Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

PEMBAGIAN LEVEL GANGGUAN SETAN

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 09 November 2016 | 20.16

GANGGUAN setan ini terbagi menjadi *empat level* (tingkatan) sesuai dengan tingkat kekuatannya. Pembagian ini tidak kami dapatkan dari lembaran kitab, tidak pula dari yang tersirat dari lembaran-lembaran itu, akan tetapi kami dapatkan -dengan karunia Allah clan anugerahNyadari kitab yang tersebar di alam raya ini. Yakni dari ribuan keadaan yang kami lihat dan kami hadapi di alam nyata.

Keadaan manusia ketika diserang jin adalah suatu perkara yang sangat perlu dijelaskan. Ini karena ketika serangan balasan terhadap jin dengan cara syar’i sudah dilakukan dengan sempurna dan total, seperti memperdengarkan Al-Qur’an, atau dzikrullah, atau doa yang ikhlas, atau selain itu, terbagi menjadi empat level kondisi penderita. Dengan kata lain kami paparkan ada empat level penderita gangguan setan berdasarkan kekuatan~ nya:

*KONDISI PERTAMA*

Pada kondisi ini jin datang menyerang manusia dengan tanda-tanda tertentu seperti terangkatnya pan dangan ke atas, bembah dialek atau bahasanya, berubah kekuatannya, atau sejumlah tanda lainnya yang tak pada tempatnya disebutkan secara mende’cail di sini. Yang penting dalam kondisi ini seorang penderita kehilangan kesadaran secara total, tidak tahu dan tidak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya baik ucapan mau pun perbuatan, seolah-olah ia terbius secara sempurna. Penderita kehilangan kemampuan untuk mengontrol
dirinya sendiri dan menjadi orang yang sama sekali tak memiliki kehendak pribadi, baik kehendak untuk
berbicara maupun berbuat, atau hilang salah satunya atau kedua-duanya.

*KONDISI KEDUA*

Pada kondisi ini seorang penderita masih sadar terhadap beberapa perkara tetapi tidak sadar dalam perkara lainnya. Keadaan si penderita seperti keadaan orang yang bermimpi sesua’cu tetapi tak bisa mengingat seluruh mimpinya. Ia ingat sebagian tetapi lupa sebagian yang lain. Ini bila dilihat dari arah kesadaran dan kepahamannya. Adapun jika dilihat dari arah kemauannya dan kemampuannya mengontrol diri maka ia tidak memiliki kemauan dan tidak pula kemampu an untuk mengendalikan diri sendiri, atau mengontrol apa yang dilakukannya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

*KONDISI KETIGA*

Pada kondisi ini si penderita sadar dan mengetahui semua yang terjadi baik berupa ucapan maupun perbuatan, tetapi ia kehilangan kemauan atau kehendak secara total. Ia tak punya kekuatan untuk mengendalikan dirinya baik perkataan maupun perbuatan.

*KONDISI KEEMPAT*

Kondisi inilah yang paling banyak terjadi pada kenyataannya. Pada kondisi ini tampak jelas tanda dan gejalanya, tetapi si penderita tidak kehilangan kesadaran, ia tahu dan memahami secara sempurna apa yang sedang menimpanya, apa yang ia ucapkan dan apa yang ia perbuat. Demikian pula bila ditinjau dari sisi kedua, penderita tetap mempunyai kemampuan mengontrol ucapan dan tindakannya. Namun demikian, hal ini dikecualikan dengan beberapa perkara fisik fisiologis yang terjadi pada dirinya seperti menangis tanpa dikehendaki oleh si penderita, atau mencucurkan air mata tanpa sadar.

Ada tiga tanda yang membedakan cucuran air mata ini dengan air mata biasa.
Tanda yang pertama adalah: *tidak dikehendaki*, yang kedua: *sumber cucuran air atau tempat mengucurnya air itu adalah di dua sisi mata atau di tengah kelopak mata*, dan yang ketiga adalah: *cucuran air mata itu khas sebab terasa pahit*.

Ketiga tanda ini berbeda
dengan lelehan air mata biasa yang berasal dari dua sudut bola mata dan rasanya asin.

Bersambung....
-----------------------
Dalilul Mu'alijin bil Qur'anil Kariim "Syekh Riyadh Muhammad Samahah

✍ulang Abu Azka

0 komentar:

Posting Komentar