Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

BERSEDIH

Written By Rudi Abu azka on Selasa, 16 Agustus 2011 | 17.32


Kesedihan ini bukanlah kesedihan yang bisa dirasakan oleh golongan yang mengejar
keduniaan, bersedih karena dunia dan bergembira pun karena dunia! Namun, ini
kesedihan yang dilandai rasa takut, waspada dan penuh harapan, jauh dari putus asa dan
pesimis, itulah yang dinasihatkan oleh tabiin yang agung Al-Hassan Al-Basri Rahimahullah yang
berkata: “Sesungguhnya seorang mukmin itu di pagi hari bersedih, di petang hari bersedih, karena ia berada di antara dua rasa takut. Pertama karena dosa yang telah lalu sedang ia tidak tahu adakah Allah telah mengampuninya. Kedua tentang umur yang tersisa karena ia tidak tahu apakah
kebinasaan akan menimpa dirinya.”

Jika demikian maka hal itu adalah rasa takut jika dirinya mengikuti hawa nafsu dan
penyimpangannya, khawatir jika dirinya binasa karena terjerumus ke dalam kejahatan atau
terperangkap ke dalam kebinasaan. Inilah kesedihan karena pengaruh iman,
kesungguhan untuk menyahutnya, kuat pengaruh, yang mendorong seorang mukmin
untuk berusaha bersabar, menjaga diri, membekali dirinya dengan kesabaran dan
mujahadah, karena dia hidup selalu di antara dua rasa takut, kesalahan yang telah lampau,
tanggungjawab dan pengaruhnya pada masa mendatang yang penuh godaan dan tentangan.
Dia akan bersungguh-sungguh untuk menghapus kesalahan yang telah lalu, berbuat
baik dan menjaga diri dari tipu daya syaitan di masa yang akan datang.

Begitulah kesedihan yang terpuji, tidak seperti kesedihan orang-orang yang cintakan
dunia dan rakus, sebagai buah yang baik bagi seorang mukmin yang hatinya dipenuhi dengan
rasa ini. Adapun orang-orang yang menyangka bahwa dunia adalah tempat untuk bermain-main,
bersenang-senang, berfoya-foya, bersuka-ria dengan berpaling dari akhirat, lupa akan hakikat
dunia dan rahasianya, alangkah beratnya kesedihan mereka pada hari di mana manusia
berdiri di hadapan Rabbul ‘Alamin.

Alangkah besar kerugian mereka karena telah bersuka-ria dan mengolok-olok orang yang
bertakwa yang senantiasa berhati-hati dan bersedih di dunia. Padahal orang-orang yang
bertakwa nantinya akan berkata yang artinya “Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu
berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab). Maka Allah memberikan
kurnia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.” (QS. ath-Thur: 26-27)

Sesungguhnya kemajuan yang diraih oleh orang barat yang mampu memiliki hegemoni kuat di
tengah-tengah manusia dari timur hingga barat, tiada target yang hendak diraih selain bersenang-lenang, bermain-main, bernikmat-nikmat dan berfoya-foya. Kemajuan tersebut adalah kemajuan atheis yang tidak beriman kepada hari akhirat dan tidak ada perhatian sama sekali agar manusia mendapat
kebahagiaan di akhirat.

Ironinya, pandangan barat tersebut telah menjalar menjadi perkara umum dalam masyarakat
Islam yang ditelan oleh kemajuan dan menjadikannya sebagai pedoman bertindak dan standard penilaian. Sesungguhnya kesenangan, kegembiraan dan keceriaan memang tidak dilarang dalam Islam, akan tetapi tidak boleh bagi seorang muslim lupa akan tujuan wujudnya dunia, tidak boleh pula melupakan tugas hidupnya, bahkan Islam menyerunya untuk selalu bermuhasabah, banyak berfikir, mengikuti perintah dan mempersiapkan diri sebagaimana dalam al-Quran ada menyebut yang artinya:
“Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-
orang yang lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (QS. al-Hasyr: 18-19)

Dan telah sampai pula kepada kita nasihat Al-Hasan Al-Basri Rahimahullah yang menjelaskan
maksud dari kesedihan yang mulia tersebut yang memenuhi hati orang yang bertakwa, beliau berkata:
“Sudah sepatutnya orang yang mengetahui bahwa kematian akan mendatanginya, hari kiamat
menunggunya dan bahwa berdiri di hadapan Allah Ta’ala akan dialaminya, dia bersedih dalam waktu
yang panjang.” Setiap kita akan mengalaminya, maka siapakah yang patut mengambil iktibar?

0 komentar:

Posting Komentar