Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Al Ghadab

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 09 November 2016 | 12.34

Salah satu pintu masuknya gangguan syetan pada manusia adalah Al-Ghadhab dan al-Syahwah.

Asy-Syarif Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitabnya At-Ta’rifaat, menjelaskan bahwa marah (al-ghadhab) adalah perubahan yang terjadi ketika mendidihnya darah di dalam hati untuk memperoleh atau meraih kepuasan apa yang terdapat di dalam dada.

Marah juga merupakan pintu masuk setan. Pada zaman Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya seseorang (dari sahabat) datang dan berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi, nasihatilah aku”, Nabi bersabda, “Kamu jangan marahl”, lalu orang itu minta dinasihati lagi, Nabi bersabda, “Kamu jangan marah!” (HR. Bukhari).

Nabi menyebutkan “jangan marah” sampai tiga kali. Kemudian sahabat itu memahami sabda beliau bahwa sesungguhnya marah itu bisa mengumpulkan seluruh kejelekan.

Hadits Nabi tersebut mengingatkan kita bahwasanya menahan diri dari perasaan marah termasuk bekal yang perlu dibawa oleh setiap orang dalam mengarungi aktivitas kehidupannya. Sebab, perbuatan marah dapat menghimpun berbagai macam kejahatan, sehingga Nabi melarangnya.

Kalau seseorang telah diliputi perasaan marah, maka seluruh kejelekan bisa ia undang untuk masuk ke dalam dirinya dengan leluasa. Misalnya, ia akan berbicara keras dan kasar. Berkata-kata keras dan kasar adalah kejelekan. Seorang mukmin tidak akan berkata-kata kasar dan mengucapkan kata-kata yang tajam menyayat perasaan si pendengarnya. Ia tidak mungkin berbicara yang menusuk perasaan, mencaci maki, mengeluarkan kata-kata kotor, dan seluruh isi ‘kebun binatang’ keluar dari lidahnya. Seluruh hal yang tidak mungkin itu bisa menjadi mungkin apabila orang itu dikuasai oleh perasaan marah; sehingga seluruh keburukan akan keluar dari dalam dirinya. Jantung berpacu keras dan cepat, napas tersengal-sengal, saraf-sarafnya menegang, darahnya mendidih sehingga menimbulkan warna kemerah-merahan pada kulit wajah dan bola matanya. Akal sehatnya tidak dapat berfungsi lagi untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, yang hak dan batil, yang manfaat dan mudharat, dan seterusnya. Tenaga orang yang marah pun bisa berlipat ganda dan lebih kuat daripada orang yang tidak marah. Ia memiliki tambahan power dan energi yang bisa dimanfaatkan oleh setan untuk berkhidmat kepada selera permusuhannya.

Sikap atau sifat mudah marah adalah suatu hal yang sangat membahayakan bagi perkembangan jiwa, bahkan dapat mendatangkan celaka bagi dirinya dan orang lain serta lingkungannya. Oleh karena itu, Islam memberikan bekal yang sangat panting kepada umatnya dalam setiap aktivitas kehidupannya agar menjauhkan diri dari sifat pemarah dengan jalan melakukan upaya aktif mendekatkan diri kepada Allah.

Untuk dapat mengendalikan kemarahan itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1.Berdzikir kepada Allah, sambil mengingat-ingat adanya keutamaan menahan amarah, keutamaan memberi pengampunan dan maaf, keutamaan bersikap sabar dan menahan diri di waktu memperoleh sesuatu yang tidak menyenangkan.

2.Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad berkali-kali sambil mengingat-ingat adanya siksaan Allah jika kemarahan itu diteruskan atau merenungkan akibatnya, yaitu permusuhan dan balas dendam.

3. Berwudhu atau mandi. Karena, marah itu adalah api dan api dapat dipadamkan dengan air, yaitu air wudhu dan
mandi.

4. Membaca ta’awwudz (mohon perlindungan dari setan).

5. Segera mengubah keadaan (posisi tubuh) ketika marah; jika sedang berdiri, hendaklah segera duduk, dan jika sedang duduk, hendaklah segera berbaring.

Melenyapkan sikap atau sifat marah itu bukanlah suatu perkara yang mudah. Diperlukan adanya pelatihan yang serius dan di bawah bimbingan seseorang atau beberapa orang yang benar-benar ahli menyembuhkan penyakit-penyakit batin, mengusir bisikan-bisikan dan tipu daya setan dan iblis. Karena kemarahan itu pada hakikatnya adalah hadirnya makhluk jahat itu ke dalam jiwa dan hati manusia, dengan tujuan ingin menghancurkan manusia dari dalam dirinya, sebagaimana sabda Rasulullah,

“Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari setan, dan sesungguhnya setan itu telah diciptakan dari api, dan api hanya dapat dipadamkan dengan air; maka apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaknya ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud).

Beliau telah mengajarkan bagaimana menghilangkan amarah itu, ketika suatu hari Nabi memasuki rumah ‘Aisyah dan saat itu ia sedang marah, lalu beliau menarik ujung hidung ‘Aisyah sambil membaca doa:
Allaahummaghfirlii dzanbii wadzhab ghaizha qalbii wa ajirnii minasy syaithaanir rajiim.. “YaAllah arripunilah diriku daridosaku dan hilangkanlah kemarahan itu di dalam hatiku dan peliharalah aku dari godaan setan.” (HR. Ibnu Sunni dari ‘Aisyah).

✍ Abu Azka

0 komentar:

Posting Komentar