Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Bimbingan Dari Langit

Written By Rudianto on Senin, 27 Agustus 2012 | 02.40

Manusia terus berbondong-bondong dan
berlomba mengejar kehidupan yang fana. Seakan
lupa, bahwa bukan untuk ini Allah
menciptakannya. Kebutaan akan hakikat
kehidupan semakin kentara. Selimut kecintaan
mendalam terhadap dunia dan takut akan
kematian semakin menebal. Isyarat ini telah lama
disampaikan oleh Rasulullah, namun sedikit yang
memahaminya.

Apabila membaca, mendengar, melihat dan
mengetahui berita tentang gejala keruntuhan
akhlak di kalangan masyarakat - dari yang
sekecil-kecilnya hingga yang paling besar - hati
kecil ini sering merintih sendirian. Terfikirkan
tentang keadaan diri manusia akhir zaman ini
yang mulai jauh dengan petunjuk dari langit.
Kehidupan seakan-akan terasing dari
petunjuk ini. Seolah-olah diri ini tidak pernah
didatangi Nabi. Seolah-olah Quran tidak pernah
muncul. Seolah-olah wahyu dan Nur hidayah
tidak pernah datang menjenguk diri manusia.
Kenapa berlaku demikian? Bukankah Allah
telah membangkitkan RasulNya untuk
menunjukkan jalan hidup kepada manusia?
Bukankah Allah-dengan rahmatNya-menurunkan
wahyuNya sebagai pedoman hidup manusia?

Sejarah kehidupan manusia pernah
menyaksikan kehidupan manusia terbaik di muka
bumi. Dari manusia ganas, zalim, penindas, sesat
bertukar menjadi manusia baik, adil, penyayang
dan berjalan menurut petunjuk. Generasi para
Sahabat didikan Rasulullah saw melalui bentuk
pendidikan yang menyadarkan manusia arti hidup
dan mati adalah contoh terbaik umat sepanjang
zaman.

Kenapa mereka bisa bertukar dari jahiliah
kepada Islam? Mengapa mereka bisa berubah dari
manusia ‘pagan’ menjadi manusia berbudaya
tinggi dan berperadaban ulung? Tidakkah dengan
sebab petunjuk dari langit?

Petunjuk itulah juga yang sebenarnya
pernah menjenguk dan mengintai hati kita.
Sayangnya, diri kita tidak pernah merasai bahwa
ia sebagai sesuatu yang cukup berharga dalam
hidup. Bahkan, tidak ada cara, tidak ada jalan,
tidak ada kaedah melainkan masyarakat ini mesti
kembali kepada petunjuk dan bimbingan dari
langit itu. Hanya dengan jalan demikian, kita
semua akan selamat dunia Akhirat.

Manusia diciptakan Allah hanya untuk
beribadah kepadaNya saja. Apa yang hendak
dicari di dunia?
Saatnya kembali di atas jalur yang benar.
Jalur yang mengantarkan ke pintu syurga.
Menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat.
02.40 | 0 komentar

Mutiara Sakinah

Merenunglah. Siapa orang-orang yang kita cintai? Siapa orang-orang
yang paling dekat dalam hidup dan hati kita? Siapa orang yang
menghiasi ingatan kita? Siapa orang yang menemani langkah-langkah
hidup kita? Orang shalihkah dia? Mengajak pada kebaikan dan
keridhaan Allah kah dia?

Salim bin Abi Ja’ad mengatakan bahwa Abu Darda pernah berkata,
“Hendaklah seseorang berhati-hati bila ia dibenci oleh hati orang-
orang beriman dari arah yang tidak ia sadari.” Kemudian sahabat Abu
Darda bertanya, “Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan kata-kata
itu?” Salim mengatakan bahwa ia tidak mengerti. Abu Darda
menjelaskan, “Yaitu seorang hamba bermaksiat kepada Allah dalam
keadaan sendiri lalu Allah menghunjamkan kemarahan-Nya dalam hati
orang-orang beriman tanpa ia sadari.” (Al-Hilya: 1/215)

Kemarahan hati orang beriman, adalah kesengsaraan. Kebencian
orang-orang yang beriman adalah pangkal kesempitan dan
penderitaan. Karena merekalah sebenarnya yang dapat mengubah
dunia dengan segala permasalahannya menjadi indah. Lisan-lisan
merekalah yang menuangkan nasehat dan membicarakan kalimat demi
kalimat yang dapat menentramkan hati. Lidah-lidah merekalah yang
menyiram hati kita untuk senantiasa berada dalam keridhaan dan tidak
terlalu jauh menyimpang dari ridha Allah SWT. Tangan-tangan
merekalah yang menuntun kita. Telapak tangan merekalah yang
tertengadah di malam sunyi dan gelap malam hingga memberi kekuatan
iman dalam diri kita. Ingatlah sabda Rasulullah SAW tentang do’a
seorang mukmin di tengah malam yang dijamin diterima Allah SWT.
02.32 | 0 komentar

SUAMI

Written By Rudianto on Minggu, 26 Agustus 2012 | 09.06

Bagi seorang wanita, harta yang paling
berharga di dalam hidup ini adalah seorang suami
yang shalih. Kepadanyalah, seorang isteri akan
merasakan kebahagian di dalam hidupnya dan di
Akhirat kelak. Keberuntungan yang akan diterima
seorang isteri, jika dia menyakini hidupnya,
memberikan segala cinta, perhatian, dan kasih
sayangnya kepada suami yang shalih. Karena
pada diri si suamilah, seorang isteri akan
mendapatkan apa yang didambanya; Ketena-
ngan, keteduhan, kedamaian, perlindungan dan
cinta serta sayang.

Suami yang shalih adalah seorang yang
dapat membahagiakan isteri dan anaknya, serta
keluarganya baik di dunia ini ataupun di Akhirat
kelak. Seorang suami yang shalih tidak akan
memberi makan isteri dan anak-anaknya kecuali
dengan harta yang halal.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu menjaga amanah yang
diberikan kepadanya. Dan isteri adalah amanah
yang diberikan kepada seorang lelaki yang
menjadi suaminya.

Suami yang shalih adalah seorang suami
yang mampu memperlakukan isteri dan anaknya
dengan sifat-sifat yang terpuji, seorang suami
yang shalih akan selalu memperlakukan isterinya
dengan sabar; sabar dengan setiap kesalahan-
kesalahan isterinya, dan memperlakukan
isterinya dengan kelembutan dan penuh maaf
saat isteri dipenuhi dengan emosi dan kemarahan.
Suami yang shalih adalah suami yang mampu
menjadi pemimpin di dalam rumah tangganya.
Seorang suami bagaikan pemerintah di dalam rumah
tangganya, seorang suami yang shalih adalah yang
mampu memperhatikan hak dan kepentingan
rakyatnya di dalam pemerintahan yang
dipimpinnya, yaitu isterinya.

Seorang suami yang shalih akan selalu mampu
bersikap bijaksana di dalam tindakannya,
menghargai pendapat isterinya, dan jika terjadi
perbedaan pendapat dengan isterinya, dengan
sikap terpuji dan penuh cinta kasih menghargai
pendapat sang isteri, serta mencari titik temu
bersama dalam kerangka yang diperintahkan oleh
Allah dan mejauhi segala yang dilarang oleh Allah.
Seorang suami yang shalih akan selalu mampu
menjadi teladan terpuji buat isteri dan anak-
anaknya. Mampu menumbuhkan kebiasaan-
kebiasaan yang baik, dan mendidik diri, isteri, dan
anak-anaknya untuk menapak di jalan-jalan yang
menuju keridhaan Allah.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu membuat dirinya, isterinya dan
anak-anaknya mencintai ilmu, menguasai ilmu dan
mampu mengamalkannya, menjadikan ilmu yang
diperolehnya itu bermanfaat bagi bangsa, negara,
dan agamanya.

Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang mampu membuat isterinya dan anak-
anaknya tumbuh, dan berkembang menjadi peribadi
yang luar biasa serta menapak tangga-tangga
kejayaan di dunia ini dan Akhirat kelak.
Seorang suami yang shalih adalah seorang
suami yang akan selalu menjaga isteri dan anaknya
dari api neraka...
09.06 | 0 komentar

SEDIH

DALAM meniti liku-liku kehidupan ini, diri
seringkali merasa kecewa. Kecewa karena
sesuatu yang terlepas dari genggaman tangan,
keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan
yang tidak dapat diterima.. dan akhirnya ia
mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa
dan perasaan.

Hidup ini ibarat sebuah belantara. Tempat
diri mengejar segala keinginan dan memang
manusia diciptakanNya mempunyai kehendak dan
keinginan. Namun, tidak semua yang diri inginkan
akan tercapai, tidak setiap yang diri idamkan
mampu menjadi realita. Dan, bukan sesuatu yang
mudah untuk menyadari dan menerima kenyataan
bahwa apa yang bukan menjadi milik diri tidak
perlu ditangisi. Banyak orang yang tidak sadar
bahwa hidup ini tidak punya satu hukum, yaitu;
diri mesti berjaya, mesti bahagia atau yang
lainnya.

Berapa banyak orang yang berjaya tetapi
lupa bahwa segalanya adalah pemberian Allah
yang Maha Pemurah sehingga kejayaan itu
membuatnya sombong dan bertindak mengikut
nafsunya. Begitu juga kegagalan sering tidak
dihadapi dengan tenang dan sabar, padahal
dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak
tercapainya apa yang memang bukan hak kita.
Apa yang memang menjadi hak diri di dunia,
pasti akan Allah tunaikan. Namun apa yang
memang bukan miliknya, ia tidak akan mungkin
dimiliki, walaupun ia mungkin telah mendekati diri,
walaupun diri telah bermati-matian
mengusahakannya. Seorang mukmin tidak akan
bersedih ketika ditimpa musibah, malapetaka, dan
sebagainya. Tetapi dia bersyukur kepada Allah
dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan
dari Allah terhadap dirinya.

Oleh itu, bila seorang mukmin merasa sedih
ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin
sejati. Sebab, apa pun musibah yang menimpa
seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya,
sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah
hadits: “Sungguh menakjubkan! Urusan orang
mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan
bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah
dialami oleh seorang mukmin.”

Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan,
dan dia mengingat Allah, dengan jalan itulah dia
akan memperoleh jalan penyelesaian yang
terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam
bentuk apapun, karena penderitaan yang paling
berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya.

Seorang mukmin adalah selalu mengingat
Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang
amat sangat sekalipun, baik dengan mengucap-
kan tasbih, takbir, istighfar, doa maupun dengan
membaca Al-Quran, sehingga membuat jiwanya
bersih, bening, perasaannya tenang dan
tenteram.

Rasulullah SAW pun bersabda: “Ingat akan
Allah adalah penawar kalbu,” diriwayatkan oleh
Ad-Dailami oleh Anas.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah
berduka lara, mendengarkanlah firman Allah
SWT, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi
kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak
mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau
hanyut dalam dalam nestapa yang berpanjangan
terhadap apa-apa yang terlepas dari
genggaman, dari dekapan. Melihat di sekeliling,
kemudian bercerminlah diri sendiri. Andai kita
tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu,
mulai hari ini ada baiknya mulakan mencari diri
sendiri!

Manusia yang mulia adalah yang menyadari
dengan sepenuh hati bahwa dia hanyalah hamba,
benar-benar hamba, dalam pengertian hamba
yang sebenar-benarnya, baik secara teori
maupun praktikal. Dia hanya berfikir bagaimana
memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini,
semata-matamengharap cintaNya,
keridhaanNya, dan lebih dari itu karena dia
mencintai Allah, terpesona kepada keindahan
Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan
‘kecantikan’ Maha Pemurah.

Andai ternyata keinginannya tidak selaras
dengan keinginan Allah SWT, ternyata apa yang
diharapkannya esok hari tidak menjadi nyata,
malah yang terjadi adalah sesuatu yang
sebaliknya, maka diri mesti tetap ikhlas! Menerima
semuanya dengan senyum yang mengembang,
dengan ridha yang tidak terhitung. Hidupnya
hanya untukNya. Allah tujuan hidup, sebaik-baik
tujuan hidup! Sedang yang lainnya adalah
wasilah, alat, bekal, modal untuk mencapai
keridhaan Allah SWT.

Maka wahai diri, jangan kau tangisi apa
yang bukan milikmu! Karena, ia memang bukan
milikmu! Maka, bersihkan hatimu, ikhlaslah.. ridha
dengan ketentuanNya. Karena, diri ini adalah
sebenar-benar hamba! Moga diri lebih kuat dan
dekat kepadaNya.

“..... karena itu Allah menimpakan
kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu
tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput
dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu.
Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”
(QS 3 : 153)

“Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan,
Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa)
kantuk yang meliputi segolongan dari kamu,
sedangkan segolongan lain telah dicemaskan oleh
diri mereka sendiri.. Katakanlah (Muhammad),
“Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Al-
lah.”.. Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan
apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha
Mengetahui isi hati.” (QS 3 : 154)

***
Apa yang berada dibelakang kita dan apa yang berada
di hadapan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa
yang berada di dalam diri kita sendiri.

07.17 | 1 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung