Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

PEREMPUAN DENGAN DUA IKAT PINGGANG

Written By Rudi Abu azka on Senin, 22 November 2010 | 08.15

Asma, perempuan yang tumbuh di lingkungan keluarga kaya dan elit, sangat dikenal di lingkungan sosialnya. Ayahya, Abu Bakar al-Shiddiq, orang paling kaya dan terpandang di kaumnya, suku Quraisy yang sangat dihormati dan disegani. Selain kecantikannya di atas rata-rata, Asma, seperti halnya saudaranya, Aisyah isteri Rasulullah saw, dikenal sebagai perempuan yang cerdas, lincah, dan prigel.

Perpaduan antara kedudukan keluarga yang membesarkannya dengan kecantikan, kecerdasan, serta keprigelan dirinya, secara umum, berpotensi kuat dirinya menjadi perempuan manja dan bahkan sombong sekalipun. Akan tetapi, potensu itu sama sekali tidak tumbuh pada diri Asma.

Meskipun ia sebagai anak perempuan orang kaya dan terpandang, ia dikenal sebagai perempuan yang memiliki sifat pemurah, kuat pendirian, berani, serta menjadi teladan perempuan sebayanya. Kelahirannya di tengah-tengah tradisi jahiliyah pun tidak membuat dirinya sebagai tipe perempuan produk budaya masyarakatnya. Asuhan keluarga Asma yang masih kokoh memelihara nilai-nilai fitrah membuat dirinya tumbuh sebagai perempuan yang berkarakter terpuji dan memastikannya sebagai figur seorang muslimah sejati. Bahkan Asma termasuk kelompok perempuan pertama yang masuk Islam.

Ia dikenal sebagai wanita tangguh yang berumur panjang, meskipun namanya pendek. Perjalanan hidupnya tidak sependek namanya. Allah memberinya umur panjang hingga 100 tahun, kecerdasan berpikir, dan keteladanan yang sangat inspiratif.

Keterlibatannya dalam momen–momen perjuangan Islam memastikan dirinya berada dalam barisan perempuan pejuang yang disegani. Hal itu antara lain dibuktikannya pada peristiwa sangat penting dalam sejarah Islam. Saat-saat menjelang hijrah dia sangat aktif membantu proses hijrah Nabi Muhammad saw bersama ayahnya. Ia dikenal sebagai perempuan berjibaku mengirimkan bekal makanan dan minuman di setiap terjadi peperangan. Bahkan ketika ayahnya, Abu Bakar bersama Nabi Muhammad saw berada di Gua Tsur, menjelang hijrah ke Yatsrib, dialah yang berani menjadi pengirim makanan buat mereka.

Tampaknya, nilai-nilai Islam yang bertahta dengan kokoh di dalam jiwanya, membentuknya menjadi pribadi yang kuat, memiliki pandangan hidup, sikap, serta cita-cita yang lurus. Keperibadiannya pun menjadi matang. Hal itu setidak-tidaknya terlihat jelas ketka ia dengan sekuat tenaga bersusah payah membantu perjalanan Rasulullah saw bersama ayahnya dari Mekkah ke Madinah.

Dalam peristiwa yang paling monumental itu, Asma menunjukkan kesejatiannya sebagai seorang perempuan berhati baja dengan semangat pengorbanannya yang luar biasa. Ia sama sekali tidak merasa takut terhadap ancaman dari kaumnya. Bahkan ia turut memantau perkembangan keamanan di sekitar kota Mekkah yang sedang genting.

Selanjutnya, ia sanggup melintasi padang pasir dan menaiki bukit terjal sambil membawa bekal makanan dan informasi berharga bagi Rasulullah dan ayahnya yang sedang bersembunyi dari kejaran kaum Quraisy di gua Tsur. Dengan cerdiknya ia kemas dan ikat segala persiapan hijrah serapih mungkin di atas punggung unta. Untuk itu ia harus mengoyak ikat pinggangnya menjadi dua. Sejak itulah ia terkenal dengan sebutan Dzatun Nithaqain, “Perempuan dengan Dua Ikat Pinggang”.

Ketika ia hendak mengikat karung makanan dan tempat minuman yang akan dikirim kepada Rasulullah saw dan Abu Bakar as. Pada waktu itu, Asma’ tidak memiliki tali untuk mengikatnya. Ia lalu merobek dan membelah ikat pinggangnya hingga menjadi dua. Satu untuk mengikat karung makanan dan satu lagi untuk mengikat tempat air minum. Ketika Rasulullah mengetahui hal ini, beliau berdoa, “Semoga Allah menggantikan ikat piinggang Asma’ dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di surga.” Begitulah kisah dirinya memperoleh sebutan itu.

Kesejatian Asma tampak lebih jelas ketika ia dengan ketulusannya siap untuk dinikahi oleh Zubair bin Awwam, seorang pemuda dari kalangngan keluarga biasa. Bahkan ia tidak memiliki harta, kecuali seekor kuda perang dan sebidang tanah pemberian Rasulullah saw. Ia bukan pula dari kalangan ningrat. Ia sama sekali bukan keturunan orang terpandang, apalagi berdarah biru. Bahkan Zuber dibesarkan dan dididk oleh seorang ibu yang lama menjanda.

Sikap Asma seperti itu bisa jadi akan sukar dicerna oleh orang tua dan gadis-gadis yang pola dan gaya hidupnya telah tenggelam dalam budaya materialistik seperti sekarang ini. Bagi Asma sikap yang diambilnya itu tidak menjadi problem psikologis dirinya. Ia tidak pernah merasa kecewa dan bahkan selalu setia melayan suaminya.

Jika suaminya sedang sibuk menyebarkan dakwah atau menjalankan tugas dari Rasulullah saw, Asma’ tidak segan-segan merawat kuda perang Zubair. Ia dengan senang hati merumput dan memanggulnya di atas kepalanya dengan berjalan serta menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya. Hasil perkahwinannya, Allah menganugerahi mereka seorang anak yang cerdas yang diberi nama Abdullah bin Zubair.

Gambaran otentik kesejatian dan ketulusan Asma sebagai seorang isteri, ibu, dan perempuan pejuang telah diabadikan dalam satu riwayat yang bersumber dari dirinya. Asma adalah hamba Allah, perempuan, isteri, dan ibu secara total. Keperibadiannya adalah sejarah otentiknya yang selalu memancarkan keteladanan bagi puteri-puteri, isteri-isteri, dan ibu-ibu dalam setiap generasi. Berikut adalah penuturan tentang dirinya yang paling terus terang.

“Dari Asma binti Abu Bakar Ra, ia berkata, “Zubair menikahiku sedangkan dia tidak memiliki harta kekayaan berupa barang tetap, tidak juga hamba sahaya. Pokoknya ia tidak punya kekayaan selain alat penyiram dan seekor kuda. Setiap hari saya harus memberi makan dan minum kudanya, menjahitkan gharbah (tempat air yang terbuatdari kulit)nya, membikinkan tepung padahal saya tidak pandai membikin roti dan biasanya yang membikinkan roti tetangga-tetangga saya dari kalangan wanita Anshar yang terkenal kepiawaiannya membikin roti.

Setiap hari saya harus mengangkut biji-bijian, dengan cara meletakkannya di atas kepalaku dan kelak harus saya tumbuk, dari sebidang tanah milik Zubair yang merupakan hadiah dari Rasulullah SAW. Padahal jarak tanah itu dengan rumah saya dua pertiga farsakh (satu farsakh sama dengan sekitar 3 mil)

Pada suatu hari saya pulang dari tanah Zubair dan di atas kepalaku seonggok biji-bijian (yang akan saya tumbuk) . Dalam perjalanan saya bertemu Rasulullah SAW bersama seseorang dar kalangan Anshar. Nabi lalu memanggilku seraya mengatakan ikh ikh (ucapan yang ditujukan kepada binatang kendaraan agar merunduk untuk dinaiki) agar saya membonceng di belakannya. Tentu saja saya akan malu berjalan bersama laki-laki dan saya ingat betul bahwa suami saya Zubair orangnya sangat pencemburu. Rasulullah SAW juga sangat tahu bahwa saya pasti malu. Maka Rasulullah SAW berlalu.

Kemudian saya sampai ke rumah dan menemui Zubair dan saya katakan padanya, “Saya berjumpa Rasulullah SAW bersama sahabatnya di jalan sedangkan di atas kepalaku ada seonggok bji-bijian. Lalu ia merundukkan binatang kendaraannya agar aku naik, Tentu saja saya malu dan saya ingat kecemburuanmu.” Zubair berkata, “Demi Allah kamu mengangkut biji-bijian itu jauh lebih berat (menjadi beban psikologis yang berat) bagi saya dibandingkan dengan naiknya kamu bersamanya .” Asma melanjutkan kisahnya dengan mengatakan, “Sampai akhirnya ayahku, Abu Bakar, mengirim seorang pembantu yang menggantikanku mengurusi kuda (siyasatu al-faras) dan ketika itu seolah-olah saya menjadi orang merdeka.” (HR, Bukhari).

Ditulis oleh: Ust Abu Ridho

0 komentar:

Posting Komentar