Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

RACUN YANG MENGOTORI QALBU

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 30 Juli 2009 | 04.15


RACUN YANG MENGOTORI QALBU

“Dan Dia menundukan untukmu apa yang di langit dan di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya. Pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir”. (Qs. Al-Jatsyiah [45]:13).

Syaikh Amin Muhammad Jamal pernah mengungkapkan; keselamatan hati tidak akan sempurna sebelum terhindar dari lima lima hal, yaitu: syirik yang menodai Tauhid, bid’ah yang menyalahi sunnah, nafsu syahwat yang melanggar perintah, dari ambisi yang mengotori keikhlasan dan lalai yang menodai Dzikrullah.

a. Syirik yang menodai Tauhid. Bila penghayatan seseorang tentang tauhid sudah baik, maka kesadaran akan tugas dan kewajiban sebagai hamba akan muncul dengan sendirinya. Karena alam pikiran yang dilandasi oleh aqidah tauhid akan menimbulkan semangat keimanan, dan iman adalah cermin dari sehatnya qalbu. keyakinan akan adanya Allah, semua yang di dunia ini adalah milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya, akan membuat qalbu terbentengi dari kotoran syirik. Tauhid tidak akan terealisasi dengan baik, jika ke-syirik-an masih melekat dalam qalbu. Qalbu tidak akan dapat dijernihkan bila syirik (menyekutukan Allah) masih bersemayam didalamnya.

b. Bid’ah yang menyalahi sunnah. Salah satu tugas qalbu adalah menjernihkan prilaku ibadah yang hanya di contohkan oleh Rasulullah saw. Sebab sebanyak apapun ibadah jika tak sesuai aturan, tidak akan menambah kebaikan. Kebenaran ibadah adalah pangkal kemurnian aqidah, kemurnian aqidah adalah ibadah yang di inginkan sunnah. itulah pantulan cahaya qalbu yang jenih.

c. Nafsu syahwat yang melanggar perintah. Al-Qur’an menggunakan term syahwat untuk bebrapa arti, pertama; dalam kaitannya dengan fikiran-fikiran tertentu. Yakni fikiran-fikiran orang karena mengikuti hawa nafsu ( Qs.4:27 ), kedua; dihubungkan degan keinginan manusia terhadap kelezatan dan kesenangan (Qs.7:81 ), dan ketiga; berhubungan dengan prilaku seks menyimpang (Qs.7:81, 27:55). Ketiga prilaku ini adalah kecenderungan yang mendorong seseorang melanggar aturan dan perintah. Jika hati telah di kuasai dengan prilaku ini, maka cahaya kebenaran tak lagi nampak ke permukaan. Karena syahwat lebih cenderung kepada prilaku kejahatan.

d. Ambisi yang mengotori keikhlasan. Harta dan kehormatan adalah dua keadaan yang sering mendorong seseorang untuk meraihnya. Ambisi mengejajar dua
keinginan ini seringkali di lakukan dengan berbagai cara. Dan sesungguhnya semua itu lahir dari ketidak puasan terhadap apa yang sudah dimilikinya. Jika kedua ini telah menyelimuti hati, maka sulit sekali untuk membersihkannya, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah.

e. Lalai Yang menodai Dzikir. Dzikir adalah obat bagi kerasnya hati. Tetapi bagi hati yang lalai tak ada tempat untuk melakukannya. Karena syubhat dan syahwat telah mengendalikan dirinya, sehingga hati begitu sulit mengingat-Nya. Ibnu taimiyah menngungkapkan, Dzikir bagi hati adalah ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air.

Tidak ada musibah yang paling dahsyat yang dirasakan oleh menusia selain ketika hatinya sudah tidak lagi berpihak kepada kebenaran, sebab itu bukan hanya menyengsarakan kehidupan dunia tetapi menyebabkan keterpurukan diakhirat. Dan yang berbahaya lagi adalah bahwa rusaknya qalbu kita akan menjauhkan diri kita kepada Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya; Al-Fawaid, mengungkapkan beberapa hal yang mampu menjauhkan qalbu dari Allah,. Diantaranya adalah:

1. Pintu syubhat, yang selalu mewariskan keragu-raguan tentang agama Allah. Inilah pintu yang dapat memalingkan keyakinan (I’tikad). Dan syubhat adalah perkara atau keadaan yang tidak jelas haq dan bathilnya, halal dan haramnya.
2. Pintu syahwat, yang selalu mewariskan tradisi mendahulukan hawa nafsu dari pada taat dan ridha-Nya. inilah pintu yang memalingkan organ badan (jawarih). Syahwat adalah keinginan yang timbul dari jiwa hewani yang sering bertentangan dengan hukum suci (fitrah kebenaran).
3. Pintu amarah, yang selalu mewariskan permusuhan diantara makhluk Allah. Inilah Pintu yang dapat memalingkan tabiat. Kemarahan akan menghilanghkan kebijakan seseorang dalam bertindak dan berucap, membuyarkan konsentrasi. Kebenaran dalam pandangan orang yang marah bisa berubah menjadi kebathilan.

Dari ketiga pintu inilah, seluruh dosa dan kemasiatan datang mengotori hati dan menghambat pertumbuhannya. Syubhat telah membuat kita memiliki ketergantungan kepada selain Allah, yang akhirnya mendorong diri kita menjadi menyekutukan Allah serta memohon kepada selain Allah. Syahwat telah mendominasi hati, baginya yang penting memenuhi keinginan hawa nafsu. Hawa nafsu telah menjadi pemimpin dan pengendali baginya.

0 komentar:

Posting Komentar