Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Hadiah Yang Membebaskan

Written By Rudi Abu azka on Sabtu, 04 September 2010 | 06.03

Biarkan cinta yang membimbing kita, saat kehidupan menampakkan wajah sesungguhnya. Tak Selalu Indah, tak selalu mudah, karena disitulah kita sebenarnya sedang menempa diri. Menyelesaikan serangkaian ujian yang semoga, meluluskan kita dengan predikat memuaskan. Bukan hanya di akhirat, namun didunia ini juga.

Sungguh, tidak mudah menghadirkan cinta kepada orang-orang yang kita anggap telah membuat kita sakit, secara fisik maupun psikis. Apalagi jika kita merasa dia melakukannya dengan sengaja. lalu hati kitapun terluka. Ia berontak ingin membalas dendam. Banyak diantara kita yang kemudian, menyimpan rasa sakit hati dan dendam, iri, dengki, marah, kecewa, malu, dan yang lainnya.Kebnayakan dari kita mengira, itulah cara untuk menghukum orang itu. Dan kita merasa telah menang. Begitukah?

Alih-alih menyembuhkan luka, hal itu justru membuat hati kita bertambah sakit dan nelangsa. Ibarat menelan racun mematikan, namun berharap orang lain yang akan menderita karenanya. Tentu sangat menggelikan. Karena itu, mendendam adalah sebuah kesalahan besar sebab ia hakikatnya adalah hukuman bagi diri sendiri..Ia adalah pencuri kebahagiaan yang menghalangi kita memperoleh kualitas hidup yang memuaskan. Merantai hati untuk menikmati kelegaan karena dipenuhi dendam kesumat.

Biarkan cinta menraja di dalam jiwa, dimana salah satu buahnya adalah kemampuan untuk memaafkan, siapapun yang pernah, kita anggap menyakiti kita. Sebab, kita tidak akan benar-benar bisa merasakan kebahagiaan sebelum membebaskan hati dari dendam, kecuali dalam cinta dan benci karena Allah.

Sering, kita mengira bahwa memaafkan kesalahan berarti sama dengan menyetujui kesalahan itu, menerima kembali orang itu dalam kehidupan kita, atau memungkinkan untuk sakit hati lagi. Selain bahwa mendendam, kita sangka, akan memberi kita perasaan telah menghukumnya. Apalagi jika sahabat/kawan kita merestui itu. Itu Semua salah!

Luka jiwa memang tiak serta merta dapat terhapus, namun memaafkan dengan tulus akan membebaskannya dari rasa sakit, Insya Allah. Karena pada saat memaafkan, kita tidak sekedar berbicara tentang orang yang menyebalkan itu. namun lebih berbicara tentang pembebasan hati kita dari belenggu kebahagiaan dan racun mematiakan bernama dendam. Apalagi jika kita memehami bahwa orang yang menzhalimi kita , bahkan yang secara sengaja sekalipun, sebenarnya sedang menyakiti diri mereka sendiri. Dengan demikian bukankahakan lebih layak jika kita memaafkannya karena kasihan kepadanya?

Memang tidak mudah. Tapi mari kita lihat dari aspek manfaat dan madharat antara mendendam dan memaafkan. yang satu akan menguras energi psikis kita dengan terus menerus mencari pembenaran yang menunggu kesempatan menuntut balas, yang itu semua sangatlah melelahkan. Sedang yang satunya adalah hadiah untuk diri sendiri yang membebaskan.

Memaafkan bukan berarti menghilangkan apa yang telah terjadi dan membebaskan orang yang salah dari keadilan hukumannya. Namun ia adalah pelepasan semua beban fikiran, dan pembersihannya dari berbagai muatan negatif, merasa bersalah, bersedih, minder, frustasi, atau stress. karena semuanya telah terjadi, sepedih apapun, dimana waktu tidak bisa diputar kembali. Sedang hidup harus tetap berjalan dan ahrus dinikmati dengan penuh rasa syukur.

Karena itu, kita butuh kekuatan luar biasa untuk bisa memaafkan orang lain, apa lagi jika kita merasa mampu melakukan pembalasan. Dan hanya orang-orang hebat yang mampu melakukannnya. karena pemaafan hakikatnya adalah perang melawan diri sendiri agar meraih kebahagiaan yang optimal. Meninggalkan identitas masa lalu, tidak mengungkit-ungkit kesalahan serta menutup lisan dan hati kita dari mendendam dan menyalahkan yang sudah terjadi. hal ini agar kita tetap mudah berhusnuzhan keapda Allah, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian bahkan yang paling tidak mengenakkan sekalipun.

Hari ini, hari baru. Mari kita sambut dengan semangat baru dan jiwa baru. Yang terbebaskan dan ringan menjalani hari-hari sebab hidup tetap harus dilanjutkan. Ya Allah, mudahkanlah kami memaafkan kesalahan, dan lindungilah kami dari kesengajaan menyakiti orang-orang yang tidak berhak disakiti!

0 komentar:

Posting Komentar