruh dan luar dirinya, faktor lingkungannya dan faktor pendidikannya. Faktor yang manakah yang paling dominan, paling kuat memberi pengaruh dalam din manusia, faktor dasarkah atau faktor ajar? Aliran Nativisme mengatakan faktor dasar. Faham Empirisme berpendapat faktor luar paling berpengaruh dan lebih kuat dominasinya. Kemudian Teori Konvergensi menyatakan bahwa kedua-duanya berpadu dan bersatu, saling mempengaruhi secara dominan. Tentang kekuatan mana yang paling dominan bergantung pada faktor manakah dalam tingkah laku seseorang di saat itu yang lebih banyak mewarnai dan mempengaruhi. Ternyata memang, baik faktor dasar maupun faktor ajar senantiasa ada dan terns berlangsung pada din manusia setiap saat. Untuk menentukan mana yang lebih kuat pengaruhnya sangat sulit dibedakan karena sama-sama subjektifnya. Dan satu hal yang jelas, bahwa manusia itu dicipta di atas satu fithrah ciptaan Allah yang dalam perkembangan selanjutnya kemudian dikenal dengan istilah gejala-gejala jiwa. Gejala-gejala jiwa itu membentuk tingkah laku. Tingkah laku manusia ini akan tetap lurus selama ia masih berada dalam sikap hidup yang sesuai dengan fitrah itu. Fithrah inilah Dienul Islam (peraturan sempurna) dari Allah untuk manusia, melalui Nabi Muhammad saw. yang dituangkan dalam Alkuran dan dijabarkan dalam Al Hadits, dan disampaikan melalui dakwah.

0 komentar:

Posting Komentar