Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Film Tears of Gaza

Written By Rudi Abu azka on Senin, 06 Mei 2013 | 00.00

Tears of Gaza adalah film dokumenter karya Vibeke Lokkeberg yang harus ditonton oleh setiap orang Amerika, untuk melihat bagaimana Israel menghabiskan pajak rakyat Palestina. Begitu juga setiap bangsa Eropa harus menonton film itu, untuk melihat kekejaman Israel yang sesungguhnya. Film ini harus dilihat oleh setiap bangsa Arab, untuk mendukung sepenuhnya perjuangan rakyat Palestina dan tidak membiarkan bangsa rasis menghapus warga Palestina dan keturunannya dari peta dan sejarah.

Air mata dan amarah kita akan membuncah, ketika melihat bom Israel jatuh tepat di atas anak-anak yang sedang tidur lelap, dan kemudian pesawat tempur Israel menghujani warga sipil Palestina dengan White Phosphorus, zat kimia yang mematikan atau setidaknya zat itu meninggalkan cacat permanen karena keganasannya mampu menembus tulang, bahkan melumerkan besi. Rakyat Palestina itu lari kocar-kacir mencari perlindungan tanpa ada perlawanan, kecuali harapan dan do’a...yang hanya mampu melawan rasa takut mereka sendiri.

Tears of Gaza menghujam jantung kita dengan rekaman nyata kota Gaza yang tersiksa. Film ini menyibak tabir kebenaran di balik bangsa pengecut dan media-media pendusta dengan opini yang menggambarkan pembantaian Israel sebagai "pertahanan diri". Film ini menelanjangi kebiadaban Israel di jantung kota Gaza melalui jiwa para syuhadaa’ dan senyum getir anak-anak Gaza tak bernyawa.
Pertama kali mendengar tentang Tears of Gaza atau Gaza Traer (judul asli dalam bahasa Norwegia) ketika Bernard Henri-Levi, seorang Jurnalis dan Philosopher Era Baru berkewarganegaraan Prancis berdarah Yahudi Algeria, melancarkan serangan terhadap Lokkeberg di media-media internasional. Pada kenyataannya, film ini adalah karya monumental...yang indah tapi menyakitkan, yang jujur tapi membuat hati kita hancur.

Vibeke Lokkeberg menghadirkan nama, wajah, dan kisah 3 anak Gaza biasa tapi memiliki jiwa dan semangat yang luar biasa. Dan untuknya, itu pun tidak cukup mewakili gambaran penderitaan anak-anak Gaza lainnya...yang masih banyak lagi dan jauh lebih tragis lagi.

Amira, gadis belia seusia anak saya Athira, 14 tahun. Amira yang lugu dan cantik dengan lukisan nyerinya penderitaan hidup, yang tidak sewajarnya menghiasi paras gadis seusianya. Masa anak-anak dan remajanya dirusak oleh kematian dan kehancuran, begitu pula tubuhnya dirusak oleh amunisi bangsa biadab. Dia bercita-cita ingin menjadi pengacara agar suatu saat nanti dapat menyeret Israel ke pengadilan atas kejahatan mereka yang telah dilakukan terhadap tanah airnya, keluarganya, dan dirinya. Ketika kenangan tentang ayahnya dan saudara-saudaranya terusik kembali oleh pertanyaan wartawan, dia mengakui...baru saja dia berharap "pergi dengan mereka".

Yahya, seorang bocah 12 tahun yang mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter, sehingga ia dapat menyembuhkan orang-orang yang ditembak oleh Israel. Dalam film ini, dia di atas perahu motor kecil dan sedang diajarkan mengarahkan transportasi air tersebut, yang seharusnya dia sedang menikmati masa kanak-kanaknya. Matanya yang indah dan senyumnya yang polos, yang selama ini mampu menjadi tabir duka baginya, tersibak juga hingga tak mampu membendung airmatanya ketika ia berbicara tentang ayahnya tercinta yang telah syahid dan tentang kisah hidupnya yang luar biasa dan seolah hanya dirinya seorang yang mengerti. Hingga dia berkata, “Ketika ayah saya meninggal, saya seperti kehilangan seluruh dunia.”


Rasmia, sikapnya jauh melampaui usianya yang masih 11 tahun. Ibunya menjelaskan bahwa ia terkadang membayangkan serangan tiba-tiba tentara Zionis. Hal ini jelas menunjukkan tanda-tanda pasca-traumatic stress disorder, dimana dia sering tiba-tiba mengalami kilas balik hidupnya hingga membuat jiwanya terguncang hebat akibat dari menyaksikan, mendengar dan merasakan langsung adegan-adegan tragis dan sadis.

Ketiga anak Palestina ini hanya butuh didengar...dan mungkin, untuk saat ini, yang mampu kita lakukan untuk mereka pun memang hanya mendengar penderitaan mereka. Atau mungkin kita hadiahi mereka dengan do’a tulus kita, saat masih merasakan hancurnya hati kita dan nanarnya mata kita, usai film Tears of Gaza tersebut.

Tapi, apakah kita harus menunggu air mata kita kering...emosi kita mereda...hati kita sembuh...untuk berbuat sesuatu yang nyata di hadapanAllah swt...sebelum Palestina merdeka?
Jadikan ini bukan hanya sekedar review, tetapi panggilan nurani untuk bertindak...semaksimal kita bisa, sesuai kemampuan luar biasa kita masing-masing...untuk saudara-saudara kita di Palestina, lillahi ta’alaa...! Sehingga tidak ada lagi yang masih berpendapat “Itu bukan urusan negara kita, apalagi urusan saya.”

by: Bunda Athira

0 komentar:

Posting Komentar