Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Kubangan Lumpur dan Semak-Semak

Written By Rudi Abu azka on Kamis, 07 April 2011 | 16.56

Apabila aku melihat sebidang tanaman rumput, aku hanya melihat kumpulan semak-semak yang hanya akan mengotori halamanku.
Namun, anakku membayangkan sebagai bunga untuk Mamanya, lalu meniup bulu-bulu tipis yang mengelilingi bunganya.

Apabila aku melihat pemabuk tua tersenyum kepadaku. Aku membayangkan orang yang jorok dan bau yang mungkin mengharap pemberian uang dariku. Kemudian aku pun menyingkir jauh-jauh darinya.
Namun, anakku melihatnya sebagai orang yang tersenyum kepadanya lalu ia membalas senyumnya.

Apabila aku mendengar musik yang kusukai, aku tahu aku tidak dapat mengikuti nada dan ritmenya, jadi aku hanya duduk mendengarkan dengan asyik.
Namun, anakku dapat merasakan pukulan dan ketukannya lalu bergerak mengikuti iramanya. Ia juga melantunkan liriknya dan apabila tidak hapal ia mengarang sendiri syairnya.

Apabila aku merasakan hembusan angin dimukaku, aku segera mengambil sikap membelakanginya karena tiupannya hanya akan mengacaukan tatanan rambutku dan menahan laju langkahku.
Namun, anakku menutup matanya, mengembangkan kedua tangannya, lalu bergaya seakan ia terbang. Tidak lama kemudian terdengar suara tawanya mengiringi tubuhnya yang jatuh bergulingan.

Apabila aku berdoa, aku berkata,"Tuhan berilah aku ini, karuniailah aku itu".
Namun anakku berkata,"Tuhan, terima kasih, Engkau telah memberiku berbagai mainan dan mengenalkanku kepada banyak teman. Singkirkanlah mimpi buruk dariku malam ini. Maaf, aku belum ingin pergi ke surga sekarang karena khawatir rindu kepada Mama dan Papaku".

Apabila aku melihat kubangan lumpur, aku berjalan menghindarinya, terbayang olehku sepatu berlumpur dan karpet yang kotor.
Namun, anakku akan duduk diatasnya. Membayangkan bendungan, sungai yang harus disebrangi, dan cacing yang bisa diajak bermain.

Jadi,aku tidak heran kalau kita diberi anak agar dapat mengajar kita, atau kita belajar darinya. Tidak aneh apabila Tuhan mencintai anak kecil.
Karena itu, nikmatilah hal-hal kecil dalam kehidupan ini karena suatu saat nanti kau akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa sesungguhnya semua itu penting.

0 komentar:

Posting Komentar