Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Berserah Diri

Written By Rudianto on Rabu, 15 Februari 2012 | 05.27


Allah berfirman dalam Al-Quran surat Lukman ayat 22, yang Artinya.
“Barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada allah sedangkan dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh .Dan hanya kepada Allah lah kesudahan segala urusan “

Yang dimaksud dengan berserah diri ialah menyerahkan jiwa seutuhnya kepada Allah dengan keyakinan penuh bahwa dia yang Maha Suci dan Maha Pengatur pasti memilihkan yang terbaik bagi manusia. Berserah diri bukanlah berarti mengabaikan usaha tetapi jusru harus berupaya sekuat kemampuan yang ada. Gambaran orang yang berserah diri adalah seperti orang yang menggantungkan jiwanya pada Arasy Tuhan, sementara kaki nya menapak dibumi. Orang yang berserah diri, ikhlas menerima segala ketentuan -musibah ataupun nikmat- yang dipilihkan Allah baginya. Yakin bahwa Dia yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan mungkin bertindak sewenang-wenang ataupun menganiayai hamba-Nya.

Untuk dapat berserah diri, diperlukan sikap mental dan positif. Dasarnya yaitu, Kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Meyakini, bahwa ketentuan apapun yang tetap kan-Nya bagi kita, merupakan pilihan yang terbaik, yaitu sejalan dengan doa yang selalu kita mohonkan pada setiap shalat ,yaitu ihdinashshirathal mustaqim. Ingatlah kembali penegas Allah dalam surat Al-Anfaal ayat 51,
”Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiayai hamba-Nya.”

Yakinlah, bahwa kejadian yang menurut pendapat kita baik, sesungguhnya belum tentu benar menurut kacamata Allah . Demikian juga kejadian yang kita anggap buruk, belum tentu salah dalam pandangan Allah. Pengalaman telah banyak membuktikan, dibalik kejadian buruk yang menimpa, terhadap hikmah yang berharga. Allah menegaskan hal ini dalam surat Al-Baqarah Ayat 216:
“ Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal kiamat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Seorang ahli hikmah mengatakan “Janganlah kita memusatkan pandangan hanya pada tahi lalat yang ada di wajah seorang; karena tahi lalat itu pasti akan nampak buruk; tetapi pandanglahwajah orang itu secara keseluruhan, kita akan melihat justru tahi lalat itulah yang menjadi unsure pertama kecantikan atau ketampanannya!”
Bagi orang yang berserah diri, Allah telah berjanji dalam Al-quran surat Ath-Thalaq Ayat 3 :
“Barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya).”

Demikian Rasululah saw. dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Akhamad , Tirmidzi, Nasa`I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hiban, bersabda:
“Jika kalian berserah diri kepada Allah dengan sebenar benarnya taqwa, niscaya dia menjamin rezekimu sebagaimana dia menjamin kebutuhan burung yang terbang di waktu pagi dengan perut kosong ,dan pulang di waktu sore dengan perut kenyang.”
Kita akan mudah berserah diri, bila kita haqqul yaqin bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan awal . kehidupan yang amat singkat . kehidupan yang penuh dengan kesenangan yang menipu, yaitu sebagaimana yang dimaksud Allah dalam Al-quran pada surat Hadiid ayat 20.

Adapun indikator keberhasilan dari berserah diri, yaitu tidak adanya rasa was-was, khawatir ataupun kecewa; tetapi yang ada adalah ucapan yang penuh rasa syukur ‘alhamdulillah’ ataupun penuh rasa ikhlas ‘innalillahi wa innaillahi rojiun’; sejalan dengan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 112 :
“….barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Jelaslah bagi orang yang berserah diri, ia tidak akan mengeluh atau protes kepada Allah atas ketentuan yang ditetapkan kepadanya. Tindakan yang dilakukannya hanya semata-mata karena taat mematuhi perintah-Nya belaka. Dia berlaku baik, bukan sebagai balasan karena orang berlaku baik kepadanya; tetapi kebaikan itu dilakukannya semata-mata karena Allah memerintahkannya untuk berbuat bebajikan. Pandangan bathin telanjang sebagaimana adanya, tidak ada buruk sangka. Lirikannya tanpa disertai emosi. Jiwanya tidak terguncang oleh adanya stimulant baik yang berasal dari dalam jiwanya sendiri, maupun yang berasal dari lingkungannya. Dia dapat merasakan kaya tanpa harta, sakti tanpa ilmu.

Kunci agar dapat berserah diri kepada Allah yaitu kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Berusahalah dahulu dengan segenap kemampuan yang ada, kemudian serahkan ketentuan hasilnya kepada-Nya. Apa pun hasil yang diperoleh dari usaha kita itu, yakinlah itu merupakan yang terbaik atau yang paling sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, yaitu sejalan dengan ihdinashshirathal mustaqiim yang selalu kita minta pada setiap shalat. Hendaknya pula kita ingat, bahwa musibah yang menimpa bukanlah untuk ditangisi, tetapi merupakan isyarat dari-Nya agar kita segera berbenah diri, melalukan instospeksi adakah aturan main-Nya yang kita langgar. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 49, yang artinya :
“…bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan musibah kepada mereka disebabkan sebagaian dosa-dosa mereka…..”
Dan surat An-Nisaa’ ayat 79 :
“Apa saja nikmat yang amu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…..”

Dengan berserah diri, insya Allah, kita akan terhindar dari segala macam bentuk kekecewaan. Terlebih lagi, urusan kita yang lain pun akan di mudahkan-Nya.
Demikiankanlah yang dapat disampaikan pada kesempatan kali ini, mudah-mudahan kita mampu untuk menjadi umat Muhammad yang selalu berserah diri kepada Allah, menggantungkan harapan hanya kepada Allah, serta meyakini bahwa Allah itu tidak kejam. Ia memutuskan segala sesuatunya sesuai dengan kebutuhan yang terbaik bagi kita. Apalagi, jeles-jelas Rasulullah saw telah beramanat kepada kita,”Janganlah kamu mati melainkan baik sangka terhadap Allah.”
05.27 | 2 komentar

DETIK-DETIK PENANTIAN

Written By Rudianto on Minggu, 12 Februari 2012 | 11.17


Siang-malam terus berganti. Bulan demi bulan kita lewati. Musim panas dan hujan selalu “menghiasi” hari-hari yang kita jalani.

Ternyata, tidak terasa kita sudah memasuki bulan Rabiul Awwal, Tidak terasa pula, umur kita semakin bertambah. Tidak terasa pula, sisa hidup kita semakin berkurang. Kita tidak tahu, apakah hidup kita sisa berpuluh-puluh tahun lagi ataukah hanya tinggal beberapa detik saja? Oleh karena itu, sebenarnya kita sekarang berada di dalam detik-detik penantian. Penantian akan datangnya kematian.

Dalam detik-detik penantian ini, marilah kita sama-sama berintrospeksi dan mengoreksi diri-diri kita! Apakah yang kita lakukan selama ini, semuanya sudah sesuai dengan apa yang dicintai oleh Allah ta’ala ataukah tidak?

Umar radhiallahu ‘anhu pernah berkata, “Introspeksilah diri-diri kalian, sebelum nanti kalian ditunjukkan amalan-amalan kalian (di hari hisab/perhitungan)! Timbang-timbanglah diri kalian, sebelum nanti kalian ditimbang (di hari mizan/penimbangan amal)! Sesungguhnya, mengintrospeksi diri pada saat ini lebih mudah ketimbang nanti ditunjukkan amalan-amalan (di hari hisab).” (Kitab Az-Zuhd milik Imam Ahmad, Isnad-nya shahih insya Allah)

Dalam detik-detik penantian ini, seharusnya kita merenungi bahwa kita hanya diberi kesempatan untuk hidup sekali saja di dunia ini. Apabila ajal telah datang, maka tidak akan bisa diakhirkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Munafiqun : 11)

Dalam detik-detik penantian ini, marilah kita menghitung dosa-dosa kita yang telah lalu! Seandainya saja seseorang di dalam 1 jam hanya melakukan 1 dosa –subhanallah, kalau kita merenungi lagi, mungkin dalam satu jam kita bisa berbuat ribuan dosa, na’udzu billah-. Dan dalam sehari waktu aktif orang tersebut/tidak tidur adalah 16 jam. Berarti di dalam sehari dosa yang telah dilakukannya adalah 16 dosa. Jika setahun hijriah adalah 354 hari berarti jumlah dosa pertahun adalah 5.664 dosa. Subhanallah. Jika ternyata umurnya sekarang ini dikurangi dengan umur ketika dia baligh adalah 10 tahun, berarti dia telah memiliki 56.640 dosa -subhanallah, jumlah yang sangat besar sekali-. Apabila 50 tahun, berarti dia telah memiliki 283.200 dosa. Bagaimana mungkin kita bisa tenang dengan “tabungan” dosa tersebut! Bagaimana mungkin kita masih berleha-leha melihat dosa sebesar itu!

Jumlah diatas hanyalah sekedar contoh. Bisa jadi dosa yang telah kita lakukan besarnya adalah beribu-ribu kali lipat dari itu. Karena perbuatan dosa bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Akan tetapi, kita perlu mengingat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia berada bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang Telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Mujadilah : 7)

Dan juga firman-Nya yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan mungkar. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kalian bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS An-Nur : 21)

Para Malaikat pencatat amal selalu siap siaga mencatat amalan-amalan kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan di dekatnya ada malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaf : 18)

Bahkan anggota-anggota tubuh kita pun akan siap menjadi saksi nanti di hari akhir. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Pada hari ini kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki-kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (QS Yasin : 65)

Bahkan kulit-kulit kita pun nanti akan bersaksi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan mereka berkata kepada kulit mereka, ‘Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?’ Kulit mereka menjawab, ‘Allahlah yang telah menjadikan kami berbicara dan Dia-lah yang telah menjadikan setiap sesuatu berbicara. Dia-lah yang menciptakan kalian pada kali pertama dan hanya kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.” (QS Fushshilat : 21)

Bahkan bumi yang kita injak ini pun akan bersaksi. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“(1)Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), (2)Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, (3)Dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (menjadi begini)?’, (4)Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, (5)Karena sesungguhnya Rab-mu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS Al-Zalzalah : 1-5)

Dengan sering mengintrospeksi diri dan menghitung/mengingat amalan-amalan buruk kita tentu akan memberi manfaat yang sangat besar untuk kita. Di antara manfaat yang kita dapatkan adalah: mudah untuk kembali taat jika berbuat dosa, selalu bersiap-siap menghadapi hari kematian dan tidak bermudah-mudah untuk melakukan dosa, walaupun dosa itu kecil.

Terkadang sebagian dari kita merasa sangat sulit untuk mengintrospeksi diri. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu:

1. Terlalu sering berbuat dosa. Dengan seringnya berbuat dosa maka akan menyebabkan hati menjadi keras dan menganggap bahwa dosa tersebut adalah hal biasa.
2. Tidak mengenal keagungan AIIoh
3. Tidak mengingat alam akhirat
4. Terlalu bangga dan berbaik sangka terhadap diri sendiri
5. Sibuk dengan perkara yang makruh atau yang mu bah (yang boleh) meskipun tidak sampai terjatuh kepada perbuatan yang haram, tetapi hal ini dapat melalaikan dari mengingat akhirat.
Adapun di antara perkara yang bisa membantu kita untuk introspeksi diri adalah:
1. Mengetahui bahwa banyak introspeksi diri akan mempermudah perhitungan amal perbuatan.
2.Terus bertanya dalam hati, ke mana tempat kembali kita, di surga ataukah di neraka?
3. Berteman dengan orang-orang sholih yang memiliki semangat menuntut ilmu dan beribadah
4. Membaca kisah-kisah para Nabi dan ulama terdahulu.
5.Tidak merasa bangga dengan
amalan-amalan yang telah dilakukan 6.Mempelajari agama Islam dengan
lebih mendalam.
7.Menimbang kenikmatan yang telah Ailoh berikan kepada kita dan amalan yang sudah kita lakukan.
8.Menyadari bahwa keengganan untuk introspeksi diri merupakan buah dari tipu daya setan untuk menyesatkan manusia.

9.Mengingat bahwa sekecil apapun perbuatan kita, pasti akan ditimbang di akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya:

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiada seorang pun yang dirugikan. Meskipun (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya’ : 47)

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita termasuk orang yang suka mengintrospeksi diri dan menimbang-nimbang amalan dan perbuatan kita dan tidak menjadikan kita seperti orang yang dikabarkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:

“(99)(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku! Kembalikanlah Aku (ke dunia), (100) agar aku beramal soleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding penghalang sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun : 99-100)

Ya Allah jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu taat kepada-Mu dan matikanlah kami dalam keadaan beriman yang sempurna. Amin.
11.17 | 0 komentar

PENGERTIAN DAN OBJEK PSIKOLOGI DAKWAH

Written By Rudianto on Kamis, 09 Februari 2012 | 15.21



Telah kita ketahui bersama bahwa sebenarnya tidak ada suatu ilmu pengetahuan pun yang bersifat umum dalam arti tanpa berhubungan atau tanpa mendapatkan bantuan dari ilmu pengetahuan lainnya. Sebenarnya, ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan itu saling melengkapi, saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada di dalamnya dan saling terkait satu dengan yang lainnya.

Demikian pula halnya dengan Psikologi Dakwah. Secara otonom psikologi dakwah mempunyai teori serta prinsip-prinsip dan sudut pandangan secara khusus yang berbeda dengan ilmu-ilmu yang lainnya. Sebab, suatu sudut pandangan yang spesifik terhadap suatu masalah biasanya disebut dengan Objek Formal suatu ilmu pengetahuan. Sedangkan mengenai pokok-pokok atau fakta-fakta yang diselidiki atau yang dipelajari suatu ilmu itu merupakan Objek Materialnya.

Jadi, setiap ilmu pengetahuan selalu mempunyai objek material dan objek formal masing-masing. Kemungkinan besar objek material dati beberapa cabang ilmu pengetahuan itu sama, tetapi tidak satu pun ilmu pengetahuan yang memiliki objek formal yang sama, karena justru objek formal inilah yang membedakan satu ilmu dengan ilmu yang lain.

Psikologi Dakwah sebagai gabungan dari Psikologi dan Dakwah yang masing-masing mempunyai objek pembahasan sendiri-sendiri yang berbeda, maka Psikologi Dakwah juga mempunyai objek pembahasan sendiri, baik material maupun formalnya.

Objek Pembahasan
Objek artinya sasaran, hal, perkara atau orang yang menjadi pokok pembicaraan. Objek merupakan syarat mutlak di dalam suatu ilmu pengetahuan, justru karena objek inilah yang akan menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam pengupas¬an masalahnya atau objeklah yang akan membatasi persoalan¬nya. Tanpa objek tertentu yang akan menjadi pokok pembicaraan, dapatlah dipastikan bahwa tidak ada pembahasan yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi keilmuannya. Seperti apa yang telah disinggung di atas bahwa Psikologi Dakwah merupakan perpaduan dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Maka untuk memberi pengertian tentang objek psikologi dakwah ini, kita coba terlebih dahulu untuk meletakkan dasar pertemuan dengan jalan meminjam data dari kedua lapangan ilmu penge¬tahuan tersebut kemudian atas dasar itu maka kita dapat menemukan objek pembahasan tersendiri.

Kalau pembahasan psikologi dakwah ini lebih berat tekanannya pada aspek psikologinya maka psikologi dakwah mempunyai objek yang sama seperti objek psikologi pada umumnya. Akan tetapi kalau pembahasan ini dititikberatkan kepada aspek dakwatologinya, maka objek psikologi dakwah juga sama de¬ngan objek yang menjadi pokok pembicaraan dalam ilmu dakwah. Untuk memperjelas adanya hubungan antara dua cabang ilmu pengetahuan ini, dapatlah digambarkan sebagai berikut:
ID = Ilmu Dakwah
P = Psikologi
PD = Psikologi Dakwah
X = Titik temu keduanya.

Dari gambar tersebut diatas menunjukkan bahwa Psikologi Dakwah meletakkan dasar pertemuan dengan jalan meminjam lapangan yang ada pada kedua bidang ilmu itu, kemudian atas dasar itu maka Psikologi Dakwah menemukan prinsipnya sendiri. Walau demikian tidaklah dapat dikatakan bahwa Psikologi Dakwah semata-mata merupakan percobaan untuk membawa bersama dua pendekatan yang berbeda itu terhadap studi ten-tang manusia. Sebaliknya Psikologi Dakwah mempunyai pokok pembahasan yang khusus, pandangan yang khas dan menentukan sendiri rumusan-rumusannya, meskipun diakui juga bahwa is banyak berhutang budi terhadap disiplin tetangganya. Dengan demikian Psikologi Dakwah merupakan interdisipliner yang mempunyai objek pembahasan tersendiri.

Objek Material Psikologi adalah Manusia sebagai makhluk yang berjiwa. Objek Material Dakwah ialah Manusia sebagai makhluk yang ber-Ketuhanan. Jadi, Objek Material Psikologi Dakwah yaitu Manusia sebagai objek psikologi dan sebagai sasaran dakwah.
Objek Formal Psikologi adalah Tingkah laku manusia se¬bagai pernyataan gejala-gejala jiwanya. Objek Formal Dakwah ialah Manusia (individu, keluarga, kelompok, kaum, masyara¬kat) untuk diarahkan ke jalan Tuhannya. Jadi, Objek Formal Psikologi Dakwah yaitu Manusia dengan segala tingkah laku¬nya yang terlibat dalam proses kegiatan dakwah.

Ruang Lingkup Pembahasan
Psikologi Dakwah merupakan kesatuan analisis terhadap tingkah laku manusia melalui pendekatan psikologis dan dawatologis yang interdisipliner. Sebagai pembahasan yang mem-pedomani psikologi, maka psikologi dakwah ini termasuk di dalam ruang lingkup pembicaraan Psikologi Teoretis Khusus, dan juga dalam Psikologi Praktis Aplikatif. Sebagai pembahasan yang memijaki ilmu dakwah, maka psikologi dakwah ini termasuk di dalam skop (scope) pembicaraan Metode Dakwah. Untuk menggambarkan ruang lingkup pembahasan psikologi dakwah secara khusus maka dapatlah dijelaskan sekurang-kurangnya meliputi:
1. Pengertian dan objek Psikologi Dakwah
2. Pembahasan tentang Psikologi
3. Beberapa Aspek Dakwah
4. Manusia dan Tingkah Lakunya
5. Tujuan Psikologi Dakwah
6. Esensi Psikologi Dakwah

METODE PEMBAHASAN
Metode mempelajari ilmu pengetahuan yang mana pun pada dasarnya hanya berkisar kepada tiga macam metode,
yaitu metode penentuan objek, metode pengumpulan data dan metode analisis data. Dengan demikian Psikologi Dakwah dapat digolongkan ke dalam metode pengumpulan data.
Metode ini dapat dijabarkan menjadi:
1. Metode Eksperimental
Yaitu metode yang subjeknya dengan sengaja menciptakan suasana atau menimbulkan situasi dan reaksi pada objek untuk memperoleh data-data.
Metode ini bisa berbentuk:
a. Introspeksi: metode pemeriksaan dengan cara meminta kepada objek untuk melahirkan segala peristiwa psikis, setelah is mengalami sesuatu (pernyataan).
b. Perangsang: metode dengan cara memberikan rangsangan¬rangsangan kepada objek apakah disadari atau belum, re¬aksi apakah yang timbul (test).
c. Klinis: metode tanya jawab dengan klien (dialog).
d. Angket: metode dengan menggunakan sederetan per¬tanyaan yang harus dijawab oleh objek untuk didata (interview).
2. Metode Non-Eksperimental
Yaitu metode yang subjeknya hanya menunggu timbulnya reaksi atau munculnya peristiwa dari objek sebagai manusia sumber data.
Metode ini bisa berbentuk:
Ekstrospeksi: metode dengan mengamati objek dan mencatat gerak-gerik, hal-ihwal dan tingkah-lakunya (observasi).
Dengan demikian, metode yang dipakai dalam penelitian Psikologi Dakwah adalah metode ilmiah, yakni mempelajari fakta¬fakta secara objektif segala tingkah-laku dengan tidak memi¬hak atau mencemooh terlebih dahulu dengan pendapat kits sendiri, sehingga dengan begitu dapat diketahui dinamika kepribadiannya (objek), prilakunya seperti itu, kemudian setelah di¬analisis atau diagnosis kita dapat memilihkan materi serta me¬tode apa yang mungkin dapat diterapkan.
Berdasarkan hal tersebut di atas maka dapatlah dirumuskan suatu pengertian tentang Psikologi Dakwah, yaitu:
Psikologi: Ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan lingkungannya. Emu Dak¬wah adalah ilmu pengetahuan tentang strategi penyampaian ni-lai-nilai Islam kepada masyarakat manusia demi terwujudnya tata kehidupan yang imani dan realitas hidup yang islami.
Jadi, Psikologi Dakwah ialah ilmu pengetahuan yang mem¬pelajari tingkah laku manusia (aspek psikis) yang mungkin da¬pat dimanfaatkan dalam proses pelaksanaan dakwah (aspek dakwah) demi tercapainya tujuan dakwah secara maksimal dan optimal... (bersambung...)
15.21 | 0 komentar

Film Asad Ainun Jaluut


Kisah Perjuangan ISlam Melawan Tentara Tartar

Sebuah kisah kepahlawanan Islam, ketika melawan tentara Tartar (Mongol), Sultan Jalaludin menunjuk seorang panglima yang bemama Abdurrahman Al Qoththoz untuk memimpin peperangan ini. Disuatu tempat yang bemama Ainun Jalut, tentara Islam berhasil memukul mundur tentara Tartar.

Saifudin Muzaffar al-Qutuz - Panglima Perang Islam - Peperangan Ain Jalut
Peperangan Ain Jalut

Peristiwa ini berlaku pada 25 Ramadhan tahun 658 H di Ain Jalut dan Bisan, Palestin. Medan pertempuran tersebut terletak tidak jauh dari bandar al-Quds.

Ia adalah satu peperangan yang berjaya menebus kembali maruah umat Islam setelah dikalahkan oleh tentera Tatar di dalam peristiwa siri-siri serangan Tatar ke atas bumi Islam. Panglima yang berjaya mengembalikan kemuliaan umat ini adalah Saifudin Qutuz, salah seorang panglima Islam yang hebat. Kehebatan Qutuz dan kepentingan peperangan Ain Jalut hanya akan dapat dirasai jika kita dapat menyelami penderitaan umat hasil dari serangan Tatar ke atas umat Islam.

Kemaraan Tatar ke Negara Islam (617 H dan 628 H)

Serangan Tatar ke atas umat Islam di bawah pimpinan kerajaan Abbasiah sebenarnya tidak berlaku hanya pada tahun 656 H di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad. Sebaliknya sebelum itu sudah pun ada dua siri serangan Tatar iaitu pada tahun 617 H dan 628 H.

Serangan pertama Tatar ke atas umat Islam berlaku pada tahun 617 H – 620 H di bawah pimpinan Genghis Khan. Serangan kali pertama ini mempunyai sebabnya yang diperselisihkan oleh ahli sejarah Islam. Apa pun puncanya, Dr. Raghib as-Sarjani lebih cenderung untuk mengatakan bahawa niat untuk menjatuhkan kerajaan Abbasiah memang telah wujud di dalam hati Genghis Khan sejak sekian lama.

Oleh kerana jarak yang jauh dari bumi China ke bumi Iraq, Genghis Khan menumpukan serangan pertamanya pada kali ini ke atas bumi Afghanistan dan Uzbekistan. Bumi ini dipilih kerana ia mempunyai sumber asli yang banyak dan amat sesuai untuk dijadikan pengkalan tentera Tatar untuk siri-siri serangan yang seterusnya.

Serangan pertama ini berjaya. Tatar berjaya bertapak di bumi tersebut dan bumi sekitarnya (Turkimenistan, Kazakhastan, Tajikistan, Pakistan dan sebahagian dari Iran). Kesemua negara-negara ini dahulunya dikenali sebagai Daulah Khawarizmiah. Hasil dari kejayaan ini, pemerintahan Tatar mula kukuh di kawasan tersebut. Mereka mempunyai pengkalan dan pusat pentadbiran mereka di tengah-tengah kerajaan Islam.

Serangan kedua Tatar ke atas umat Islam pula berlaku pada tahun 628 H. Pada tahun 624 H, Genghis Khan telah digantikan oleh seorang lagi raja Tatar yang tidak kurang bengisnya iaitu Okitai. Kerajaan Tatardi Mongolia dan China pada masa itu berada dalam keadaan stabil dan kuat. Keadaan ini memberikan banyak kelebihan kepada Okitai.

Lalu bermulalah serangan kedua Tatar ke atas umat Islam sebagai menyambung serangan yang pertama di zaman Genghis Khan. Serangan pada kali ini ditumpukan di sekitar bumi Rusia dan Eropah. Okitai melantik panglima perangnya, Syurmajan untuk mengepalai serangan pada kali ini.

Suasana bertambah buruk pada serangan kedua ini kerana pimpinan Islam pada masa itu berada dalam keadaan berpecah belah. Manakala sebahagian umat pula telah mula menunjukkan sikap pengecutnya dan tidak berani untuk melancarkan jihad. Ibnu al-Athir di dalam kitabnya al-Kamil meriwayatkan beberapa cerita yang didengarinya daripada sebahagian umat Islam yang berjaya melepaskan diri dari serangan kedua ini. Di antaranya:

a. Seorang tentera Tatar masuk ke dalam sebuah perkampungan seorang diri. Kemudian dia membunuh penduduk kampung tersebut seorang demi seorang tanpa mendapat tentangan dari sesiapa pun.

b. Seorang tentera Tatar menangkap seorang muslim. Oleh kerana tentera Tatar tersebut tidak bersenjata, dia telah mengarahkan pemuda muslim tadi agar melekapkan mukanya ke tanah dan tidak bergerak. Tentera Tatar tersebut pulang mengambil senjata dan kemudian datang kembali lalu membunuh pemuda tersebut.

c. Tentera Tatar memasuki bandar Badlis (sekarang berada di selatan Turki). Laluan ke bandar tersebut adalah laluan di celah-celah bukit yang sungguh sempit. Tidak ada seorang pun tentera Islam yang berjaya melepaskan diri dari serangan Tatar di bandar tersebut. Penduduk bandar tersebut pula melarikan diri ke atas bukit dan membiarkan Tatar membakar keseluruhan bandar tersebut.

Serangan Ketiga (656 H) dan Kejatuhan Baghdad




Kerajaan Tatar pada masa ini dipecahkan kepada tiga wilayah utama. Sebahagian ahli sejarah menamakannya ‘segitiga emas’. Raja Tatar pada masa ini adalah Manku Khan, seorang lagi Raja Tatar yang berjiwa keras dan mempunyai keazaman yang kuat. Beliau mentadbir ibu negara kerajaan Tatar, Qaraquram dengan dibantu oleh adiknya Ariq Bufa. Seorang lagi adiknya iaitu Qublai pula mentadbir jajahan Tatar di sebelah Timur (meliputi China, Korea dan bumi sekitarnya). Manakala jajahan Tatar di sebelah Iran dan bumi sekitarnya diserahkan kepada adiknya Holago, nama yang tidak asing bagi umat Islam.

Manku Khan ingin meneruskan misi Tatar yang seterusnya iaitu menjatuhkan kota Baghdad dan menyerang bumi Syam (Palestin, Syria, Jordan dan Lubnan) dan Mesir. Tugas ini telah disandarkan kepada Holago, pahlawan Tatar yang mabukkan darah manusia dan dianggap sebagai jelmaan Genghis Khan. Dr. Raghib Sarjani menganggapnya sebagai manusia paling ganas sepanjang sejarah dunia. Kejahatannya itu makin bertambah setelah beliau berkahwin dengan Taqazkhatun, permaisuri Mongolia beragama Kristian yang amat membenci umat Islam.

Oleh kerana Baghdad adalah ibu negara kerajaan Islam Abbasiah, persiapan yang dilakukan oleh Holago dalam serangan ini agak teliti dan kemas. Tentera Tatar telah dipecahkan kepada tiga kumpulan dan datang dari tiga arah yang berlainan.

a. Pasukan pertama dipimpin oleh Holago sendiri. Ia dibantu oleh tentera elit Tatar dibawah pimpinan Bato. Misi pasukan pertama ini adalah mengepung bahagian timur kota Baghdad.

b. Pasukan kedua dipimpin oleh Katabgha, pahlawan Holago yang terbaik. Tugas pasukan ini adalah mengepung bahagian tenggara kota Baghdad. Katabgha jugalah yang memimpin tentera Tatar menentang Qutuz di dalam peperangan Ain Jalut.

c. Pasukan ketiga pula dipimpin oleh Bigo. Pasukan ketiga ini adalah tentera yang menjaga sempadan Anadol (sekarang di Turki). Tugas pasukan ini adalah untuk mendatangi Baghdad dari arah utara dan seterusnya mengepung bahagian barat kota Baghdad.

Ketelitian perancangan Holago boleh dilihat dari beberapa sudut:

a. Pasukan pertama dan kedua datang dari jarak 45o kilometer sebelum kota Baghdad. Walau pun begitu Holago berjaya mengaburi mata kerajaan Abbasiah sehinggakan tentera kerajaan Abbasiah hanya mengetahui kedatangan tentera itu ketika mereka hanya beberapa kilometer dari kota Baghdad.

b. Pasukan ketiga pula datang dari jarak 1,000 kilometer sebelum kota Baghdad. Tetapi pasukan ini berjaya sampai tepat pada masa yang dijanjikan untuk bergabung dengan kedua-dua pasukan yang lain.

c. Pasukan ketiga terpaksa merentasi 1,000 km perjalanan di bumi Turki dan Iraq (kedua-duanya adalah bumi Islam). Perjalanan ini akan merentasi perkampungan Islam dan kemungkinan terpaksa berhadapan dengan pertempuran awal. Amat menakjubkan apabila mereka berjaya berjalan tanpa disedari oleh orang Islam kecuali setelah mereka berada pada jarak 50 km dari kota Baghdad di sebelah Barat Daya. Kejayaan ini setelah mereka berjaya merasuah Gabenor Anadol, Qalaj Arsalan dan Gabenor Mosul, Badruddin Lu’lu’ sehingga kedua-duanya bertindak mengkhianati umat Islam.

Berlakulah peperangan. Jatuhlah kota Baghdad dengan segala cerita duka di dalamnya. Menurut Abul Hasan Ali an-Nadwi, umat Islam yang terbunuh di dalam peristiwa kejatuhan Baghdad tersebut adalah 1,800,000 orang. Satu angka yang cukup menakutkan sesiapa sahaja yang cuba membayangkannya. Darah mengalir di jalanan. Buku-buku dicampak ke dalam sungai dan semua itu dianggarkan berjumlah sebanyak dua juta naskhah buku. Ahli sejarah menganggap itu sebagai punca kemunduran umat Islam selepas itu. Semua itu berlaku dalam masa 40 hari.

Kejatuhan Syam

Kejatuhan Baghdad bukan kemuncak bagi penderitaan umat pada ketika itu. Sebaliknya umat semakin menderita dengan sikap sebahagian raja dan ulama’ Islam pada masa itu yang sanggup menggadaikan agama semata-mata untuk mendapat jaminan kehidupan dari Tatar.

Siapakah yang tidak sayu bila melihat sebahagian raja Islam menghulurkan tangan persahabatan dengan Holago sedangkan darah jutaan umat Islam masih lagi belum kering? Raja Mosul, Badruddin Lu’lu’ menghulurkan tangan persahabatan dengan Holago. Begitu juga Kaikawis II dan Qalaj Arsalan, Raja Anadol. Raja Halab dan Damsyik, al-Nasir Yusof juga mengambil langkah sama. Raja-raja itu telah membuka Iraq Utara, sebahagian Syam dan Turki kepada Tatar tanpa peperangan. Tidak cukup setakat itu. Tanggungan umat semakin berat apabila menyaksikan sebahagian ulama’ pada masa itu mengeluarkan fatwa mengharuskan perjanjian damai tersebut dengan hujah-hujah yang amat mengelirukan.

Hanya seorang Raja di daerah tersebut yang mengiklankan jihad. Raja tersebut adalah Al-Kamil Muhammad al-Ayubi, Raja Miyafarqin. Miyafarqin adalah bandar yang terletak sekarang ini timur Turki menuju ke sebelah barat Turki. Tentera Raja Al-Kamil Muhammad al-Ayubi menguasai timur Turki, barat laut Iraq dan timur laut Syria.

Tetapi kegilaan Tatar mengatasi segala-galanya. Bandar Miyafarqin dikepung dan akhirnya jatuh. Begitu juga dengan bandar Halab. Bandar Damsyik juga jatuh. Kemuncaknya adalah penjajahan Tatar ke atas bumi Palestin.

Mesir Bumi Ribat (Benteng Islam)

Ketika Tatar memulakan serangannya ke atas umat Islam, Mesir berada dalam krisis yang amat runcing. Ia berada di bawah pemerintahan kerajaan Mamalik dan melalui satu pergolakan politik yang amat dahsyat. Kerajaan Mamalik Bahriah (salah satu fasa dalam kerajaan Mamalik) mentadbir Mesir selama 144 tahun. Dalam tempoh tersebut Mesir diperintah oleh 29 orang sultan. Satu jumlah yang banyak untuk pemerintahan selama satu kurun setengah. Daripada 29 orang sultan tersebut, 10 daripadanya mati dibunuh dan 12 daripadanya digulingkan. Ini jelas menunjukkan kepada kita bahawa kekuatan dan kekerasan adalah asas perubahan di dalam kerajaan Mamalik.

Setelah fasa Mamalik Bahriah, menyusul pula fasa Mamalik Muizziah. Pemerintah awal di fasa ini adalah Raja Izzuddin Aibak. Beliau berjaya mengembalikan kestabilan politik kepada Mesir. Tetapi kestabilan itu hanya bertahan selama tujuh tahun. Keadaan kembali kucar kacir selepas pembunuhan beliau dan seterusnya pembunuhan isterinya, Syajarah ad-Dur. Setelah bertukar ganti pemerintah, akhirnya Mesir diperintah oleh Saifuddin Qutuz.

Pembunuhan Raja Izzudin Aibak dan isterinya telah membawa kepada perselisihan di antara Mamalik Bahriah (penyokong kerajaan lama) dan Mamalik Muizziah (kerajaan baru yang diperintah oleh Qutuz) dan ianya masih berterusan di zaman Qutuz. Sebahagian penyokong Mamalik Bahriah mengambil sikap berpindah ke bumi Syam dan lain-lain. Manakala yang tinggal menetap di Mesir mengambil sikap mengasingkan diri. Ini menjadikan Mesir lemah dari sudut pertahanan kerana asas kepada pasukan tentera Mesir adalah penyokong Mamalik Bahriah.

Di masa yang sama, serangan Tatar ke atas bumi Syam telah memutuskan Mesir dan Syam. Tiada perhubungan di antara keduanya. Mesir juga tidak mendapat bantuan dari Sudan dan negara-negara di utara Afrika. Ini menjadikan Mesir seolah-olah keseorangan di tengah-tengah krisis yang berlaku di seluruh negara Islam.

Keadaan menjadi semakin buruk apabila Mesir juga pada masa itu ditimpa krisis ekonomi. Siri-siri perang Salib yang berlaku sebelum itu telah melumpuhkan ekonomi Mesir. Sebahagian dari lokasi perang salib adalah di bumi Mesir. Tentera Mesir juga adalah tentera yang banyak terlibat di dalam perang salib yang berlaku di tempat lain. Salehudin Ayubi menjadikan Mesir sebagai salah satu benteng pertahanannya.

Disamping sebahagian tentera Salib yang masih ada di bumi Islam, masalah ditambah lagi dengan kedatangan musuh baru Islam iaitu Tatar.

Qutuz, Penyelamat Ummah

Qutuz menaiki tahta Mesir pada 24 Zulqaedah 657 H.

Sebelum beliau menaiki tahta Mesir, Serangan pertama Tatar (617 H), serangan kedua Tatar (628 H) dan kejatuhan Baghdad (656 H) telah pun berlaku dan meninggalkan kesan yang amat parah kepada umat Islam di luar Mesir. Selepas beliau menaiki tahta Mesir pula, Halab jatuh ke tangan Tatar pada Safar 658 H dan Damsyik jatuh pada Rabi’ul Awal 658 H menjadikan keadaan di luar Mesir bertambah gawat. Kejatuhan Palestin keseluruhannya juga berlaku pada masa yang sama. Mesir bersempadan dengan Palestin di sebelah timur Mesir pada bandar Gaza.

Demikianlah kita melihat Qutuz terbeban dengan satu masalah yang cukup berat. Sasaran Tatar seterusnya adalah Mesir sedangkan Mesir tidak bersedia untuk menambah masalah baru disamping masalah-masalah dalaman dan luaran yang sedia ada.

Sikap yang ditunjukkan oleh Qutuz amat membanggakan umat Islam pada ketika itu. Sikap itu terus menerus menjadi punca kepada kehebatannya pada pandangan mata umat sepanjang zaman. Qutuz mengambil keputusan untuk menghadapi Tatar dan tidak akan lari seperti mana yang dilakukan oleh sebahagian umat Islam. Dia juga mengambil sikap tidak akan menghulurkan perdamaian kepada Tatar sebagai mana yang menjadi pilihan sebahagian Raja-raja Islam ketika itu.

Tiga Langkah Awal

Qutuz mengambil tiga langkah awal sebelum melancarkan peperangan ke atas Tatar. Ketiga-tiga langkah ini dilihat amat berkesan dan menjadi sumber kekuatan kepada tentera Islam pada ketika itu.

Langkah pertama yang diambil oleh Qutuz adalah mengembalikan kestabilan keadaan dalaman Mesir. Beliau memanggil golongan istana, pembesar-pembesar, menteri-menteri, ulama’-ulama’ dan golongan berpengaruh di dalam masyarakat. Beliau berkata kepada mereka: “Apa yang aku inginkan dari jawatan ini hanyalah agar kita bersatu untuk melawan Tatar. Urusan itu tidak mampu diselesaikan tanpa Raja. Apabila kita berjaya keluar dari masalah ini dan mengalahkan Tatar, urusan ini terletak di tangan kamu semua. Pilihlah sesiapa yang kamu kehendaki untuk menjadi pemerintah.”

Ucapan Qutuz tersebut telah meredakan ketamakan sebahagian dari pembesar yang berniat untuk merampas tahta Mesir dari tangan Qutuz.

Di masa yang sama beliau telah memecat Menteri, Ibnu binti al-A’az dan menggantikannya dengan Zainuddin Ya’kub bin Abd Rafi’. Ini kerana beliau lebih meyakini kesetiaan Zainuddin Ya’kub daripada Ibnu binti al-A’az. Kemudian beliau mengekalkan Farisuddin Aqtai as-Soghir sebagai panglima tentera walau pun beliau adalah penyokong Mamalik Bahriah.

Langkah kedua yang telah dilakukan oleh Qutuz adalah memberikan pengampunan kepada semua penyokong Mamalik Bahriah. Perselisihan yang berlaku sebelum ini yang berpunca dari pembunuhan Raja Izzuddin Aibak ingin segera dihentikan oleh Qutuz.

Mamalik Bahriah mempunyai pengalaman yang luas di dalam medan peperangan. Di antara kehebatan yang pernah mereka tunjukkan adalah kemenangan mereka di dalam Perang Mansurah (salah satu siri perang Salib) pada tahun 648 H. Pengampunan itu telah berjaya memujuk mereka yang telah keluar meninggalkan Mesir untuk kembali ke Mesir. Rombongan penyokong Mamalik Bahriah kembali berduyun ke Mesir dari bumi Syam, Karak (di Jordan sekarang) dan bumi kerajaan Saljuk. Dengan itu Mesir berjaya mendapatkan kembali kekuatan tenteranya.

Langkah ketiga yang diambil oleh Qutuz adalah mengusahakan penyatuan semula antara Mesir dan Syam. Seperti yang diceritakan sebelum ini, Raja Damsyik dan Halab (sebahagian dari bumi Syam) iaitu Raja Nasir al-Ayubi telah melakukan perjanjian damai dengan Tatar. Perjanjian itu tidak berhenti setakat memohon perdamaian, bahkan Raja Nasir al-Ayubi pergi lebih jauh dari itu dengan meminta bantuan Tatar untuk menjatuhkan Mesir.

Qutuz menulis surat kepada Raja Nasir al-Ayubi memohon penyatuan Mesir dengan Syam. Bahkan beliau menyatakan kesanggupannya untuk duduk di bawah Raja Nasir al-Ayubi. Malangnya surat tersebut tidak dilayan.

Tetapi apabila Damsyik dan Halab ditawan oleh Tatar dan selepas Raja Nasir al-Ayubi lari menyelamatkan diri ke Karak, tentera Syam telah bergerak menuju ke Mesir dan bergabung dengan tentera Mamalik. Kesatuan ini menambahkan lagi kekuatan Mesir dan memberikannya satu semangat yang cukup kuat untuk berhadapan dengan Tatar.

Ketiga-tiga langkah ini telah memberikan Mesir satu kekuatan baru pada awal tahun 658 H. Di sini terserlah kepada kita kecekalan dan kesungguhan Qutuz. Ketiga-tiga langkah awal yang mungkin memerlukan masa yang panjang untuk dicapai, telah berjaya diselesaikan oleh Qutuz dalam masa tidak sampai tiga bulan sahaja dari tarikh beliau menaiki tahta Mesir.

Disimpulkan bahawa keadaan dunia Islam pada awal tahun 658 H adalah:

a. Mesir berjaya mendapatkan kekuatannya

b. Baghdad, Halab dan Damsyik jatuh ke tangan Tatar disamping negara-negara lain yang telah jatuh sebelumya (Daulah al-Khowarizmiah, Daulah Arminiah, Daulah Karjiah)

c. Palestin keseluruhannya jatuh ke tangan Tatar termasuk Gaza yang terletak hanya 35 kilometer dari sempadan Mesir

Surat Ancaman Holago

Ketika Mesir masih lagi di peringkat awal untuk mempersiapkan dirinya, empat orang wakil Holago telah datang memberikan surat perutusan dari beliau. Wakil tersebut datang beberapa hari selepas kejatuhan Halab (Safar 658 H), iaitu hanya tiga bulan selepas Qutuz menaiki tahta Mesir (Zulqaedah 657 H).

Surat tersebut telah memperlekehkan kekuatan tentera Islam dan memberikan kata dua kepada mereka; menyerah atau berperang. Sebahagian dari pembesar pada masa itu mula merasa takut dan ingin menarik diri kerana persiapan Mesir pada ketika masih lagi tidak seberapa jika dibandingkan dengan Tatar yang menguasai satu kawasan jajahan yang cukup luas (dari Korea ke Poland hari ini).

Qutuz mengumpulkan pembesar-pembesar dan panglima-panglima perangnya lalu berkata kepada mereka:

“Wahai pimpinan muslimin! Kamu diberi gaji dari Baitul Mal sedangkan kamu tidak suka berperang. Aku akan pergi berperang. Sesiapa yang memilih untuk berjihad, temankan aku. Sesiapa yang tidak mahu berjihad, baliklah ke rumahnya. Allah akan memerhatikannya. Dosa kehormatan muslimin yang dicabuli akan ditanggung oleh orang yang tidak turut berjihad.”

Kata-kata beliau telah menyentak dan menyedarkan kembali pembesar-pembesar Mesir ketika itu. Mereka bukan berhadapan dengan dua pilihan yang diberikan oleh Holago, tetapi mereka berhadapan dengan pilihan yang diberikan oleh Allah terhadap mereka. Jihad pada ketika itu adalah fardhu dan mereka tidak ada pilihan selain dari itu.

Setelah berunding dengan semua pembesar, akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh keempat-empat utusan tersebut. Kepala mereka telah digantung di tengah bandar Kaherah.

Perbuatan ini yang bertujuan untuk menegaskan keberanian tentera Islam untuk berdepan dengan Tatar telah mendapat kritikan sebahagian dari pengkaji sejarah. Mereka berpendapat bahawa tidak terdapat sebab yang kuat untuk Qutuz membunuh kesemua utusan tersebut kerana Islam adalah agama yang tidak membenarkan utusan perang dibunuh.Walau pun begitu ada juga yang mengandaikan kemungkinan berlaku beberapa peristiwa yang membawa kepada pembunuhan tersebut tetapi tidak diketahui dan tidak tercatat dalam sejarah. Wallahu a’lam.

Masalah Belanjawan Perang dan Fatwa al-Izz bin Abdis Salam

Selesai dari masalah surat Holago, Qutuz berhadapan dengan satu masalah lain iaitu sumber kewangan untuk mempersiapkan Mesir menghadapi peperangan. Belanjawan yang besar diperlukan untuk memperbaiki benteng, jambatan, membeli senjata dan peralatan perang serta bekalan makanan yang mencukupi untuk tentera dan rakyat jika Mesir dikepung oleh Tatar. Dalam keadaan Mesir yang dilanda dengan krisis politk dan ekonomi ketika itu, Qutuz tidak mempunyai masa yang banyak untuk menyelesaikan masalah itu setelah surat ancaman Holago sampai kepadanya memberikan isyarat bahawa serangan Tatar akan datang pada bila-bila masa. Tatar sudah berada di sempadan Mesir.

Qutuz memanggil para pembesar negara lalu melakukan mesyuarat. Pilihan yang ada pada mereka adalah untuk mengutip duit dari rakyat jelata. Ia perlu dilakukan segera. Mereka tidak ada pilihan selain dari itu. Tetapi pilihan ini memerlukan satu fatwa dikeluarkan oleh ulama’ Islam kerana umat tidak pernah kenal ada cukai lain selain dari zakat. Tanpa fatwa tersebut, Qutuz tidak akan melakukannya kerana menyelesaikan masalah dengan jalan yang tidak syar’ie hanya akan menjebakkan Mesir ke dalam masalah lain yang mungkin lebi h besar. Syariat adalah batas bagi segala-galanya.

Di antara yang dipanggil untuk turut serta di dalam mesyuarat tersebut adalah seorang ulama’ bernama al-Izz bin Abdis Salam (lebih dikenali sebagai Izzuddin Abdis Salam). Beliau lahir pada tahun 577 H. Ketika mesyuarat tersebut umurnya sudah mencecah 81 tahun. Ibnu Daqiq al-Aid menggelarnya sebagai ‘Sultan kepada semua ulama’. Gelaran ini diberikan kerana sifat beliau yang amat tegas di dalam menasihati para pemerintah dan panglima perang ketika perang Salib sedang rancak berlaku. Beliau bukan sahaja memberikan fatwa di dalam masalah ibadah tetapi juga turut campur tangan di dalam memberikan fatwa di dalam masalah politik dan peperangan.

Beliau pernah dipenjarakan di Damsyik dan di Quds kerana kelantangan fatwanya terhadap pemimpin Islam yang mengkhianati umat Islam dan melakukan persepakatan dengan tentera Salib. Setelah dibebaskan oleh Raja Soleh Najmuddin Ayub, raja Mesir ketika itu, beliau berpindah ke Mesir dan menjadi Mufti Mesir setelah sebelum ini menjadi Mufti di Palestin dan Syam.

Ketika Qutuz mencadangkan agar dilakukan kutipan dari rakyat jelata, Izzuddin Abdis Salam mengeluarkan satu fatwa yang cukup tegas. Beliau berkata:

“Apabila negara Islam diserang, wajib ke atas dunia Islam untuk memerangi musuh. Harus diambil dari rakyat jelata harta mereka untuk membantu peperangan dengan syarat tidak ada harta langsung di dalam Baitul Mal. Setiap kamu (pihak pemerintah) pula hendaklah menjual semua yang kamu miliki dan tinggalkan untuk diri kamu hanya kuda dan senjata. Kamu dan rakyat jelata adalah sama di dalam masalah ini. Ada pun mengambil harta rakyat sedangkan pimpinan tentera memiliki harta dan peralatan mewah, maka ianya adalah tidak harus.”

Fatwa yang cukup tegas ini disambut juga dengan ketegasan oleh Qutuz. Beliau memerintahkan semua pembesar negara dan pimpinan perang agar menyerahkan semua yang mereka miliki kepada negara. Hasil yang menakjubkan; Mesir adalah negara yang kaya. Tetapi kekayaan tersebut telah disalahgunakan oleh sebahagian pimpinan pada masa itu. Penyerahan harta dari pembesar negara telah disambut oleh rakyat jelata. Mereka mula menyumbangkan harta masing-masing untuk memenuhi tuntutan belanjawan perang. Semua turut serta di dalam memberikan sumbangan. Fatwa Izzudin bin Abdis Salam benar-benar dapat menyelesaikan masalah tersebut dalam kadar yang segera.

Kejutan Dari Qutuz; Memerangi Tatar Bukan Bertahan di Mesir

Mesir sudah bersedia untuk menghadapi Tatar. Segala sunnah dan asbab telah diambil oleh Qutuz. Qutuz berjaya menaikkan semangat rakyat Mesir. Qutuz berjaya memadamkan perselisihan di antara pembesar Islam. Qutuz berjaya mendamaikan antara Mamalik Bahriah dan Mamalik Muizziah. Qutuz berjaya menyatukan antara Mesir dan Syam, dua wilayah Islam yang kuat. Qutuz berjaya memperkecilkan Tatar pada pandangan umat Islam. Qutuz berjaya membersihkan jiwa pembesar dan rakyat. Qutuz berjaya membersihkan wang-wang haram dan melancarkan jihad dengan menggunakan wang yang halal.

Dengan kekuatan tersebut Qutuz memilih untuk melakukan tindakan yang cukup berisiko. Beliau telah mengisytiharkan pandangannya di dalam mesyuarat dengan pimpinan tentera untuk mereka keluar menyerang Tatar di bumi Palestin dan mengubahnya dari rancangan asal iaitu menunggu serangan Tatar di Mesir. Pandangan ini amat mengejutkan pimpinan tentera sehinggakan sebahagian dari mereka bangun terkejut setelah mendengar pandangan tersebut. Berlakulah perbincangan dan Qutuz menerangkan kepada mereka rahsia pilihannya itu.

Qutuz menegaskan beberapa noktah yang kemungkinan tidak disedari oleh sebahagian pimpinan tentera akibat terlalu lama berada dalam krisis politik.

a. Keselamatan Mesir bukan terletak di Kaherah tetapi sebaliknya bermula dari sempadan Mesir di sebelah timur. Dengan itu usaha untuk menyelamatkan sempadan Mesir – Palestin mesti dilakukan dari peringkat awal dengan cara menyerang Tatar di Palestin.

b. Berperang di luar Mesir memberikan Mesir kelebihan; iaitu mereka masih lagi ada peluang kembali ke Mesir untuk menyusun semula strategi. Tetapi jika mereka kalah di dalam bumi Mesir, mereka tidak mempunyai peluang tersebut. Sebaliknya Tatar dengan mudah dapat terus menerobos ke Kaherah, ibu negara Mesir.

c. Tentera Islam mesti melakukan kejutan ke atas musuh dengan cara mereka yang menentukan tempat dan masa untuk berperang. Dengan itu mereka berada dalam keadaan cukup bersedia untuk berperang dalam keadaan musuh tidak bersedia sepenuhnya.

d. Mesir bertanggungjawab bukan sahaja ke atas keselamatan Mesir tetapi juga ke atas keselamatan bumi-bumi Islam yang lain. Jihad mempertahankan negara Islam yang dijajah adalah fardhu ke atas negara jiran jika negara yang dijajah itu tidak mampu mempertahankan dirinya.

e. Umat Islam mempunyai kewajipan untuk menyerang dan membuka negara Tatar lalu menawarkan kepada mereka samada Islam atau jizyah. Apatah lagi jika sekiranya tentera Tatar berada di bumi Islam, kewajipan untuk membuka yang dijajah oleh Tatar tersebut lebih wajib lagi dari menyerang negara Tatar sendiri.

Setelah perbincangan yang panjang, akhirnya keputusan diambil bersama. Tentera Islam akan bergerak menuju ke bumi Palestin dan menyerang Tatar di situ.

Perjanjian Damai Islam – Salib di Akka

Untuk sampai ke tempat yang sesuai dijadikan medan perang di Palestin, tentera Islam terpaksa melalui bandar Akka. Bandar Akka pada ketika itu masih lagi di bawah jajahan tentera Salib sejak tahun 492 H. Mereka telah berada di Akka selama 166 tahun. Terdapat generasi tentera Salib di bandar tersebut.

Tentera Salib berada dalam keadaan yang cukup lemah di Akka. Kelemahan ini hasil dari keletihan peperangan yang mereka terpaksa hadapi dari tentera Salehudin Ayyubi sebelum ini. Pembebasan Quds berlaku pada tahun 643 H. Peperangan Mansurah berlaku pada tahun 648 H. Selepas peperangan tersebut, ramai tentera Salib yang dijadikan tawanan termasuk King Louis IX, Raja Perancis.

Walau pun begitu, untuk membebaskan Akka dari tentera Salib tidaklah semudah yang disangkakan. Benteng terkuat tentera Salib adalah di Akka. Banyak cubaan termasuk cubaan oleh Salehudin al-Ayyubi untuk membebaskan Akka menemui kegagalan sebelum ini. Ini termasuk kemungkinan akan berlaku sekali lagi persepakatan di antara tentera Tatar dan tentera Salib yang akan menguatkan kembali Akka.

Langkah yang diambil oleh Qutuz adalah melakukan perjanjian damai sementara dengan pemerintah Salib di Akka. Perjanjian damai ini akan berakhir apabila peperangan menentang Tatar selesai. Langkah ini diambil oleh Qutuz di atas beberapa pertimbangan:

a. Memerangi tentera Salib dan tentera Tatar serentak akan menghilangkan tumpuan tentera Islam dan melemahkan mereka.

b. Tatar adalah masalah utama ketika itu

Qutuz menghantar utusannya untuk menawarkan perjanjian damai. Beberapa syarat diberikan oleh Qutuz kepada tentera Salib yang menunjukkan bahawa Islam sebenarnya berada di posisi kuat ketika melakukan perjanjian dan bukan di posisi lemah. Ia tidak boleh disamakan dengan perjanjian yang berlaku di antara sebahagian pihak yang mewakili Palestin sekarang dengan Yahudi penjajah.

Wakil Qutuz menawarkan kepada penduduk Akka keamanan. Mereka juga menawarkan akan menjual kuda-kuda tentera Tatar dengan harga yang murah kepada penduduk Akka jika mereka berjaya menjatuhkan Tatar. Tawaran ini amat menarik bagi penduduk Akka yang sememangnya kekurangan kuda. Kuda-kuda Tatar terkenal di zaman itu sebagai kuda yang kuat.

Tetapi di masa yang sama, wakil Qutuz mengenakan syarat bahawa Akka perlu memberikan bantuan makanan dan apa-apa yang diperlukan oleh tentera Islam sepanjang mereka berada di Palestin. Wakil Qutuz juga memberikan amaran keras kepada tentera Salib di Akka bahawa jika berlaku sebarang pengkhianatan di pihak tentera Salib, tentera Islam akan meninggalkan peperangan melawan Tatar dan menumpukan sepenuh tenaga mereka kepada tentera Salib sehingga Akka berjaya dibebaskan.

Di pihak tentera Salib, mereka sebenarnya tidak mempunyai pilihan yang lebih baik dari menerima tawaran tersebut. Menolak tawaran perjanjian damai akan menaikkan kemarahan tentera Islam dan kemungkinan akan membawa kepada kejatuhan Akka. Dengan itu Akka dengan segera menerima perjanjian damai sementara itu.

Laluan Qutuz dan tentera Islam ke Palestin untuk berhadapan dengan Tatar kini terbuka.

Pembersihan Saff Muslimin

Kini peperangan benar-benar berada di ambang mata. Ia benar-benar akan berlaku. Kejutan berlaku kepada sebahagian tentera yang pada awalnya menyangka bahawa usaha Qutuz tersebut hanyalah kempen menaikkan semangat. Ketakutan menyelubungi mereka kerana Tatar adalah kekuatan gila yang tidak pernah dikalahkan. Tentera Salib tidak segila itu. Bahkan pada zaman itu meniti dari mulut ke mulut satu mitos yang diterima oleh semua orang pada masa itu ‘jika kamu mendengar Tatar dikalahkan, jangan percaya’.

Mereka lari meninggalkan tentera Islam. Sebahagiannya lari ke bumi Hijaz. Ada yang lari ke Yaman. Ada juga yang lari jauh sehingga ke Morocco. Hasil dari itu tentera Islam benar-benar bersih dari jiwa-jiwa yang kotor. Yang turut berperang adalah mereka yang benar-benar jelas matlamatnya, kuat dan berani menanggung segala risiko. Mereka bersedia untuk syahid di jalan Allah.

Soff muslimin berada di kemuncak persiapan. Segala-galanya telah disiapkan oleh Qutuz, Raja yang menyerahkan kehidupannya untuk agama Allah. Usaha yang bermula dari Zulkaedah 657 H sehingga ke Sya’ban 658 H itu (tidak sampai 10 bulan) telah benar-benar membuahkan hasilnya.

Kini tentera Islam sudah benar-benar bersedia untuk menghadapi Tatar.

Sya’ban 658 H: Ke Bumi Palestin Untuk Menumbangkan Tatar




Pergerakan tentera Islam bermula pada bulan Sya’ban 658 H. Ia bersamaan bulan Julai 1260 M. Bulan Julai adalah musim panas. Merentasi padang pasir di dalam musim panas bukanlah suatu yang mudah. Ditambah pula mereka akan menghampiri bulan Ramadhan. Tetapi Qutuz tidak menangguhkan langsung operasi tersebut.

Tentera Islam dilatih di Kaherah, Asyut, Iskandariah dan Dimyat. Daripada kem-kem latihan tersebut mereka berkumpul di Solehiah yang terletak di Syarqiah, Mesir sekarang ini. Dari situ mereka bergerak ke sebelah timur dan kemudian naik ke utara menuju ke Arisyh. Itulah bandar pertama mereka berteduh setelah merentasi padang pasir dari Solehiah. Dari Arisyh mereka menuju ke Gaza yang berada di bawah penguasaan Tatar.

Qutuz telah membagikan tenteranya kepada dua kumpulan. Kumpulan pertama agak kecil jika dibandingkan dengan kumpulan kedua. Kumpulan pertama ini diketuai oleh panglima Islam yang hebat, Ruknuddin Baibras. Kumpulan ini berjalan terpisah agak jauh dari kumpulan kedua. Kumpulan pertama ini berjalan menzahirkan dirinya manakala kumpulan kedua berjalan dengan perlahan dan menyembunyikan diri. Ini adalah antara taktik perang yang dilakukan oleh Qutuz untuk mengelabui mata musuh agar musuh silap di dalam menghitung kekuatan tentera Islam.

Kemenangan di Gaza

Pada 26 Julai 1260 M, Baibras sudah berjaya melepasi sempadan Mesir – Palestin. Dia berjaya melepasi Rafah, Khan Yunus dan Dir Balah. Kini dia berada terlalu hampir dengan bandar Gaza.

Perisikan Tatar berjaya mengesan kemaraan tentera Baibras. Mereka menyangka bahawa pasukan itu adalah keseluruhan tentera Islam tanpa mengetahui tentang kewujudan pasukan kedua tentera Islam yang berada jauh dari Gaza. Berita tersebut sampai kepada tentera Tatar. Ketika itu tentera utama Tatar di bawah pimpinan Katabgha masih lagi jauh dari Gaza. Mereka berada di bumi Lubnan, 300 kilometer dari Gaza. Dengan itu mereka menghantar satu pasukan yang tidak begitu besar untuk menghadapi tentera Islam.

Berlakulah pertembungan di antara dua pasukan tersebut. Kali pertama setelah puluhan tahun, tentera Islam menang di dalam pertembungan melawan Tatar. Terbunuh di dalam peperangan tersebut sebahagian tentera Tatar. Tentera yang terselamat melarikan diri menyampaikan berita tersebut kepada Katabgha.

Marah bercampur terkejut. Itulah reaksi Katabgha dan tentera Tatar ketika mendengar berita kekalahan mereka. Sebelum ini mereka sudah terbiasa membunuh orang Islam tanpa mendapat tentangan sengit. Mereka juga sudah terbiasa dengan beberapa Raja Islam yang menghinakan diri memohon perdamaian dari mereka. Di luar jangkaan mereka, masih ada lagi tentera Islam yang berani melawan mereka dan mampu mengalahkan mereka. Ini adalah pengalaman baru bagi Tatar.

Di pihak tentera Islam, kemenangan itu menaikkan semangat mereka untuk terus berjihad. Mereka tidak lagi menoleh ke belakang. Sebaliknya mereka akan terus ke hadapan sehingga ke kehancuran Tatar.

Pemilihan Lokasi Peperangan: Ain Jalut

Tentera Islam terus bergerak dari Gaza melepasi Asqalan dan Yafa. Dari situ mereka singgah sebentar di Akka dan berjumpa dengan pimpinan tentera Salib di Akka untuk memastikan perjanjian masih lagi dipatuhi oleh mereka.

Seterusnya Qutuz dan tentera Islam bergerak meninggalkan Akka menuju ke Ain Jalut. Di manakah Ain Jalut?




Ain Jalut terletak tidak jauh dari perkhemahan Janin sekarang ini. Ia terletak di antara bandar Bisan dan Nablus. Ia terletak 65 kilometer dari Hittin, medan peperangan Hittin yang berlaku pada tahun 583 H. Ia terletak 6o kilometer dari Yarmuk, medan peperangan Yarmuk yang berlaku enam kurun sebelumnya. Kedudukannya banyak mengembalikan memori tentera Islam kepada kemenangan tentera Islam sebelum itu.

Ia dipilih kerana ia adalah kawasan lapang yang luas dan dikelilingi oleh bukit kecuali di bahagian utaranya. Bukit-bukit tersebut dipenuhi pokok-pokok yang memudahkan tentera Islam untuk bersembunyi. Satu pasukan kecil di bawah pimpinan Baibras diletakkan di bahagian utara sementara tentera yang lain bersembunyi di sebalik pokok.

Semua berada dalam keadaan bersedia menanti kedatangan Katabgha dan tentera Tatar.

24 Ramadhan 658 H

Ketika Qutuz dan tentera Islam sudah pun berada di bumi Ain Jalut, datang sejumlah sukarelawan dari Palestin. Sebelum ini mereka menyembunyikan diri dari medan peperangan. Kesungguhan Qutuz dan qudwah yang ditunjukkan oleh beliau telah menghilangkan ketakutan mereka.

Di samping itu, medan Ain Jalut juga mula dipenuhi dengan petani-petani, kanak-kanak dan wanita. Sebahagiannya ada yang telah tua dan uzur. Kesemuanya keluar untuk memberikan bantuan dalam bentuk yang mereka mampu. Qutuz benar-benar berjaya menggerakkan umat Islam kembali ke medan jihad.

Di hari yang sama, datang seorang utusan kepada tentera Islam dan memohon untuk bertemu dengan Qutuz. Dia memperkenalkan dirinya sebagai wakil Sorimuddin Aibak, seorang muslim yang dijadikan tawanan Tatar dan dipaksa berkhidmat untuk tentera Tatar. Wakil tersebut berkata bahawa dia membawa beberapa pesanan dari Sorimuddin Aibak untuk disampaikan kepada Qutuz.

Pesanan tersebut adalah beberapa maklumat penting untuk tentera Islam:

a. Tentera Tatar tidak lagi sekuat sebelum ini. Holago telah membawa sebahagian tentera dan panglima perangnya ke Tibriz, Iran. Kekuatan mereka tidak lagi sekuat ketika mereka menakluk Syam.

b. Bahagian kanan tentera Tatar lebih kuat dari bahagian kiri mereka. Dengan itu tentera Islam hendaklah menguatkan bahagian kiri mereka untuk menghadapi bahagian kanan tersebut.

c. Asyraf al-Ayubi, Raja Hims yang sekarang ini bersama tentera Tatar ingin kembali ke pangkuan tentera Islam. Mereka akan melakukan tipu helah agar tentera Tatar yang bersama mereka dapat dikalahkan.

Maklumat ini diterima oleh Qutuz dengan penuh hati-hati, bimbang jika sekiranya ia adalah sebahagian dari taktik dan tipu daya Tatar.

Semua ini berlaku pada siang 24 Ramadhan 658 H di Ain Jalut.

Pada malamnya Qutuz dan tentera Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah kemenangan tentera Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam 25 Ramadhan dan kemungkinan ia adalah malam Lailatul Qadar. Mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Moga-moga Allah menerima mereka sebagai hambaNya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari.

Moga-moga esok adalah hari di mana mereka boleh menebus semula kematian jutaan umat Islam di tangan Tatar.

25 Ramadhan 658 H

Fajar menyinsing tiba. Hari yang dinantikan oleh tentera Islam dan muslimin yang bersama dengan mereka sudah menjelma. Hari itu adalah hari Jumaat 25 Ramadhan 658 H.

Tentera Tatar di bawah pimpinan Katabgha tiba dari arah utara. Tentera Islam bersembunyi di sebalik pokok-pokok. Pasukan kecil di bawah Baibras yang pada asalnya berjaga di sebelah utara dan menzahirkan diri juga menyembunyikan diri mereka ketika tentera Tatar tiba.

Qutuz memberikan arahan agar tentera Islam keluar menzahirkan diri secara berperingkat, satu katibah demi satu katibah.

Ketika katibah pertama turun dari bukit dan menghampiri tentera Tatar, Katabgha dan tentera Tatar menjerit ketakutan. Katibah ini turun dengan memakai pakaian berbelang putih dan merah. Keseluruhan peralatan senjata mereka dihias cantik. Mereka turun dalam keadaan tersusun. Pergerakan mereka sama dan seimbang.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah katibah Sanqar ar-Rumi.”

Kemudian turun pula katibah kedua. Katibah ini memakai pakaian berwarna kuning dan membawa senjata yang berhias indah. Mereka juga turun dalam keadaan tersusun, pergerakan yang sama dan seimbang.

Katabgha bertanya kepada Sorimuddin Aibak: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin menjawab: “Inilah katibah Balban ar-Rasyidi.”

Kemudian turun pula katibah seterusnya dengan memakai pakaian berwarna lain. Setiap kali katibah baru turun, Katabgha akan bertanya kepada Sorimuddin: “Pasukan apakah ini?” Sorimuddin yang tidak mengetahui keseluruhan nama-nama katibah Mamalik mula mereka-reka nama tertentu untuk menambahkan ketakutan Katabgha.

Tentera Mamalik terpecah kepada banyak katibah. Setiap katibah akan memakai warna tertentu yang membezakannya dengan katibah lain. Kuda mereka akan dihias dengan warna yang sama. Begitu dengan senjata, khemah dan bahkan rumah-rumah mereka di Mesir. Semuanya akan diwarnakan dengan warna katibah masing-masing.

Semua katibah ini adalah sebahagian tentera Islam yang dipimpin oleh Baibras. Baki tentera yang masih lagi ramai menyembunyikan diri bersama Qutuz.

Gendang mula dimainkan oleh pasukan gendang tentera Islam. Sudah menjadi kebiasaan tentera Mamalik, mereka akan meletakkan satu pasukan gendang di medan perang. Mereka memainkan rentak yang akan memberikan isyarat tertentu kepada tentera Mamalik.Isyarat tersebut hanya mampu difahami oleh tentera Mamalik. Setiap pergerakan tentera akan ditentukan oleh gendang tersebut.

Pasukan Baibras sudah berada hampir dengan tentera Katabgha. Peperangan sudah semakin hampir.

Serangan Pertama: Bermula Peperangan

Bermulalah pertempuran. Katabgha yang menyangka bahawa pasukan Baibras yang kecil itu adalah keseluruhan tentera Islam telah mengarahkan keseluruhan tenteranya untuk masuk ke medan pertempuran. Mereka menyerbu masuk dengan jerit pekik yang kuat.

Baibras dan tenteranya berdiri tenang di tempat masing-masing menantikan kemaraan tentera Tatar yang berjumlah berkali ganda dari bilangan pasukan mereka. Apabila tentera Tatar sudah hampir kepada mereka, Baibras memberikan isyarat kepada tenteranya untuk merempuh ke depan.

Pedang bertemu pedang, gendang dipalu bertambah kuat berselang seli memberikan arahan dengan takbir dari petani-petani yang berada di atas bukit. Darah mula mengalir. Satu demi satu nyawa melayang. Walau pun begitu, Baibras dengan bilangan tentera yang sedikit mampu bertahan sehingga ke saat itu. Ketakutan mula meresap masuk ke dalam diri tentera Tatar. Belum pernah mereka menghadapi kekuatan sedemikian.

Pemilihan Qutuz sememangnya tepat. Panglima-panglima perang yang dipilih untuk bertembung di peringkat awal dengan Tatar dan menghabiskan tenaga Tatar adalah panglima perang Mamalik terbaik. Mereka adalah panglima yang terlibat sekali di dalam mengukir kemenangan di dalam peperangan Mansurah menentang tentera Salib pimpinan Louis IX. Mereka memiliki kemahiran perang yang tinggi.

Qutuz dan baki tentera masih lagi menanti di sebalik tempat persembunyian mereka menyaksikan peperangan tersebut dan menunggu waktu sesuai untuk masuk ke serangan kedua.

Serangan Kedua: Mengepung Tentera Tatar

Masanya sudah tiba untuk Qutuz memberikan arahan baru. Arahan seterusnya adalah agar Baibras dan tenteranya berundur secara seimbang dan berpura-pura lemah. Taktik ini adalah taktik yang sama digunakan oleh tentera Islam di dalam peperangan Nahawand ketika tentera Islam di zaman Saidina Omar r.a. membuka Parsi. Taktik ini digunakan untuk menarik tentera Tatar yang sudah keletihan masuk ke tengah-tengah medan peperangan dan mengepung mereka di situ. Sebagaimana yang kita ketahui medan Ain Jalut berbukit di seluruh kawasannya kecuali di bahagian utara. Kepungan itu agak mudah untuk dilakukan jika sekiranya Baibras berjaya menarik tentera Tatar ke tengah medan.

Ia bukanlah taktik yang mudah. Ia memerlukan satu perkiraan yang tepat. Terlalu cepat akan menyebabkan musuh menyedari taktik tersebut. Terlalu lambat akan menyebabkan kematian tentera Islam.

Qutuz memberikan arahan kepada pasukan gendang untuk memberikan arahan baru ini. Baibras memahami rentak gendang tersebut. Tanpa berlengah dia dan tenteranya mula berundur ke belakang sedkiit demi sedikit dengan penuh hati-hati. Mereka berpura-pura menzahirkan keletihan dan kelemahan mereka.

Katabgha tertipu. Dia mengarahkan seluruh tenteranya untuk masuk ke dalam medan perang tanpa menyedari taktik tersebut. Ini adalah satu yang cukup pelik berlaku kepada beliau. Katabgha adalah panglima perang Tatar yang mahir. Menjadi panglima perang sejak zaman Genghis Khan. Ketika peperangan Ain Jalut, beliau berusia lebih 60 tahun atau mungkin lebih 70 tahun. Satu usia yang memberikan pengalaman yang tidak sedikit berkenaan taktik-taktik perang di zaman itu. Tetapi Allah mengatur segala-galanya.

Taktik ini berjaya. Tentera Tatar telah berada dalam kepungan. Pada ketika baki tentera Islam muncul, Katabgha menyedari kesilapannya. Di sini tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali terus berperang mati-matian. Mereka nampak kematian semakin menghampiri mereka.

Serangan Ketiga: Kekuatan Bahagian Kanan Tatar

Katabgha memberikan arahan agar semua tenteranya berjuang mati-matian. Mereka seolah-olah mengamuk dan mengasak tentera Islam. Di sini terbukti kebenaran apa yang dikatakan oleh wakil Sorimuddin Aibak berkenaan kekuatan bahagian kanan tentera Tatar. Bahagian kiri tentera Islam telah diasak dengan dahsyat oleh mereka. Gugur di kalangan tentera Islam seorang demi seorang sebagai syahid.

Qutuz yang melihat dari atas bukit merasai kesukaran yang dihadapi oleh tentera Islam. Langkah yang diambil oleh beliau amat menakjubkan. Beliau mencampakkan topi besinya lalu melaungkan ‘wa Islaaamah’. Laungan ini diucapkan oleh beliau sambil beliau turun ke medan perang dengan menunggang kudanya. Langkah ini diambil oleh Qutuz untuk menaikkan semangat tentera Islam.

Tentera Tatar terperanjat dengan kehadiran Qutuz di tengah-tengah medan perang. Qutuz memerangi mereka dengan penuh semangat seolah-olah beliau tidak langsung sayangkan nyawanya. Beberapa libasan pedang dan tombak hampir menemui beliau. Kudanya berjaya ditikam mati oleh tentera Tatar menyebabkan beliau terjatuh. Pun begitu beliau meneruskan jihadnya dengan berjalan kaki sehinggalah beliau berjaya mendapatkan kuda bantuan.

Seorang pembesar istana menjerit dan mencelanya kerana lambat menaiki kuda. Beliau bimbangkan Qutuz terbunuh lalu dengan itu akan kalahlah tentera Islam. Tetapi Qutuz menjawab: “Ada pun diriku, sesungguhnya ia sedang menuju surga. Ada pun Islam, ia mempunyai Tuhan yang tidak akan membiarkannya.”

Tentera Islam bertambah semangat dengan turunnya Qutuz ke medan perang.

Kematian Katabgha

Dibunuh oleh Jamaludin Aqusy as-Syams. Beliau adalah salah seorang panglima perang Mamalik. Pernah berada di bawah Raja Nasir al-Ayyubi. Kemudian beliau meninggalkannya setelah melihat pengkhianatan yang dilakukan oleh Raja Nasir al-Ayyubi.

Beliau merempuh tentera Tatar sehingga berjaya masuk ke tengah-tengah tentera tersebut. Di situ beliau melihat Katabgha. Jamaluddin tidak menunggu lama. Beliau mengumpulkan seluruh tenaganya dan melibas pedangnya ke arah leher Katabgha. Kepala Katabgha berpisah dari badan dan tercampak ke tengah medan perang di hadapan tentera Tatar.

Ketakutan makin meningkat melihat kematian Katabgha di hadapan mata mereka. Tentera Tatar mula melarikan diri melalui bahagian utara Ain Jalut. Tentera Islam mengejar mereka.

Pertembungan Akhir di Bisan dan Berakhirnya Kekuatan Tatar

Tentera Tatar berjaya memecahkan kepungan tentera Islam. Mereka melarikan diri sejauh 20 kilometer dan berhenti di Bisan. Tentera Islam terus mengejar mereka.

Berlaku pertembungan yang lebih sengit. Kali ini tentera Tatar benar-benar menggila untuk memastikan mereka terus hidup. Qutuz berada di tengah-tengah medan peperangan memberikan semangat kepada tentera Islam. Beliau melaungkan: “Wa Islaamah. Wa Islaamah. Wa Islaamah. Ya Allah bantulah hambamu, Qutuz untuk menghancurkan Tatar.”

Akhirnya kemenangan berpihak kepada tentera Islam. Mereka berjaya menamatkan mitos bahawa Tatar tidak akan dikalahkan bila-bila.

Medan peperangan kembali sunyi. Tidak ada lagi bunyi gendang. Tidak ada lagi jeritan Tatar. Tidak ada lagi takbir para petani. Tidak ada lagi bunyi libasan pedang. Mayat-mayat tentera Tatar mati bergelimpangan dalam bentuk yang mengerikan. Qutuz berjalan di tengah medan perang yang sudah sunyi melihat hasil peperangan selama sehari di bulan Ramadhan.

Kesudahan Yang Baik Buat Raja Yang Hebat

Qutuz sujud ke bumi mensyukuri kemenangan tersebut. Beliau dan tenteranya berjaya membunuh kesemua tentera Tatar. Ya! Kesemuanya. Tidak ada seorang pun dari tentera Tatar yang berjaya melepaskan diri mereka hidup-hidup. Semuanya mati dibunuh oleh tentera Islam di dalam peperangan yang cukup hebat ini.

Maruah umat Islam berjaya dikembalikan. Kematian jutaan umat Islam berjaya dibalas oleh Qutuz. Sememangnya beliau seorang pemimpin hebat yang berjaya mencipta satu sejarah untuk dibanggakan oleh umat Islam sepanjang zaman. 10 bulan sudah cukup bagi Qutuz untuk menjatuhkan Tatar yang bermaharajalela di bumi Islam selama lebih 40 tahun.

Semua itu berlaku pada hari ini, 25 Ramadhan.

Moga pahlawan seperti Qutuz akan ada penggantinya. Aamin.

Sebuah kisah efik yang membangkitkan
semangat perjuangan dan persatuan
14.42 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung