Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Kehidupan Di Desa

Written By Rudi Abu azka on Rabu, 27 April 2011 | 09.15

Suatu hari seorang ayah dari keluarga yang sangat kaya membawa anaknya ke desa untuk menunjukkan kepadanya kehidupan orang-orang miskin. Mereka tinggal beberapa hari di rumah seorang petani miskin. Sekembalinya di desa, sang ayah bertanya kepada anaknya, “Bagaimana munurutmu perjalanan kita ini?”
“Hebat, Ayah.” Kata anaknya
“Apakah kau melihat bagaimana orang-orang miskin itu hidup?”
“Ya.”
“Lalu pelajaran apa yang dapat kau ambil dari perjalanan itu?” Tanya ayahnya cengan bangga
“Aku sadar bahwa kita punya dua anjing sedang mereka punya tempat. Kita punya kolam renang yang luasnya sampai ke tengah kebun, sedang mereka mempunyai sungai yang tak memiliki bintang-bintang di malam hari. Teras kita sampai ke halaman depan, sedang mereka memiliki seluruh horizon. Kita memiliki tanah tempat tinggal yang kecil, mereka memiliki halaman sejauh mata memandang. Kita mempunyai pembantu-pembantu yang melayani kita, sedang mereka memberikan pelayanan kepada orang lain. Kita membeli makanan kita, mereka memetik sendiri makanan mereka. Kita memiliki pagar yang mengelilingi dan melindungi kekayaan kita, mereka memiliki teman yang melindungi mereka.”
Sampai di sini, sang ayah tak bisa berkata apa-apa. Kemudian anaknya menambahkan, “Ayah terima kasih engkau telah menunjukkan betapa miskinnya kita.”
***

Kita sering lupa pada segala yang kita miliki dan memusatkan perhatian hanya pada apa-apa yang tidak kita miliki.
Benda-benda yang tidak bernilai di mata kita bisa jadi merupakan barang berharga di mata orang lain. Semua itu tergantung pada perspektif seseorang. Bayangkan apa yang terjadi bila kita semua mensyukuri karunia yang telah kita peroleh dari pada merasa gelisah karena menghendaki yang banyak.
Nikmatilah segala yang telah kau miliki, perhatian kekayaan (nilai) yang terkandung di dalamnya.

0 komentar:

Posting Komentar