Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

IBARAT API

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 09 November 2010 | 22.36

Kalaulah nafsu birahi bisa diibaratkan api, maka jangan dibirakan sampai berkobar karena akan melalap semua bangunan moralitas."

Nafsu birahi, hasrat seks atau libido sering dimaknai sama, yaitu perasaan seksual yang menghebat pada diri seseorang, normalnya, terhadap pasangan lawan jenisnya. Oleh karena ia merupakan salah satu sifat alamiah manusia, maka setiap orang normal memilikinya. Dengan kata lain, nafsu birahi melekat pada setiap orang sejak ia terlahir ke dunia fana ini.

Hasrat seks atau nafsu birahi yang berkobar sering dimaknai sebagai pertanda tumbuhnya kedewasan seseorang. Pada umumnya pertumbuhan nafsu birahi sejalan dengan pertumbuhan kedewasaan. Sedangkan kedewasaan adalah salah satu tanda kematangan untuk melakukan pernikahan. Problemnya, di zaman yang serba terbuka sekarang ini serta didukung oleh teknologi komunikasi dan informasi yang digunakan secara bebas, terkadang membuat pertumbuhan kebirahian lebih maju ketimbang kedewasaan.

Lebih rumit, jika nafsu birahi itu kemudian diintervensi oleh ideologi kaum pedagang yang menjadikannya sebagai komoditas, bukan dalam kerangka penunaian amanah yang telah dibebankan kepada manusia, yaitu membangun peradaban. Apatah lagi sebagai manifestasi penghambaan kepada Allah swt atau media untuk menempuh puncak spiritualitas. Akhirnya, yang tersisa hanyalah fantasi dan imajinasi manusia terhadap nafsu birahi yang berlebihan dan bahkan tidak terkendali.

Pada kenyataannya, tidak setiap orang sanggup meredam atau menyalurkan nafsu birahinya secara benar dan baik. Akibatnya, banyak orang yang justru cenderung memperturutkannya hingga ke tingkat menjerumuskan dirinya ke dalam kubangan nestapa. Syeikh al-Busyairi mengungkapkan,” Nafsu itu bagaikan bayi yang menyusu, jika engkau biarkan maka akan menyusu terus sampai besar, tetapi jika engkau menyapihnya maka nafsu pun akan tersapi”.

Memang, banyak faktor pendukung yang membuat gairah seksual ini berkobar dalam diri seseorang, yang jika tidak ada upaya peredaman bisa membakar moralitas dirinya sampai hangus. Misalnya, rangsangan fisik jenis kelamin dan kondisi biologis yang kaya dengan hormon.

Di bagian lain, rangsangan-rangsangan yang dapat mengobarkan nafsu birahi itu adakalanya bersifat internal, seperti perasaan intimasi dan fantasi erotis, dan adakalanya bersifat eksternal, seperti melihat foto atau tayangan porno, atau melihat bagian-bagian tertentu pada tubuh lawan jenis, atau mencium wewangian tertentu. Konon, aroma lavender dan semacamnya dapat meningkatkan gairah seks.

Para ahli psikologi dan biologi mengatakan, terdapat hubungan erat antara faktor biologis dan faktor psikologis dalam mengobarkan birahi. Banyak kajian menunjukkan bahwa gairah seksual dan romantisme cinta adalah fenomena yang tak terpisahkan.

Menjauhkan diri dari fantasi erotik dan dari melihat segala sesuatu yang dapat membangkitkan nafsu birahi adalah langkah praktis peredaman gejolak nafsu birahi. Demikian pula, upaya tidak mencoba-coba melakukan hal hal yang bersifat mencari kepuasan birahi. Sebab, manusia itu mempunyai potensi untuk ketagihan terhadap sesuatu yang pernah dilakukan, meskipun pahit, apalagi nikmat. Memperbanyak berpuasa, seperti ditegaskan Rasululullah saw dalam haditsnya, juga dapat meredam nafsu birahi terutama bagi para pemuda. Pertanyaannya, kalau memang sudah memiliki kesiapan, mengapa harus menunda-nunda nikah?

0 komentar:

Posting Komentar