Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Film Umar Mukhtar "Sang Singa Padang Pasir" versi Arabic

Written By Rudianto on Jumat, 31 Agustus 2012 | 14.03

Sebuah  film yang bercerita tentang seorang pahlwan Libya, Omar Mukhtar. Keberanian dan kemampuannya berperang, membuatnya dijuluki sebagai Singa Padang Pasir.

Tahun 1911 di bawah pimpinan Benito Mussolini, Italia meluaskan daerah jajahannya sampai ke Libya. Mulai tahun 1929, terjadi perlawanan sengit di Libya, dipimpin seorang mantan guru, Omar Mukhtar. Karena jenderal terdahulu tidak sanggup menghentikan perlawanan Omar Mukhtar, akhirnya dikirimlah Jenderal Rodofo Graziani untuk diangkat sebagai gubernur jenderal di Libya dengan tugas utamanya menumpas pemberontakan Omar Mukhtar.

Dalam pesta penyambutan kedatangan Jenderal Rodofo Graziani ke Libya, dia langsung mendekati mantan teman Omar Mukhtar, Sharif El Gariani, agar bisa mengetahui jalan pikirannya. Selain itu, tentara Italia juga mendatangi perumahan warga untuk mengetahui persembunyian Omar Mukhtar, mengumpulkan bahan makanan, dan membakarnya. Bukan itu saja, lelaki yang berusaha melawan, langsung ditembak. Keluarganya yang menangisi, yang gadis, diculik. Ismail yang ayahnya ditembak dan adiknya diculik akhirnya bergabung dengan pasukan Omar Mukhtar, meski ibunya Mabrouka, keberatan.

Omar Mukhtar sangat mengusai medan tempur yang berupa gurun pasir. Suatu ketika, dia berhasil menjebak sepasukan Italia di tengah gurun, dan menembak mereka. Namun salah satu tentara, Letnan Sandrini, dilepaskan untuk mengembalikan bendera Italia ke markas mereka. Dia malah disambut sebagai pahlawan karena dianggap berhasil menyelamatkan lambang Negara. Padahal Omar Mukhtarlah yang melepaskannya.
Lagi-lagi Tentara Italia menggunakan warga untuk membalas kekalahan mereka. Membunuh para lelaki yang tersisa. Membakar rumah warga, sehingga para wanita, anak-anak, dan orangtua terpaksa mengungsi. Mereka kemudian bertemu pasukan Omar Mukhtar. Tapi rupanya pengungsian warga dibuntuti tentara Italia. Mereka diserang tiba-tiba. Omar Mukhtar hampir tertangkap, tapi Ismail memberikan kudanya, sehingga dia yang tertangkap. Graziani menginterogasinya untuk mendapatkan informasi tentang persembunyian Omar Mukhtar.

Berbagai cara dilakukan Graziani untuk menangkap Omar Mukhtar. Menggunakan perundingan untuk mengulur waktu, sementara menunggu bantuan tambahan pasukan dan persenjataan. Omar Mukhtar setuju untuk berunding, mengingat Ismail yang ditawan. Dia mengajukan banyak persyaratan, di antaranya, menginginkan kebebasan bagi rakyat Libya untuk mendapat pendidikan, serta meminta pemerintah Italia mengembalikan tanah yang mereka rampas, juga menginginkan Graziani dikembalikan ke negaranya. Sementara pihak Italia mengajukan syarat, Omar Mukhtar menyerah dan mengaku salah, namun akan mendapat perlindungan dan jaminan hidup. Tentu saja, syarat ini ditolak. Lagipula, dia tahu siasat ini digunakan Italia hanya untuk mengulur waktu.

Pemerintah Italia juga pernah mengepung wilayah yang diduduki pasukan Omar Mukhtar, sehingga kekurangan bahan makanan dan peluru. Namun, warga diam-diam membantu mereka dengan menyelundupkan bahan makanan melintasi kawat berduri. Aksi ini diketahui tentara. Mereka yang ketahuan menyelundupkan makanan ditangkap dan dihukum gantung di depan warga lainnya. Termasuk salah satunya, seorang janda pejuang, ibu Malik yang masih berumur 7 tahun. Letnan Sandrini yang diperintahkan menggantung, menolak untuk membunuh wanita. Dia dikenakan hukuman disiplin.
Meski melakukan berbagai cara, Omar Mukhtar dan pasukannya tetap bisa melakukan perlawanan. Pemerintah Italia banyak kehilangan tentara dan kerugian besar. Taktik dan strategi perang yang diterapkan Omar Mukhtar, terbukti beberapa kali berhasil mengecoh mereka. Namun setelah perjuangan panjang puluhan tahun, Omar Mukhtar berhasil juga ditangkap. Lagi-lagi Letnan Sandrini yang berkesempatan untuk menangkap, bahkan menembak Omar Mukhtar, namun tidak dilakukannya. Dia terlanjur bersimpati dan hormat kepada pemimpin perjuangan rakyat Libya ini. Tapi tentara lain cepat menggantikannya menangkap Omar.

Omar Mukhtar dipertemukan dengan Jenderal Graziani. Dia masih berusaha dibujuk untuk mengaku menyerah. Omar Mukhtar memilih dihukum mati. Tanggal 16 September 1931, Omar Mukhtar dihukum gantung di depan rakyat Libya. Namun keberaniannya memperjuangkan kemerdekaan bangsa Libya terus dikenang sebagai Lion of Desert atau singa padang pasir.

Sutradara : Moustapha Akkad
Penulis : David Butler
Pemain : Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar, Oliver Reed sebagai Jenderal Rodofo Graziani, Irene Papas sebagai Mabrouka, Raf Vallone sebagai Kolonel Diodiece, Rod Steiger sebagai Benito Mussolini, John Gielgud sebagai Sharif El Gariani, Andrew Keir sebagai Salem, Gastone Moschin sebagai Mayor Tomelli, Stefano Patrizi sebagai Letnan Sandrini

Bahasa Arab Subtitle Indonesia
14.03 | 1 komentar

"OMAR" Film Kepahlawanan Pemuda

Written By Rudianto on Kamis, 30 Agustus 2012 | 08.40

Setiap umat berbangga dengan sejarah masa lalunya untuk menginspirasi masa depannya. Mereka mengumpulkan manuskrip para pahlawannya, hingga detail-detailnya untuk kemudian mereka presentasikan ke generasi mudanya. Oleh karena itu lihatlah di Paris, museum para pahlawan mereka berderet di setiap pojok kota. Setiap kisah kepahlawanan itu diintegrasikan ke dalam semua proses pembelajaran generasi muda mereka. Dengan semua sarana yang mungkin.

Bahkan bagi umat yang tidak mempunyai sejarah panjang seperti Amerika. Mereka baru berumur tiga abad. Tidak banyak yang bisa mereka banggakan untuk rakyatnya, tapi mereka memahami arti penting sejarah yang membangkitkan energi positif. Maka mereka buat seadanya dari tokoh manapun yang tersisa, hingga berdiri salah satu museum, yaitu museum ‘Pirate’. Bayangkan, segerombol perampok lautan mereka pajang karena tidak banyak yang bisa mereka pajang.

Siapa yang tidak kenal kejayaan masa lalunya maka ia tidak ada kegemilangannya masa depan yang menantinya. Ini dipahami benar bagi umat-umat yang sadar kaidah-kaidah revolusi sosial. Maka di abad ini layar kotak di ruang-ruang tamu kita dibanjiri film-film yang menggambarkan keagungan pahlawan-pahlawan Barat.

Kejayaan Roma dikembalikan dengan visualisasi yang begitu detail dan memukau dalam serial seperti Rome, Los Borgias. Caesar menjadi inspirasi para politisi pengagung republik, William Wallace menjadi simbol sebuah perlawanan Skotlandia melawan penjajahan Inggris. Henry VIII yang kejam itu dipoles sehalus mungkin di 4 season serial Tudors-nya yang menjadi inspirasi restorasi keagamaan Eropa. Dan Raja Arthur yang gemar perempuan itu menjadi begitu bijak dalam film-film baik Excalibur, King Arthur, ataupun serial Camelot. Ia disimbolkan menjadi tokoh pengembali kejayaan Eropa dari kepingan reruntuhan kerajaan-kerajaan Roma.

Film Alexander, Spartacus, 300, menjadi wakil kegemilangan bangsa Yunani yang pernah menguasai dunia. Atau seperti juga Joan of Arc yang menjadi wanita pahlawan Kristen Perancis; Napoleon yang kuda-kudanya pernah menginjak-injak kehormatan Al-Azhar Mesir tidak hanya digandrungi orang Perancis, tapi oleh umat Islam juga karena kuatnya efek sugesti kepahlawanan yang disebar, belum lagi kisah heroik Louis IV, raja teragung mereka, dan para pemikir-penulisnya seperti Camus, Victor Hugo, Sade, Voltaire dan Rosseau.

Umat Timur pun tidak lupa membakar obsesi dan meluaskan cakupan mimpi generasi mudanya dengan film. Attila adalah tokoh kebanggaan ras Turki, seperti juga Jengis Khan. Kisah para kesatria Samurai dalam film-film Jepang benar-benar menjaga kemurnian tradisi asli mereka yang berkhidmah hanya untuk kaisar. Ada Ghandi, Mao Tse Tung, Bruce Lee, bahkan film G-30S PKI adalah usaha-usaha untuk menyebar nilai-nilai tertentu bagi generasi baru. Karena bahasa tulisan tidak memasuki hati seperti bahasa gerakan. Semua pesan itu masuk sebenar masuk ke dalam pikiran dan hati, salah atau pun benar.

Apalagi Amerika, film-film yang mereka produksi itu walau fiksi bukan tanpa bekas bagi jiwa. Jika tanpa sadar anak-anak kecil kita melakukan gerakan refleks, meniru gerakan beberapa tokoh seperti Spiderman dan Rambo. Itu bukan kebetulan. Atau ketika para pemuda yang kepalanya tertunduk saat berbicara persaingan dengan Amerika itupun bukan kebetulan. Karena setiap saat mata kita mengkonsumsi semua ‘kegemilangan’ budaya mereka.

Mental manusia itu bisa melambung tumbuh saat merasakan kebesaran sejarah bangsa sendiri ataupun menciut kecut saat melihat ketiadaan sejarah dan justru melihat keagungan umat lain. Itulah yang terjadi saat kecanggihan militer dan teknologi Amerika kita saksikan di film-film seperti Hulk dan Iron Man, atau keberanian mereka di film Saving Private Ryan, The Patriot, dan serial Band of Brother.
Sedangkan film yang diputar di masyarakat muslim sejak tahun 1977 hanyalah The Message atau ar-Risâlah. Sekali-kali ditambah dengan film Umar Mukhtar, atau film serial berkualitas rendah, baik dari akting, latar, desain pakaian dan skenario. Terlebih jika ia film Islam, tidak memperhatikan validitas data sejarah, bahkan tidak memberi inspirasi malah menciptakan fitnah seperti serial Hasan dan Husein atau film serial al-Jama’ah yang mendistorsi sejarah kelahiran Ikhwanul Muslimîn dan biografi Hasan al-Banna.
Di tengah kegersangan ini, saat generasi muda muslim pasca revolusi 2011 membutuhkan inspirasi pemimpin datanglah serial film tentang salah satu manusia teragung sepanjang sejarah umat manusia: Umar bin Khattab.
Ia bukanlah film asalan dan berformalitas ‘Islam’. Tapi ia adalah proyek besar yang Insya Allah diberkahi. Hâtim ‘Ali Sang Produser dari Syria ini tidak tanggung-tanggung dalam membuatnya. Ia carikan penulis skenario se-kaliber Dr. Walîd Saif yang telah menulis naskah-naskah besar seperti ‘Az-Zair as-Sâlim, al-Khansâ, as-Syajaratud Dur, Salahuddîn al-Ayyûbi, Rabi’ Cordoba dan banyak lagi. Tidak hanya itu, semua skenario serial Umar ini telah diteliti validitas sejarah hingga ke detail-detailnya oleh sebuah tim yang terdiri dari ulama-ulama besar seperti: Dr. Yûsuf al-Qaradhâwi, Dr. Salmân al-‘Audah, Dr. ‘Abdul Wahhâb at-Tharîri, Dr. ‘Ali as-Shallâbi, Dr. Sa’ad al-‘Atîbi, Dr. Akram Dhiyâul ‘Umari.

Sepanjang sejarah sinema Arab, belum pernah diproduksi film sebesar ini. Tempat shooting diambil di berbagai lokasi dari Maroko hingga Syria. Dengan 322 pemeran dari 5 benua berbeda. Film Umar berhasil membangun ulang suasana kota Mekah dan Madinah abad ke-7 dengan 29 bangunan internal untuk shooting dan 89 bangunan eksternal. Yang didesain di pinggiran kota Marakech di Maroko. Ditambah lagi desain Ka’bah yang persis aslinya di zaman itu sebesar 12.000 meter persegi.

Kerja terberat adalah visualisasi perang. Ia membutuhkan 170 hari untuk perang saja. Dan untuk keseluruhan momen besar itu membutuhkan 20.000 pemeran ekstra dalam perang.  Tidak hanya dalam perang tapi juga dalam momen-momen eksternal seperti Thawaf di Ka’bah atau Fathu Mekah.

Film produksi MBC ini menyiapkan 1.970 pedang, 650 tongkat, 1.050 perisai, 400 busur dan 4.000 anak panahnya, 170 baju besi untuk perang yang disebut dira’, 15 gendang, 1.600 tembikar, 7.550 sandal, 137 patung, 14.200 meter kain, 39 ahli desain dan penjahit, 100.000 koin, 1.500 kuda dan 3.800 unta.
Kerja yang sungguh besar, saat ditanya alasan usaha ini, mereka menjawab, tokoh sebesar Umar tidak layak dipresentasikan kecuali dalam karya yang besar pula. Sehingga 299 designer dari 10 negara pun secara khusus didatangkan.

Film Umar yang menghabiskan 322 hari ini terus melejit menuju dunia internasional, dimulai dari timur tengah, kemudian menuju Turki dengan bekerja sama dengan TV terbesar mereka yaitu ATV Turkuvaz Media Group. Dan di Indonesia bekerja sama dengan MNC TV. Hingga saat ini penonton film ini sekitar 700 juta, atau setengah populasi umat Islam. Dan ia akan terus menyebar dengan terjemahan-terjemahan ke bahasa asing lain. Sekaligus ini menjadikannya film yang paling banyak disaksikan dalam sejarah perfilman Arab.
Sepanjang perjalanan tayang di bulan Ramadhan 2012 lalu, film Umar bukan tanpa tentangan dan makian. Beberapa ulama yang melihat bahwa visualisasi sahabat haram menyebarkan terus fatwa-fatwanya di berbagai media, menyeru untuk memboikot film ini.

Namun Dr. Salmân ‘Audah yang mempunyai pendapat lain tidak melihat pertentangan ini sebagai sesuatu yang esensial.  Karena urusan ini tidak ada aturan dan larangannya dalam Qur’an maupun Sunnah. Ia hanya berada di domain perbedaan pendapat ulama soal setuju dan tidak setuju, bukan halal-haram. Tiap ulama berpikir dan berijtihad sesuai sudut pandang yang diyakini benarnya, bukan mutlak. Maka ia sangat mungkin berbeda pendapat. Dalam Islam, perbedaan pendapat dalam masalah seperti ini tidak berlaku hukum halal-haram, tapi yang tepat dan tidak tepat. Allah mengganjar yang tidak tepat dengan satu pahala karena usaha berpikirnya itu, sedang yang tepat dengan dua pahala karena usaha dan ketepatannya. Maka alangkah sayangnya jika ulama-ulama umat ini malah semakin memecah umat dengan fatwa-fatwa kerasnya itu.
Karena perfilman sekarang ini “sedang berada di medan sengit, jika Anda tidak mengisinya, maka pasti orang lain yang akan mengambil alih, apalagi dasar semua persoalan ini adalah ‘boleh’” kata Dr. Salmân. “Fatwa-fatwa itu tidak juga menghentikan orang-orang dari waktu luangnya yang panjang untuk menonton tayangan-tayangan yang tidak layak, tapi justru fatwa-fatwa itu menghadang niat tulus orang-orang yang berjuang memberi alternatif tayangan untuk masyarakat” lanjutnya.

Yang diperlukan hanyalah pengawasan ketat terhadap film sahabat. Oleh karena itu tim pengawas yang terdiri dari 6 ulama besar ini memberikan syarat-syarat yang sangat berat bukan hanya pada skenario, tapi juga pada para pemainnya. Untuk pemeran Umar misalnya, selain sifat-sifat fisik yang mendekati Umar, ia harus pemain baru, yang tidak mempunyai reputasi perfilman sebelumnya, dan ia harus bersedia tidak menerima tawaran apapun selama 5 tahun terhitung sejak mulai kontrak film Umar.

Pilihan itu jatuh pada Sâmir Ismâ’îl, seorang mahasiswa Syria yang tidak pernah mempunyai pengalaman film sebelumnya. Lelaki muslim bertubuh tinggi bersuara besar yang cocok memerankan Umar ini bahkan mengatakan “setelah peran ini, saya akan sangat selektif memilih peran, dan menjadi tanggung jawab saya untuk menampilkan sosok seniman dan aktor yang baik, dan jauh dari semua yang bisa menodai pribadi Umar yang agung”.

Film Umar ini benar-benar sebuah inspirasi pasca revolusi. Saat panggung kepemimpinan negeri-negeri muslim kosong ia hadir memberi paket teladan kepemimpinan yang adil, bijaksana, toleran, dengan bobot kepahlawanan yang memanaskan adrenalin para pemuda untuk mengikuti jejak langkahnya.
Juga, ia berhasil meluruskan sekian banyak persepsi yang salah di literatur-literatur sejarah palsu sahabat yang bertebaran di pustaka umat. Seperti pertengkaran Umar dan Ali karena Ali telat membaiat Abu Bakar, atau ambisi tamak pembesar Anshar untuk kepemimpinan pasca wafat Rasulullah sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Abu Bakar karya Muhammad Husein Haikal. Semua itu tidak benar jika dirunut di buku-buku sejarah sahabat yang valid seperti Abu Bakar karya Dr. ‘Ali Muhammad as-Shallâbi. Semua diskusi dan perselisihan pendapat antar para sahabat berlangsung dengan sangat santun dan penuh ukhuwah. Dan film ini mengklarifikasi pikiran jutaan umat Islam yang tidak sempat membaca detail dan tebalnya buku-buku biografi sahabat Rasul.

Film ini memberi konteks yang benar, adil, proporsional tentang makna syûra, zuhd, qadâ dan qadar, keberanian, tujuan jihad, makna rahmatan lil ‘alamin, universalisme Islam dan banyak lagi nilai Islam yang dipresentasikan sepanjang 31 seri ini.

Dan yang terutama, film ini memberi umat Islam sebuah model kepahlawanan, bahwa kisah manusia agung seperti Umar itu bukan mitos tapi pernah ada. Lalu divisualisasi hingga nyata terasa di darah dan daging penonton. Ia menjadi model keadilan bagi umat manusia, yang di film itu tersublimasi dalam kegagapan duta resmi Kaisar Romawi dengan mata terbelalak saat menemui Umar yang sedang tidur di bawah pohon, tanpa singgasana, tanpa mahkota, tanpa pengawal istana, hanya beralas kerikil Madinah. “Semua perkataan orang-orang tentangmu sudah cukup membuatku bingung… dan sekarang keheranan itu telah berubah menjadi keyakinan, kali ini aku tidak berkata dari lidah orang lain kecuali lidahku sendiri”. Dengan tergagap ia berkata “Anta Yâ ‘Umar, ‘Adalta, Fa Aminta, Fa Nimta” [Anda wahai Umar, kau semai keadilan, maka kau merasa aman, maka kau tidur tenang].

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22495/umar-film-kepahlawanan-pemuda/#ixzz24zP2nbUq
08.40 | 0 komentar

Antara Debat Terpuji dan Tercela

Siapa saja yang mentadabburi ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah serta atsar para Salaf tentu akan mendapati anjuran beradu argumentasi dan berdebat. Di antaranya adalah firman Allah SWT, "Serulah
(manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik." (Qs. An-Nahl:125).

Dan firman Allah SWT, "Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik," (Qs. Al-Ankabuut: 46). Ayat-ayat dalam Kitabullah tidaklah bertentangan satu sama lainnya, bahkan saling membenarkan. Jidal dan debat yang dicela dalam Al-Qur'an tidak sama dengan jidal dan debat yang dianjurkan.

Adapun jidal yang tercela disebutkan dalam firman Allah SWT, "(Yaitu) orang orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang beriman." (Qs. Ghaafir: 35).

Jidal yang tercela adalah jidal tanpa hujjah, jidal dalam membela kebathilan dan berdebat tentang Al-Qur'an untuk mencari-cari fitnah dan takwil bathil.

Adapun jidal yang terpuji adalah nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para imam dan segenap kaum Muslimin. Nabi Nuh As sering beradu argumentasi dengan kaumnya hingga beliau menegakkan hujjah atas mereka dan menjelaskan kepada mereka jalan yang benar. Allah SWT berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami," (Qs. Huud: 32).

Demikianlah sunnah Rasulullah saw. dan sirah (sejarah hidup) generasi Salaf terdahulu r.a. Jidal yang terpuji tujuannya adalah membela kebenaran dan untuk mencari kebenaran, untuk menampakkan kebathilan dan menjelaskan kerusakannya. Adapun jidal yang tercela adalah sikap menentang dan bersitegang urat leher
dalam adu argumentasi untuk membela kebathilan dan menolak kebenaran.

Ibnu Hibban berkata (IV/326), "Jika seseorang berdebat tentang Al-Qur'an, maka apabila Allah tidak melindunginya ia akan terseret kepada keraguan dalam mengimani ayat-ayat mutasyabihat. Jika sudah disusupi keraguan, maka ia akan menolaknya. Rasulullah saw menyebutnya sebagai kekufuran yang
merupakan salah satu bentuk penolakan yang berpangkal dari perdebatan."

Seorang Muslim mengimani seluruh ayat-ayat Al-Qur'an, yang muhkam maupun yang mutasyaabih. Jika ia tidak mengetahui, hendaklah bertanya kepada ahli ilmu atau menyerahkan masalah kepada orang yang mengetahuinya. Ia tidak bertanya kepada orang yang tidak mengetahuinya.Perselisihan tentang Al-Qur'an dapat menyeret kepada sikap mempertentangkan satu ayat dengan ayat lainnya. Kemudian dari situ akan muncul sikap melepaskan diri dari hukum-hukumnya dan mengubah hukum halal haramnya. Kemudian akan berlakulah sunnatullah pada ummat terdahulu atas orang-orang yang saling berselisih itu, yakni kebinasaan dan kehancuran.
07.55 | 0 komentar

Everlasting Ramadan


tulisan ini dibuat semata-mata untuk pengingat diri. rangkuman dari beberapa kajian Sh. Yasir Qadhi, Sh. Abdul Nasir Jangda, Ust. Nouman Ali Khan, Sh. Omar Suleiman, dan Ustadzah Yasmin Mogahed. semoga menjadi tadzkirah (pengingat) bagi kita semua :)


"Make your whole life like Ramadan, and Death will greet you like Eid" -Young Muslims


Banyak yang berucap "Subhanallah ngga kerasa Ramadan sudah selesai, ngga kerasa sudah Idul Fitri aja".
Dan nanti pun di akhirat semua akan berucap yang sama tentang hidup ini "Ya Allah, serasa saya hidup baru sehari atau setengah hari tiba-tiba sudah hari kebangkitan". Ramadan telah pergi, tidak tau kita kan jumpa lagi atau tidak. Tapi kita tentunya memohon pada Allah agar umur kita sampai pada Ramadan tahun depan dengan persiapan terbaik dan 11 bulan kedepan menjadi bulan-bulan yang barokah.

Ada dua macam golongan yang sedih ketika Ramadan pergi. Golongan yang pertama adalah mereka yang sangat teramat menikmati Ramadan, merasakan indah-manisnya bulan Al-Quran, dan golongan yang kedua adalah mereka yang merasa tidak maksimal beribadah di bulan Ramadan, merasa tidak mendapatkan apa-apa dari Ramadan. Sama-sama sedih tapi nilainya berbeda.

Golongan manakah kita?

Yang manapun golongan kita, ada hal yang tidak boleh dilupa. Bahwa baik di bulan Ramadan ataupun Syawal sekarang ini, kita menyembah Tuhan yang sama: Allahu Al-Kariim. Ya, kita tentunya tidak menyembah Ramadan, maka di luar Ramadan pun stamina ibadah kita pun (seharusnya) sama. Namun, inilah berkahnya Ramadan: betapa Allah mudahkan kita beribadah di bulan suci tersebut. Baca Quran dan Qiyamul Lail terasa lebih ringan dan nikmat, terlebih lagi di 10 hari terakhir i'tikaf. Tiada banding sejuknya saat-saat itu. Bahkan kalo boleh request, kita ingin malaikat Izrail menjemput kita di kala itu. Maka memang diakui oleh para ulama bahwa Ramadan adalah saat-saat mewah dalam ibadah, begitu mudahnya kita mengekang kemalasan. Di luar bulan itu? Adalah wajar ketika ibadah kita tidak sebaik di bulan Ramadan. Syaitan sudah dapat free-access untuk menggoda kita. Perjuangan kita lebih berat. Maka kita harus kuatkan lagi niat dan motivasi kita, dan berdoa lebih kencang lagi. Ramadan selesai bukan berarti Allah mengurangi Kasih Sayang-nya. Ampunan Allah tidak terbatas, meluas, tak terbayangkan!

Terus gimana dong?
Entah, setiap saya denger kajian pasti ustadz/syaikh-nya menyebut hadits ini :

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’(HR Muslim)
Ini reminder keras bagi saya (terutama), karena atas kehendak-Nya sering banget dapet nasihat ini, SubhanaLlah. Ketika Ramadan pergi, ambillah beberapa kebiasaan baik (jika tidak mampu semuanya) di bulan Ramadan yang bisa kita teruskan di Syawal (dan bulan selanjutnya). Lakukan walau kecil dan istiqomahlah! Misal, yang tadinya tidak shalat tepat waktu, maka bawalah kebiasaan itu setelah Ramadan terutama Shubuh. Yang suka tidur ba'da Shubuh, please please please hilangkan kebiasaan ini, sungguh barokah pagi itu tak tergantikan. Yang sebelum Ramadan tidak terbiasa baca Quran, dan di bulan Ramadan mampu khatam sekali, maka setelah Ramadan bawalah kebiasaan itu walau hanya 10 menit per hari. Yang udah suka baca Quran, mulailah mempelajari tafsirnya (sekalian promosi podcast Bayyinah, kajian tafsir oke punya, bisa download disini http://bayyinah.com/podcast/category/juz_amma/) sembari menghafal beberapa surat pilihan. Yang tadinya hobi nonton film 3 kali sehari, setelah Ramadan kurangilah dan perbanyak baca Al-Quran. Yang tadinya pacaran, di bulan Ramadan off, maka lanjutkan off-nya atau nikah aja sekalian di bulan Syawwal. Please, kita lebih suka hubungan yang dicintai Allah kan? Ingat, kerja utama syaitan itu adalah senantiasa membuat manusia memandang indah setiap dosa/kelalaian/maksiat :)  Jangan sampai kita berada di titik yang sama ketika setelah dan sebelum Ramadan. Ibarat kita melompat, meninggi, kemudian jatuh lagi di titik semula. Sungguh menyedihkan kalau kita bisa tarawih setiap hari di bulan Ramadan 8 rakaat, namun 11 bulan kedepannya kita tidak qiyamul lail/tahajud/witir walau hanya 2-3 rakaat.
Adakah kini bekas Ramadan di hati kita? Tunjukkan pada Allah, bahwa kita sedang berusaha menuju derajat taqwa.

Bagaimana kalau kita termasuk golongan yang menyesal karena tidak maksimal di bulan Ramadan?
Sekali lagi, Allah yang kita sembah di Bulan Ramadan, sama Maha Pengampun dan Penyayang-nya di luar bulan Ramadan. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Dan jangan batasi Kasih Sayang Allah hanya di bulan Ramadan. Pintu taubat senantiasa terbuka kalau kita mau mengetuknya. Masalahnya syaitan senang sekali membisikkan "yaudahlah, Ramadan kemarin ancur, udah ga ada harapan. lanjut aja deh dosanya". Sekali kita nurut si syaitan , bisa-bisa bulan-bulan berikutnya jadi nightmare buat hati kita yang aslinya pengen deket sama Allah. Kita berlindung pada-Nya dari godaan syaitan yang terkutuk.

Satu hal lagi.
Kita sering lupa atau secara tidak sadar meng-underestimate doa.
Kemudahan kita di bulan Ramadan beribadah itu terjadi semata-mata atas izin Allah. Tidak mungkin kita bisa puasa, tarawih, qiyamul lail, membaca Quran tanpa kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita lemah banget kan ya? Dan memang Allah tidak butuh sedikitpun ibadah kita. Kita yang butuh. Karena Dia Yang Menciptakan dan Mengurus kita dari lahir sampai gede kayak sekarang ini. Dia pula yang Maha Tahu apa yang terbersit di hati ini.
So, jangan sombong atau merasa bangga atas apa yang kita capai di Bulan Ramadan. Sekalinya ada rasa bangga, hancurlah sudah amalan-amalan kita. Sebaliknya kita terus berdoa dan berdoa agar kita senantiasa dimudahkan untuk taat, untuk ibadah, untuk bersyukur, dan untuk terus berdzikir pada-Nya. Memohon pada-Nya dari godaan syaitan, cobaan akhir zaman, dan bisikan hawa nafsu yang udah ngga karuan seandainya Allah tidak menolong kita.

Mari bercermin dari para sahabat Rasulullah saw. Mereka merindukan Ramadan teramat sangat dan berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan Ramadan sejak 6 bulan sebelumnya. Dan 6 bulan setelah Ramadan mereka tetap berdoa memohon agar segala amalan Ramadan diterima oleh-Nya. Subhanallah.

***

Akhir kata, kita mohon pada Allah agar diberi umur yang barokah sampai kita bertemu lagi dengan Ramadan 1434 H. Semoga kita tercatat dalam orang-orang yang bertambah ketaqwaannya, dan 11 bukan ke depan ini menjadi bulan penuh barokah, penuh ketaatan dan kecintaan pada-Nya. Aamiin Ya Robbal 'Aalamiin.

Wallahu a'lam bish shawwab.


P.S. di sela doa, semoga kita tidak lupa untuk menyebut saudara-saudara kita di Palestina, Burma, Syria, dan belahan bumi mana pun yang sedang diuji oleh Allah. Titip doa juga untuk si penulis note ini agar dapat mengamalkan apa yang dia tulis. Jazaakumullahu khayr.



Referensi
"Seeking the Pleasure of Allah Outside Ramadan" - Yasmin Mogahed and Sh. Omar Suleiman
(http://olrserenity.podbean.com/2012/08/21/seeking-the-pleasure-of-allah-outside-of-ramadan-w-sh-omar-suleiman/)
"How to keep the spirit of Ramadan going" - Shaykh Abdul Nasir Jangda (http://www.youtube.com/watch?v=FXF9Rzdyu-U&feature=player_embedded)
"Everlasting Ramadan" - Sh. Yasir Qadhi (http://www.youtube.com/watch?v=1pbeP8rm4hc)
"Blessed Guest - Ramadan and the Quran" - Ustadh Nouman Ali Khan
(http://www.youtube.com/watch?v=1ygnuE_Y-dQ)
06.57 | 2 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung