Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Merasa Bersalah tidak salah

Written By Rudianto on Minggu, 14 Juni 2009 | 15.18


Merasa Bersalah tidak salah

Alangkah beruntungnya seseorang jika hidupnya selalu diselimuti oleh kebenaran, karena hidup tanpa kesalahan akan membuat terasa lapang perasaan, tetapi hidup yang selalu bergelut dengan kesalahan, maka tarasa sempit kehidupan. Sekecil apapun kesalahan bagi orang-orang yang beriman adalah penyiksaan yang teramat berat dirasakan. Terlebih kesalahan kepada Allah Swt.
Saudaraku, kesalahan betapapun itu wajar terjadi, tertapi jika terbiasa ia akan memusnahkan akar-akar kebaikan yang telah kita tanam sebelumnya. Ia bukan saja akan merugikan kita tetapi akan membawa kebinasaan yang bukan saja kita yang melakukan, tetapi juga orang lain akan terkena imbas dari kesalahan yang kita lakukan.

Kita akan melakukan kesalahan yang tak berampun bilamana kita secara teledor mengabaikan refeleksi sesungguhnya dari diri kita pada cermin tindakan-tindakan kita.

Adalah kewajiban kita untuk menemukan ciri-ciri kita supaya dapat mengenali perangai-perangai yang tak di kehendaki, yang dengan tidak disukai telah tumbuh dalam diri kita. Bukan hanya itu, kita juga harus berusaha keras untuk meluruskan kembali sifat-sifat yang menghancurkan itu.

Rasa bersalah tidaklah salah, tetapi akan menjadi masalah jika membiarkan rasa itu tetap bertahan dalam perasaan kita. Sebab bukan saja akan menyita waktu yang tidak sedikit dari kehidupan kita, tetapi akan mengendurkan semangat hidup yang sedang kita jalani.

Saudara yang budiman
Sesungguhnya apa yang menyebabkan rasa bersalah itu muncul, bahkan terkadang terus menghantui perasaan kita. Biasanya hal itu disebabkan karena perasaan takut yang berlebihan, takut jika kesalahan yang pernah kita lakukan kepada seseorang kelak akan berbalik kepada kita. Perasaan ini terus menekan dan menggrogoti ketenangan kita.

Penyebab timbulnya rasa takut yang lain adalah karena seringnya kita mencemaskan masalah. Terkadang pesoalan yang kecil cenderung kita pikirkan segi negatifnya, setiap detik, setiap waktu, sehingga lambat laun perasaan itu mengkristal dan pada akhirnya menjadi menjadi ketakutan yang besar.
Sesungguhnya, jika rasa bersalah itu hadir karena dorongan kesadaran untuk menuju pada perubahan bukanlah masalah. Karena itu akan memacu diri untuk memperbaiki diri. Bahkan mungkin itu menandakan sehatnya qalbu karena lahir dari kesadaran iman.

Penyesalan yang hadir dari rasa bersalah karena pernah melakukan dosa dan kesalahan adalah awal menuju taubat yang sesungguhnya, karena taubat selalu di awali dari penyesalan. Taubat tidak akan pernah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa. Sebab orang yang tidak menyesal atas keburukan (kesalahan) yang pernah dilakukan, itu menandakan kebekuan qalbunya.

Rasulullah mengajarkan agar kita dapat menghapus kesalahan, kita harus merubah sikap dan akhlak kita sebagaimana sabdanya:“Akhlak yang baik dapat menghapus kesalahan, bagaikan air yang menghancurkan tanah yang keras. Dan akhlak yang jahat merusak amal, seperti cuka merusak manisnya madu” (Hr. Baihaiqi)

******
“ Penyesalan yang hadir dari rasa bersalah karena pernah melakukan dosa dan kesalahan adalah awal menuju taubat yang sesungguhnya, karena taubat selalu di awali dari penyesalan. Taubat tidak akan pernah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa “.
15.18 | 0 komentar

Manusia Tempatnya Kesalahan

Written By Rudianto on Sabtu, 13 Juni 2009 | 09.55


Manusia Tempatnya Kesalahan

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, barang siapa mengikuti langkah-langkah setan. Maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan Rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha mengetahui”.(Qs. An Nur [24]:21)


Sahabat, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, kecil maupun besar. Bahkan kesalahan itu adalah ciri khas kemanusiaan. Orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah bersalah, tetapi orang yang baik adalah orang yang segera menyadari kesalahannya dan merubah dengan kebaikan.

Rasa bersalah tidaklah salah, tetapi akan menjadi masalah jika membiarkan rasa itu tetap bertahan dalam perasaan kita. Sebab bukan saja akan menyita waktu yang tidak sedikit dari kehidupan kita, tetapi akan mengendurkan semangat hidup yang sedang kita jalani.

Adalah kewajiban kita untuk menemukan ciri-ciri kita supaya dapat mengenali perangai-perangai yang tak di kehendaki, yang dengan tidak disukai telah tumbuh dalam diri kita. Bukan hanya itu, kita juga harus berusaha keras untuk meluruskan kembali sifat-sifat yang menghancurkan itu.

Seperti materi dalam Blog ini, ia tidak luput dari kesalahan, baik kesalahan kata ataupun kesalahan bahasa. Dan jika pembaca menemukan kesalahan dalam tulisan ini, itu berarti penulis harus lebih cermat meneliti dimana letak kesalahannya. Sehingga kita bisa memberbaiki bersama-sama. Semoga Allah selalu membimbing kita agar selalu berbuat kebenaran dan mengampuni setiap kesalahan.

Saudaraku yang di muliakan Allah
Dalam menjalani hidup, tidak selamanya kita berada di rel kebenaran. Ada masa tertentu dimana kesalahan tidak bisa kita elakkan, betapapun kita sudah berusaha untuk tidak melakukan. Ada kesalahan yang terkadang sengaja kita lakukan dan ada kesalahan yang tidak sengaja.

Untuk kesalahan yang tidak di sengaja biasanya tidak terlalu membuat kita gelisah, karena mungkin itu disebabkan akibat ketidak tahuan kita tentang beberapa hal atau karena kita terlupa. Dan kesalahan ini cenderung cepat dimaafkan, baik ketika kita lakukan terhadap manusia atau juga kesalahan kepada Allah swt. Tetapi memang sedikit sekali manusia yang cepat memaafkan jika kita melakukan kesalahan karena kealfaan, kecuali orang-orang yang arif yang menyadari bahwa manusia tidak memiliki kesempurnaan.

Berbeda dengan Allah yang maha pengampun dan sangat tahu tentang kita, jangankan kesalahan karena disebabkan karena lupa, kesalahan kerena disengajapun jika kita mau bertaubat kepada-Nya Ia pasti akan memaafkan.

Kesalahan, sesungguhnya adalah kewajaran dan itu menandakan kelemahan kita sebagai manusia. Tetapi memang tidak enak jika banyak berbuat salah, selalu ada perasaan gelisah. Terlebih bersalah kepada seseorang yang sangat dekat dengan diri kita. Dan yang lebih meresahkan lagi adalah ketika orang yang kita berbuat salah kepadanya ia sudah tidak ada, pergi tanpa kita ketahui atau meninggal, sementara kita belum sempat meminta maaf kepadanya. Selama belum kita temui, rasa bersalah itu terus datang dan tidak mau pergi.

Ketahuilah sahabat, orang yang baik itu bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, tetapi orang baik itu adalah orang yang jika berbuat salah maka ia segera mengakui kesalahan dan menggantinya dengan kebaikan. Manusia memang tempatnya kesalahan, maka sangat wajar jika sesekali itu dilakukan, tetapi memang sangat kurang ajar jika dilakukan berkali-kali tanpa mau merubah keadaan menjadi lebih baik.

“Bersungguh-sungguhlah pada hal yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta jangan merasa lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu janganlah kamu mengatakan, “Seandainya (tempo hari) aku melakukan ini, niscaya begini-begini.
‘Katakanlah, “Allah telah menakdirkan dan apa yang Allah kehendaki maka itu terjadi. “Sesungguhnya kata seandainya akan membuka pintu perbuatan setan”.
(HR. Muslim)
*****
09.55 | 3 komentar

Hidup Bukan hanya Sebatas Ada

Written By Rudianto on Jumat, 12 Juni 2009 | 19.08


Hidup Bukan hanya Sebatas Ada

Marilah kita renungkan dengan hati yang jernih, bahwa kita ‘ada’ bukanlah sekedar ada. Keberadaan diri kita karena ada yang mengadakannya. Oleh kerenanya, ‘keberadaan’ kita harus menghadirkan kesadaran bahwa ada sumber kekuatan yang mampu ‘mengadakan’ kita dan Dia tidak mengada-ada dalam menciptakan keberadaan makhluk-Nya.

Dialah Allah sang pemberi nikmat, yang rahmat-Nya lebih luas dari pada murka-Nya. jika hati merasa dekat kepada Allah yang maha kuat dan maha segalanya, akan menghadirkan ketenangan, membuat jiwa selalu merasakan adanya perlindungan dan tempat bergantung.

Insya Allah, bila kita serahkan hidup ini dengan berbagai persoalannya kepada Allah dengan keyakinan yang mutlak hanya kepada-Nya, akan membuat hati menjadi tegar dalam menghadapi problema dan tantangan kehidupan.

Sadari…kita adalah hamba yang memiliki keterbatasan. Dialah yang berkehendak atas diri kita, dan kita tidak akan pernah bisa merubah kehendak-Nya. Sesungguhnya, sebagian besar dari penyebab kekhawatiran, kegelisahan dan kelemahan jiwa adalah ketidak mampuan kita untuk menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Karenanya mengimani Allah dengan segala atribut yang dimilikinya adalah keharusan bagi setiap muslim.

Sangat sulit dipahami, bagaimana hati menjadi tenang, jiwa menjadi bahagia, jika keyakinan kepada Allah tidak mendapat prioritas utama dalam diri kita. Padahal kita yakin, semua maha adalah milik-Nya. Hakekat segala pujian hanyalah milik-Nya, tiada pujian yang pantas diberikan membandingi pujian kepada-Nya.

Inilah prilaku orang-orang yang mengimani keberadaan-Nya, yang yakin akan segala kekuasaan-Nya. Tidak ada alasan bagi seorang muslim sedikitpun untuk merasa khawatir ketika Allah sudah berjanji untuk penolongnya. Tidak ada keharusan bagi setiap muslim untuk merasa takut, padahal Allah sudah berjanji untuk selalu melindunginya. Sungguh..Allah maha pemberi karunia kepada seorang hamba yang selalu bertawaqal untuk menggapai rahmat-Nya.

“Jika kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki yang diberikan kepada burung; pagi hari perutnya kosong dan sore hari penuh makanan”. (Hr. Ahmad, an-Nasa’I, at-Tarmidzi dan al-Hakim)
19.08 | 0 komentar

Kiat Meredam Derita Hati

Written By Rudianto on Rabu, 10 Juni 2009 | 08.49


Kiat Meredam Derita Hati

Renungkanlah para bijak bertutur; Bahwa kebahagiaan didunia laksana mimpi dalam tidur atau bagaikan bayangan yang pasti akan hilang. Jika kehidupan ini membuat kita tertawa sejenak, maka suatu saat kehidupan akan membuat kita menangis. Kenikmatan sekejap akan datang kedukaan yang panjang.

Mungkin kita pernah merasa terpukul ketika anak, istri, suami dan orang yang sangat kita cintai dipanggil Allah. Atau mungkin kebaikan diri tak berpihak kepada kita. Mereka adalah amanah yang Allah titipkan dan pinjamkan kepada kita. Bukankan ketika kita meminjam sesuatu dari sesorang, kita tidak boleh merasa berat untuk mengembalikannya, karena memang pemiliknya sangat berhak mengambil barang yang kita pinjam. Begitupun mereka orang-orang yang kita cintai - adalah milik Allah, tiada kuasa bagi kita menahan apa yang sudah menjadi kehendak-Nya.

Beberapa kiat yang harus kita lakukan agar tetar berada dalam cobaan, dan tetap istiqomah dalam keimanan,

a. Dalam keadaan yang menyulitkan, kita dituntut untuk tidak diselimuti kepanikan. Yakinkan diri bahwa Allah tidak akan meninggalkannya selama kita menuju kepada-Nya. dan yakinlah bahwa karunia Allah melebihi segalanya.
b. Campakkan kelemahan, teguhkan tegad untuk membasmi keraguan. Bersabar atas setiap keadaan, kita pasti akan menemukan jalan. Sabar karena Allah adalah ruh keimanan dan pangkal ganjaran yang akan Allah berikan kepada orang-orang yang tulus menerima cobaan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Allah berfirman:

“Jika Aku menguji hamba-Ku yang mukmin dan ia tidak mengeluhkan penderitaanya kepada-Ku. Aku akan membebaskannya dari tawanan-tawanan-Ku, kemudian Aku akan menggantikan dagingnya dengan daging yang lebih baik dari dagingnya, darah yang yang lebih baik dari darahnya, kemudian ia memulai lagi dengan amalnya”.

Muhammad Al-Ghozali mengomentari hadits ini; “Maksud dari hadits ini adalah kesehatan yang kembali kepada orang yang sakit kemudian memperbaharui keadaannya. Kesabaran atas apa yang menimpa ketika sakit akan menghapus segala kejelekan masa lalunya, dan terbuka baginya lembaran baru yang bersih dari noda.

c. Syukuri kenikmatan yang sudah diberikan, jangan hanya berkeluh kesah tentang penderitaan yang baru datang. Sebab jika kita bandingkan kenikmatan yang sudah diberikan jauh melebihi penderitaan yang baru datang. Sebab kurangnya bersyukur merupakan cacat yang harus dibersihkan. Karena bisa saja, cobaan datang kepada kita karena kurangnya kita bersyukur.

Pertanyaannya adalah, mengapa kita hanya melihat kesusahan, mengapa kita hanya melihat beberapa problem, serta memikirkan kesulitan yang ada?. Tidakkah lebih baik kita menghitung kenikmatan yang diberikan Allah?.

“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-KU sangat pedih.” (Qs. Ibrahim [14]:7)

d. Jernihkan pikiran dengan selalu berbaik sangka, sebab kita tidak akan bahagia dan terus merasa menderita jika kepala kita di dipenuhi dengan pikiran kesedihan. Ketahuilah, hidup kita merupakan hasil dari cara berpikir kita. Pikiran yang selalu berprasangka baik akan memberikanpengaruh yang sangat besar dalam merubah keadaan kita. Segala upaya kita untuk mengurangi rasa cemas, tidak akan terwujud jika kita selalu berburuk sangka.

e. Tawakkal, dalam arti berserah diri dengan sepenuhnya kepada Allah, maka segala tekanan penderitaan dapat kita redam.

“Katakanlah: “sekali-kali tiak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allaha orang-orang yang beriman harus bertawakkal”.(Qs. At-Taubah [ 9 ]:51).


f. Kuatkan kesabaran, yakinlah dalam kesulitan ada kemudahan. Sungguh rahmat Allah yang diberika kepada sangatlah besar. Oleh karenanya setiap Allah menurunkan bencana, maka selalu diserta keleluasaan. Rasulullah bersabda:

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, keleluasaan itu bersama adanya kegelisahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan”. (HR. At-Tirmidzi)

Sejalan dengan hadits itu, Allah juga berfirman dengan mengulang dua kalimat:

“Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudaha. Sesungguhnya ketelah kesulitan itu ada kemudahan.”. (Qs. Al-Insyirah [94 ]:5-6)

g. Lihatlah orang-orang yang dibawah kita. sebab hadirnya penderitaan banyak disebabkan karena kita hanya menilai diri yang selalu merasa kekurangan, tanpa pernah melihat orang disekitar kita. Rasulullah berpesan:

“Lihatlah orang yang dibawah kalian dan janganlah kalian melihat orang yang diatas kalian. Karena sesunguhnya itu lebih pantas, agar kalian tidak memandang rendah atas nikmat Allah yang diberikan kepada kalian”. (Hr. Bukhari)

h. Hadirkan kepercayaan diri yang kuat, tanamkan keyakinan yang dalam bahwa hidup akan berubah jika kita berusaha merubahnya. Renungkan firman Allah. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya”.

Marilah kita renungkan satu hal, jika Allah tidak memberi kita ketidak sempurnaan fisik maka pasti Dia melebihkan kita dalam hal yang lain. Jika kita merasa kemiskinan, kekurangan hidup, sulitnya mencari nafkah adalah musibah. Maka sesungguhnya kekayaan, kemewahan bahkan kepopuleran adalah musibah bagi orang-orang yang tidak mampu menjaganya.

*****

Campakkan kelemahan,
teguhkan tegad untuk membasmi keraguan.
Bersabar atas setiap keadaan,
kita pasti akan menemukan jalan.
Sabar karena Allah adalah ruh keimanan
dan pangkal ganjaran yang akan Allah berikan
kepada orang-orang
yang tulus menerima cobaan.

*****
08.49 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung