Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Merasa Hina

Written By Rudi Abu azka on Senin, 01 Agustus 2011 | 05.43


Allah s.w.t. menjadikan seluruh hidup ini,
sebagai ujian bagi para hambaNya, bagi
membedakan dalam kalangan para hambaNya,
antara yang jujur denganNya dan yang
mendustaiNya.
Di antara ujian tersebut, Allah s.w.t.
meletakkan syariat sebagai ukuran bagi
mendidik manusia, agar mengutamakan
perintahNya daripada kehendak nafsu diri
mereka.
Sesiapa yang berjaya mengutamakan
perintah Allah s.w.t. daripada kehendak nafsu
dirinya dengan mengutamakan syariat, maka
dia ialah orang yang berjaya, begitulah juga
sebaliknya.
Sesiapa yang mengutamakan kehendak
nafsuNya daripada perintah Allah s.w.t.,
dengan melanggar syariatNya, maka dia telah
mendurhakaiNya dengan kemaksiatan. Maka,
orang-orang tersebut merupakan orang yang
malang terutama di Akhirat kelak.
Allah s.w.t., tidak pernah memerlukan
para hambaNya, tidak pernah berhajat kepada
para hambaNya, malah terlebih gembira akan
kepulangan para hambaNya kembali kepada
ketaatan kepadaNya, dan bersimpuh dalam
kebersamaanNya, bukan karena kepentingan
diriNya, tetapi karena cintaNya kepada para
hambaNya setulusnya.
Allah senantiasa memberi peluang dan
terus memberi peluang kepada para
hambaNya, sehinggakan Nabi s.a.w. sendiri
yang pernah ditanya, sampai bilakah Allah
s.w.t. akan terus memaafkan para hambaNya
yang senantiasa bertaubat namun masih
mengulangi kesalahannya, lalu bertaubat lagi
dan begitulah seterusnya, dengan jawaban:
"Allah s.w.t. tidak akan pernah jemu
memaafkan para hambaNya yang (jujur)
bertaubat kepadaNya sehinggalah hamba itu
sendiri yang jemu (dari bertaubat
kepadaNya)".
Hamba yang jujur dalam kehambaan
kepadaNya, senantiasa merasakan dirinya hina
di hadapanNya, dan senantiasa bersegera
untuk kembali kepadaNya dengan bertaubat
kepadaNya, dan meminta bantuan dari Allah
s.w.t. agar Allah s.w.t. terus membantunya
dalam ketaatan kepadaNya.
Seorang hamba yang ingin memulai
langkah baru setelah lemas dalam lautan
kejauhanNya dengan maksiat dan dosa,
hendaklah memulakan perjalanan pulang
menujuNya dengan penuh kejujuran dan
keikhlasan.
Senantiasa meminta bantuan dariNya
agar Dia senantiasa membantuNya untuk
sampai kepadaNya. Seseorang hanya sampai
kepadaNya dengan bantuanNya, karena tiada
daya untuk melakukan ketaatan dan tiada
upaya untuk menolak memaksiatan melainkan
dengan bantuan Allah s.w.t..