Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Hal-Hal Yang Membatalkan Keislaman

Written By Rudianto on Selasa, 01 Maret 2011 | 19.21

Allah SWT telah mewajibkan kepada seluruh hamba-hambanya untuk masuk ke dalam Islam dan berpegang teguh dengannya serta berhati-hati untuk tidak menyimpang darinya. Allah telah mengutus nabiNya Muhammad s.a.w ke hal itu dan memberitahu bahwa barang siapa mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barang siapa yang menolaknya akan sesat. Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat-ayat Al-Qur'an untuk menghindari sebab-sebab kemurtadan, segala macam syirik dan kekafiran. Para ulama rahimahullah telah menyebutkan dalam bab Hukum Kemurtadan, bahwa seorang muslim bisa dianggap murtad dengan berbagai macam hal yang membatalkan keislaman, yang bisa menyebabkan halal darah dan hartanya dan dianggap keluar dari agama Islam.
Allah berfirman: "Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." (An Nahl: 106-107)
Yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi ada sepuluh hal, yang disebutkan oleh Syaikh Mohammad bin Abdul Wahab dan para ulama lainnya. Kami sebutkan secara ringkas, dengan sedikit tambahan penjelasan, untuk anda agar anda dan orang-orang selain anda berhati-hati dari hal itu, dengan harapan dapat selamat dan terbebas darinya.
PERTAMA
Mempersekutukan Allah (syirik) dalam ibadah. Allah berfirman. "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya." (Annisa: 116)
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan surga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang-orang yang dzalim." (Al-Maidah: 72)
Dan diantara perbuatan syirik adalah: meminta do'a dan pertolongan kepada orang-orang yang telah mati, bernadzar dan menyembelih korban untuk mereka.
KEDUA
Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah, meminta do'a dan syafaat serta berserah diri (bertawakkal) kepada perantara tersebut. Yang melakukan hal itu, menurut kesepakatan para ulama, adalah kafir.
KETIGA
Tidak mengkafirkan orang-orang yang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan faham mereka. Orang demikian adalah kafir.
KEEMPAT
Berkeyakinan, bahwa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammmad s.a.w lebih sempurna, atau berkeyakinan bahwa hukum selain dari Al-Qur'an lebih baik, seperti mereka mengutamakan aturan-aturan kaum Thagut (aturan-aturan manusia yang melampaui batas) serta menyimpang dari hukum Allah, dan mengesampingkan hukum Rasulullah s.a.w. Maka yang berkeyakinan demikian adalah kafir.
Termasuk juga orang yang berkeyakinan bahwa aturan-aturan dan perundang-undangan yang diciptakan manusia lebih utama daripada syari'at Islam, karena syari'at Islam tidak tepat untuk diterapkan pada abad ke duapuluh ini. Atau berkeyakinan bahwa Islam adalah sebab kemunduran kaum muslimin. Atau berkeyakinan bahwa Islam itu terbatas dalam mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, dan tidak mengatur urusan kehidupan yang lain.
Juga orang yang berpendapat bahwa melaksanakan hukum Allah dalam memotong tangan pencuri, atau merajam pelaku zina yang telah nikah, tidak sesuai lagi dimasa kini. Juga yang berkeyakinan dibolehkannya pengetrapan hukum selain hukum Allah dalam segi mu'amalat syar'iyah, seperti perdagangan, sewa menyewa, pinjam meminjam, dan lain sebagainya. Atau dalam menentukan hukum pidana atau lain-lainnya, sekalipun tidak disertai dengan keyakinan bahwa hukum-hukum tersebut lebih utama daripada Syariat Islam. Karena dengan demikian ia telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, menurut kesepakatan para ulama. Sedangkan setiap orang yang menghalalkan apa yang sudah jelas dan tegas diharamkan oleh Allah dalam agama, seperti, zina, minum minuman keras, riba dan penggunaan perundang-undangan selain syariat Allah, maka ia telah kafir, menurut kesepakatan umat Islam.
KELIMA
Membenci sesuatu yang telah ditetapkan oleh Rasulullah s.a.w meskipun ia sendiri mengamalkannya. Orang yang demikian adalah kafir, karena Allah SWT berfirman: "Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) segala amal perbuatan mereka." (Muhammad: 9)
KEENAM
Memperolok-olok sesuatu dari ajaran Rasulullah s.a.w ataupun memperolok-olok pahala maupun siksaan yang telah menjadi ketetapan agama, maka ia menjadi kafir, baik ia sungguh-sungguh ataupun hanya bermain-main (bersenda gurau) dengan olok-oloknya itu. Allah berfirman: "Katakanlah (wahai Muhammad), Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66)
KETUJUH
Sihir, diantaranya adalah ilmu guna-guna yang merobah kecintaan seorang suami terhadap istrinya menjadi kebencian, atau menjadikan seseorang mencintai orang lain atau sesuatu yang dibencinya dengan cara-cara setani. Orang yang melakukan hal itu adalah kafir, karena Allah SWT berfirman: "Sedang kedua malaikat itu tidak mengajarkan (suatu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan, sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, sebab itu janganlah kamu kafir." (Al-Baqarah: 102)
KEDELAPAN
Membantu dan menolong orang-orang musyrik untuk memusuhi kaum muslimin. Allah berfirman: "Dan barang siapa diantara kamu mengambil mereka (Yahudi dan Nashrani) menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang tersebut termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Al-Maidah: 51)
KESEMBILAN
Berkeyakinan bahwa sebagian manusia diperbolehkan tidak mengikuti syariat Nabi Muhammad s.a.w, maka yang berkeyakinan demikian adalah kafir. Allah berfirman: "Barang siapa menghendaki suatu agama selain Islam, maka tak akan diterima agama itu daripadanya, dan di akhirat tergolong orang-orang yang merugi." (Ali Imran: 85)
KESEPULUH
Berpaling dari agama Allah dengan tanpa mempelajari dan tanpa melaksanakan ajarannya. Allah berfirman: "Tiada yang lebih zalim daripada orang yang telah mendapatkan peringatan melalui ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya. Sesungguhnya Kami akan menimpakan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (As-Sajadah: 22)
Dalam hal-hal yang membatalkan keislaman ini, tidak ada perbedaan hukum antara yang main-main, yang sungguh-sungguh (yang sengaja melanggar), ataupun yang takut, kecuali yang dipaksa. Semua itu merupakan hal-hal yang paling berbahaya dan paling sering terjadi. Maka setiap muslim hendaknya menghindari dan takut darinya. Kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang mendatangkan kemurkaanNya dan kepedihan siksaanNya. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada makhlukNya yang terbaik, para keluarga dan para sahabat beliau.
Kami mohon kepada Allah agar memberi taufiq kepada kita semua untuk setiap hal yang diridhaiNya, dan memberi petunjuk kepada kita dan seluruh umat Islam jalanNya yang lurus. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada nabi Muhammad, kepada para keluarga dan para sahabat beliau.
19.21 | 0 komentar

Aku Ingin Berjuang....

Seorang pemuda belia dari kabilah Aslam sedang termenung sendirian agaknya dia sedang sibuk memikirkan sesuatu yang membebani hatinya. Pemuda itu bertubuh kuat, gagah, penuh gairah untuk menghadapi masa depan yang penuh berbagai tantangan. Badanya tegap dan kuat, sanggup untuk dihadapkan pada perjuangan seperti yang sedang dilakukan oleh yang lain, jihad fisabilillah. Adakah jalan yang lebih afdol dan lebih mulia dari jihad fisabilillah..? Rasa-rasanya tak ada. Sebab itulah satu-satunya jalan jika memang benar-benar telah menjadi tujuan dan niat suci untuk mencari restu dn ridho Allah SWT. "Demi Allah, inilah satu kesempatan yang sangat baik", kata hati pemuda itu. Yah,.....sebab disana, serombongan kaum muslimin sedang bersiap menuju juang jihad fisabilillah. Sebagian sudah berangkat, sebagian lagi baru datang, dan akan segera berangkat. Semuanya menampakan wajah yang senang, pasrah, dan tenang dengan satu iman yang mendalam. Wajah-wajah mereka membayangkan suatu keyakinan penuh, bahwa sebelum ajal berpantang mati.

Maut akan menimpa dimana pun kita berada. yakin bahwa umur itu satu. kapan kan sampai batasnya, hanya Allah yang maha tahu. Bagaimana sebab dan kejadianya, takdir Allah lah yang menentukan. Maut, adalah sesuatu yang tak dapat dihindari manusia. Dia pasti datang menjemput manusia. Entah disaat manusia sedang duduk, diam di rumah, atau mungkin berada dalam perlindungan benteng yang kokoh, mungkin pula sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya, di gua yang gelap, di jalan raya yang ramai, ataukah di medan peperangan. Bahkan bukan mustahil maut akan menjemput kala manusia sedang tidur, di atas temapt tidurnya. Semua itu hanya Allah lah yang berkuasa, dan berkehendak atasnya. Menunggu kedatangan maut memang masa-masa yang paling mendebarkan jiwa. Betapa tidak? Hanya sendirilah yang dapat dibawa menghadap penguasa yang Esa kelak.

Medan juang fisabillah tersedia bagi mereka yang kuat. Penuh keberanian dan keikhlasan mencari ridho Allah semata. Mereka yang berjiwa suci ditengah-tengah tubuh yang perkasa. Angan-angan ikhlas yang disertai hati yang bersih. Memang, saat itu keberanian telah menjiwai setiap kalbu kaum muslimin. Panggilan dan dengungan untuk jihad fisabilillah merupakan angan-angan dan tujuan harapan mereka. Mereka yakin, dibalik hiruk-pikuknya peperangan Allah telah menjanjikan imbalan yang setimpal baginya. Selain dengan itu dia dapat membersihkan jiwanya dari berbagi noda. Baik itu berupa noda-noda aqidah, niat-niat jahat, berbagi dosa perbuatan ataupun kekotoran muamalah yang lain. Pengorbanan mereka yang mulia itu menunjukan kepribadian yang baik dan luhur. Semua sesuai dengan ajaran agama yang murni. Pantas menjadi contoh dan teladan, bahkan sebagai mercu suar yang menerangi dunia dan isi alam semesta.

Itulah renungan hati pemuda Aslam yang gagah itu. Sepenuh hati dia berkata seolah kepada diri sendiri. "Harus ! harus dan mesti aku berbut sesuatu. Jangan kemiskinan dan kefakiran ini menjadi hamabtan dan penghalang mencapai tujuanku." Mantap, penuh keyakinan dan semangat yang tinggi pemuda tersebut ini menggabungkan diri dengan pasukan kaum muslimin. Usia pemuda itu memang masih belia, namun cara berfikir dan jiwanya cukup matang, kemauanya keras, ketangksan dan kelincahan menjadi jaminan kegesitanya di medan juang. Namun mengapa pemuda yang begitu bersemangat itu tak dapat ikut serta dalam barisan pejuan? Seababnya hanya satu. Dia tidak mempunyai bekal dan senjata apa-apa yang dapat dipakainya untuk berperang karena kemiskinan dan kefakiranya. Sebab pikirnya, tidak mungkin untuk terjuan ke medan perjuangan tanpa senjata apapun. Tanpa senjata dia tidak mampu melakukan apapun. Bahkan dia tidak akan berfungsi apa-apa. Mungkin untuk menyelamatkan diri saja, dia tidak mampu. Inilah yang menjadikan pemuda itu berfikir panjang lebar. Otaknya bekerja keras agar hasratnya yang besar berjuang dapat tercapai. Setelah tidak juga dicapainya pemecahan, dia pergi menghadap Rasulullah SAW. Diceritakan semua keadaan dan penderitaan serta keinginannya yang besar.

Dia memang miskin, fakir dan menderita, namun dia tidk mengharapkan apa-apa dari keikutsertaanya berjaung. Dikatakanya kepada Rasulullah SAW, bahwa dia tidak meminta berbagai pendekatan duniawi kepada Rasulullah; Dia hanya menginginkan bagaimana caranya agar dia dapat masuk barisan pejuang fisabilillah. Mendengar hal demikian, Rasulullah bertanya, setelah dengan cermat meneliti dan memandang pemuda tersebut: "Hai pemuda, sebenarnya apa yang engkau katakan itu dan apa pula yang engkau harapkan?". "Saya ingin berjuang, ya Rasulullah!" jawab pemuda itu. "Lalu apa yang menghalangimu untuk melakukan itu", tanya Rasulullah SAW kemudian. "Saya tidk mempunyai perbekalan apa-apa untuk persiapan perjaungan itu ya Rasulullah", jawab pemuda tersebut terus terang. Alangkah tercengangnya Rasulullah mendengar jawaban itu. Cermat diawasinya wajah pemuda tersebut. Wajah yang berseri-seri, tanpa ragu dan penuh keberanian menghadap maut, sementara disana banyak kaum munafikin yang hatinya takut dan gentar apabila terdengar panggilan seruan untuk berjaung jihad fisabilillah. Demi Allah! jauh benar perbedaan pemuda itu dengan para munafiqin di sana. Kaum munafiqin yang dihinggapi rasa rendah diri, selalu mementingkan diri-sendiri. Mereka tidak suka dan tidak mau memikul beban dan tanggung jawab demi kebenaran yang hakiki. Kaum yang tidak senang hidup dalam alam kedamaian dan ketentraman dlam ajaran agama yang benar. Mereka lebih suka berada dalam hidup dan suasana kegelapan dan kekalutan. Ibarat kuman-kuman kotor, yang hidupnya hanya untuk mengacau dan menghancurkan apa saja.

Celakalah mereka yang besar dan tegap badan serta tubuhnya namun licik dan kerdil pikiran serta hatinya. Kebanggaanlah bagimu yang tepat hai pemuda! semogalah Allah banyak menciptakan manusia-manusia sepertimu. Yang dapat menjadi generasi penerusmu. Yang akan menjunjung tinggi kemulyaan Islam, budi pekerti yang mulia menuju alam yang bahagia sejahtera lahir batin. Benar, kaum muslimin sangat memrlukan jiwa yang demikian. Jiwa yang besar penuh keyakinan, dan juga keberanian yang mantap. Sepantasnya pemuda seperti dari kabilah Aslam itu mendapat segala keperluan serta keinginanya untuk melaksanakan hasrat cita-cita keinginan itu.

Rasulullah SAW akhirnya berkata kepada pemuda Aslam tersebut: "Pergilah engkau kepada si Fulan! Dia yang sebenarnya sudah siap lengkap dengan perlatan berperang tapi tidak jadi berangkat karena sakit. Nah pergilah kepadanya dan mintalah perlengkapan yang ada padanya." Pemuda itu pun bergegas menemui orang yang ditunjukan Rasulullah SAW tadi. Katanya kepada si Fulan: "Rasulullah SAW menyampaikan salam padamu juga pesan. Beliau berpesan agar perlengkapan perang yang engkau miliki yang tidak jadi engkau pakai pergi berperang agar diserahkan kepadaku." Orang yang tidak jadi berperang itu penuh hormat menjalankan perintah Rasulullah SAW sambil mengucapkan: "Selamat datang wahai utusan Rasulullah! Saya hormati dan taati segala perintah Rasulullah SAW." Segera dia menyuruh istrinya untuk mengambil pakaian dan peralatan perang yang tidak jadi dipakainya. Diserahkan semua itu pada pemuda kabilah Aslam. Sambil mengucapkan terima kasih pemuda tersebut menerima perlengkapan itu. Sebelum dia berangkat dan meninggalkan rumah itu, pemuda tersebut sempat berucap: "Terima kasih sebesar-besarnya. Anda telah menghilangkan seluruh duka dan keputusasaanku. Bagimu pahala Allah yang besar tiada taranya. Terima kasih.........Terima kasih." Pemuda suku Aslam itu kemudian keluar dengan riang. Wajahnya bersinar gembira. Dengan berlari-lari dia meningalkan rumah orang yang tidak jadi berperang itu. Di tengah jalan pemuda tersebut bertemu dengan salah satu temanya yang keheranan dan bengong. Tanyanya: "Hai, hendak kemana engkau?", "Aku akan menuju janntul firdaus yang selebar langit dan bumi", jawab pemuda itu dengan singkat dan tepat.
09.45 | 0 komentar

Cinta Ikhlas

Cinta itu perasaan alami jiwa. Ia adalah fitrah yang menjadi salah satu sifat manusia. Ia wujud bila hati tertarik kepada yang dicintainya itu penuh emosi dan gembira karena itu.

Dalam memenuhi keperluan untuk puas dalam cinta,manusia menghadapi krisis nilai. Insan yang mula jatuh cinta akan bersungguh untuk mencapai kepuasan dalam cinta itu. Ada yang menjadi buta dan kabur nilai akibat bercinta.
Tapi bagi yang bijaksana mereka mendambakan cara yang sesuai dan mulia untuk memenuhi keperluan cintanya itu. Insan seperti ini ingin hidup yang bersih dan penuh taqwa.

Sifat Cinta
Cinta itu suci,mahal dan tinggi nilainya. Sifat cinta itu sempurna. Jika tidak, cinta akan cacat. Itulah cinta sebenarnya cinta.

Cinta Muncul Sejak Dilahirkan
Rasa cinta sudah ada di dalam jiwa manusia sejak manusia itu lahir ke dunia. Cuma manusia akan melalui tahap-tahap kelahiran cinta bermula dari cinta kepada belaian ibu ,membawa kepada cinta kepada kekasih dan akhirnya setelah puas mencari cinta suci, maka akan cinta kepada Tuhan. Wujudnya cinta itu tidak dapat dilihat tapi dapat dirasa dan cinta sebenar-benarnya cinta itu suci murni serta putih bersih.

Menerima Cinta
Bila sampai masanya di setiap tahap-tahap cinta, maka Tuhan menjadikan manusia itu bersedia menerima cinta itu. Pada awalnya jiwa itu bersedia menerima cinta, lantas sedia pula untuk bebagi rasa dengan yang dikasihi. Bersedia untuk mengikat setia serta saling memahami. Setia untuk dipertanggungjawapkan karena cinta. Sedia untuk menyerah diri pada yang dicintai.

Cinta Itu Indah
Walaupun bentuk cinta tidak bisa dilihat,tetapi cinta itu indah dan cantik. Cantiknya itu murni dan tidak bertopeng. Bukan saja ia cantik malah suci murni, bercahaya gemerlap dan putih bersih.

Cinta Itu Mengharap Balasan
Cinta antara manusia itu berkehendak kepada jodoh atau pasangan, dari diri yang punya persamaan,dari diri yang asalnya satu. B ila dapat yang dicari,bermakna cinta itu menganggap telah bertemu yang paling sesuai dan cocok dengan jiwanya, untuk bersatu kembali. Kehendak itu timbal balik sifatnya kerana manusia dalam bercinta tidak hanya menerima tapi juga menerima.

Cinta Itu Menaklukkan
Sifat cinta itu ingin menguasai. Dia mau yang dikasihinya itu hanya khusus untuk dirinya. Dia tidak mau cintanya dibagi dengan orang lain. Sifat ini menuntut hak untuk mencintai dan dicintai. Tapi, dalam keinginan menaklukan,ia juga ingin ditaklukan sepenuhnya.

Cinta Itu Mengetahui
Pada asasnya sebenarnya cinta itu mengetahui. Orang yang bercinta tahu siapa yang patut dicintainya. Cinta tidak perlu bertanya. Manusia boleh jatuh cinta tanpa membaca ilmiah atau novel tentang cinta. Mereka tahu apa yang perlu dilakukan. Tapi, cinta cuma tahu bercinta.Ia tidak tahu akan peraturan cinta jika tiada diberikan panduan.

Cinta Itu Hidup
Cinta adalah ibarat manusia, boleh berputik, lalu mekar serta boleh layu dan gugur. Cinta itu punya indra dan perasaan. Cinta mendengar cinta, berkata cinta, melihat cinta. Cinta ada segala-galanya. Sayang, benci, cemburu, gembira, sedih, tenang, tertekan, ketawa dan menangis. Cinta itu hidup sampai satu ketika ia akan menemui mati. Tapi banyak orang berharap agar cinta itu kekal selagi dia masih hidup dan tetap hidup walaupun telah mati.

Cinta Itu Suci
Sebagaimana yang banyak dikatakan orang, cinta itu suci. Sucinya cinta bukan bermakna ia tidak mengharap balasan. Cinta mengharap balasan cinta. Sucinya cinta bermakna ia tidak bernoda dan tidak pula berdosa Itulah sifat asal cinta, ia suci bagaikan anak yang baru lahir. Mereka yang kenal arti cinta akan coba mengekalkan cinta itu sesuci mungkin. Mengekalkan cinta suci bermakna menjauhkan ia dari godaan nafsu yang tidak ada batasan.Karena nafsulah cinta suci jadi bernoda dan berdosa.

Cinta Itu Mempesonakan
Cinta itu bukan saja indah, tapi mempesonakan. Ia bukan karena cinta itu nakal sifatnya tapi karena ia suci dan ber sih. Ia adalah sebagaimana anda melihat pada anak kecil yang comel dan bersih. Dia senyum pada anda dan merapati anda. Anda terpesona kerana bukan saja ianya comel, tapi karena dia adalah insan yang tidak berdosa. Karena sifat cinta yang mempesona ini selalunya manusia itu berbuat silap bila bercinta. Apa saja yang dilakukan oleh kekasihnya...mempesonakannya dan nampak cantik serta betul walaupun itu adalah satu dosa dan akan menodai cinta itu sendiri. Itulah juga yang menyebabkan orang yang bercinta itu walaupun seorang yang bijaksana, akan menjadi bodoh karena pesona cinta. Akal itu mampu dikalahkan oleh nafsu. Nafsu itu tidak bisa dikalahkan melainkan jika anda sentiasa ingat kepada Tuhan Maha Pencipta.

Apakah itu Bukti Cinta?
Cinta perlukan bukti. banyak orang percaya bahawa bukti cinta itu ialah mengorbankan atau menyerahkan apa saja yang kekasih anda mahu. Mereka percaya jika itu tidak berlaku, maka cinta itu tidak tinggi nilainya.

Sebenarnya anggapan itu tidak tepat. Jika anda beri semua yang dia mahu, apakah yang tinggal pada anda? Benarkah dia cinta pada anda bila dia mahukan pengorbanan anda?
Cinta sejati tidak memusnahkan atau merusakkan diri kekasih yang dicintai. Malah ia menjaga agar kekasih tetap suci dan selamat sebagaimana sucinya cinta itu sendiri
"Janganlah hendaknya kecintaan anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi lupa dan kebencian anda terhadap sesuatu itu membuatkan anda menjadi hancur" - Saidina Umar Ibnul Khattab -
09.35 | 0 komentar

Kesombongan Orang Yang Berharta Dan Berilmu

"Qarun berkata, 'Sesungguhnya aku diberi harta ini hanya karena ilmu yang aku miliki.'" (QS Al-Qashash: 78)
Dalam menanamkan sebuah nilai, Al-Qur'an sering menggunakan kisah-kisah masa lalu, baik kisah seorang tokoh yang shalih maupun yang jahat. Tujuan diceritakannya kembali peristiwa itu adalah untuk ibrah, pelajaran bagi mereka yang mau mengaktifkan alah fikirannya.
Di antara tokoh jahat yang paling banyak diulang-ulang dalam al-Qur'an adalah Fir'aun. Dia adalah seorang tiran, yang menindas rakyatnya dengan sangat kejam. Dia bahkan mengaku sebagai Tuhan.
Tentu saja aksi Fir'aun ini tidak dilakukan seorang diri. Tanpa pembantu-pembantunya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena mendapat dukungan penuh dari segenap kabinetnya, begitu juga penasehat ahli dan mayoritas anggota parlemen, maka kekuasaan Fir'aun tegak berdiri, kuat sekali.
Salah seorang penopang tiran Fir'aun adalah Qarun, seorang teknokrat andalan yang menjadi tulang punggung ekonomi. Selain cerdas, ia sendiri seorang bisnisman yang sukses. Bahkan pada masanya, ia tergolong konglomerat. Saking kesohornya nama Qarun sebagai orang kaya sampai-sampai barang temuan pada masa kini disebut harta karun.
Sebagai pembantu dekat Fir'aun, tentu tabiatnya tak jauh berbeda dengan bosnya. Ia adalah seorang yang sombong lagi membanggakan diri. Ketika dianjurkan untuk bersedekah, membantu pengusaha lemah atau golongan miskin, maka ia berkata sebagaimana ayat di atas, "Tidak lain, kekayaanku ini adalah karena ilmu (kepintaran)-ku."
Ilmu Dan Kekayaan
Sebelum menciptakan Nabi Adam, moyang pertama manusia, terlebih dahulu Allah menciptakan Bumi. Di planet bumi itulah manusia hidup, berketurunan, sambung-menyambung hingga sekarang. Bumi telah disiapkan Allah untuk manusia sebagai tempat tinggal sekaligus tempat mencari ma'isyah, penghidupan.

Semua kebutuhan manusia tersedia di bumi, mulai dari pangan, papan dan sandangnya. Berbagai fasilitas hidup telah ada, tinggal mendayagunakannya. Di sinilah persoalan muncul, sebab mendayagunakan alam ini haruslah berdasarkan ilmu. Tanpa ilmu seorang manusia tidak akan mampu mengenali hukum-hukumnya. Tanpa mengenali hukum alam, seorang tidak bisa mengendalikan dan memanfaatkan alam.

Orang awam ketika melihat ombak besar di laut akan merasa ketakutan. Akan tetapi seorang ilmuwan akan berfikir bagaimana cara memanfaatkan ombak besar itu menjadi energi. Sesuatu yang menakutkan ternyata bisa bermanfaat besar bagi yang mengerti.
Berikut ini contoh yang sedikit ekstrem. Bagi orang kebanyakan, perang itu menakutkan, akan tetapi sebaliknya bagi pialang senjata. Jika perlu perang terus dikobarkan, agar senjata semakin laris tanpa berkesudahan. Pialang senjata tentu orang yang sangat mengerti seluk-beluk perang dan memahami psikologi perang.
Antara ilmu dan kekayaan itu memang dekat hubungannya. Tentu saja yang dimaksud di sini adalah ilmu 'keduniaan'. Dengan ilmu itu misteri alam bisa diungkap. Dengan pengetahuan itu pula alam dieksploitasi sesuai dengan kebutuhan.
Meskipun demikian ilmu pengetahuan bukan satu-satunya jalan seseorang bisa mendapatkan kekayaan. Masih banyak faktor lagi yang menentukan penguasaan kekayaan. Di antaranya adalah kesempatan. Tapi faktor yang paling menentukan semua itu adalah Allah swt. Banyak orang pintar yang hidupnya berkekurangan, sementara banyak orang yang tidak pandai, tapi kaya raya. Orang bilang faktor "nasib", tapi yang benar sesungguhnya adalah faktor Allah swt. Barangkali inilah yang tidak dimengerti atau setidak-tidaknya tidak diakui oleh Qarun.

Ilmu Dan Kesombongan

Qarun dan orang-orang kafir sejenisnya seringkali menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan. Mereka menjadi besar kepala ketika mendapat karunia ilmu, apalagi jika sudah menyandang beberapa gelar, baik di depan maupun belakang namanya. Mereka lupa bahwa ilmu itu merupakan karunia Allah swt yang mestinya disyukuri.

Al-Qur'an menggambarkan orang-orang di atas sebagai kelompok mereka yang tidak tahu diri. Allah berfirman:
"Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami. Kemudian jika Kami berikan kepadanya nikmat, ia berkata, 'Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Az-Zumar: 49)
Beberapa dasawarsa yang lalu, Edmond Leech dengan sombong mengatakan bahwa tugas Tuhan sudah waktunya diambil alih oleh para ilmuwan. Telah beribu-ribu tahun dunia ini diperintah dan dikuasai oleh Tuhan. Sudah saatnya kini Tuhan turun tahta, menyerahkan pengurusan dunia kepada para ilmuwan.

Menurutnya, selama ini dunia ini hanya diatur secara amatiran. Karenanya berbagai gejolak terjadi di mana-mana. Kejahatan dan kriminalitas, kekerasan bahkan peperangan, di samping kemiskinan dan kelaparan, telah menghiasi wajah dunia. Sudah saatnya dunia diatur secara profesional. Dan yang paling layak adalah ahli sains.

Edmond Leech kemudian menyusun sederet rencana. Pertama ia akan mengatur kelahiran manusia. Ia ingin manusia yang lahir adalah orang yang unggul, baik secara fisik, pikiran, maupun kejiwaan. Manusia yang cacat dan kurang cerdas tidak selayaknya lahir di dunia.

Menurut ahli sains ini, hanya orang tertentu yang telah memenuhi syarat-syarat sempurna saja yang boleh melahirkan anak. Sisanya harus rela tidak melahirkan jabang bayi. Karenanya semua ibu harus menjalani pemeriksaan ketat untuk menentukan layak tidaknya punya anak. Tidak hanya ibunya tapi juga bapaknya, sebab seorang anak akan mewarisi tabi'at dan gen dari orang tuanya. Seperti memilih padi varitas unggul, hanya dari bibit yang unggul saja yang diproses. Jumlah kelahirannyapun ditentukan sekalian, termasuk perbandingan lelaki dengan perempuannya.

Kini angan-angan atau lamunan Edmond Leech sudah dilupakan orang. Proyek ambisius itu gagal total. Yang tejadi justru sebaliknya. Di negara-negara Barat, tempat berkumpulnya para ahli sains, telah lahir jutaan bayi tanpa direncanakan. Semakin banyak saja bayi yang lahir tanpa diketahui siapa bapaknya. Masih untung jika diketahui siapa ibunya, karena banyak juga yang setelah melahirkan kemudian sang ibu minggat entah ke mana.

Entah sudah berapa teori yang dihasilkan manusia untuk menjadikan dunia ini aman, tenteram, sejahtera lahir dan batin. Berbagai cara telah mereka upayakan. Akan tetapi semua kandas di tengah jalan.
Kini kita bertanya-tanya, setelah sains dan teknologi berkembang secara revolusioner seperti sekarang, dunia damai seperti yang dicita-citakan semua orang kok belum juga terwujud? Kenapa peperangan terjadi silih berganti, tak pernah berhenti? Kenapa masih ada jutaan rakyat miskin terlunta-lunta, bahkan mati karena kelaparan?
Mana ahli filsafat? Mana ahli politik? Mana ahli ekonomi? Mana ahli sains? Kapankah mereka akan menggantikan tugas Tuhan? Mungkinkah?

Banyak orang yang menjadi besar kepala, sombong lagi membanggakan diri ketika beroleh ilmu. Mereka merasa bahwa dengan ilmunya akan mampu mengatasi segala problem di muka bumi. Orang-orang seperti ini jika menjadi ahli ekonomi akan berperan sebagai Qarun. Jika ahli politik akan berperan seperti Haman. Jika jadi pemimpin akan seperti Fir'aun.

Ilmu Dan Ulama

Berbeda dengan orang yang beriman. Bagi mereka ilmu adalah karunia Allah, sekaligus merupakan ujian. Ilmu adalah alat bagi manusia untuk menjalankan tugas dari Allah sebagai khalifah di muka bumi.
Keyakinan seperti itulah yang menjadikan mereka tidak sombong dan bangga diri. Justru sebaliknya mereka bertambah takut kepada Allah. Ibarat padi, semakin tua semakin merunduk. Demikian juga seorang mukimin yang berilmu, semakin banyak ilmunya, maka semakin merunduk kepalanya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang yang berilmu)." (QS. Faathir: 28)
Orang yang berilmu semakin tahu bahwa di balik rahasia alam ini adalah kebesaran Allah. Tidak ada daun kering yang tertiup angin, yang jatuh entah di mana, kecuali atas pengetahuan dan kehendak-Nya. Tidak ada semut hitam, berjalan di malam yang kelam, di atas batu hitam pula, kecuali Allah mengetahuinya.
Dengan pengetahuan seperti itu, maka seorang 'alim akan terus berusaha semakin mendekati Allah. Selain berfikir, ia selalu berdzikir, menyebut Asma-Nya. Orang-orang seperti ini bisa disebut sebagai Ulil Albaab. Kepada mereka Allah menyeru:
"Maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu." (QS. Ath-Thalaq: 10)

Peringatan Allah selain dalam al-Qur'an, juga bisa diketahui melalui gejala alam. Semua peristiwa alam ini adalah ayat-ayat Allah, sekaligus merupakan sinyal-sinyal bagi orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. Orang-orang seperti inilah yang akan diangkat derajatnya oleh Allah beberapa derajat di atas yang lain. Allah berfirman:
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)
08.05 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung