Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Thomas Muhammad Clayton (USA)

Written By Rudi Abu azka on Jumat, 17 Juni 2011 | 17.30

Matahari telah
melintasi garis tengah
bumi, ketika kami berjalan
melalui jalan tanah dalam

udara yang panas, kami
mendengar suara nyaring
dengan gaya lagu yang
bagus monoton

memenuhi angkasa di
sekitar kami.


Kami melintasi satu
daerah yang penuh
pohon-pohonan, ketika
tiba-tiba kami melihat

suatu pemandangan yang
mengherankan yang
hampir mata kami tidak
mempercayainya.

Seorang Arab yang
buta, mengenakan
pakaian yang bersih
berserban putih, berdiri di

atas menara kayu yang
nampak baru, seakan-
akan dia menghadapkan
suaranya ke langit.

Tanpa kami sadari,
kami terduduk, seakan-
akan langgam suaranya
itu secara hipnotis telah

menyihir kami. Adapun
kata-katanya yang
sedikitpun tidak kami
mengerti ialah: ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR !!! LAA
ILAAHA ILLALLAH !!!


Segala sesuatu di sekitar
kami tenang, tidak ada yang
memperdulikan pandangan
kami. Akan tetapi sesudah
suara itu berakhir, kami melihat
banyak orang berdatangan dan
berkumpul terdiri dari berbagai
tingkat usia dan berbagai
macam pakaian, dan jelas
kelihatan bahwa mereka terdiri

dari berbagai macam tingkat
sosial.


Mereka berbondong-
bondong dengan sikap tenang
dan khusyuk, lalu mereka
menggelar tikar. Orang banyak
berdatangan ke tempat itu,
sehingga kami menjadi
bertanya-tanya kapankan

selesainya pertemuan ini?


Mereka pada membuka
sandal dan duduk berjejer
dalam barisan-barisan yang
panjang, yang satu di belakang
yang lain. Tidak habis-habisnya
keheranan kami dan tetap
diam membisu, karena tidak

ada sesuatu tanda tentang
tujuan pertemuan ini, yang
banyak menghimpun
banyak orang kulit putih,

kulit kuning dan kulit hitam,
orang-orang fakir miskin,
orang-orang kaya, peminta-
minta dan pedagang; yang
satu duduk berdampingan
dengan yang lain, tanpa
membeda-bedakan unsur

kemanusiaan atau
kedudukan sosial. Tanpa
kami perhatikan bahwa
seseorang di antara yang

berkumpul ini mengangkat
matanya di atas orang
banyak yang ada di
mukanya.
Jiwa persaudaraan
yang meliputi pertemuan
orang dengan segala
perbedaannya ini telah

meninggalkan kesan yang
tidak mungki
n terhapus dari
jiwa kami.

0 komentar:

Posting Komentar