Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

APA itu JIN

Written By Rudianto on Senin, 14 Januari 2019 | 22.34

👥 *Group WA Belajar Ruqyah Syar'iyyah*
═══ ❁✿❁ ══
📚 Kajian Ruqyah dalam Kitab Shahih Bukhari

*APA itu JIN*

👉 Asal penciptaannya, Allah menciptakan jin yang berasal dari api.
📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ خَلَقْنَا  الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍ
wa laqod kholaqnal-insaana min sholshoolim min hama`im masnuun

_"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk."_
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 26)

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَالْجَـآنَّ  خَلَقْنٰهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَّارِ السَّمُوْمِ
wal-jaaanna kholaqnaahu ming qoblu min naaris-samuum

_"Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."_
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 27)

👉 Tujuan penciptaan jin sama dengan tujuan penciptaan manusia yakni *menghamba dan beribadah hanya kepada Allah.*

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-insa illaa liya'buduun

_"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."_
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

👉 Jin dan manusia, sama-sama memiliki alat kelengkapan hidup yang komplit.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ   ۖ   لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا  وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا  وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا   ۗ  اُولٰۤئِكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ   ۗ  اُولٰۤئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
wa laqod zaro`naa lijahannama kasiirom minal-jinni wal-insi lahum quluubul laa yafqohuuna bihaa wa lahum a'yunul laa yubshiruuna bihaa wa lahum aazaanul laa yasma'uuna bihaa, ulaaa`ika kal-an'aami bal hum adholl, ulaaa`ika humul-ghoofiluun

_"Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah."_
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 179)

👉 Jin ada yang shalih ada pula yang jahat.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَ ۗ  كُنَّا طَرَآئِقَ قِدَدًا 
wa annaa minnash-shoolihuuna wa minnaa duuna zaalik, kunnaa thorooo`iqo qidadaa

_"Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda."_
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 11)

👉 Jin ada yang muslim ada pula yang kafir.

📖Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا  الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقٰسِطُوْنَ ۗ  فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰٓئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا
wa annaa minnal-muslimuuna wa minnal-qoosithuun, fa man aslama fa ulaaa`ika taharrou rosyadaa

_"Dan di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus."_
(QS. Al-Jinn 72: Ayat 14)

====================
📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari -  M. H Muhammad Hasan Ismail  -  Kairo Mesir 1426 H.
✍🏻📮ditulis dan edit ulang oleh Rudi Abu Azka

--------🌴🌴🌴--------
📻 *Belajar Ruqyah Channel*

22.34 | 0 komentar

Beriman Kepada Yang Ghaib

Rudi Abu Azka:
👥 *Group WA Belajar Ruqyah Syar'iyyah*
═══ ❁✿❁ ══

🖊 *Beriman Kepada Yang Ghaib*
════ ❁✿❁ ════

👉Akhir-akhir ini, sangat banyak kita jumpai orang-orang yang mengaku dirinya sebagai dukun, tukang ramal, orang pintar, ustadz atau kyai yang mampu mengobati berbagai macam penyakit. Mereka menyembuhkan penyakit dengan jalan sihir atau perdukunan, mereka mengaku dirinya sebagai thabib. Masyarakat awam tidak menyadari bahwa dirinya sudah menjadi budak setan dan bersama-sama mencemari aqidah secara lembut, tersamar, 'dan' perlahan namun pasti. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata banyak juga korban dari orang-orang yang kesehariannya menjalani ibadah secara tertib.

⚠Sungguh keadaan ini merupakan bencana dan bahaya yang besar bagi Islam dan umat lslam. Ketergantungan kepada Allah tergantikan dengan ketergantungan kepada selain Allah.

💊 Berobat - mencari kesembuhan atas penyakit-diperintahkan oleh Islam. Seorang yang sakit hendaknya berusaha mendatangi seseorang yang ahli untuk diperiksa penyakit apa yang dideritanya dan diobati sesuai dengan obat-obatan yang diperbolehkan syara' sebagaimana dikenal dalam ilmu kedokteran (untuk gangguan medis) , ilmu psikologi (untuk gangguan psikis), dan ilmu ruqyah untuk  gangguan sihir  dan sejenisnya.
Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menurunkan penyakit dan pasti menurunkan pula obatnya. Namun, Allah tidak memberikan obat dari sesuatu yang telah diharamkan kepada ummatNya.

❌🛌Oleh karena itu, tidak dibenarkan bagi orang-orang yang sakit mendatangi dukun-dukun yang mengaku dirinya dapat mengetahui perkara yang ghaib -yang dengannya ia dapat mengatakan apa sakit yang dideritanya. Tidak diperbolehkan pula mempercayai atau membenarkan apa yang mereka katakan. Sebab, semua yang mereka katakan tentang perkara yang ghaib sesungguhnya hanya didasarkan pada prasangka, perkiraan belaka, atau dengan cara mendatangkan jin dan meminta pertolongan jin-jin tersebut tentang sesuatu yang mereka kehendaki. Dengan cara demikian, dukun-dukun tersebut telah melakukan kekufuran dan penyesatan.

📜Dari Amran bin Hushein ra yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,
_"Bukan dari golongan kami orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain, yang bertanya dan yang menyampaikannya, yang bertanya pada dukun atau yang mendukuninya, yang menyihir atau yang meminta sihir untuknya, dan barangsiapa yang mendatangi dukun dan membenarkan apa yang dikatakan, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu'alaihi wa sallam."_ (HR Al-Bazaar)

☝Oleh karena itu, setiap orang wajib menjauhi praktek-praktek perdukunan dan mencegah orang-orang mendatanginya. Hendaknya tidak boleh tertipu pengakuan segelintir orang yang  membenarkan apa yang dilakukan para dukun. Sebab, sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui tentang perkara yang dijalankan dalam perdukunan. Bahkan, kebanyakan mereka adalah orang-orang awam yang tidak mengerti tentang hukum dan larangan-larangan yang harus mereka pegang.

✍🏻Agar terhindar dari keburukan, orang harus mengenali keburukan itu.

🎙Hudzaifah Bin Yunan berkata, *orang-orang yang bertanya tentang kebaikan, Sedangkan aku, aku tanya tentang keburukan, takut terjerumus kedalamnya. Setan adalah musuh nyata manusia, pengetahuan tentangnya diperlukan agar kita dapat menghindari tipu daya makar, konspirasi, dan jerat-jeratnya.*

Sumber :
📚 Ruqyah Syar'iyyah wa Thibu wa 'Ilaju Mashur min Shahih Bukhari wa Fathul Bari
🖊 M. H Muhammad Hasan Ismail
✍🏻kembali dan📮oleh Rudi Abu Azka

22.32 | 0 komentar

MEMBENTENGI RUMAH DARI SYAITAN

Written By Rudianto on Minggu, 13 Januari 2019 | 19.58

MEMBENTENGI RUMAH DARI SYAITAN

Bahagian 1
-------------------

🔰 Muqaddimah

Setiap keluarga muslim pasti mendambakan ketenteraman dan ketenangan dalam rumah yang mereka huni, baik dia seorang suami, seorang isteri, ataupun sebagai seorang anak.

Semua ingin rumah mereka seperti kata orang: Baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Bukan karena rumah itu mewah dilengkapi perabotnya yang mewah, namun karena semua merasa tenteram ketika masuk dan berada di dalamnya.

Seorang suami pulang ke rumah selesai aktivitnya di luar rumah, baik untuk mencari penghidupan ataupun untuk berdakwah.

Ia masuk ke rumahnya, didapatinya rahah (lapang). Lelah dan kepenatannya serasa hilang saat bertemu dengan isteri dan anak-anaknya. Ketenangan menyelimutinya.

Seorang isteri merasa betah
(merasa senang) berdiam dalam rumahnya. Karena memang seperti titah Allah 'azza wa jalla kepada kaum hawa:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Tetaplah kalian tinggal di rumah kalian.”
(Al-Ahzab: 33)

Juga karena suasana dalam rumah turut mendukung timbulnya rasa betah tersebut.

Anak-anak pun merasa senang dalam rumah mereka walaupun rumahnya kecil dan sederhana.

Kerukunan dan kasih sayang senantiasa terjalin di antara anggotanya.

Gambaran seperti yang kita ungkapkan tentunya menjadi keinginan setiap insan.

Lalu, apa rahasianya untuk mewujudkan baiti jannati tersebut?

Di antara faktor yang sangat penting adalah menjauhkan rumah dari para syaitan.

Kenapa demikian? Karena syaitan merupakan musuh anak Adam, sebagaimana firman Allah azza wa jalla:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagi kalian maka jadikanlah dia sebagai musuh.” (Fathir: 6)

Yang namanya musuh tentu selalu berupaya mencari celah untuk mencelakakan orang yang dimusuhinya.

Yang disebut musuh pasti ingin menghancurkan orang yang dimusuhinya.

Salah satu target utama syaitan adalah merusak sebuah keluarga, menghancurkan ikatan di antara anggota-anggotanya.

Iblis, ketua para syaitan, demikian bergembira bila anak buahnya berhasil memisahkan seorang isteri dari suaminya.

Sebagaimana khabar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ إِبلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْماَءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُم فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ

Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air lantas ia mengirimkan tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang salah seorang dari anak buah iblis menghadap iblis seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang setan yang lain melaporkan, “Tidaklah aku meninggalkan dia (anak Adam yang diganggunya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan isterinya.” Maka iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.”
(HR. Muslim no. 7037)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa iblis bermarkas di lautan, dan dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi.

Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan suami dengan isterinya, karena kagum dengan apa yang dilakukan si anak buah dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki iblis. Iblis pun merangkulnya.
(Al-Minhaj, 17/154-155)

Kata Al-Imam Al-Qadhi Iyadh rahimahullah, hadits ini menunjukkan besarnya perkara firaq (perpisahan suami dengan isterinya) dan talak, serta besarnya kemadhoratan dan fitnahnya.

Selain itu juga menunjukkan besarnya dosa orang yang berupaya memisahkan suami dari isterinya.

Karena dengan berbuat demikian berarti memutuskan hubungan yang Allah subhanahu wa ta'ala perintahkan untuk disambung, menceraiberaikan rahmah dan mawaddah yang Allah subhanahu wa ta'ala jadikan di dalamnya, serta merobohkan rumah yang dibangun dalam Islam. (Ikmalul Mu’lim bi Fawa’id Mus

lim, 8/349)

Iblis berikut bala tentaranya ini berusaha menghancurkan hubungan suami dengan isterinya.

Sementara suami dan isteri ini tentunya bernaung dalam sebuah rumah.

Nah, tentunya setan tidak akan tenang bila tidak boleh masuk ke rumah tersebut.

Bila syaitan telah berhasil mendiami sebuah rumah, nescaya ia akan menebarkan kerosakan di dalamnya, sehingga terjadilah perselisihan di antara anak-anak dan perpisahan antara suami dengan isterinya. Berubahlah mawaddah (kasih sayang) menjadi ‘adawah (permusuhan), rahmah menjadi azab.

Dengan penjelasan ini fahamlah kita kenapa kita harus membentengi rumah kita dari syaitan yang terkutuk.

Insyaallah bersambung.....

19.58 | 0 komentar

INDIKATOR KESEMBUHAN

Written By Rudianto on Jumat, 11 Januari 2019 | 13.09

Banyak orang mengira, bahwa jika sudah muntah. Atau jika sudah sadar dari kesurupan. Atau tidak ada lagi reaksi setelah diruqyah maka ia menyatakan dirinya sembuh. Saudaraku, mari simak artikel ini. Semoga ia jadi jalan hidayah dan turunnya taufiq kedalam ruangan Qolbu kita.

Setidaknya ada 5 hal dalam diri dan kehidupan kita, yang bisa kita analisa dan rasakan sendiri terkait status sembuh atau tidaknya. Kondisi fisik/biologis tubuh kita hanyalah salah-satunya saja.

1. Kondisi Qolbu.
- Takut dan bertambah iman.
Munculnya rasa takut yang menyelimuti isi hati, ketika melanggar aturan Allah. Biasanya lurus-lurus saja.
- Tenang, lapang, semangat, bahagia.
Turunnya ketenangan, kelapangan, kebahagiaan dan semangat yang menyeruak. Biasanya sepi dan gelisah, penuh gejolak dan penuh kemarahan serta kebencian.
- Lembut.
Al Quran hanya akan masuk dan menggetarkan qolbu yang lembut. Maka, melemahnya nafsu terhadap dunia adalah modal terlahirnya semangat taqwa. Dan itu dimulai dari kelembutan hati.
- Sabar dalam masalah.
Mulai berfikir ulang ketika akan marah. Lebih senang mengalah. Dan teringat dosa ketika kena musibah
- Fitrah.
Kembalinya qolbu kedalam fittahnya yang kuat dan sehat.

2. Rezeki
- Lancar Rezeki (Jasmani
& Ruhani).
Rezeki jasmani meliputi makanan, minuman, kendaraan, rumah, harta benda, anak, ayah ibu, istri, saudara, keluarga, pekerjaan, bisnis, keuangan dan semua nikmat yang nampak.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] sehat badannya,[2] aman pada keluarganya, dia [3]memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918)

Sedangkan rezeki ruhani adalah semua kemudahan dan kekuatan (taufiq) dalam beramal dan taat kepada Allah. Islam dan iman adalah rezeki ruhani terbesar bagi manusia.

- Mudah untuk tunduk dan ta’at, bersedekah dll.
Perubahan kondisi qolbu yang mudah/ringan untuk tunduk kepada Aturan dan hukum-hukum yang ditetapkan Allah.

Merasa ringan untuk bersedekah baik dalam keadaan sempit atau lapang. Tidak merasa rugi bahkan meyakini dengan pasti, bahwa setiap harta yang di infaqqan itu adalah sejatinya sedang dikirim ke akhirat. Tempat ia kembali.

- Qonaah/berkah (terasa cukup).
Merasa cukup dengan apa yang dimiliki hari ini, sederhana dalam rencana-rencana dunia. Dan mulai membangun masterplan untuk akhiratnya.

Memang ada sihir dalam bentuk blokade terhadap rezeki jasmani, dan disisi lain itu adalah ujian yg merupakan fitrah bagi manusia.

Allah Ta’ala berfirman;

‎وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit [1] ketakutan, [2] kelaparan, [4]kekurangan harta, [5] jiwa, dan buah-buahan“. (QS. Al-Baqarah: 155).

Sihir yang blokade rezeki misalnya, membuat seseorang sakit saat mau berangkat kerja ke kantor. Maka ketika sihir itu hancur, blokade lepas bisnis berjalan sebagaimana perhitungan.

Sihir yang blokade dari jodoh (sebagaimana disampaikan sebelumnya, istri/pasangan adalah bagian dari harta atau kenikmatan jasmani). Ketika blokade lepas, maka rasa waswas ketika akan masuk ke jenjang akad nikah hilang.

3. Ibadah.
Mudah dan khusyuk untuk taat.
Mudah saat bangun malam, bangun subuh, bersedekah dll.
Adanya kekhusyukan dalam beribadah dan menghamba kepada Allah. Nafsu yang tunduk dan terkendali, muncul semangat dan ringan dalam ibadah.

Tidak berat lagi, tidak malas dan tergesa. Bahkan ingin berlama-lama..

4. Kondisi Jasad.
- Ringan.
Berkurang atau bahkan Hilangnya ikatan yang selama ini membelenggu leher, belikat, jantung/dada atau bagian organ tubuh lain.

- Respon pada tubuh, sakit berkurang.
Berkurangnya rasa sakit, mulai aktifnya syaraf sensorik dan motorik yg mrnggerakkan tubuh. Atau berfungsinya kembali komunikasi jiwa - akal - fikiran - syaraf dan otot tubuh sesuai fitrahnya.

- Tubuh Kuat (tidak lemas), - Pandangan jelas.
Ada beberapa kondisi habis diruqyah itu lemas, lemah dan pusing. Jika kondisi itu terus menerus terjadi, hal ini menandakan pengaruh sihir yg belum sirna.

- Peredaran darah lancar.
Darah kembali sehat dan lancar sirkulasinya. Tidak ada sumbatan, penggumpalan ataupun kadar yg tidak normal.

- Pandangan jelas, dll
Hilangnya warna hitam pada kelopak mata, lelah, suram pada mata. Pandangan jelas dan tajam. Kadang yang memiliki mata minus atau silinder berkurang atau membaik lebih dari 50% bahkan sampai lepas kacamata.

5. Kondisi Kesehatan.
- Ada perubahan positif yang signifikan.

- Berkurangnya rasa sakit atau sakit berpindah atau hilang.
Seseorang yang sakit jantung, lalu diruqyah dan kemudian hilang sakit jantungya dan lalu pusing pada kepalanya. Maka, hal ini blm bisa dinyatakan sembuh. Namun, sudah ada perubahan yang perlu disyukuri dan ini menandai terjadinya keguncangan pada project syaitan dalam tubuh dirinya.

- Indikator kesembuhan penyakit lebih dari 60%.
Merasakan lebih baik lebih dari 51% dari semua kondisi sudah bisa dikatakan sembuh atau menuju kesembuhan.

Sejatinya, sakit pada permukaan tubuh yang nampak adalah alarm yang mengingatkan akal manusia tentang adanya kondisi kritis pada ruangan inti kehidupan yang disebut Qolbu.

Maka, mereka yang sehat akalnya tidak akan panik dan lalu sibuk dengan alarm yang bunyi dimana-mana. Namun ia mulai melihat, mrnganalisa, mempelajari, memetakan tanda-tanda yang ada untuk mengetahui sumber masalah dan melakukan pembetulan hingga alarm berhenti berbunyi.

Nafsu dalam diri kita menginginkan kesehatan tubuh untuk mengakomodir kebutuhannya agar hidup sampai waktu yang ditentukan, dan disisi lain, energi taqwa dalam diri kita mendorong tubuh untuk taat kepada Tuhannya untuk menjamin kehidupan yang kekal. Jika kebutuhan taqwa diabaikan maka nafsu menguasai akal, sehingga fitrah hati manusia yang kuat terkubur. Disana syaitan perlahan menguasai nafsu dan jasadlah korban utamanya.

Kehidupan ini kemudian dipenuhi kelelahan, keletihan dan kekecewaan. Penyesalan. Depresi. Bahkan gila dan ingin mengakhiri kehidupan sebelum takdir ajal tiba. Subhanallah

Apa yang harus dilakukan, saat Indikator kesembuhan belum mencapai 51% ?

Saudaraku, ujian Allah turunkan bukan untuk menghancurkan namun untuk menguji manusia agar ia menjadi manusia teruji. Menjadi hamba Allah seutuhnya. Seorang hamba akan terus diuji dengan berbagai musibah, kesedihan dan kesulitan hingga ia berjalan dimuka bumi ini tanpa dosa. Karena setiap musibah dan kesabaran didalamnya menggugurkan dosa manusia.

Ketika kita menyadari dosa dan kemaksiatan yang tak terhutung dimasa silam, maka selain bertaubat kita harus perbanyak amal untuk mempercepat berlalunya kesulitan.

Masalahnya, banyak muslima mengira bahwa shalat itu sudah cukup. Sebenarnya, ada 4 jenis ibadah yang harus kita lakukan secara utuh agar impactnya terasa secara signifikan dalam hidup kita.

Ibadah lisan, hati, fisik dan harta. Ibadah hati dengan niat-niat yang baik, ikhlas, sabar, istiqomah, tawadhu, khusyuk, memurnikan aqidah, mentauhidkan Allah dll.

Ibadah lisan, dengan tilawah, wirid sunnah, berkata baik atau menahan lisan dari keburukan, dakwah, nasihat atau bahkan menghibur saudara kita yang sedang sedih dll.

Ibadah fisik, berlelah-lelahan dalam ibadah. Bekerja untuk nafkah bagi laki-laki. Membantu suami bagi istri. Mengurus anak. Mendidik anak. Berjihad. Berwudhu. Tawaf. Sa’i. Rukuk. Sujud. Dan semua gerak untuk Allah.

Ibadah harta; sedekah, infaq, wakaf. Dll

Ini semua ibadah yang akan menguatkan hati, menjadikan dorongan kebaikan (taqwa) lebih dominan dalam qolbu kita. Dan, tentu. Balasan kebaikan adalah kebaikan. Semua amal itu akan tumbuh dan berbuah, dan menjadi tunas kebaikan kemudian.

Semoga Allah mudahkan hati kita untuk menyerah kepada-Nya yang merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan rahmat dan kesembuhan dari Allah sebagai pemilik kesembuhan. Asy Syafi..

Nai


13.09 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung