Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Menepis Pelemah Iman Dan Mengembalikan Kekuatannya

Written By Rudianto on Kamis, 18 November 2010 | 16.40

Fenomena lemahnya iman termasuk sesuatu yang menyebar dihati sebagian umat islam. Banyak orang yang mengadu karena kekerasan hatinya, Seperti :

- Saya merasa hati saya semakin keras (untuk menerima kebenaran).

- Saya merasakan iman dihati ini seperti didalam jurang.

- Mengapa saya durhaka sekali kepada Allah ?.

Ungkapan-ungkapan-tersebut diatas mengesankan adanya penyakit di dalam hati, yang merupakan sumber segala musibah.

Topik yang sangat sensitif dan sekaligus esensial. Al-Qalbu (hati) dinamakan Qalban karena proses perubahannya yang begitu cepat. Rasulullah bersabda:" Dinamakan hati (qolbu) karena perubahannya. Sungguh perubahan hati itu bulu yang menempel di pangkal pohon yang diubah oleh hembusan angin secara terbalik," (HR. Ahmad)

Namun hanya Allah-lah yang dapat mengubah dan menukar hati manusia sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

" Ya Allah yang membolak balikkan hati-hati manusia, Tetapkankah hati kami untuk senantiasa taat kepada-Mu".(HR. Muslim)

Bersambung....
16.40 | 0 komentar

THE WISDOM OF HAJJ

Written By Rudianto on Rabu, 17 November 2010 | 13.11


Dan serulah manusia untuk berhaji, niscaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikan untuk dimakan oleh orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Hajj: 27-28)

Mungkin agak terlambat bagi sebagian orang, diseru untuk berhaji pada saat-saat ini, sementara para jamaah haji telah menuntaskan ibadahnya. Semoga mereka kembali ke tanah air dengan derajat “haji mabrur”. Adapun bagi kita yang belum mampu, atau belum tergugah hatinya untuk niat berhaji, semoga dimampukan, digugah hatinya untuk memenuhi undangan sebagai tamu Allah di Al-Haramain Asy-Syarifain, boleh jadi tahun depan atau tahun-tahun mendatang sesuai kemampuan. Yang terpenting, marilah sama-sama kita pasang niat.

Tema kali ini diangkat untuk memotivasi kita memupuk niat yang kuat dalam rangka menunaikan haji. Bagi yang sudah haji, maka ini adalah pengingat bahwa haji bukan sekedar nostalgia yang indah, bukan sekedar kenangan manis. Nilai-nilai haji harus membekas dalam menjalani kehidupan pasca-haji. Inilah The Wisdom of Haji, kebijaksanaan dari ibadah haji.
Mari kita ibaratkan kehidupan ini sebagai sebuah film atau panggung sandiwara. Kita adalah para aktor atau pemeran dalam panggung kehidupan. Dan tentunya ada Sang Pengatur (pembuat skenario sekaligus Sang Sutradara). Allah SWT adalah Sang Pengatur seluruh kisah dalam panggung kehidupan ini. Maka sebagai aktor, jika ingin sukses, kita harus menjalankan peran kehidupan kita sesuai apa yang Allah inginkan, bukan menurut selera keinginan kita.
Ibadah haji adalah sebuah media pembelajaran, pengamatan dan observasi, agar kita semakin baik menjalankan peran dalam ‘film kehidupan’ kita masing-masing. Seseorang yang diberi kesempatan untuk menunaikan haji ibarat seorang aktor yang terpilih untuk bermain dalam ‘film haji’. Setelah pembuatan ‘film haji’ selesai, maka diharapkan sepulangnya dari tanah suci, peran itu terbawa dalam film yang lebih besar, yakni ‘film kehidupan’.
Misalnya, ada di antara kita yang berperan sebagai suami-istri yang sudah lama belum dikaruniai buah hati. Setelah karunia itu didapatkan, ternyata hanya sebentar saja karena Allah meminta kembali buah hati yang kita cintai itu. Pada saat seperti itu, Allah meminta kita agar menjalani peran SABAR (Al-Baqarah: 155-156). Maka jalanilah peran itu dengan baik, bukan malah menjalankan peran KECEWA atau MARAH. Jika hal itu yang terjadi, maka kita telah gagal berperan dalam ‘film kehidupan’ ini.
Jadi bagi yang terpilih untuk ikut bermain dalam ‘film haji’, maka berperanlah sebaik-baiknya sesuai yang diinginkan Allah SWT sehingga nantinya bisa menjalani peran dengan baik pula dalam ‘film kehidupan’. Ingatlah bahwa penghargaan dan bayaran kepada pemain ‘film haji’ ini sangat luar biasa: SURGA. Dan karena gajinya sangat tinggi, maka pekerjaan di dalamnya pun berat, yakni dengan mengorbankan harta dan jiwa.

Dalam ‘film haji’, ada lima lokasi syuting yang sangat penting, di mana kita harus ber-akting sesuai arahan. Lokasi syuting dan peran tersebut bisa juga kita maknai sebagai prinsip-prinsip untuk menjalani ‘film kehidupan’.

Miqat, akting yang dimainkan adalah “Niat dalam Segala Urusan”
Jika niat haji hanya hanya untuk pamer kepada sesama manusia, untuk rekreasi dll., maka hanya sebatas itulah yang akan didapat. Maka niatkanlah ibadah haji ikhlas untuk Allah. Sepulangnya ke tanah air, perbaiki niat kita dalam kehidupan. Pasanglah niat ikhlas dalam segala urusan, baik dalam bekerja, berumah tangga, beribadah maupun bermu’amalah.

Ka’bah, akting yang dimainkan adalah “Selalu Berorientasi Kepada Allah”
Yang memberi kita kesehatan, kekayaan, dll., adalah Allah. Perusahaan tempat kerja, dokter dan obat, hanyalah perantara. Semua terjadi dengan kehendak Allah. Maka segala aktifitas kita harus berfokus kepada Allah. Demikian juga dalam bekerja atau berbisnis, tidak cukup jika kita hanya berorientasi pada customer satisfaction (kepuasan pelanggan), tapi harus sampai pada God Satisfaction (keridhaan Tuhan).

Shafa dan Marwah, akting yang dimainkan adalah “Persistensi atau Kegigihan”
Saat Hajar dan bayi Ismail AS ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS di padang pasir Makkah, Hajar bersikap pasrah dan tenang karena sadar bahwa semua itu adalah perintah Allah. Ia yakin Allah SWT tak memerintahkan sesuatu untuk menyengsarakan dan membinasakan hamba-Nya. Saat bayi Ismail menangis karena kehausan, Hajar berupaya mencari air. Ia berupaya mencarinya di antara bukit Shafa dan Marwah, berulang-ulang sampai 7 kali. Akhirnya Allah memberi karunia berupa sumur Zam-zam. Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa:
· Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang hidup di jalan kebenaran
· Pertolongan Allah akan datang setelah seseorang melalui proses ikhtiar, tidak hanya berpangku tangan atau berdiam diri
· Jangan sampai kita berputus asa dalam menjalani ikhtiar. Segala cara (tentu saja yang tidak melanggar syari’at) harus ditempuh dan bila perlu diulang-ulang.

Arafah, lokasi inti dan paling penting, akting yang dimainkan adalah “Pengosongan”
Melakukan evaluasi total atas perjalanan di masa lalu
Merencanakan langkah untuk masa depan yang lebih baik

Jumrah, akting yang dimainkan adalah “Permusuhan Abadi”
Dalam akting ini, kita deklarasikan perjanjian untuk menjadikan syaithan sebagai musuh abadi. Maka saat kembali dari ‘film haji’, kita tetap mempertahankan permusuhan dengan syaithan, yang terwujud dalam pikiran dan tindakan. Janganlah katakan syaithan adalah musuh tapi kita mengikuti langkah-langkahnya ke neraka.

Semoga Allah menggugah hati kita, memberi hidayah dan kemampuan, melimpahkan hati kita dengan kebijaksanaan, sehingga kita menjadi manusia yang sukses berperan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini. Amiin.

Silahkan sahabat Download Audio Kajian Bedah Buku Wisdom of Hajj DISINI
13.11 | 0 komentar

Menangis Yang Bermanfaat

Written By Rudianto on Selasa, 16 November 2010 | 15.41


Kata ahli Hikmah,"Dunia ini dimulai dengan tangis, dicelahi oleh tangis dan
diakhiri dengan tangis."

Menangis adakalanya dituntut oleh syariat. Orang-orang yang mencintai Allah sepenuh hatiselalu menangis mengenangkan dosanya. Ada bermacam-macam tangisan orang-orang sholeh:

1. Menangis karena malu, seperti tangisan Nabi Adam as.
2. Menangis karena kesalahan, seperti tangisan Nabi Dawud as.
3. Menangis karena takut, seperti tangisan Nabi Yahya bin Zakaria.
4. Menangis karena kehilangan, seperti tangisan Nabi Ya’qub as.
5. Menangis karena Kharisma Ilahi, seperti tangisan seluruh para Nabi as, yaitu dalam firmanNya: “Ketika dibacakan ayat-ayat Sang Rahman kepada mereka, maka mereka bersujud dan menangis.” (Marsyam: 58)
6. Menangis karena rindu dan cinta, seperti tangisan Nabi Syu’aib as, ketika beliau menangis sampai matanya buta, kemudian Allah swt, mengembalikan menjadi sembuh, lalu beliau menangis lagi hingga buta kembali sampai tiga kali. Lalu Allah swt, memberikan wahyu kepadanya: “Wahai Syu’aib, bila tangisanmu karena engkau takut neraka, Aku sudah benar-benar mengamankan dirimu dari neraka. Dan jika tangismu karena syurga, Aku telah mewajibkan dirimu syurga.”

“Tidak Ya Tuhan, namun aku menangis karena rindu ingin memandangmu…” kata Nabi Syu’aib as. Kemudian Allah swt, menurunkan wahyu kepadanya,” Sungguh wahai Syu’aib! Sangat benar orang yang menghendakiKu, menangis dari dalam rindu kepadaKu. Untuk penyakit ini tidak ada obatnya, kecuali bertemu denganKu.”
Diriwayatkan bahwa Nabi saw, bersabda: “Bila seorang hamba menangis karena takut kepada Allah atas masalah ummat, sungguh Allah swt memberikan rahmat bagi ummat itu, karena tangisan hamba tadi.”

Rabi’ah ra, berkata, “Aku menangis selama sepuluh tahun karena merasa jauh dari Allah swt, dan sepuluh tahun lagi menangis karena bersama Allah swt, kemudian sepuluh tahun menangis karena menuju kepada Allah swt. Menangis karena bersama Allah, disebabkan sangat berharap padaNya. Sedangkan menangis jauh dari Allah swt, karena takut kepadaNya. Adapun menangis karena menuju Allah swt, karena sangat rindu kepadaNya.”
Salah satu Sufi berkata, “Aku masuk ke rumah rabi’ah al-Bashriyah, ketika itu ia sedang sujud. Lalu aku duduk di sisinya, hingga ia bangun mengangkat kepalanya. Kulihat ditempat sujudnya menggenang air matanya. Aku bersalam kepadanya, dan ia jawab salamku. Ia berkata, “Apa kebutuhanmu?” tanyanya.
“Aku ingin datang kepadamu..” kataku.

Lalu ia menangis, dan memalingkan wajahnya dariku. Ketika ia menangis, ia mengatakan, “Sejuknya matahatiku harus datang dariMu? Sungguh mengherankan orang yang mengenalMu, bagaimana ia bisa sibuk dengan selain DiriMu? Mengherankan sekali! Orang yang menghendakiMu, bagaimana ia menginginkan selain DiriMu?”

Mereka memaksa diri menangis apabila mengenang nasib diri di hari akhirat dan membayangkan huru-hara apabila menjelang kiamat.Dalam hal ini menangis adalah dituntut. Setitis airmata yang jatuh kerana takutkan Allah akan dapat memadamkan api neraka di hari akhirat kelak.

Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda bahawa air mata dari tangisan
pembuat dosa yang bertaubat adalah lebih disukai Allah dari tasbih para wali. Rasulullah s.a.w juga ada bersabda: "Kejahatan yang dibuat lalu menimbulkan rasa
sedih adalah lebih baik dari kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."Anas
r.a berkata: Pada suatu hari Rasulullah s.a.w berkhutbah, lalu baginda bersabda
dalam khutbahnya itu: "Andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku
ketahui, nescaya kamu akan sedikit ketawa dan banyak menangis." Anas
berkata: seketika itu para sahabat menutup muka masing-masing sambil menangis
teresak-esak.

Hari ini manusia terus menangis dan menangis, tetapi tangisan mereka amat jauh
bedanya dengan tangisan para Nabi, Rasul dan sahabat. Jika orang soleh zaman
dahulu menangis kerana mengenang nasibnya diakhirat tetapi orang hari ini
menangis kerana takut kehilangan dunia. Tangisan ini datangnya dari sifat tamak
dan tidak redha.

Kalau orang soleh takut berpisah dengan iman dan kecintaannya pada Allah, orang
hari ini takut berpisah dengan dosa dan maksiat. Jika para Nabi dan rasul serta
para sahabat takut menghadapi akhirat, orang hari ini seolah-olah berani dan
tidak takut menghadapinya. Tetapi bila orang soleh berani menghadapi gelombang
hidup duniawi, orang hari ini takut dan lemah hati dalam menghadapi kegagalan
dan kekecewaan dalam hidup.

Menangis dan menangislah tapi biarlah kena pada tempatnya yang dibolehkan oleh
agama. Apa akan jadi jika kita gagal diakhirat? Inilah sebenarnya kegagalan
yang total… Jadi kalau perkara ini yang kita tangiskan, memang kenalah pada
tempatnya. Abu Hummah(Shadujja) Bin Adilan Albahily r.a berkata: Bersabda
Rasulullah s.a.w:"Tiada suatu yang lebih disukai oleh Allah dari dua titis dan dua bekas. Titisan airmata kerana takut kepada Allah dan titisan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas adalah bekas dalam perjuangan fisabilillah dan bekas perjuangan kewajiban kepada Allah." (Riwayat
Attirmizi).
15.41 | 1 komentar

Wanita, Antara Karir dan Rumah Tangga



Bagaimana Islam memandang permasalahan ini, untuk lebih jelasnya silahkan sahabat mendownload materi kajian Islam yang disampaikan oleh KH. Drs. Miftah Farid KLIK DISINI

Di jaman teknologi informasi sekarang ini, sosok wanita karir yang sukses merupakan fenomena umum di kota-kota besar, sekalipun itu seorang ibu rumah tangga. Memang tidak sedikit wanita yang menjalani fungsi ganda, sebagai wanita karir maupun ibu rumah tangga. Bagi yang pandai menyiasati waktu, sukses di kedua bidang tersebut bukanlah hal yang mustahil. Namun bagi yang kewalahan membagi waktu, tak jarang harus mengalami salah satu kegagalan. Kondisi ini membuat wanita terpaksa harus memilih, rumah tangga atau karir.

Memang tidak mudah memainkan peran sebagai wanita karir atau wanita pekerja sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Karena kedua dunia itu memiliki tuntutan dan konsekuensi yang sama beratnya. Banyak perusahaan menilai bahwa pegawai wanita kerap kurang profesional setelah menikah dan punya anak. Misalnya sering datang terlambat ke kantor dengan alasan mengurus rumah, suami, dan anak. Secara fisikpun wanita yang kelelahan mengurus rumah tangganya jadi sering tampil ‘berantakan’, wajah kuyu dan jarang tersenyum. Perusahaan pun sulit menuntut lembur ataupun menugaskan ke luar kota pada pegawai wanita yang sudah menikah dan punya anak. Seandainya ditugaskan, tak jarang mereka menolak karena alasan rumah tangga.

Namun, sejauh ini banyak wanita yang mengimpikan kesuksesan di kedua bidang yang saling berseberangan itu, sukses dalam karir dan bahagia di rumah tangga. Wanita dengan ambisi tersebut akan berusaha keras untuk mencapainya. Memang sulit meraih keduanya, tapi bukan tidak mungkin anda sebagai wanita dapat meraihnya. Lalu bagaimana caranya?

Sebelumnya, pertanyakan pada diri anda sendiri, hingga ke lubuk hati yang paling dalam. “Apakah saya masih ingin melanjutkan karir yang selama ini saya idamkan, walaupun saya telah berumah tangga..?”. Kalau jawaban anda “ya” berarti anda harus bersikap konsisten dan memiliki komitmen pada pilihan yang sudah anda tetapkan. Sikap ini dapat anda tunjukkan dengan bertanggung jawab penuh terhadap tugas-tugas yang dipercayakan perusahaan kepada anda tanpa melalaikan urusan rumah tangga. Dengan rasa tanggung jawab, anda tidak akan pernah merasa terbebani dengan tugas di kantor dan rumah. Jadikan bahwa pekerjaan adalah bagian dari rutinitas hidup anda. Sehingga anda akan mudah menikmati kedua peran, sebagai wanita rumah tangga dan wanita karir.

Hal penting yang harus anda lakukan adalah pengorganisasian dan pengaturan waktu seefisien mungkin. Dengan adanya dua peran yang harus dimainkan, anda perlu membuat ‘aturan main’ hingga kedua peran tersebut bisa dilakonkan sama baiknya. Belajarlah untuk membuat perencanaan yang terjadwal pada dua kegiatan yang berbeda, yaitu kegiatan rumah tangga dan kegiatan kantor. Tentunya anda harus mendelegasikan kegiatan di rumah pada orang lain, misalnya pada pembantu rumah tangga atau pada orang yang anda percaya mengurus rumah dan anak-anak anda. Untuk mengontrolnya, anda tetap bisa memantaunya dari kantor. Misalnya dengan meneleponnya setiap hari untuk menanyakan kondisi anak-anak dan rumah anda. Sehingga jika anda yakin situasi rumah aman terkendali, anda bisa lebih konsentransi dalam menyelesaikan tugas-tugas di kantor.

Jika perusahaan mengharuskan anda lembur atau tugas keluar kota, kalau tidak ada hal-hal yang lebih penting sebisa mungkin jangan menolaknya. Jelaskan pada suami, anak-anak dan pembantu rumah tangga tentang pekerjaan tambahan anda. Sampaikan pernyataan maaf anda karena waktu anda di rumah menjadi berkurang akibat pekerjaan tersebut. Jika harus keluar kota, selesaikan urusan rumah terlebih dulu. Pastikan semua kebutuhan rumah tangga telah terpenuhi. Dari luar kota jangan lupa untuk menghubungi orang-orang rumah dan kabarkan bahwa keadaan anda baik-baik saja. Dengan demikian selain suami dan anak-anak merasa lega karena anda dalam keadaan aman, anda pun merasa nyaman karena mengetahui kondisi mereka yang juga baik-baik saja.

Jangan pernah beranggapan bahwa wanita yang sudah menikah dan punya anak akan menurun produktifitas dan kinerjanya. Berusahalah untuk tetap produktif dengan tidak mendelegasikan tugas kantor pada rekan anda. Selesaikan semua pekerjaan hingga tuntas. Caranya adalah dengan membuat skala prioritas pekerjaan dan tidak menunda-nunda pekerjaan. Kerjakan tugas yang paling penting terlebih dulu, kemudian menyusul yang lain. Dengan skala prioritas, anda tidak akan pusing walaupun pekerjaan menumpuk di meja anda.

Anggapan yang juga perlu dijauhi adalah anggapan bahwa setelah berumah tangga, wanita akan terhenti karirnya. Biasanya orang menganggap wanita yang sudah menikah tidak bisa mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerjaan. Buktikan kalau anda bisa merubah anggapan tersebut. Lebih bagus lagi jika anda tetap menumbuhkan minat untuk terus berkembang. Di samping itu, semangat kompetisi juga perlu dikembangkan. Diantaranya dengan banyak membaca dan mencari informasi yang berkaitan dengan bidang pekerjaan anda. Sehingga anda dapat melakukan pembaruan dan penyegaran ilmu serta wawasan, walaupun anda sudah berstatus ibu rumah tangga.

Manfaatkan waktu libur anda seefektif mungkin bersama keluarga. Tanggalkan urusan kantor jika anda tengah berkumpul bersama keluarga tercinta. Anda dapat melampiaskan kerinduan bersama keluarga dengan rekreasi, jalan-jalan atau hanya berkumpul di rumah. Jadikan waktu libur untuk ‘sharing’ dengan suami dan anak-anak. Sehingga ketika anda kembali bekerja, anda dapat lebih bersemangat. Satu hal lagi yang harus anda perhatikan, jangan tampil ‘lecek’ atau ‘kucel’, meskipun anda lelah mengurus rumah tangga. Tampilkan citra profesional setiap kali anda berangkat ke kantor dengan mengenakan busana yang sesuai dan menampilkan wajah yang segar serta percaya diri. Sehingga anggapan bahwa ibu rumah tangga tidak bisa tampil profesional di kantor, tidak berlaku untuk anda.

Dengan mencoba melakukan hal-hal di atas, diharapkan dapat membantu wanita untuk memainkan dua peran sekaligus, ibu rumah tangga dan wanita karir. Selebihnya gunakan ‘kecerdasan’ anda untuk menyelesaikan setiap masalah yang anda hadapi. Selamat menjadi wanita yang sukses di rumah dan kantor…!
02.08 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung