Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

BUKAN KEMISKINAN

Written By Rudi Abu azka on Minggu, 09 Oktober 2011 | 15.40


Banyak orang berhujah bahaya
kemiskinan dengan ungkapan:
“Hampir-hampir kefaqiran itu
membawa kepada kekufuran.”
Namun hadits ini adalah hadits
tersangat Lemah.
Menurut pengarang Tuhfadz al-
Ahwadzi Syarh Jami` Tirmizi ketika
menguraikan hadits ke 3525 Tirmizi, hadits
ini diriwayatkan oleh Abu Nu`aim dalam al-
Hilyah dari Anas sebagaimana tersebut
dalam al-Jami` al-Saghir. Al-Munawi ketika
menguraikan hadits ini menjelaskan bahwa:
sanadnya adalah amat lemah (wahin).
Al-Qari pula mentafsirkan kefaqiran
itu sebagai kefaqiran jiwa dan hati
bukannya kefakiran harta. Kefakiran jiwa
sememangnya membawa kepada
kekufuran.
Justru, hadits ini tidak bisa dibuat
hujah untuk menyatakan bahaya
kemiskinan, malah sebaliknya yang lebih
bahaya ialah kemewahan dan kesenangan
sebagaimana tsabit dalam banyak hadits
yang sahih. Diantaranya:
“Bukan kemiskinan yang ku bimbang
menimpa kamu tetapi yang aku bimbang
ialah dibentangkan di hadapan kamu
kemewahan dunia sebagaimana telah
dibentangkan kepada umat sebelum
kamu, lalu kamu berlomba-lomba
mengejarnya sebagaimana umat dahulu
kala juga berlomba-lomba mengejarnya, lalu
ia membinasakan kamu separti mana umat
dahulu kala juga telah dihancurkan oleh sifat
sedemikian.” (hadits Bukhari-Kitab al-Jizyah)
Walaupun begitu, Islam tidak juga
menggalakkan umatnya untuk menjadi
miskin. Ini karena Nabi berdoa:
“Ya Allah. Saya berlindung kepada
Kamu dari kekufuran dan kefaqiran dan saya
berlindung kepada Kamu dari adzab kubur.
Tiada Ilah melainkan Engkau.” (hadits
riwayat Abu Dawud, Nasaie dan Ahmad)
Islam juga tidak menggalakkan
umatnya menjadi kaya semata-mata
sebagaimana hadits sebelumnya. Yang
digalakkan ialah; orang kaya yang bersyukur
atau orang miskin yang bersabar. Orang
kaya yang bersyukur, yang menggunakan
hartanya pada tempat-tempat yang
diarahkan oleh Alah untuk disalurkan. Orang
miskin yang bersabar, orang miskin yang
redha dengan kemiskinannya lalu tidak
melakukan perkara haram demi untuk sesuap
nasi.
Malah sekiranya dibuat perbandingan,
manakah yang lebih afdhal; kaya yang
bersyukur atau miskin yang bersabar? Maka
mayoritas ulama berpandangan kaya yang
bersyukur lebih afdhal karena manfaat
kekayaannya melimpah dan dapat dinikmati
oleh orang lain.

0 komentar:

Posting Komentar