Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Dan Shubuh pun Merana

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 01 Juni 2011 | 16.10


Pada pagi itu, sebagaimana pagi-pagi yang lain, aku menyambut kedatangan tamu tetapku."Assalamualaikum", seru Subuh. "Wa'alaikumsalam", sahutku. Dan kami terus berpelukan, tanda rindu serta kasih sayang. Kutanya kabar Subuh, bagaimana keadaannya mengembara dari satu tempat ke tempat lain.

"Tadi..", kata Subuh dengan sayu, "... aku baru saja melintas satu tempat. Kucari tempat persinggahan, kuketuk rumah-rumah yang sunyi, tapi satu pun yang mau menerimaku sebagai tamu." Dan airmata Subuh pun berlinangan. "Subuh, usah kau pedulikan mereka, bukankah aku menyambutmu dengan penuh rasa kegembiraan?”. Subuh mengangkat mukanya seolah-olah teringat sesuatu.

"Oh ya, tadi aku lewat di suatu tempat diseberang sungai. Orang- orangnya sepertimu, menyambutku dengan penuh kesukaan, menjamuku dengan pelbagai hidangan yang lezat serta

menggiurkan. Hidangan yang paling kusuka adalah buah Tahajjud, puas kucari di bumilain, tapi jarang kujumpa. Di situ aku nikmati buah Tahajjud dengan puas".Dan Subuh merenung mataku mengharapkan sesuatu. Aku fahami maksud Subuh.

"Maaf Subuh, aku tiada menanam pohon Al-Lail, jadi aku tidak dapat menghidangkanmu dengan buah yang kau sukai. Tapi aku ada Roti Shiyam", cadangku pada Subuh. Subuh menolak dengan hormat. "Roti itu ada pemiliknya", kata Subuh. "Adakah kau mau manisan Zikir?" rayuku pada Subuh.

"Baiklah, ambilkan aku sedikit, serta bawakan aku segelas Air Mata Tangisan", pinta Subuh. Aku agak risau, bagaimana harus kuberitahu pada Subuh, tentang Mata Air Tangisan yang sudah hampir kekeringan akibat kemarau Maksiat yang berpanjangan? Namun, aku tetap menengok ke dalam Perigi yang memuatkan Mata Air tersebut. Aku terkejut. Perigi tersebut hampir separuhpenuh! Ya. Dan aku terbetik di dalam hati, adakah ini tanda kemarau akan berakhir?

Tanpa berlengah lagi kubawa Air tersebut pada Subuh, tamu yang kusanjung, dan kusajikan manisan yang dipintanya. Selesai menjamah semuanya, Subuh pun melirikkan sebuah senyuman. "Subuh ..", seruku, "... maukah kau tinggal selamanya denganku? Aku memerlukan teman dalam kesunyian. Akan kulayani kau dengan sebaiknya, wahai Subuh". Subuh tersenyum lagi menandakan permintaanku tidak akan terpenuhi. "Aku perlu menziarahi banyak orang, dan banyak lagi yang memerlukan kehadiranku untuk mengobati rindu mereka, sebagaimana aku membuyarkani mimpimu".

Dan aku setuju dengan penjelasan Subuh. "Subuh,..” seruku lagi bila melihat Subuh bersiap untuk pergi, "Sudikah kau menziarahiku lagi esok hari?" "Insya Allah", jawab Subuh"... bukankah aku kekasih yang kau rindui?" Subuh berangkat dengan lambat tetapi pasti. "Assalamualaikum", seru Subuh. "Wa’alaikumsalam", jawabku kembali. Dan mataku terus meniti langkah Subuh, yang semakin laju dengan setiap langkah. Dan akhirnya Subuh hilang dari pandangan.

Terlintas di fikiran ini apa agaknya keluh kesah dari dzuhur, Asar, Magrib dan Isyak? Namun jawabannya, tersirat dalam diri kita sendiri.

"sesungguhnya, apa yang baik itu datangNya dari Allah.. dan yang tak baik itu adalah kelemahan diri kita sendiri.." "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Menyukai Kelembutan Di seluruhPermasalahan" (HR Bukhari & Muslim)

0 komentar:

Posting Komentar