Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

GHIBAH

Written By Rudianto on Kamis, 13 September 2012 | 21.28

“Dimana Malik bin Dukhsyum?” Maka ada yang menjawab: Ia sudah munafik wahai Rasulullah, tidak lagi mencintai Allah dan Rasul-Nya. Maka jawab nabi SAW: “Jangan sekali-kali kamu berani berkata begitu! Tidakkah kamu lihat ia mengucapkan Laa ilaha Illallah karena
mengharap keridhaan-Nya?! Sungguh Allah SWT telah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan La ilaha illallah karena mengharapkan keridhaan-Nya.” (HR Bukhari 3/ 49-50, Muslim 1/455)
***
Ghibah merupakan musytaq dari al-ghib, artinya lawan dari nampak, yaitu segala sesuatu yang tidak diketahui bagi manusia baik yang bersumber dari hati atau bukan dari hati. Ghibah adalah membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya baik isi pembicaraan itu disenanginya ataupun tidak disenanginya, kebaikan maupun keburukan.

Seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya
tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan,
terang-terangan maupun sindiran. Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata nabi SAW: Engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika
pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah meng-ghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya. (HR Muslim/ 2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Imam Nawawi menerangkan; “Ketahuilah bahwa kedua-dua perbuatan ini (yang dimaksudkan di sini ialah mengumpat dan mengadu domba) adalah dari seburuk-buruk keburukan dan yang terbanyak tersebar di kalangan manusia. Sehinggakan tidak selamat dari perbuatan ini malainkan sedikit sekali dari manusia.

Adapun ghibah, adalah sebutan engkau tentang seseorang apa yang dibencinya, baik
tentang anggota badan nya, atau agamanya atau dunianya atau dirinya atau sikapnya atau
rupanya atau hartanya atau anaknya atau ayahnya atau isterinya atau khadamnya atau
sesuatu kepunyaanya atau serbannya atau bajunya atau jalannya atau gerak-geriknya atau
masam wajahnya atau apa-apa yang selain ini semua yang berkaitan dengannya, baik engkau
sebutkan dengan lafadz maupun dalam bentuk penulisan, ataupun engkau isyaratkan dengan
gaya atau dengan mata engkau atau dengan tangan atau kepala atau apa-apa yang
seumpama denganya. Ada pun ghibah yang berkenaan dengan anggota badannya, seperti kata-kata; “buta, timpang, rabun, pekak, pendek, tinggi, hitam atau kuning”.

Adapun apa-apa yang berkenaan dengan agamanya seperti kata-kata; “fasiq, pencuri,
pengkhianat, zalim, yang meringan-ringankan sholat, yang memudah-mudahkan masalah najis,
yang tidak menghormati kedua ibubapa, yang tidak membayar zakat pada haknya, suka
mengumpat”.

Adapun yang berkenaan dengan dunia, seperti “kurang adab, merendahkan-rendahkan
manusia, tidak melihat hak manusia, bicara banyak, banyak makan dan minum, dia tidur tidak
pada waktunya, dia duduk pada bukan tempatnya (yang layak baginya)”.

Adapun yang berkenaan dengan kedua ibubapa seperti kata-kata; “ayahnya seorang
yang fasiq, atau orang India , atau orang asing, atau tukang sepatu, penjual hamba, tukang
kayu, tukang besi atau tukang tenun”. Adapun yang berkenaan dengan akhlaq dan sikap, seperti kata-kata, “buruk perangai, belagak ego, menunjuk-nunjuk, yang tergesa-gesa bertindak dan suka memaksa, yang tua lemah hati, yang bermasam muka”, dan selain
darinya.

Adapun yang berkenaan dengan baju, seperti, “lengan baju besar, panjang ekornya, kotor bajunya, dan seumpama dengannya. “Dan janganlah sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah seorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka sudah tentu kamu merasa jijik dengannya”. [Qs. Al Hujurat:12].

Sesungguhnya Allah SWT telah buat perumpamaan ini pada ghibah karena makan daging orang yang mati itu haram dan menjijikkan, begitu juga dengan halnya ghibah, ianya haram dalam agama, dan jijik dalam jiwa. Sebagaimana mana diri tidak terbersit untuk makan daging saudara yang telah mati, begitulah wajib ke atas diri untuk tidak mengumpatnya ketika hidupnya.

“Ketika aku dimi’rajkan aku melihat ada 1 kaum yang memiliki kuku-kuku panjang dari tembaga, sedang mencakari muka-muka dan dada-dada mereka sendiri. Maka aku bertanya
pada Jibril: Siapa mereka ini? Jawab Jibril: Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging manusia dengan merusak kehormatan mereka.”(HR Abu Daud 4878 dan Ahmad 3/224)

“Hari apakah ini?!” Jawab semua manusia yang hadir ketika itu: Hari Arafah ya Rasulullah..
Tanya nabi SAW lagi: “Di tanah apakah ini?!” Jawab manusia yang hadir: Di tanah haram ya
Rasulullah... Tanya nabi SAW lagi: “Bulan apakah ini?!” Jawab manusia lagi: Bulan haram ya
Rasulullah... Maka kata nabi SAW: “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, kehormatan-kehormatan kalian haram hukumnya atas kalian, sama seperti haramnya
hari ini, di tanah ini dan di bulan ini !!! Apakah sudah aku sampaikan pada kalian?!” Maka jawab manusia yang hadir: Sudah wahai Rasulullah..Maka kata nabi SAW lagi: “Ya Allah saksikanlah sudah aku sampaikan...” (HR Bukhari 1/145-146,Muslim 1679)

Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, karena sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa.  Bagaimanakah amalan itu hendak diterima? (Ali Bin Abi Thalib ra)

Barangsiapa takut kepada Allah SWT niscaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. (Umar Bin Khattab Ra)
21.28 | 0 komentar

IKHLAS

Written By Rudianto on Rabu, 12 September 2012 | 22.14

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Az-Zumar [39]: 11)
***
Acapkali diri dihantui persoalan ikhlas, ingin sangat menjadi hamba Allah yang ikhlas. Hati ini kotor, banyak ego. Syok sendiri. Perasaan bangga. Hati menangis dan menjerit. Jiwa sengsara karena mengenangkan diri kotor, sarat ego diri. Diri terlalu lemah. Betapa diri mengharapkan keikhlasan itu menyerap masuk ke dalam pembuluh darah dan mengalir meratai seluruh jasad dan anggota.

Tak semestinya diri tersilap, keikhlasan itu bukan penampakan lahiriyah atau suatu bahan kimia dari luar yang perlu dialirkan masuk ke dalam hati. Ikhlas itu suatu anugerah... hadiah Allah. Dianugerahkan kepada hamba yang senantiasa merasa diri lemah, hina, berserah, khudu', khusyuk kepada Allah. Bila di dalam hati terselip rasa hebat, rasa perasaan bangga, gemar disebut-sebut namanya, ingin manusia lihat perbuatannya, itu
ego diri pada hakikatnya. Ananiyah, keakuan. Ananiyah bahaya karena sifat itu menjadikan lupa kepada Allah yang Maha Memberi dan Dia yang mengurniakan semua kelebihan.

Diri merasa, rasa kembang dan syok sendiri. Lupa bahwa kelebihan itu hanya dipakaikan Allah kepada diri kita. Hiasan Allah. Ia milik Allah, kalau Allah cabut kelebihan itu... bukankah tiada apa yang tinggal?

Hamba yang paling ikhlas, memiliki rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhannya dan bisikan kecil hatinya saja. Hatta malaikat tidak tahu rahasia itu, syaitan durjana tidak mampu dan tidak sampai tangan untuk menyentuh hati sanubari manusia ikhlas. Pandangan manusia yang hasad juga tidak jatuh dan berupaya
mengganggu mereka yang ikhlas. Seringkali diri menyangka terselamat dan terlepas dari tipudaya syaitan dan hawa nafsu.

Semakin meningkat ilmu, amal dan kehidupan dunia, semakin halus tipudaya dan semakin sukar dikesan. Hanya yang ikhlas li wajhillah dapat terselamat. Beruntunglah manusia ikhlas...segala-galanya  dipersembahkan untuk Allah semata. Syaitan dan nafsunya sendiri tidak tergapai tangan menggelitik keikhlasan hatinya. Manusia inilah yang selamat. Mudah-mudahan kita semakin mendekati keikhlasan. Segala-galanya untuk Allah, dari Allah, bersama Allah. Ya Allah, bantulah aku mencipta keikhlasan
dalam setiap hela nafas yang ku hembuskan, dalam setiap nawaitu yang ku tajdidkan,dalam
setiap amal yang ku tekadkan..

Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub karena suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka
kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu. (Abu Bakar)
22.14 | 0 komentar

KEHIDUPAN

Diantara nikmat yang besar ialah nikmat kehidupan. Kehidupan sinonimnya gembira, sedih, ketawa, menangis, sehat, sakit, siang, malam, suka, duka dan seterusnya. Ketika penyakit datang kita merasa sakit.
Penyakit itu datang melaksanakan amanah yang Allah berikan kepadanya. Penyakit itu sedang bertugas. Penyakit itu akan pergi meninggalkan kita apabila tugasnya selesai. Kemudian sehat pula datang bertugas dan akan pulang apabila selesai amanahnya. Kita patut bersyukur apabila penyakit datang, karena tanpa penyakit kita pasti tidak mengenali Allah yang bersifat al-Syafi (Maha Penyembuh).

Penyakit mempunyai dua kategori. Yang pertama ialah penyakit hakiki dan yang kedua penyakit waham.
Penyakit hakiki ini ialah penyakit yang betul-betul penyakit. Penyakit kategori inilah yang perlu kita mencari obat dan penawarnya. Tidak dilarang kita berusaha berikhtiar menyembuhkannya dengan mencari obat. Obat-obat yang Allah sediakan untuk setiap penyakit tersimpan dalam gedung farmasi alam dan bumi ini.

Kita perlu berusaha mencarinya dan Dia Yang Al-Syafi akan menyembuhkan. Setiap penyakit ada obatnya.
Usaha berobat itu menjadi ikhtiar yang berpahala. Penyakit yang waham ialah penyakit yang disangka-sangka saja. Penyakit yang tiada dibuat-buat ada. Penyakit yang disangka-sangka dan terus-terusan difikirkan sehingga sangka-sangkaan itu membesar dan akhirnya menghancurkan diri sendiri. Tali yang terjuntai di dalam gelap difikir-fikirkan sebagai ular...akhirnya ia akan membesar lalu memusnahkan
kita. Sesuatu yang berdasarkan rasa-rasa dan sangka adalah waham. Makin difikir ia bertambah
besar. Hasutan syaitan makin difikir-fikir dan dilayan-layan, ia akan menjadi gemuk dan gemuk lalu tewaslah manusia.

Gosip-gosip liar, kabar-kabar angin, rasa-rasa kecil hati dan tergores, usah dilayan. Makin dilayan ia lama-lama menjadi penyakit, berdarah dan bernanah. Penyakit itu akan membusuk dan memusnahkan kita. Waham bisa menghancurkan. Teguhkan jiwa, biarlah gosip liar dan kata-kata manusia tentang kita berlalu bagaikan angin. Biarlah mereka dengan labu-labunya. Kita punya tujuan dan prinsip, selagi nadi masih berdenyut masih banyak khidmat al-Qur'an dan iman yang perlu dilaksana.
***
Sebenarnya sehat dan sakit itulah
kehidupan. Tanpa penyakit berarti tiada
kehidupan. Tiada kehidupan untuk individu, tiada
kehidupan untuk dokter, tiada kehidupan untuk
ururawat, tiada kehidupan untuk penyakit itu setiap urusan, kerja dan usaha hanya untuk Allah,
sendiri. Bisakah dibayangkan keadaan itu? Hidup karena Allah dan bersama Allah (lillah, ilallah,
berarti ada pergerakan, ada usaha, ada kerja, ada billah). Setiap hembus nafas bertukar menjadi
susah payah. ibadah. Alhamdulillah... indahnya dan manisnya..
Manusia yang goyang kaki 'rilex' itu syukur ya Allah karena memberikan hidup.
sebenarnya telah mati. Sebab dia tiada kehidupan. Sesungguhnya mereka yang memutus
Biarlah setiap detik dan saat ada kerja yang kehidupan dan membunuh diri sendiri adalah
dilakukan. Termasuklah tidur ia suatu pekerjaan. mereka yang tidak bersyukur. Mereka tidak suka
Alangkah baiknya sekiranya setiap detik dengan nikmat. Mereka memilih untuk tiada. Tiada
pekerjaan itu bertukar menjadi ibadah. itu kegelapan dan kejahilan.
Yang paling mudah, menukarkan niat bahwa

21.55 | 0 komentar

New Album IZZATUL ISLAM "AL QUDS"

Written By Rudianto on Selasa, 11 September 2012 | 11.35

Quds merupakan kiblat pertama umat Islam, Bumi tempat dilahirkan nya Nabi-Nabi pilihan,Kota ke 3 yang di berkahi dan dimuliakan Allah Swt,serta menjadi arena Jihad dijalan Allah, Kini Al-Quds telah dicaplok Zionits Laknatullahalaikh, dan di Yahudikan secara terang2an, Dibantai, dan di usir, Bahkan kini masjid suci Al-Aqso akan mereka Robohkan,,.
Wahai umat islam bangkitlah kalian sungguh telah tiba saat untuk Berjihad, Detik bahay telah berdentang,Al-Quds, Al-Aqso, Palestina Masalah Al-Quds Bukan hanya masalah bangsa Palestina dan bangsa Arab saja, Namun permasalahan umat Islam dimanapun mereka berada, Dibelahan bumi utara, selatan, timur dan juga barat, Al-
 Desain Album baru Izzatul Islam mendatang, insya Allah ..

Berisi 7 lagu, semuanya berbahasa Arab.

100% keuntungan penjualan album ini disumbangkan untuk Pembebasan Masjid Al Aqsha tercinta.
11.35 | 1 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung