Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

WAKTU ADALAH USIA KITA

Written By Rudianto on Kamis, 09 Juli 2009 | 23.45


WAKTU ADALAH USIA KITA

“Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya menetapi kesabaran”.(Qs.Al-‘Ashr :1-3)

Imam Ja’far bin Muhammad al-Shadiq memberi nasehat; “ Siapapun yang hari ini dan hari berikutnya sama maka ia adalah orang merugi. Siapapun yang akhir dari dua hari yang dilewatinya buruk, maka ia adalah orang yang terkutuk!. Siapapun yang tak melihat adanya pertambahan kebaikan dalam dirinya, maka ia adalah orang yang berkekurangan!. Dan siapapun yang dirinya berkekurangan, maka kematian lebih baik baginya dari pada kehidupan”. Itulah sebuah nasehat yang harus kita hayati dengan dalam, terlebih ketika hari-hari yang kita lewati tak juga menambah kesadaran untuk merubah diri. Waktu demi waktu terus bergulir, tetapi rentetan perjalanan hidup yang kita jalani hingga hari ini selalu menorehkan keburukan. Alangkah tak pantasnya kita mengaku beriman, tetapi ketika melakukan kemaksiatan terasa begitu aman. Sungguh, terkadang kita memang sering tak tahu berterimaksih.

Dr. Yusuf al-Qardhawi pernah menulis dalam sebuah risalahnya, bahwa waktu terus berlalu dan tak pernah kembali, waktu adalah harta manusia yang paling berharga, waktu adalah kehidupan bagi seorang muslim. Belajarlah dari perjalanan hari-hari, dari pergantian siang dan malam. Sebab didalam keduanya ada sesuatu yang baru, dan keduanya dapat mendekatkan sesuatu yang jauh. Dan ketahuilah, sesungguhnya pada masing-masing waktu yang terlewati ada kewajiban yang harus kita laksanakan untuk Allah.

Sahabat, Bingkai kehidupan yang kita jalani selalu pasang surut, beralih pada sebuah keadaan ke keadaan lain. Ada kenikmatan yang pernah kita rasakan, ada kesengsaraan yang pernah kita dapatkan, ada ketaatan yang datang menjelang dan ada kemaksiatan yang terkadang kita lakukan. Pada empat keadaan inilah ada kewajiban hamba untuk Allah.

Pertama; bagi kita yang mendapatkan kenikmatan, kewajiban kita harus bersyukur kepada-Nya. Kedua; bagi yang berada dalam kesengsaraan, berkewajiban untuk bersabar dan ridha terhadap ketetapan-Nya. Ketiga; bagi yang sedang berada dalam ketaatan, berharaplah selalu kepada-Nya agar kebajikan, hidayah dan taufiq selalu tertanam dalam jiwa. Keempat: bagi yang berada dalam kemaksiatan, berkewajiban selalu memohon ampunan, bertaubat atas kesalahan agar tersucikan segala kotoran, agar termaafkan segala kemaksiatan.

Sungguh, waktu adalah peluang untuk meraih kesempatan dalam menggapai cita. Sekali kita tingalkan waktu, saat itu juga kita tidak dapat mengejarnya lagi walaupun sedetik. Hilang kesempatan timbul kekecewaan, karena di dalam waktulah kita mendapat kebahagiaan dan kesengsaraan. Ketahuilah, perjalanan hidup manusia melaju dengan cepat menuju Allah swt. Hendaknya kita selalu mengadakan perhitungan untung-rugi dari apa yang telah kita kerjakan. Sebab setiap gerak dari kehidupan kita tak ada satupun yang luput dari penghilatan Allah, karena memang Dialah yang memberi kekuatan gerak dalam hidup kita. Betapa seringnya kita tertipu, kita mengira bahwa kita diam, sedangkan waktu terus berjalan. Sebagai perumpaan dalam kehidupan, mungkin kita pernah naik kereta api yang sedang berjalan, nampak dari dalam jendela seakan kita melihat diluar berlari, padahal sesungguhnya kitalah yang bergerak cepat.

Sahabat, diantara sekian banyak kenikmatan yang kita rasakan adalah nikmat umur. Betapa berharganya umur sehingga tidak dapat kita nilai dengan uang yang bertumpuk atau dengan emas yang berbungkal-bungkal. Rasulullah mengingatkan kita tentang betapa pentingnya memahami persoalan ini. Beliau bersabda: “Belum lagi hilang jejak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga kepadanya telah di ajukan empat pertanyaan, yaitu; Dari hal umurnya kemana dihabiskan. Dari hal tubuhnya untuk apa dipakainya. Dari hal ilmunya apa yang sudah diamalkan denganya dan dari hal hartanya dari mana diperolehnya dan untuk apa dibelanjakannya”. ( Hr. Bukhari).

Sadarilah…pada waktu itu ketika sampai pertanyaan tentang usia yang kita habiskan, kita tak dapat berdusta sedikitpun, karena seluruh tubuh kita menjadi saksi dari apa yang kita kerjakan. Barulah timbul penyesalan yang ketika itu tidak berguna sebanyak apapun penyesalan kita bahkan tangis dan ratap kita tak dapat menolong sedikitpun. Umur kita akan melaporkan kepada Allah dengan tidak dikurangi dan ditambah sedikitpun. Sesungguhnya, semakin bertambah umur kita setahun semakin dekat kita kepada azal dan semakin dekat kita kepada azal, semakin dekat pula kita keliang kubur. Karenanya sebelum umur kita bercerai dari badan, jangan terlambat untuk bertaubat menyesali kealfaan diri. Jangan terpedaya oleh pesona keindahan dunia, jangan tergiur oleh pengaruh pangkat dan jabatan
23.45 | 0 komentar

TEMUKAN JALAN KITA


TEMUKAN JALAN KITA

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang di murkai dan buka pula jalan mereka yang sesat” (Qs. Al-Fatihah [1]: 6 -7)

Sering dalam sholat kita, sebuah ungkapan kerap terlontar. Sebait doa yang diabadikan Allah dalam surat al-Fatihah…”Ihdinas syirotol Mustaqim ..”tunjukilah kami kejalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka”. Jika saja kita mau merenungkan kalimat ini, kita akan dapatkan, betapa diri kita memang penuh dengan kelemahan.

Dan karena kelemahan itulah, kita selalu berharap agar Allah selalu meluruskan jalan kita. kita memerlukan hidayah (petunjuk) pada setiap kesempatan, baik malam maupun siang. Sebab hati kita berada diantara dua jari di antara jari-jari Allah, dan Ia membolak-balikannya sebagai mana yang Ia kehebndaki. Dan setiap manusia tidak mengetahui tentang dirinya, apakah akan tetap sebagai seorang muslim atau tidak, karena itulah kita selalu memohom petunjuk. Begitulah Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya.

Sesungguhnya, kalaulah kita mau mentadabburi banyak hal tentang kehidupan ini. Akan kita dapatkan, betapa Allah telah menyediakan beragam fasilitas untuk memudahkan jalan hidup menuju kebenaran. Dan jalan itu telah dibentangkan oleh Allah. Jalan itu adalah Islam, kitabullah, Tauladan Rasulullah dan para sahabatnya. Itulah makna dari kalimat yang selalu kita baca. Ihdinasy syirotol mustaqim..”.

Persoalannya adalah, entah sudah berapakali ungkapan ini berulang, tetapi kita tak jua menemukan jalan. Kenapa ?. Karena kita hanya pintar mengungkap pinta, tetapi tidak mampu menangkap makna. Karena kita hanya pintar berkata, tetapi tidak pernah mencoba mengamalkan dalam fakta. Karena kita hanya berdusta, dalam meraih seikat cinta.

Sahabat, Telah terbentang hamparan kekuasaan yang dipelihatkan Allah kepada kita. Tidak terhitung jumlah nikmat yang tersalurkan lewat kehidupan kita, namun semua itu bukan menghadirkan kesadaran tetapi justru melahirkan keangkuhan. Sadarilah, baik dan buruk tindakan kita, kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah. Kenalilah diri kita, dari mana, untuk apa dan mau kemana kita hidup, pemahaman seperti ini akan memudahkan kita untuk menemukan jalan yang lurus, jalan yang di kehendaki Allah. Dan kita tidak akan tertipu oleh jalan syaitan yang selalu membisikan kedalam hati kita. Dan yang lebih penting lagi adalah kesadaran ini akan menjadi benteng keimanan yang kuat, sehingga kita mampu mengendalikan nafsu kerah yang baik.

Ibnul Qayyim memberi nasehat; nafsu itu tak ubahnya seperti kuda tunggangan yang akan membawa orang yang mengendalikannya ke\sorga atau keneraka. Bila nafsu manusia di arahkan untuk mengikuti kenikmatan syahwat yang semu serta mengarungi lautan keinginan yang di haramkan Allah, niscaya nafsu akan membawanya kejurang neraka. Tetapi jika dijaga dan dikendalikan dengan kesabaran, kama nafsu akan membawa penunggangnya ke surga. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu mengendalikan nafsu, bukan yang di kendalikan nafsu. Insya Allah.

Allahumma, Ya Allah, adalah taufiq-Mu jua yang dapat menghantarkan kami menuju ampunan-Mu. Sinarilah langkah kami dengan kebenaran firman-Mu, teguhkan jiwa kami untuk selalu mentauladani sunnah Rasul-Mu. Jadikan dunia ini sebagai tempat segala kebaikan bukan tempat untuk menambah keburukan. Engkaulah maha pemberi ampunan.

Ya Allah Tunjukilah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran, dan berikakanlah kepada kami kekuatan untuk dapat mengikutinya. Dan tunjukanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilah dan berilah kekuatan kepada kami untuk dapat menjauhuinya.
00.11 | 0 komentar

MENYADARI KEKHILAFAN DIRI

Written By Rudianto on Rabu, 08 Juli 2009 | 00.04


MENYADARI KEKHILAFAN DIRI

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat). dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs. Al-Hasyr [59]:18)

Sahabat, ketika cahaya kesadaran datang menghampiri, terasa begitu dalam sesal yang menggumpal di dalam hati. Teringat akan lembaran masa lalu yang kelam, tentang orang-orang yang pernah kita sakiti, tentang prilaku diri yang begitu sering melakukan kekhilapan, tentang bhakti kita kepada kedua orang tua yang mungkin belum kita sempurnakan, tentang cela dan aib diri yang mungkin belum sempat kita mohonkan ampunan. Dan tentang seluruh perjalanan hidup yang hanya diselimuti oleh dusta dan kebencian. Telah begitu panjang perjalanan yang kita lalui, tanpa kita sadari, telah begitu banyak kita menorehkan tinta hitam dalam sejarah kehidupan kita.

Sungguh..kalaulah kita mau jujur terhadap diri ini, betapa sedikit ketaatan kita kepada-Nya dan begitu sering kita mengkhianati segala kenikmatan yang di berikan-Nya. Tampaknya, kita harus bertanya kepada diri ini, kenapa hati begitu keras membatu, hingga kebenaran tak jua menyatu. Kenapa diri ini begitu bodoh dan tak jua menyadari, padahal, begitu nampak didepan kita hamparan kemaha besaran Allah yang tak tertandingi oleh apapun. Rasanya tak pantas diri ini selalu mengharap kebaikan, dimana saat yang lain begitu sering kita tampakkan kejelekan. Rasanya tak pantas kita mengharapkan ampunan, sementara pada saat yang sama kita melakukan kemaksiatan. Rasanya tak pantas kita menjadi hamba pilihan, karena segala perintah dan larangan tak jua tergerak untuk kita laksanakan.

Sahabat, Setiap tapak kaki kita yang tertinggal sesungguhnya adalah saksi dari perjalanan hari-hari. Hanya orang yang bodoh yang membiarkan hari-harinya tersia-siakan dengan kebathilan, hanya orang yang jahil yang membiarkan waktu hidupnya tercampakan dengan kelengahan dan merugilah keduanya karena kesempatan yang diberikan Allah tak dimanfaatkan untuk kebaikan.

Kita sering mengira, bahwa kita telah banyak melakukan kebaikan. Selama ini kita menduga, seakan telah sempurna melakukan ketaatan, merasa sudah begitu banyak menjalankan kewajiban. Tetapi ternyata, semua itu hanyalah fatamorgana. Nampak begitu baik dalam persangkaan, ternyata begitu buruk dalam pandangan Allah. Kenapa demikian, karena ketaatan yang kita kerjakan hanyalah sebatas menginginkan pujian dan kebaikan yang kita tunjukan tidak diiringi dengan keikhlasan.
Renungkan nasehat Umar Ibn Khattab ; “Hisablah diri kalian sebelum dihisab, timbanglah diri kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk pertunjukan yang agung (hari kiamat), dihari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal perbuatan kita barang satupun”.

Sahabat, marilah kita bangun sesuatu yang telah kita robohkan, bersihkan aqidah kita yang telah tercemar dengan kemusyrikan. Jernihkan niat dan tekad yang telah kita keruhkan dengan ketidak ikhlasan. Manfaatkan kesempatan hidup ini selagi masih terbuka pintu harapan Bukalah gerbang kesadaran agar tersibak pintu rahmat dan ampunan.

Berbuat baiklah selagi masih punya kesempatan dan bertaubatlah kepada Allah sebelum azal datang menjelang. Tegurlah hati kita yang sedang terlena, agar tidak jatuh terjerat oleh rayuan dunia yang fana. Tegurlah jiwa kita yang gelisah dan goyah, agar tetap menjadi hamba yang mulia. Sadarilah, terkadang jiwa kita selalu cenderung pada kelezatan yang sesaat, maka didiklah ia dengan baik agar selalu taat., Temukan jalan kita diantara sekian banyak jalan yang telah membelokkan tujuan hidup kita. Mohonlah selalu hanya kepada Allah agar ditetapkan iman dan Islam kita, sebab itulah jalan yang akan membawa keselamatan dunia dan akhirat. Temukan jalan kita dengan berusaha memahami siapa, dari mana dan mau kemana kita hidup. Ajukan pertanyaan ini kepada bathin kita dengan khusu’, Insya Allah kita akan menemukan jawaban itu dengan kejernihan pikiran.

Maha suci Allah…yang memahami segala aib yang tersembuyi, yang maha penerima taubat orang-orang yang tersesat. Tiada pujian yang pantas kita berikan membandingi pujian kepada-Nya. Semoga Allah menghunjamkan kesadaran dihati kita untuk menyadari kekeliruan, mengampuni setiap kemaksiatan. Bersyukur kepada-Nya yang telah menciptakan kita dengan kemuliaan dan kesempurnan. Semoga Allah swt membimbing kita pada jalan yang diridhoi-Nya, menjauhkan pada jalan yang di murkai-Nya.
00.04 | 0 komentar

Jangan biarkan Hati Terkotori

Written By Rudianto on Selasa, 07 Juli 2009 | 09.33


Jangan biarkan Hati Terkotori

“sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah, apabila ia baik maka baik pula seluruh anggota tubuh; dan apabila ia jelek, maka jelek pula seluruh anggota tubuh, ketahuilah; ia adalah hati” ( Hr. Bukhari Muslim )

Saudaraku yang muliakan Allah
Saat seorang bayi terlahir dari rahim ibu, kulit halus penuh kelembutan, mata berbinar nampak kebeningan. Bahkan senyuman yang mengembang terlihat jujur tanpa kemunafikan, dan tangis yang kerap hadir terdengar merdu tanpa kebohongan.

Sungguh, semua yang terlihat dari gerak seorang bayi adalah ketulusan tanpa cela. Bahkan tangisnya terdengar semakin menggoda, tidak ada kebencian ketika pipisnya membasahi pakaian kita, dan tidak ada dendam ketika ia terkadang menjengkelkan kita.

Itulah ketulusan sang bayi, kesucian dan kelembutan dirinya membuat kita selalu ingin memeluk dan menyayanginya. Bahkan karena kesucian yang tampa cela itu membuat Allah menjaminkan surga bagi sang bayi ketika kematian datang menghampirinya.

Bayangkan, jika saja kita seperti bayi., segala gerak kita disenangi, tangis kita diperhatikan, resah kita dikhawatirkan dan salah kita cepat dimaafkan. Tetapi sekarang kita adalah manusia dewasa, tangis kita terkadang diiringi kepura-puraan, tertawa kita terkadang hanya ingin menutupi kesedihan dan semua gerak kita belum tentu disenangi semua orang.

Adakalnya saat kita benar-benar menangis karena kesedihan, orang tidak langsung respek dengan tangis kita sebelum kita menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Pertanyaannya, kenapa sang bayi begitu cepat diberi perhatian, sedangkan orang dewasa tidak. Lagi-lagi, kerena ketulusan dan kesucian itulah yang menyebabkan semua orang menyenanginya.


Saudaraku yang budiman
Tentu saja kita tidak mungkin lagi mengembalikan posisi kita seperti dulu, seperti kita masih seorang bayi. Tetapi kita dapat melakukan sesuatu yang membuat orang lain selalu senang bersahabat dengan kita atau selalu rindu ketika ia jauh dari kita, bahkan kita menjadi tempat perhatian disetiap keadaan.

Bagaimana caranya, belajarlah dari kehidupan seorang bayi. Ia menangis bukan pura-pura, ia tertawa bukan ingin menutupi kesedihan dan ia bergerak bukan karena ingin mendapat pujian. Tetapi semuanya dilakukan secara reflek dengan penuh keikhlasan. Inilah kuncinya, jika kita ingin mendapat sesuatu yang terbaik dari sikap orang lain kepada kita. Intinya adalah kesucian hati.

Pertama kita lahir, belum tersentuh kotoran (dosa) sedikitpun, ibarat sebuah cermin belum ada setitikpun noda, putih bersih dan bercahaya. Tetapi sejalan dengan waktu, ketika kita mulai disebut balig dan terus merangkak menuju dewasa. Mulailah secara perlahan kesucian hati terkotori, ketulusan tercemari dan kesalahan mulai menyelimuti diri. Cermin hati sudah tidak lagi bening, kotoran (dosa) yang melekat semakin bertambah banyak, hingga pada akhirnya menutupi cermin dan tidak lagi memantulkan gambar. Semuanya disebabkan karena hati mulai banyak keinginan yang terkadang sulit dikendalikan. Apalagi ketika hawa nafsu mulai mendominasi hati.

Catatlah dalam hati kita, apa sesungguhnya penyebab utama kotornya hati!, ia adalah kemaksiatan. Racun yang sangat ampuh mengotori dan mematikan hati. Hingga pengaruhnya dapat memalingkan ketaatan kita kepada Allah. Dan secara umum, kenapa kesucian hati cepat terkotori dan sulit untuk di bersihkan?. Hal itu disebabkan oleh tiga faktor.

Pertama adalah syahwat, yang cenderung lebih mendahulukan hawa nafsu dari pada ketaatan. Karena ia timbul dari jiwa hewani yang sering bertentangan dengan fitrah kebenaran.

Kedua adalah syubhat; menyebabkan hadirnya keragu-raguan tentang agama Allah, sehingga akhirnya dapat memalingkan keyakinan. Syubhat timbul dari sumber yang bernama kebodohan.

Dan ketiga adalah amarah; ia adalah pintu yang dapat memalingkan tabiat. Kebenaran dalam pandangan orang yang pemarah dapat berubah menajdi kebathilan.

Saudara yang budiman
Ketika kesucian hati sudah terkotori sulit bagi kita menangkap sinyal kebaikan. sebab bagi hati yang kotor kepedulian akan kebenaran sudah terkalahkan dengan kebathilan, karena hawa nafsu sudah menjadi pemimpin hidupnya. Kebodohan adalah supirnya dan kelalaian adalah kendaraan bagi baginya. Diseru untuk melaksanakan taat, justru yang dijalankan adalah maksiat, di perintah untuk segera bertaubat, tetapi kesesatan yang malah diperkuat.

Sebab bagi hati yang sudah kotor, ia sudah tidak lagi merasakan sakitnya bermaksiat. Kemungkaran dianggap kebaikan, bid’ah dianggap sunnah, Dan itu adalah musibah atau fitnah terbesar yang dialami manusia.

Ketahuilah, hati adalah arah pandangan Allah, jangan biarkan ia terkotori. Pelurusan dan pembersihan hati seharusnya lebih mendapat prioritas utama dari hal apapun. Hati adalah “wadah” Allah di bumi ini, wadah yang paling dicintai-Nya adalah wadah yang paling mudah tersentuh, kokoh dan bersih. Karena tidak ada hukuman yang lebih besar bagi seorang hamba dari apapun, melainkan ketika hati terkotori.

Saudaraku, Peran hati terhadap seluruh anggota badan ibarat raja terhadap prajuritnya. Semua bekerja atas dasar perintahnya, semua tunduk padanya. Karena perintah hatilah istiqomah itu ada dan karena perintah hatilah kemaksiatan itu hadir. Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat menjaga diri dari pengaruh-pengaruh yang mengotori hati.

*****
Ketika kesucian hati sudah terkotori
sulit bagi kita menangkap sinyal kebaikan.
ebab bagi hati yang kotor kepedulian akan kebenaran sudah terkalahkan dengan kebathilan, karena hawa nafsu sudah m0enjadi pemimpin hidupnya.Kebodohan adalah supirnya
dan kelalaian adalah kendaraan bagi baginya.
09.33 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung