Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

THE WISDOM OF HAJJ

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 17 November 2010 | 13.11


Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikan untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Hajj: 27-28)

Mungkin agak terlambat bagi sebagian orang, diseru untuk berhaji pada saat-saat ini, sementara para jamaah haji telah menuntaskan ibadahnya. Semoga mereka kembali ke tanah air dengan derajat “haji mabrur”. Adapun bagi kita yang belum mampu, atau belum tergugah hatinya untuk niat berhaji, semoga dimampukan, digugah hatinya untuk memenuhi undangan sebagai tamu Allah di Al-Haramain Asy-Syarifain, boleh jadi tahun depan atau tahun-tahun mendatang sesuai kemampuan. Yang terpenting, marilah sama-sama kita pasang niat.

Tema kali ini diangkat untuk memotivasi kita memupuk niat yang kuat dalam rangka menunaikan haji. Bagi yang sudah haji, maka ini adalah pengingat bahwa haji bukan sekedar nostalgia yang indah, bukan sekedar kenangan manis. Nilai-nilai haji harus membekas dalam menjalani kehidupan pasca-haji. Inilah The Wisdom of Haji, kebijaksanaan dari ibadah haji.
Mari kita ibaratkan kehidupan ini sebagai sebuah film atau panggung sandiwara. Kita adalah para aktor atau pemeran dalam panggung kehidupan. Dan tentunya ada Sang Pengatur (pembuat skenario sekaligus Sang Sutradara). Allah SWT adalah Sang Pengatur seluruh kisah dalam panggung kehidupan ini. Maka sebagai aktor, jika ingin sukses, kita harus menjalankan peran kehidupan kita sesuai apa yang Allah inginkan, bukan menurut selera keinginan kita.
Ibadah haji adalah sebuah media pembelajaran, pengamatan dan observasi, agar kita semakin baik menjalankan peran dalam ‘film kehidupan’ kita masing-masing. Seseorang yang diberi kesempatan untuk menunaikan haji ibarat seorang aktor yang terpilih untuk bermain dalam ‘film haji’. Setelah pembuatan ‘film haji’ selesai, maka diharapkan sepulangnya dari tanah suci, peran itu terbawa dalam film yang lebih besar, yakni ‘film kehidupan’.
Misalnya, ada di antara kita yang berperan sebagai suami-istri yang sudah lama belum dikaruniai buah hati. Setelah karunia itu didapatkan, ternyata hanya sebentar saja karena Allah meminta kembali buah hati yang kita cintai itu. Pada saat seperti itu, Allah meminta kita agar menjalani peran SABAR (Al-Baqarah: 155-156). Maka jalanilah peran itu dengan baik, bukan malah menjalankan peran KECEWA atau MARAH. Jika hal itu yang terjadi, maka kita telah gagal berperan dalam ‘film kehidupan’ ini.
Jadi bagi yang terpilih untuk ikut bermain dalam ‘film haji’, maka berperanlah sebaik-baiknya sesuai yang diinginkan Allah SWT sehingga nantinya bisa menjalani peran dengan baik pula dalam ‘film kehidupan’. Ingatlah bahwa penghargaan dan bayaran kepada pemain ‘film haji’ ini sangat luar biasa: SURGA. Dan karena gajinya sangat tinggi, maka pekerjaan di dalamnya pun berat, yakni dengan mengorbankan harta dan jiwa.

Dalam ‘film haji’, ada lima lokasi syuting yang sangat penting, di mana kita harus ber-akting sesuai arahan. Lokasi syuting dan peran tersebut bisa juga kita maknai sebagai prinsip-prinsip untuk menjalani ‘film kehidupan’.

Miqat, akting yang dimainkan adalah “Niat dalam Segala Urusan”
Jika niat haji hanya hanya untuk pamer kepada sesama manusia, untuk rekreasi dll., maka hanya sebatas itulah yang akan didapat. Maka niatkanlah ibadah haji ikhlas untuk Allah. Sepulangnya ke tanah air, perbaiki niat kita dalam kehidupan. Pasanglah niat ikhlas dalam segala urusan, baik dalam bekerja, berumah tangga, beribadah maupun bermu’amalah.

Ka’bah, akting yang dimainkan adalah “Selalu Berorientasi Kepada Allah”
Yang memberi kita kesehatan, kekayaan, dll., adalah Allah. Perusahaan tempat kerja, dokter dan obat, hanyalah perantara. Semua terjadi dengan kehendak Allah. Maka segala aktifitas kita harus berfokus kepada Allah. Demikian juga dalam bekerja atau berbisnis, tidak cukup jika kita hanya berorientasi pada customer satisfaction (kepuasan pelanggan), tapi harus sampai pada God Satisfaction (keridhaan Tuhan).

Shafa dan Marwah, akting yang dimainkan adalah “Persistensi atau Kegigihan”
Saat Hajar dan bayi Ismail AS ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS di padang pasir Makkah, Hajar bersikap pasrah dan tenang karena sadar bahwa semua itu adalah perintah Allah. Ia yakin Allah SWT tak memerintahkan sesuatu untuk menyengsarakan dan membinasakan hamba-Nya. Saat bayi Ismail menangis karena kehausan, Hajar berupaya mencari air. Ia berupaya mencarinya di antara bukit Shafa dan Marwah, berulang-ulang sampai 7 kali. Akhirnya Allah memberi karunia berupa sumur Zam-zam. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa:
· Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang hidup di jalan kebenaran
· Pertolongan Allah akan datang setelah seseorang melalui proses ikhtiar, tidak hanya berpangku tangan atau berdiam diri
· Jangan sampai kita berputus asa dalam menjalani ikhtiar. Segala cara (tentu saja yang tidak melanggar syari’at) harus ditempuh dan bila perlu diulang-ulang.

Arafah, lokasi inti dan paling penting, akting yang dimainkan adalah “Pengosongan”
Melakukan evaluasi total atas perjalanan di masa lalu
Merencanakan langkah untuk masa depan yang lebih baik

Jumrah, akting yang dimainkan adalah “Permusuhan Abadi”
Dalam akting ini, kita deklarasikan perjanjian untuk menjadikan syaithan sebagai musuh abadi. Maka saat kembali dari ‘film haji’, kita tetap mempertahankan permusuhan dengan syaithan, yang terwujud dalam pikiran dan tindakan. Janganlah katakan syaithan adalah musuh tapi kita mengikuti langkah-langkahnya ke neraka.

Semoga Allah menggugah hati kita, memberi hidayah dan kemampuan, melimpahkan hati kita dengan kebijaksanaan, sehingga kita menjadi manusia yang sukses berperan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini. Amiin.

Silahkan sahabat Download Audio Kajian Bedah Buku Wisdom of Hajj DISINI

0 komentar:

Posting Komentar