Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Surga Hanya Dimasuki Orang-orang yang Diampuni-Nya

Written By Rudianto on Kamis, 04 November 2010 | 10.21

Sahabat Hikmah…

Manusia tinggal di dunia tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah”
(QS Adz Dzariyat 51: 56)


Allah telah memberikan jin dan manusia keistimewaan.
Allah telah menciptakan apa yang di langit dan bumi untuk jin dan manusia.
Bahkan adanya surga dan neraka adalah untuk jin dan manusia.
Bagi yang mengikuti mengikuti Allah dan Rasul-Nya maka dia masuk Surga.
Dan bagi yang mengikuti Iblis dan teman-temannya maka dia masuk Neraka.

Tetapi manusia adalah makhluk yang lemah, sering lalai dan berbuat dosa.
Sehingga Surga hanyalah dimasuki siapa-siapa yang diampuni-Nya.
Orang-orang yang diampuni adalah orang-orang yang bertaqwa

Dan orang-orang yang melakukan taubat nasuha.
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al hadid 57:28)

”Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al Anfal 8:29)

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66,
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".

Memang Allah adalah Maha Pengampun, tetapi ada orang yang tidak diampuninya, yaitu orang-orang yang menyekutukan Allah (syirik).

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Diamengampuni
segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yangdikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa
(kezhaliman) yang sangat besar" (QS An Nisaa' 48)

Dari Anas radhiallahu 'anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Dan Rasulullah menjamin, siapa yang tidak syirik maka PASTI masuk surga.
Dari Abu Dzar ra., Rasulullah SAW bersabda, "Jibril berkatakepadaku,' Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka pasti dia masuk surga'"
(HR. Bukhari)

Maka penting sekali memahami SYIRIK.

Apa sebenarnya syirik, jenis-jenisnya dan bahayanya.
Siahkan Sahabat Hikmah mengambil HIKMAH tentang syirik:

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya.

JENIS-JENIS SYIRIK

1. Syirik Akbar

Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka.

Hakikat syirik akbar adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah, seperti memohon dan taat kepada selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, takut kepada mayat, kuburan, jin, setan disertai keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat memberi bahaya dan mudharat kepadanya, memohon perlindungan kepada selain Allah, seperti meminta perlindungan kepada jin dan orang yang sudah mati, mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti meminta hujan kepada pawang, meminta penyembuhan kepada dukun dengan keyakinan bahwa dukun itulah yang menyembuhkannya, mengaku mengetahui perkara ghaib, menyembelih hewan kurban yang ditujukan untuk selain Allah.

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula. Para shahabat bertanya: Bagaimana hal itu, ya Rasulul-lah? Beliau menjawab: Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban.

Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: Persembahkanlah kurban kepadanya! Dia menjawab: Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersem-bahkan kepadanya. Mereka pun berkata kepadanya lagi: Persembahkan sekalipun seekor lalat. Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat, mereka pun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanan.

Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: Persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab: Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah 'Azza wa Jalla. Kemudian mereka memenggal lehernya, karenanya orang ini masuk surga. (HR. Imam Ahmad).

Dan termasuk penyembelihan jahiliyah yang terkenal di zaman kita sekarang ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin. (Lihat Taisirul Azizil Hamid, hal. 158).

Macam-macam Syirik Besar
a. Syirik dalam Berdoa

Yaitu meminta kepada selain Allah, disamping meminta kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya (yang terjemahannya):

"Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa meskipun setipis kulit ari. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. (QS. Faathir: 13-14)

b. Syirik dalam Sifat Allah

Seperti keyakinan bahwa para nabi dan wali mengetahui perkara-perkara ghaib. Allah Ta'ala telah membantah keyakinan seperti itu dengan firman-Nya (yang terjemahannya):

"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri." (QS. Al-An'am : 59). Lihat QS. Al-Jin: 26-27.

Pengetahuan tentang hal yang ghaib merupakan salah satu hak istimewa Allah, menisbatkan hal tersebut kepada selain-Nya adalah syirik akbar.

c. Syirik dalam Mahabbah (kecintaan)

Mencintai seseorang, baik wali atau lainnya layaknya mencintai Allah, atau menyetarakan cinta-nya kepada makhluk dengan cintanya kepada Allah Ta'ala. Mengenai hal ini Allah Ta'ala berfirman (yang terjemahannya):
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165).

Mahabbah dalam ayat ini adalah mahabbatul ubu-diyah (cinta yang mengandung unsur-unsur ibadah), yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan mutlak serta mengutamakan yang dicintai daripada yang lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah, hanya Allah yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan disetarakan dengan-Nya sesuatu apapun.

d. Syirik dalam Ketaatan

Yaitu ketaatan kepada makhluk, baik wali ataupun ulama dan lain-lainnya, dalam mendurhakai Allah Ta'ala. Seperti mentaati mereka dalam menghalal-kan apa yang diharamkan Allah Ta'ala, atau mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.

Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman (yang terjemahannya) : ”Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah. (QS. At-Taubah: 31).

Taat kepada ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang dimaksud dengan menyembah berhala mereka! Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Rasulullah SAW menegaskan (yang terjemahannya): Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khaliq (Allah). (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

e. Syirik Khauf (takut)

Jenis-jenis Khauf takut :
1. Khauf Sirri; yaitu takut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, berupa berhala, thaghut, mayat, makhluk gahib seperti jin, dan orang-orang yang sudah mati, dengan keyakinan bahwa mereka dapat menimpakan mudharat kepada makhluk. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang terjemahannya): Janganlah kamu takut kepada mereka, takutlah kamu kepada-Ku jika kamu benar-benar orang beriman.(QS. Ali Imran: 175).

2. Takut yang menyebabkan seseorang meninggalkan kewajibannya, seperti: Takut kepada seseorang sehingga menyebabkan kewajiban ditinggalkan. Takut seperti in hukumnya haram, bahkan termasuk syirik ashghar (syirik kecil). Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya):

"Janganlah seseorang dari kamu menghinakan dirinya!" Shahabat bertanya: Bagaimana mungkin seseorang menghinakan dirinya sendiri? Rasulullah bersabda: "Yaitu ia melihat hak Allah yang harus ditunaikan, namun tidak ditunaikannya! Maka Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat: Apa yang mencegahmu untuk mengucapkan begini dan begini?".

Ia menjawab: "Karena takut kepada manusia!". Allah berkata: "Seharusnya hanya kepadaKu saja engkau takut". (HR. Ibnu Majah dari Abu Said al Khudry, Shahih).

3. Takut secara tabiat, takut yang timbul karena fitrah manusia seperti takut kepada
binatang buas, atau kepada orang jahat dan lain-lainnya. Tidak termasuk syirik, hanya saja seseorang janganlah terlalu didominasi rasa takutnya sehingga dapat dimanfaatkan setan untuk menyesatkannya.

f. Syirik Hulul

Percaya bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya. Ini adalah aqidah Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi, beliau adalah ulama Ahlus Sunnah) dan keyakinan sebagian kaum Sufi yang ekstrem.

g. Syirik Tasharruf
Keyakinan bahwa sebagian para wali memiliki kuasa untuk bertindak dalam mengatur urusan makhluk. Keyakinan seperti ini jelas lebih sesat daripada keyakinan musyrikin Arab yang masih meyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta.

h. Syirik Hakimiyah

Termasuk syirik hakimiyah adalah membuat undang-undang yang betentangan dengan syariat Islam, serta membolehkan diberlakukannya undang undang tersebut atau beranggapan bahwa hukum Islam tidak sesuai lagi dengan zaman. Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para hakim yang membuat dan memberlakukan undang-undang, serta orang-orang yang mematuhinya, jika meyakini kebenaran UU tersebut dan rela dengannya.

i. Syirik tawakkal

Tawakkal ada tiga jenis:
a. Tawakkal dalam perkara yang hanya mampu dilaksanakan oleh Allah saja. Tawakkal jenis ini harus diserahkan kepada Allah semata, jika seseorang menyerahkan atau memasrahkannya kepada selain Allah, maka ia termasuk Musyrik.

b. Tawakkal dalam perkara yang mampu dilaksanakan para makhluk. Tawakkal jenis ini seharusnya juga diserahkan kepada Allah, sebab menyerahkannya kepada makhluk termasuk syrik ashghar.

c. Tawakkal dalam arti kata mewakilkan urusan kepada orang lain dalam perkara yang mampu dilaksanakannya. Seperti dalam urusan jual beli dan lainnya. Tawakkal jenis ini diperbolehkan, hanya saja hendaklah seseorang tetap bersandar kepada Allah Subhanahu wa Taala, meskipun urusan itu diwakilkan kepada makhluk.

j. Syirik Niat dan Maksud
Yaitu beribadah dengan maksud mencari pamrih manusia semata, mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Taala berfirman (yang terjemahannya):
"Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak akan memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan". (QS. Hud: 15-16).

Syirik jenis ini banyak menimpa kaum munafiqin yang telah biasa beramal karena riya.

k. Syirik dalam Hal Percaya Adanya Pengaruh Bintang dan Planet terhadap Berbagai Kejadian dan Kehidupan Manusia.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya): Allah berfirman: "Pagi ini di antara hambaku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata, kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: Hujan itu turun karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang". (HR, Bukhari).Lihat Fathul Bary, 2/333).

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet terse-but maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Disamping setan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut. Maka, membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

2. Syirik Ashghar

Yaitu setiap ucapan atau perbuatan yang dinyatakan syirik oleh syara tetapi tidak mengeluarkan dari agama. Ia merupakan dosa besar yang dapat mengantarkan kepada syirik akbar.

Macam-macam syirik asghar:

a. Zhahir (nyata)
Berupa ucapan: Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya): "Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia telah berbuat syirik". (HR. Ahmad, Shahih).

Dan sabda Nabi SAW yang lain (yang terjemahannya): "Janganlah kamu berkata: Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan. Tapi katakanlah: Atas kehendak Allah , kemudian kehendak Fulan". (HR. Ahmad, Shahih).

Berupa amalan, seperti: Memakai gelang, benang, dan sejenisnya sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, jika ia meyakini bahwa benda-benda tersebut hanya sebagai sarana tertolak atau tertangkalnya bala. Namun bila dia meyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan menangkal bala, hal itu termasuk syirik akbar.

Imran bin Hushain radiallahu anhu menuturkan, bahwa Nabi SAW melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya (yang terjemahannya): "Apakah ini?". Orang itu menjawab: Penangkal sakit. Nabi pun bersabda: "Lepaskan itu karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya". (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).

Dan riwayat Imam Ahmad pula dari Uqbah bin Amir dalam hadits marfu (yang terjemahannya): Barang siapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabul-kan keinginannya; dan barang siapa menggantungkan wadaah, semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.

Disebutkan dalam riwayat lain: Barang siapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik.(Tamimah adalah sesuatu yang dikalungan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang dan lain sebagainya. Wadaah adalah sejenis jimat).

b. Khafi (tersembunyi); syirik yang bersumber dari amalan hati, berupa riya, sumiah dan lain-lainnya.

BAHAYA SYIRIK

1. Syirik Ashghar (tidak mengeluarkan dari agama).

a. Merusak amal yang tercampur dengan syirik ashghar.
Dari Abu Hurairah radiallahu anhu marfu (yang terjemahannya): Allah berfirman: "Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari kalian, barang siapa yang melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan-Ku padanya selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan persekutuannya". (Riwayat Muslim, kitab az-Zuhud 2985, 46).

b. Terkena ancaman dari dalil-dalil tentang syirik, karena salaf menggunakan setiap dalil yang berkenaan dengan syirik akbar untuk syirik ashghar. (Lihat al-Madkhal, hal 124).

c. Termasuk dosa besar yang terbesar.

2. Syirik Akbar

a. Kezhaliman terbesar.

Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): "Sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang besar". (QS. Luqman: 13).

b. Menghancurkan seluruh amal.
Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): "Sesungguhnya jika engkau berbuat syirik, niscaya hapuslah amalmu, dan benar-benar engkau termasuk orang yang rugi". (QS. Az-Zumar: 65).

c. Jika meninggal dalam keadaan syirik, maka tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): ”Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni jika disekutukan, dan Dia akan mengampuni selain itu (syirik) bagi siapa yang (Dia) kehendaki.” (QS. An-Nisa: 48, 116).

d. Pelakunya diharamkan masuk surga.

Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): "Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun". (QS. Al-Maidah: 72).

e. Kekal di dalam neraka.

Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): "Sesungguhnya orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk". (QS. Al-Bayyinah: 6).

f. Syirik adalah dosa paling besar.

Firman Allah Ta'ala (yang terjemahannya): "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu. Bagi siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya". (QS. An-Nisa: 116).

g. Perkara pertama yang diharamkan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang terjemahannya): "Katakanlah: Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun ter-sembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menu-runkan hujjah untuk itu dan (meng-haram-kan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Araaf: 33).

h. Dosa pertama yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Lihat Quran surah Al-Anaam: 151.

i. Pelakunya adalah orang-orang najis (kotor) akidahnya.

Allah Ta'ala berfirman (yang terjemahannya): "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis". (QS. At-Taubah: 28).

Wallahualam Bisshawab.

Sumber:
Kitab Tauhid (terjemah) Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi
Dosa-Dosa yang Dianggap Biasa (terjemah), Syaikh Muhammad bin Shalih al Munajjid.
10.21 | 0 komentar

Qalbu, Nafsu dan Akal

Written By Rudianto on Rabu, 03 November 2010 | 14.43


Qalbu

" Hati itu selalu di kelilingi oleh nafsu dan akal. Kejernihannya di pengaruhi oleh pandangan dan pendengaran. Setiap saat hati akan ternoda dengan titik hitam yang bisa memburamkannya, seperti kaca yang terkena debu. Debu yang memburamkan hati muncul saat nafsu bergejolak tanpa kendali dan menuntun manusia pada dosa, atau akal yang menimbang – nimbang tentang kenikmatan dunia yang harus di raih demi kemaslahatan akhirat, atau pandangan mubadzir pada yang tidak halal baginya, atau pendengaran yang meninabobokan tubuh kita yang berasal dari alunan syair syahdu para pengkhayal dunia. Jika sumber debu itu masih kita pelihara, hati tidak akan terbebas dari kesuraman bahkan bisa saja hati kita gelap karena debu yang menempel terlalu tebal. Qalbu adalah ruang suci di mana Allah akan memberikan petunjuk pada manusia , memberikan jalan terbaik agar bisa meraih kemuliaan yang telah di janjikan Nya. Qalbu adalah jawaban dari semua kegalauan yang disebabkan oleh kekerdilan dalam memandang kehidupan. Bukankah kita di ciptakan hanya untuk beribadah kepadaNya, dan imbalan dari ibadah itu adalah kenikmatan, lalu mengapa kita mesti berpaling. Kembalilah pada qalbumu dalam setiap keputusan baik untuk duniamu atau akhiratmu "

Nafsu

" Apakah kamu kita menyadari, dengan nafsu, kalian bisa menimati hidup ini, kamu bisa membangun impianmu dalam kenyataan, kamu bisa melampiaskan dahagamu dengan air dari sumber manapun yang kau inginkan. Kau bisa menjadi apa yang kau inginkan. Dengan nafsumu, kau akanmeraih kesenangan, dengan nafsumu kau akan mendapatkan luapan kemegahan dunia, dan dengan nafsumu dirimu akan terlelap dalam tidur kenikmatan dunia. Mengapa harus berpaling, bukankah banyak manusia yang telah menjadikan nafsunya sebagai kendali, kemana arah hidupnya, di situ nafsu yang member petunjuk "

Akal

" Tuhan menciptakan akal dalam diri manusia untuk berpikir, selama hal itu membawa manfaat maka kerjakan. Jangan seperti keledai yang hanya bisa di pecuti oleh majikan tanpa bisa protes. Aku akan membimbingmu pada sebuah kondisi di mana kau akan sadar siapa dirimu yang sesungguhnya. Jangan hiraukan cahaya yang hanya membuatmu berhenti berpikir, cahaya itu tidak akan mengantarkanmu pada hakikat tapi akulah yang bisa menunjukkanmu pada hakikat itu sendiri. Maka ikutilah aku "

Setiap manusia memiliki sedulur papat kalimo pancer. Ruh, Qalbu, Akal dan Nafsu ada dalam diri manusia. Mereka memiliki kewenangan yang telah di lekatkan pada keinginan manusia. Ketika manusia menggunakan ruh dan qalbunya sebagai kendali hidup, maka kemuliaan Ilahi yang akan di nikmatinya, sedangkan jika nafsu dan akal yang menjadi kendalinya, maka manusia akan terjebak pada kesenangan semata yang tidak akan berujung kecuali pada liang lahat.

Maka pergunakan setiap bagian itu untuk menjadi wasilah dalam meraih keridloan Allah semata.
14.43 | 0 komentar

Hati-hati dengan Status Facebookmu, Tausiyah Terselubung Dosa..?

Written By Rudianto on Senin, 01 November 2010 | 15.25



Saat ini mobiilitas aktivis dakwah tak hanya memerlukan interaksi dengan ikhwan secara langsung saja (bartemu secara fisik maksudnya), tp mengharuskan bertemu dalam dunia maya juga. Apalagi kita aktivitis dakwah taraf Nasional (sok iye nech.. ^_^)  yang jarang sekali bisa bertemu secara langsung mengharuskan kita untuk berkomunikasi lewat dunia maya. Ada beberapa sarana yang saat ini memang banyak di butuhkan aktivitas dakwah dalam dunia maya ini,, diantaranya Hp, email maupun sarana chat yang sekarang sedang gila-gilanya…

Bermula karena elektronik sekarang menjadi kebutuhan yang penting selain Hp, maka banyak sekali para pemakai sarana ini, apalagi jaman sekarang yang udah ga harus ke warnet lagi buat bisa internetan. Dengan mudah kita bisa internetan langsung dari Hp ataupun Laptop kita secara langsung soalnya kan dah banyak modem tuh,,, Kemudahan akses internet yang disediakan oleh berbagai provider membuat facebook menjadi lebih popular. Di Indonesia facebook merupakan situs yang tergolong banyak diminati, mungkin salah satunya karena facebook termasuk situs yang ‘bersih dan tertutup’. Artinya kita bisa menyeleksi siapa saja yang kita ijinkan masuk dalam daftar teman kita. Kata temanku yang penggemar sastra, facebook ibarat giant novel, dimana setiap penggunanya adalah karakter tersendiri dengan latar belakangnya yang berbeda-beda dan membangun kisah hidupnya sendiri pula. Mereka terhubung satu sama lain oleh hubungan saudara, teman, temannya teman, teman temannya teman, dst.

Pada halaman home, facebook menyediakan tempat untuk kita menulis apa yang sedang kita pikirkan, kemudian memberi kesempatan bagi teman-teman kita untuk mengomentarinya. Tadinya aku agak canggung dengan fasilitas ini. Apa yang kita tulis sedikit banyak akan menggambarkan bagaimana sosok kita sebenarnya. Aku merasa ruang ini menyerupai ruang untuk pembentukan karakter kita. Hmm… dijaman yang serba virtual ini, aku menemukan cara lain untuk mengenal orang yaitu melalui tulisan-tulisan pada kolom ‘what’s in your mind’ (Apa yang Anda pikirkan?), termasuk juga komentar-komentar yang menyertai status update tersebut, pada halaman home facebook.

Aku tertegun membaca note seorang teman “Ketika Iffah mulai luntur” (dibalik fenomena facebook). Sebuah note yang mengusik harga diri, moral etik dan kesantunan dalam komunikasi komunal. Wajah facebook semakin menampilkan mike up penggunanya yang tak terhingga.

Sebagai sebuah fenomena yang rata menggejala, facebook semakin bergeser dari sekedar alternatif jalinan komunikasi di dunia maya. Ada user yang begitu cerdas memanfaatkan statusnya untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat. Menjadikannya sebagai alat penggerak solidaritas yang massif untuk menghimpun dukungan atas penderitaan orang lain. Ada yang mendisainnya sebagai link dakwah dan pesan Islam sebagai rahmatan lil alamin atau aktifitas lain dalam kerangka amar ma’ruf nahi munkar. Alhamdulillah, terhadap yang demikian ini, kita patut bersyukur dan mengapresiasinya dengan tulus.

Tapi ada pula user yang menjadikan statusnya sebagai curhatan dan wallnya bagai “tembok ratapan” atas apa yang dialaminya seharian begitu naif. Ada yang sekedar iseng mengumbar kata yang tidak jelas apa makna dibalik apa yang ia tulis. Yang lebih dari itu, ada pula facebooker yang memanfaatkan status pertemanan mayanya sebagai alat mengelabui orang lain. Bahkan ada yang sengaja memasang “jerat” untuk orang yang dibidiknya. Terhadap yang demikian, sangat terasa bahwa pertemanan di dunia maya hanyalah mendiskon waktu tanpa mendapatkan manfaat apa-apa selain kesenangan semu belaka. Bahkan bisa jadi, facebook tak ubahnya seperti menggali lubang ”sial” bagi penggunanya. Maka facebook, seperti sebilah pisau bermata dua. Bisa dibilang “STATUS FBMU…HARIMAUMU atau  bisa juga STATUS FB KAMU…HARGA DIRIMU”.

Bermula dari pembicaraan aku dengan beberapa teman ternyata dunia maya inipun bisa mencetuskan ikhtilat di antara para aktivis dakwah, maka aku berfikir dan ingin membuat diskusi sharing tentang IKHTILAT DUNIA MAYA. Eits… Jangan tidur dulu yaah,,, aku mau mendongengkan sesuatu… (maksudnya ceritaiin deh, nanti kalo mendongeng bener-bener tidur lagi..!!!)

Sebut saja nama akhwat itu Melati. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia ini memenangkan award di angkatannya sebagai “TER-jaga”. Predikat itu memang wajar saja disandangnya. Hijab yang membalut tubuhnya dengan rapi, kata-kata yang dilontarkannya begitu tertata, lakunya penuh kesopanan, pandangan matanya jauh dari kesan “jelalatan”, dan sikapnya yang tidak berlebihan.

Secara fisik, Melati terbilang menyejukan mata yang memandangnya. Setidaknya beberapa ikhwah sempat menjulukinya Melati DiSas alias Dian Sastro (walaupun agak dipaksakan n_n). Namun, dengan segala kelembutan yang dimilikinya itu, tidak berarti Melati memiliki kadar ketegasan yang minim . Itulah sebabnya, mantan Ketua Keputrian organisasi keislaman kampus ini menjadi inspirasi dan kantung curahan hati rekan-rekan muslimah yang lain. Hampir tak seorangpun laki-laki yang berani menggodanya. Jangankan untuk mengajaknya diskusi, untuk sekadar menegurnya saja tampak sangat segan. Terbukti dari berbagai pengakuan ikhwan-ikhwan rekan kerjanya yang gak berani macem-macem dengan akhwat yang satu ini. Dalam radius 10 meter, Melati dapat membuat para ikhwan tiba-tiba sok cool dan jaim.

Benarkah se-terjaga itu? Ternyata tidak juga. Setidaknya demikianlah yang diakui sendiri oleh Melati pada suatu ketika. Inbox message di facebooknya Melati didominasi dengan pesan dari teman-teman ikhwannya. Mulai dari rekan sejawat hingga “senior dakwah”. Mulai dari yang misterius sampai yang terang-terangan. Mulai dari urusan umat sampai urusan pribadi. Mulai dari yang satu kampus sampai di luar kampus. Mulai dari pembahasan yang berbobot sampai yang kopong. Mulai dari taushiyah sampai rayuan. Mulai dari tawaran untuk bekerja sama sampai tawaran untuk berumah tangga bersama! (what??? Ckckck..)

Melati bukanlah seorang yang terbilang popular dan menonjol. Entah bagaimana ikhwan-ikhwan tersebut mengenal -dalam arti sebenarnya- Melati. Sebagian dari mereka tidak Melati kenal dengan baik bahkan tidak kenal sama sekali. Tidak ada sangkaan sama sekali mereka ekspresif mengungkapkan perhatiannya di dunia maya. Maklumlah, jika di dunia nyata, mereka begitu mampu menjaga sikapnya. Perlakuan demikianlah yang akhirnya membuat Melati merasa bersalah karena merasa tidak mampu menjaga izzahnya dengan baik. Tidak ada asap kalau tak ada api, kan?

Sahabat, aku yakin pastinya begitu banyak Melati-Melati lain yang mengalami hal yang sama (hayo, ngaku??). ya… Walaupun mungkin tidak “semeriah” (he? Semeriah?? kaya pertunjukan besar aje^^) kisah nyata di atas. Sebagian dari para aktivis yang begitu menjaga image-nya seringkali menyembunyikan kenakalannya di balik perkembangan teknologi. Berbuat aji mumpung seolah tak seorang pun bisa tahu. Bersyukurlah Allah berkenan menutupi aib kejahiliyahan para aktivis yang seperti ini. Semoga kebarohan dakwahnya tidak ikutan luntur kerena hal tersebut.

Ada baiknya kita memperhatikan sebuah istilah menarik, yaitu Iktilat dunia maya. Ya… ini sih memang buat-buatan aja supaya kita lebih berhati-hati. Tapi tunggu sebentar, coba teruskan membaca tinjauan berikut ini. Ikhtilat menurut bahasa adalah bercampurnya sesuatu dengan sesuatu. (Lihat Lis?nul ?Arab 9/161-162). Adapun menurut istilah, ikhtilat adalah bercampur baur antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan mahram pada suatu tempat. (Lihat Al-Mufashal f? Ahk?mil Mar’ah: 3/421).

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik tabir. Cara demikian itu lebih baik bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahz?b: 53).

Ayat ini walaupun diturunkan kepada isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam- namun mencakup pula untuk semua umat Islam, karena telah tetap dalam qaidah Syar’iyyah: Letak pelajaran adalah pada keumuman lafazh bukan pada kekhususan sebab.


Sahabat, Sadarkah kita ketika sedang asyik sendiri berchatting atau kirim pesan inbox dengan “si dia” di hadapan layar dunia maya, sejatinya kita sedang menjalin hubungan “berduan” dengan komunikan kita. Hanya kamu dan dia yang tahu. Memang ini secara fisik terpisah dan mungkin tidak seekstrim “itu”. Tapi setidaknya, waspadai gejolak hati yang bermain. Yang menjadi controller adalah kita sendiri. Jadi, ketika keimanan dalam diri seseorang meredup, maka hal apa yang menjamin tidak ada apa-apa di antara keduanya?

Muroqobatullah (Merasakan pengawasan langsung dari Allah Azza wa Jalla) menjadi sebuah keniscayaan yang perlu selalu dipelihara setiap dari kita. Ingatlah, Sahabat, bahwa Allah selalu bersama kita dimana pun kita berada. Dia mengetahui setiap lintasan pikiran, setiap lirikan mata, dan setiap goresan rasa di hati kita. Jangan sampai Allah mendapati kita sedang bermaksiat dengan segala nikmat yang kita terima dariNya. Kecil atau besar, semuanya bukanlah perkara gratis tanpa pertanggungjawaban.

Astaghfirullah… 3x

Memang dunia dihiasi dengan hal-hal yang menarik hingga membuaikan para penikmatnya. Tak juga luput dikalangan aktivis dakwah. Butuh kebersamaan dalam usaha berbuat ma’ruf dan mencegah munkar. Karena syaitan senang pada orang-orang yang sendiri, itulah arti penting jama’ah.Semoga Allah menjaga kita di jama’ah dakwah ini.

Jejaring sosial itu cukup ada manfaatnya juga sich.. Tapi, mengapa waktu itu sampai ada isu bahwa MUI Jawa Timur akan mengeluarkan fatwa haram facebook? Banyak pro dan kontra yang terjadi, tapi bukan itu yang ingin aku bahas. Aku tidak ingin ikut-ikutan mengeluarkan fatwa, nanti akan lebih banyak protes..hihi (karena emang blom ada ilmunya ). Sedangkan menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan Facebook (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak. “Kita tidak bisa memfatwakan Facebook itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu.

Demikian sedikit berita tentang isu fatwa haram facebook, tapi lagi-lagi bukan itu inti yang ingin aku sampaikan. Yang aku fikirkan mendengar isu tersebut adalah “tentu ada sesuatu hal yang bisa menyebabkan penggunaan facebook menjadi haram”. Yah, minimal menimbulkan suatu mudhorat bagi diri sendiri atau orang lain.

Dunia maya seringkali membuat orang lupa untuk mengontrol ucapan dan tindakan mereka, membuat mereka jadi lebih berani, karena merasa tidak diperhatikan secara langsung, walaupun sebenarnya banyak yang memperhatikan. Aku teringat ceramahseorang ustadz, yang intinya kalau kita berbicara lewat telpon atau sms dengan lawan jenis yang disenangi, maka keberanian kita akan jauh meningkat dari pada berbicara langsung, kita jadi tak segan mengeluarkan kata-kata rayuan dan semacamnya. Oleh karena itu dalam hal ini berbicara lewat telpon lebih “berbahaya” dari bertemu langsung.

Beberapa potensial bahaya jejaring dunia maya antara lain ketagihan dan menghabiskan banyak waktu (melalaikan hati dari mengingat ALLAH), menjadi media penyebaran hal-hal berbau “haram”, kalau tidak hati-hati menulis status dan comment bisa menimbulkan prasangka buruk, fitnah, salah paham, dan sebagainya, karena yang membacanya banyak sekali dengan asumsi yang berbeda-beda. Facebook bisa juga menipu, misalnya foto atau profile yang ditampilkan tidak sesuai aslinya, sudah ingin melamar misalnya, setelah lihat aslinya eh kok beda ya?

Berteman pada dasarnya adalah naluri. Siapapun memiliki kecenderungan mencari teman, menerima teman dan ingin diterima dalam status pertemanan. Sebab sifatnya yang naluriah (fitrah) itu, Islam mengajarkan agar pertemanan hendaknya diikat dalam bingkai saling menghormati, menghargai dan masing-masing pihak menjaga kehormatan pribadi orang lain dalam jalinan pertemanannya. Bahkan sangat dianjurkan apabila memilih atau menerima teman diniatkan untuk menjalin silaturrahim dan persaudaraan. Inilah kerangka dasar pertemanan yang patut dikembangkan dan diindahkan.

Mungkin memang berteman di dunia maya menghadirkan sensasi tersendiri, tidak perlu mandi dan dandan untuk berteman (kita lagi ngapain juga orang lain tidak tahu ^^hihi), kita dapat merancang cerita tentang diri sendiri (politik pencitraan tea mereun), seseorang dapat membangun citranya di dunia maya, menjadi lebih relijius, lebih cantik dengan mempermak foto, menjadi suami/istri yang terlihat harmonis dengan foto2 mesra, menjadi orang tua yang terlihat berdedikasi dengan foto2 bareng anak-anak, atau menjadi lebih lembut, pengertian, menjadi apa saja yang bisa dirancang image-nya ^^ (Apakah setiap orang seperti itu? jawabnya tentu tidak, prasangka baik lebih utama didahulukan, mungkin cukup sebagai pengingat untuk diri sendiri  ^_^).

Rambu-rambu jalinan pertemanan yang sehat dan hanif sebenarnya sudah sangat jelas kita miliki dalam khazanah Islam; dien yang kita junjung kemuliaannya. Begitu juga dari sisi kejiwaan maupun nilai-nilai moral. Baik nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat (sosial), apatah lagi nilai-nilai Islam sebagai nilai yang paling luhur dalam pola hubungan antar individu seperti telah disinggung. Seyogyanya, seorang facebooker muslim atau muslimah harus setia menampilkan nilai-nilai Islami dan mengembangkannya setiap kali berinteraksi dengan teman di dinding facebooknya. Namun kesadaran demikian belumlah merata dipahami setiap kita. Banyak teman, banyak perhatian, mungkin itu daya tarik dunia maya, seolah-olah kita selalu ada, dan selalu ada orang lain bersama kita. Tetapi aku merasa di tengah hiruk pikuk onlen onlen, ada sesuatu yang mengganggu, keramaiannya sering tidak diinginkan, update disana sini, arrrgghhhh pusiiinnnngggggg.

Kalau misalnya, sedikit waktu luang online, tengah di perjalanan online, tengah menunggu online, tengah rapat online, tengah belajar online, tengah masak online, tengah ngasuh anak online, haduuhhh kumaha ieuh, kapan kontemplasinya, kapan inget Allah nya, kapan inget dosanya, kapan tobatnya

Mungkin sekarang perlu lebih banyak ruangan yang dahulu dipakai untuk tilawah, merenung, berpikir, shalat dengan khusyuk, juga ruangan-ruangan untuk bercengkrama dengan anak, obrolan dengan suami/istri, berkunjung, menengok tetangga. Singkatnya, agar eksis di dunia non maya (bukan berati dunai maya tidak ada manfaatnya). Tapi lagi-lagi sesuatu yang berlebihan/over dosis, bukan hasil yang baik yang dituai.

Mungkin, ada baiknya pula untuk saat ini aku masih mempertahankan henpon yang lama, tanpa koneksi internet, tanpa bisa cek email, cek facebookan, cekcok cekcokan, agar memang online hanya di depan laptop, jika tersambung internet di depan komputer. Selebihnya biarlah aku rasakan kemerdekaan dari hingar bingar online..online..dan..online…

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam menjalin persahabatan di dunia maya semisal di facbook, karena pada prinsipnya silaturahim itu akan menambah rezeki dan memperpanjang usia. Dan manusiawi juga mengungkapkan kekecewaan, selama dilakukan dengan cara yang benar. Permasalahan timbul ketika facebook digunakan secara tidak bijaksana. Atau dengan kata lain, permasalahan akan timbul ketika kita lalai dalam menggunakan media dan fasilitas.

Kelalaian pertama adalah kelalaian terhadap waktu. Terbuktilah bahwa waktu luang adalah salah satu nikmat yang kerap disia-siakan. Padahal waktu begitu cepat berlalu dan tidak akan dapat kembali. Padahal kelalaian terhadap waktu adalah kelalaian terhadap kehidupan itu sendiri. Dan kelalaian terhadap waktu pastinya akan berdampak terhadap tidak terpenuhinya amanah waktu yang lain. Waktu untuk bekerja, belajar, beristirahat, beribadah dan sebagainya. Efeknyapun juga terasa mulai dari kian menumpuknya pekerjaan, pemborosan listrik dan dana hingga terisolir dari komunitas sosial.

Kelalaian selanjutnya adalah kelalaian terhadap bahaya lisan. Padahal sudah mafhum bahwa mulutmu adalah harimaumu. Betapa banyak orang yang celaka karena tergelincir lidahnya, pun tidak disengaja. Mulai dari canda yang tidak selayaknya hingga umpatan yang menyakitkan. Parahnya lagi, kata-kata yang terungkap adalah bukti tertulis yang tidak dapat hilang begitu saja. Dan ketika setiap kata dan aktifitas menjadi konsumsi publik, seketika itu pula sebagian aib kita akan terungkap.


Kelalaian yang tidak kalah berbahaya adalah kelalaian hati. Kelalaian hati dari mengingat Allah. Atau berbagai kelalaian yang mungkin timbul dari berbagai penyakit hati. Berbangga ketika status dan notenya banyak dikomentari. Ujub dengan status – status dahsyat yang menunjukkan berbagai kelebihan diri. Sombong dengan keelokan diri dan banyaknya kegiatan. Iri dan dengki hati terhadap teman yang (sepertinya) lebih beruntung. Atau takabur dengan data diri yang memang di atas kebanyakan orang.

Sebagai contoh beberapateman-teman fb-ku yang setatusnya berisi dengan kata-kata yang bagus mengandung makna dan hikmah, seakan ia terpedaya akan symbol yang bukan tidak mungkin dapat membuat kita celaka, itulah symbol jempol atau juga “like”, semakin banyak like semakin ia akan terpedaya. Terpedaya akan berbagai macam penyakit hati mulai dari ujub dsb. Jika ada yang nge”like” 20 orang, ia akan merasakan rasa yang teman-teman juga mengerti akan hal ini, karena aku yakin teman-teman pasti suka dengan symbol “suka” atau “like” ini.. dengan begitu ia akan membuat status dengan kata-kata yang sedemikian rupa, bisa berisi nasihat dsb. Tapi apakah merenungi, jika kita menulis begitu di status kita.. apakah kita seperti apa yang digambarkan seperti status yang dituliskan itu yang mungkin di “like” & dikomentari berpuluh-puluh teman kita??

Sudah berhasil dapat symbol “like” dari teman-temannya, ia pasti belum merasa puas, ia akan mencari-cari kata-kata yang sedemikian rupa itu.. entah itu di sebuah buku, Googling di internet, dsb. Dengan niatan agar mendapatkan symbol “like” lebih banyak dari status yang sudah-sudah. Tapi jika tidak mencerminkan diri kita juga dalam status-statusnya itu buat apa??

Bisa diambil kesimpulan hanya dengan kata “Apa yang Anda pikirkan?” atau ‘what’s in your mind?’ ini.. dapat membuat kita terbuai & terlena.. dan bukan tidak mungkin dapat menghinggapi penyakit hati, mulai dari sombong, ujub, riya, bahkan bisa juga munafik.. na’udzubillah…

‘Ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain.

Ibnul Mubarok pernah berkata, “Perasaan ‘ujub adalah ketika engkau merasa bahwa dirimu memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.”

Imam Al Ghozali menuturkan, “Perasaan ‘ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Alloh.”

Memang setiap orang mempunyai kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, tetapi milik siapakah semua kelebihan itu ? Allohk berfirman :

“Bagi Alloh semua kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antaranya.” (QS. Al Maidah : 120)

Ujub merupakan salah satu sifat  nafsu lawwamah yang sangat tercela dan membahayakan, Tidak ada obat yang tepat untuk menghilangkan sifat ujub melainkan dengan cara menggantinya dengan sifat tawadhu. Munculnya sifat ujub  diawali dari rasa heran terhadap diri sendiri, karena melihat dirinya lebih hebat dan istimewa dari yang lain. Dari ujub selanjutnya muncul sifat sombong, yakni dengan cara mengecilkan dan meremehkan orang lain.

Dan termasuk kelalaian adalah ketika ada berbagai pembenaran terhadap kelalaian yang sudah dilakukan. Memang faktanya begitu lah, untuk menyambung silaturahim lah, dan berbagai dalih lain yang jika dicari – cari memang tak akan ada habisnya. Mereka yang tidak punya facebook karena ingin memelihara diri jelas lebih baik daripada mereka yang kerap membenarkan berbagai penyalahgunaan dan berdalih atas berbagai kelalaian. Lebih baik dibilang kurang gaul tapi selamat dibandingkan dianggap sok gaul tapi bertabur dosa dan maksiat.

Seperti disampaikan salah seorang teman, facebook ibarat pisau yang manfaat atau mudharatnya tergantung penggunaannya, tulisan ini tidak hendak mengharamkan facebook yang memang tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya. Namun, lebih mengingatkan untuk lebih bijaksana dalam menggunaannya, termasuk waspada terhadap berbagai potensi kelalaian yang ada didalamnya dan berbagai potensi pembenaran yang menyertainya.

Facebook tetap bisa menjadi sarana silaturahim, memperkaya jaringan yang akan berguna untuk masa depan hingga menjadi sarana penyebar kebaikan dan kebermanfaatan. Namun bagaimanapun, pisau adalah benda tajam yang berbahaya. Jika tidak perlu dan digunakan untuk hal yang bermanfaat, sepertinya lebih bijak untuk tidak menggunakannya.

Kalau masih ingin menggunakan jejaring sosial, maka kita wajib untuk lebih sadar dan hati-hati dalam menulis status, memberi comment, dan melakukan aktivitas lainnya,  sehingga tidak terjerumus ke dalam status fatwa “haram”. ^_^ itu bukan fatwa dari aku yah, tapi itu tergantumh teman-teman menyikapinya gimana.. ^^



Mari berlomba-lomba menjadi manusia yang lebih baik,,, aku sendiri masih belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik. Semoga kita selalu istiqomah di jalan Nya… Saling mengingatkan dalam kebajikan yaa akhi wa ukhti,,, Bagaimana dengan antum semua?? Setuju atau tidak?? Kalo tidak setuju juga tidak apa-apa ini hanya seklumit pendapat aku saja dan sekedar nasihat untuk teman-teman sekalian dan khususnya untuk diri aku pribadi…

.::Hidup Lebih Berarti Dengan Berbagi::.

15.25 | 0 komentar

MENGUNGKAP KEAJAIBAN SUJUD


Sujud adalah kebutuhan setiap manusia, apapun kepercayaannya dengan berbagai bentuknya sebagai bentuk penyerahan diri. Yang membedakan adalah antara satu insan dengan insan lainnya adalah kepada siapa dia bersujud, bahkan seorang atheis-pun ketika dalam kekagetan dan ketakutan akan mengatakan ‘Oh My God!!’, dan seorang muslim akan bersujud kepada Allah. Pertanyaannya adalah ‘mengapa mereka bersujud?’ Karena setiap manusia mempunyai naluri untuk mengagungkan dan menyembah yang tertananam di dalam otak limbicnya.
Dalam Islam, puncak penyerahan diri (baca: sujud) itu berupa peletakkan kepala dan wajahnya yang paling berharga di atas tanah dalam kepasrahan, dan pada saat itulah seorang muslim benar-bear dekat dengan tuhannya, sehingga shalat menjadi media yang paling ampuh dan dahsyat sebagai media memperoleh pertolongan Allah. Karena itu kita dianjurkan oleh rosulullah untuk menambahkan shalat-shalat sunah selain shalat yang fardu. dan sebaik-baik shalat sunah adalah sholat lail “dan pada sebagian malam, maka sujudlah yang panjang kepadanya dan bertasbihlah yang panjang kepada-Nya” QS. Al-Nisa: 26.
Sujud adalah saat-saat terindah dalam ibadah, dimana seseorang sedang pada posisi sangat sangat dekat dengan Allah. dengan bersujud doa dikabulkan, keajaiban dihadirkan, seluruh kebaikan diberikan, urusan dimudahkan, kemenangan disegerakan, dosa-dosa digugurkan, dan neraka dijauhkan.
Terbukti secara ilmiah, sujud menjadi solusi efektif untuk menyelesaikan masalah yang menghimpit pikiran umat manusia. Anda yang sakit, nervous, jelous, tertekan, stres, suntuk, sumpek, bebaskan lah dengan sujud.
Di saat bersujud, anda sedang membuang toksin (racun) dan gelombang energi negatif dari dalam diri anda, jiwa anda dan pikiran anda. pada saat yang sama anda mendapat transfer energi positif dari tuhan anda, dari dalam diri anda dan makhluk yang bertasbih untuk anda di bumu dan langit dan yang ada diantaranya.
Sujud sungguh menakjubkan. dahsyatnya qiyamul lail berbanding lurus dengan tingkat kesempurnaan sujud, khusyuknya shalat akan terasa dalam nikmatnya sujud.
Rosulullah berwasiat kepaa siapa saja yang mempunyai cita-cita besar agar senantisa memperbanyak sujud. tidak ada waktu yang lebih dekat antara seorang hamba dengan tuhannya selain waktu dimana hamba itu sedang bersujud.
Rosulullah SAW pernah diminta untuk menjadi penjamin orang yang lemah amalnya dan sedikit kebaikannya agar selamat di padang mahsyar dan mendapat syafaatnya pada hari kiamat, beliau mengatakan “Bantulah aku untuk memenuhi harapanmu itu dengan banyak bersujud”.
Sungguh, shalat malam adalah pakaian Rosulullah dan sujud senjatanya. tidak ada tahajjud yang dikerjakan oleh Rosulullah kecuali dengan sujud yang panjang dan sepurna. tidak ada qiyamul lail yang menggetarkan jiwa kecuali ada dialog mesra dengan Allah di kala sujud. tidak ada perjumpaan yang indah dengan Allah kecuali dalam sujud yang mengesankan.
15.08 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung