Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Al Ghazali: The Alchemist of Happiness

Written By Rudi Abu azka on Senin, 29 April 2013 | 06.17

Synopsis film Al Ghazali: The Alchemist of Happiness:

Menjelajahi kehidupan dan pengaruh dari filsuf spiritual dan hukum terbesar dalam sejarah Islam, film ini meneliti krisis eksistensial iman Ghazali yang muncul dari penolakannya terhadap dogmatisme agama, dan mengungkapkan kesamaan yang mendalam dengan jaman kita sekarang. Ghazali dikenal sebagai Hujjatul Islam (Bukti Islam) dan jalan cinta dan keunggulan spiritualnya mengatasi perangkap dari agama yang terorganisir pada zamannya. Jalan-nya sebagian besar ditinggalkan oleh reformis Muslim awal abad ke-20 yang lebih keras dan kurang toleran, seperti mazhab Ibnu Taimiyah. Menggabungkan drama dengan dokumenter, film ini berpendapat bahwa Islamnya Al Ghazali adalah penawar untuk teror jaman ini.

Imam al-Ghazali (waktu tua) yang muncul di dalam film ini. Film ini memiliki tiga rentang usia yang berbeda; anak, dewasa, dan tua.

Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Ovidio Salazar yang berasal dari California. Dia yang sudah berkecimpung selama lebih 20 tahun dalam pembuatan film dan acara dokumenter, seperti Faces of Islam yang ditayangkan di BBC, kali ini bakatnya diuji lagi dan dipersembahkan di dalam The Alchemist of Happiness yang telah diterbitkan pada tahun 2004, dan ia mendapat banyak pengakuan di beberapa festival film internasional.

Inti utama film ini adalah berdasarkan riwayat hidup nyata Imam al-Ghazali, atau nama sebenarnya Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1058-1111 M), yaitu seorang tokoh pemikir Islam yang sangat terkenal sehingga namanya bergema-gema di ruang lingkup dunia Barat, terutama yang melibatkan bidang filsafat dan epistemologi. Dalam dunia Islam pula, rata-rata orang umum mengenalnya melalui kitab-kitab tasawufnya seperti Ihya Ulumuddin (Kitab Bimbingan Mukmin adalah versi ringkasan Ihya Ulumuddin yang dilakukan oleh Sheikh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi dari Damaskus) dan Ayyuhal Walad al-Muahib (Wahai Anakku sayang).

Namun, bagi mereka yang benar-benar mempelajari sejarah dan latar hidup beliau, maka mereka akan merasa bahwa Imam Al-Ghazali ini bukan hanya ahli dalam ilmu tasawwuf, bahkan fiqh, aqidah, filsafat, mantik, dan sebagainya. Tidak heran ia juga diberi nama timangan Imam Shafi'i Kedua, di samping gelar yang selalu kita dengar: Hujjatul Islam. Selain itu beliau merupakan salah seorang tokoh mujaddid (pembaharuan) abad ke-5 Islam tanpa ada khilaf di kalangan para ulama tentang taraf mujaddid beliau ini.

Beliau dilahirkan di Tus yang
terletak di wilayah Khurasan negara Persia (hari ini ia berada di bagian utara negara Iran) pada tahun 450H/1058M. Sewaktu di Tus dan Nishapur, pengajian ia lebih terfokus fiqh dan syariah, dan kemudian ia mulai mengembara dan berguru ke seluruh penjuru dunia Islam; ke Baghdad, Damaskus, Yerusalem, Kairo, Alexandria, Mekkah dan Madinah. Guru kepada Imam al-Ghazali yang paling terkenal adalah Imam al-Haramain al-Juwaini yang dianggap sebagai ulama terkemuka dunia Islam waktu itu. Dan ironisnya, Imam al-Ghazali juga merupakan warisan dan anak murid beliau yang paling hebat dan cerdas, bahkan dikatakan juga bahwa kehebatan Imam al-Ghazali telah mengatasi gurunya yang sangat masyhur itu.

Kawasan ini terletak di Tus, yaitu tempat kelahiran Imam al-Ghazali, dan juga tempat kembalinya beliau sesudah bepergian bertahun-tahun. Di sini ada peringatan Imam al-Ghazali. Sayangnya, kuburan sebenarnya Imam al-Ghazali tidak dapat dipastikan di mana lokasi pada hari ini.
Al-Ghazali: The Alchemist of Happiness menampilkan riwayat hidup Imam al-Ghazali melalui 3 metode utama yang  diselang-selingkan sepanjang film ini berlangsung selama lebih kurang 80 menit.Pertama adalah melalui teknik akting yang dibintangi oleh para aktor berkebangsaan Iran. Dalam kasus ini, Ghorban Nadjafi berlakon sebagai Imam al-Ghazali. Semua dialog di antara karakter utama yang lain seperti Nizam al-Mulk dan Ahmad al-Ghazali (yaitu adik Imam al-Ghazali), di samping karakter kodi, adalah di dalam bahasa Persia secara total. Film ini juga turut dibintangi oleh seorang aktris Iran, Mitra Hajjar, yang memerankan sebagai istri Imam al-Ghazali. Namun demikian, tidak ada sama sekali setiap dialog di antara Imam al-Ghazali dan istrinya di dalam film ini. Mereka hanya berkomunikasi melalui bahasa tubuh, terutama sekali melalui lenggok mata. Saya kira, ini mungkin untuk menghindari kontroversi yang mungkin timbul. Namun demikian, adalah lebih molek jika Mitra Hajjar menutup auratnya dengan lebih sempurna di dalam film ini, terutama sekali pada bagian rambut, karena ia memerankan sebagai istri kepada seorang ulama besar dunia.

Teknik kedua adalah melalui metode naratif atau pun penceritaan. Robert Powell, yang merupakan aktor TV dan film Inggris yang terkenal, telah dipilih untuk menjadi 'suara' kepada Imam al-Ghazali. Teks ke 'suara' ini diambil dari otobiografi yang ditulis oleh Imam al-Ghazali sendiri yaitu, al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan), yang menceritakan perjalanan hidupnya, yang akhirnya membawa beliau memfokuskan pada ilmu tasawwuf.

Teknik ketiga pula adalah dengan cara mewawancarai tiga tokoh penting Islam di Barat, yaitu Hamza Yusuf, TJ Winter (yaitu Abdul Hakim Murad), dan juga Seyyed Hossein Nasr, di samping beberapa lagi individu lain. Ruang lingkup teknik ini lebih menuju ke arah analisis kritis kehidupan Imam al-Ghazali. Di sinilah penonton akan dapat melihat bagaimana tokoh-tokoh yang diwawancarai itu mencoba untuk membawa relevansi ide-ide Imam al-Ghazali untuk dihidupkan kembali di abad ke-20 ini, yaitu abad yang menyaksikan dunia yang lebih membingungkan dan membejatkan dibandingkan sebelumnya. Jadi, salah satu tema utama film ini adalah 'Al-Ghazali adalah obat bagi dunia yang sedang sekarat pada zaman ini'.

0 komentar:

Posting Komentar