Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” 3 Seri (Lengkap)

Written By Rudianto on Selasa, 22 Januari 2013 | 14.28

Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” merupakan sebuah aplikasi interaktif yang didesain untuk memberikan kemudahan dan pengalaman yang ‘berbeda’ dalam pembelajaran bahasa arab. Aplikasi ini didesain dengan menggunakan teknologi flash dan dijalankan dalam sebuah paket CD.

Secara antarmuka aplikasi ini berbentuk flip page sehingga anda akan merasa membuka lembaran-lembaran sebuah buku yang mengajarkan anda dalam memahami bahasa arab. Cara belajar yang ditawarkan cukup sederhana, lihat pelajarannya dan dengarkan penjelasannya, cukup unik dan tentu saja menarik. Aplikasi “Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL” ini mengadopsi konten dari pelajaran bahasa arab yang di ampu oleh Ustadz Ibnu Sutopo yang merupakan alumnus Ma’had Ilmi’ Yogyakarta dan Teknik Kimia UGM, beliau saat ini aktif sebagai salah satu staff pengajar pada Pondok Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga.

Aplikasi ini diharapkan dapat memperkaya media pengembangan konten-konten Islami dan memberikan suatu pendekatan baru bagaimana mempelajari bahasa arab dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Pelajaran pada Seri 2 Aplikasi Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL ini dimulai pada pelajaran Fi’il Ma’lum dan di akhiri pada pembahasan Marfu’atul Asma (isim-isim yang marfu) bagian khobar inna.

Pelajaran pada Seri 3 Aplikasi Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL ini dimulai pada pelajaran Manshubatul Asma (Isim-isim yang manshub) dan di akhiri pada pembahasan Majrurotul Asma (Isim-isim yang majrur) dan penutup.

Demo Aplikasi

Demo Web

atau mengunduh aplikasi melalui

Download Demo

Untuk melihat demo web tentu saja anda harus memastikan bahwa browser anda mendukung file swf, jika tidak, install terlebih dahulu flashplayer dari link ini,

Download Flash Player

Harga per satu  CD = Rp 25.000,00


Aplikasi Praktis!! Belajar Bahasa Arab Dari NOL

***

Detail dari produk bisa melihat pada Praktis Belajar Bahasa Arab Dari NOL
Jika ingin mendapatkan CD ini melalui NURISFM bisa Hub : Abu Azka (085716863625)
14.28 | 0 komentar

Hati yang Lunak

Written By Rudianto on Senin, 21 Januari 2013 | 21.07

Nabi Muhammad SAW sebagai Dai (mubalig) pertama, dalam sejarahnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepada orang, seperti “ Kamu Kapir, Fasik, Munafik atau Tukang Bid’ah ” .Kepada seseorang.yang non muslim, dipanggilnya dengan lunak , “ Ya ahli Kitab “ ( Hai yang punya kitab suci), “ Ya bani Adam “ ( Hai keturunan Adam), ” (Hai bangsa manusia), dsb..Padahal yang dihadapi, adalah mereka yang terang-terangan menentang Islam. Apalagi kepada sesama muslim. Berbeda sekali yang kita dengarkan dari yang karbitan.

Seluruh ahli dakwah sepakat, bahwa menyampaikan pesan-pesan agama itu, hendaknya lunak, dan menyentuh hati. Definisinya “ Minal qalbi ilal qalbi “ ( Keluar dari hati, menyentuh hati pula)

Dalam Bahasa Arab, hati itu disebut “Qalbu litaqallubih “ (Dinamakan qalbu, karena gampang berubah-ubah ).Sebab itu dalam Tahiyah akhir salat, seorang musalli dianjurkan membaca “ Stabbit qalby ‘ala dinika” (Wahai Tuhan yang dapat mengubah-ubah hati, tetapkanlah hatiku, agar konsisten memegang agamamu ). Artinya, seorang mushalli selalu memohon kepada Allah agar iman itu, jangan sampai berubah-ubah, seperti berubah-ubahnya pengaruh keduniaan.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang mengarahkan betapa perlunya hati dan prilaku itu lunak, terutama seorang Imam ( pemimpin ) dan Da’I. Diantaranya “ Ya Muhammad jika kamu berhati keras niscaya mereka akan lari dari sekelilingmu “.(QS.3 :159). Artinya sebaliknya, jika kamu berhati lunak dalam berdakwah, niscaya mereka akan datang mendekatimu dan mempercayaimu. Hal ini dapat dilihat beberapa metode dakwah yang digariskan Al-Quran, misalnya :

(1) “Berdakwah dengan hikmah dan mau’izhah al-hasanah. ( bijaksana dan pelajaran yang baik) dan jika berdiskusi (dialog) dengan cara yang lebih baik (Ahsan ) (QS.al-Nahl : 125).

(2) “ Aku mengajak kalian ke jalan Allah dengan Basirah (keterangan yang nyata )” . (QS. Yusuf :1O8).

Lebih empati: Menurut Doktor Yusul Al-Qardhawi, kedua ayat tersebut menjelaskan, bahwa dalam mengajak orang berbuat baik, hendaknya dilakukan dengan cara yang rasional dan menyentuh hati (Akal dan qalbu).Itu dimaksudkan, bahwa dalam menerangkan masalah akidah dan muamalah, bukan hanya dengan ancaman meninggalkan yang dilarang, tetapi hendaknya disertai dengan solusi. Sehingga terlihat bahwa kebaikan yang hendak dicapai, sedapat mungkin tidak meninggalkan problema baru. Demikian juga dalam berdialog, bukan dengan cara mencederai perasaan sesama manusia, sekalipun kita sedang sedang bersaingan. Artinya, ayat ini mengandung dua metode.

Pertama : dengan cara yang baik.(Bilhikmah wal mauizhah hasanah).

Kedua : dengan berdikusi dan dialog dengan cara yang lebih baik lagi (hiya ahsan). Mengapa harus demikian ?.

Karena dalam berdiskusi itu biasanya ada persaingan, sehingga sebagian orang condong membiasakan dirinya, ingin menjatuhkan lawan, atau mencederai, sehingga berusaha akan tampil jadi pemenang. dalam berdebat. Sebab itu metode Al-Quran, mengantisipasi jauh sebelumnya. Agar jangan sampai kebiasaan itu disandang juga seorang mubalig yang tujuaannya harus lebih empati.

Maka sebab itu “ Hiya ahsan” berarti ( Hendaknya cara yang lebih baik, dan lebih indah). Hal itu telah dipraktekkan Rasul, sehingga umatnya perlu meneladani. Dan sebagai gambaran bahwa Islam itu betul-betul ajaran yang rahmat, indah dan menawan.

Imam Al-Gazali pernah berkata, baik yang mengajak berbuat baik (Da’i) maupun yang yang diajak berbuat baik (Mad’u) keduanya hendaknya sama-sama berhati lunak. Dan diharapkan lebih lunak lagi, disertai kesabaran. jika yang dihadapi, adalah orang yang doyan berbuat kemungkaran (dosa besar).

Hal tersebut dapat dilihat, bagaimana pesan Tuhan kepada Nabi Musa dan Harun, ketika mengahadapi Fir’aun, yang memaklumkan dirinya Tuhan, kata Tuhan “ Berbicaralah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut” (QS. Thaha 43).

Menurut sahabat nabi Ibnu Mas’ud, “ Perkataan yang disampaikan jika tidak sesuai otak dan sentuhan kalbu manusia, justru akan menimbulkan pitnah dan kontra.

Syekh Muhammad Abduh, lebih transparan dalam tafsirnya bahwa metode Al-Quran surah Al-Nahal 125, yaitu ada 3 golongan :

(1) Terhadap cendikiawan, hendaknya yang disampaikan, dengan cara pemahaman kritis, rasional dan argumentasi yang kuat.

(2) Terhadap yang awam, dengan nasehat yang baik dengan ajaran yang mudah dipahami serta mempunyai solusi.

(3) Terhadap mereka yang bukan dari keduanya, terutama kepada yang non muslim, hendaknya dengan cara yang lebih baik, sehat dan empati.

Akhirnya, berdasarkan Al-Quran, Sunnah dan ahli Dakwah, maka dakwah Islam itu hendaknya disampaikan dengan lunak dan menyentuh hati yang terdalam. Al-Quran sendiri dengan keindahan bahasa, kelunakan nada dan irama, yang spesifik lagu padang pasir, dapat mengubah hati yang keras, menjadi hati yang lunak, seperti yang dialami oleh Umar bin Khattab.
21.07 | 0 komentar

METODE DAKWAH

Written By Rudianto on Minggu, 20 Januari 2013 | 11.51

Sejak Rasulullah saw., dakwah memang ditetapkan sebagai suatu metode yang khas islami dalam penyebaran agama Islam bagi seluruh umat manusia. Kini masyarakat manusia sudah semakin maju dan problematika hidupnya semakin bertambah kompleks, sementara dakwah hams tetap berjalan, terus berlaku, tetap berfungsi dan terus berperan, tetap berlangsung dan terus berkelanjutan melangkah untuk memberikan insentif-insentif bagi tingkah laku manusia, memberikan respons kuratif dan rispek (respect) preventif, dalam rangka menyelamatkan manusia dari degradasi sosial dan kemanusiaan dari penyakit dehumanisme yang semakin berkembang dan sedang menuju krisis identitas, legalitas krisis penetrasi, partisipasi dan krisis distribusi.

Maka metode dakwah berupaya untuk mengadakan pendekatan-pendekatan, agar dakwah bisa mengatasi, sekurang-kurangnya dapat memecahkan problematikanya dengan memberikan jalan keluar yang terbaik. Kalau kita sudah terjun di medan dakwah berhadapan dengan objek dakwah di lapangan, berarti saat itu juga kita akan berhadapan dan dihadapkan kepada masalah metode dakwah. Berhadapan, karena manusia sebagai sasaran memerlukan penerapan metode yang berbeda-beda. Dihadapkan sebab kita benar-benar menghadapi kenyataan objek yang beraneka ragam yang tentu saja menuntut kita untuk menguji efektivitas metode dengan intensitas materi dakwah atau antara teori dan praktik.

Jadi, masalah metode dakwah berkisar pada masalah bagaimana kemampuan juru dakwah menyesuaikan materi dengan situasi dan kondisi sasaran serta tujuan yang hendak dicapai. Di sinilah dibutuhkan keterampilan dan kecakapan juru dakwah serta motivasi yang kuat dalam keiempatan melaksanakan dakwah yang luas.

Metode berasal dari bahasa Yunani methodos, merupakan gabungan dan kata meta = melalui, mengikuti, sesudah dan kata hodos = jalan, arah, cara. Jadi, metode artinya suatu cara yang bisa ditempuh.
Selain metode, ada lagi istilah sistem, yang juga berasal dari bahasa Yunani sistema, artinya: Sekumpulan atau keseluruhan cara yang tersusun secara rapi dan baik, yang bergerak menuju suatu tujuan tertentu.
Ada lagi istilah Tech'nique (teknik) yang artinya: Kemahiran membuat atau melakukan sesuatu yang berkenaan dengan seni.

Ketiga istilah tersebut bisa dibedakan dalam pengertian, tetapi sulit dipisahkan dalam praktik karena ketiga-tiganya mengandung arti yang sama, yakni tatacara yang diorganisasi, untuk mencapai tujuan lebih maksimal dan optimal.

Syiar dakwah yang pertama kali dilaksanakan oleh Rasulullah, seluruhnya merupakan lambang metodologis dakwah yang seclikitnya telah mampu mengubah manusia jahiliyah ke dunia barn Islam. Maka metode dakwah sebagai sarana objektif yang bersumber dari ajaran Allah dan Rasul-Nya itu hams mampu dijalankan dan dapat diterapkan untuk segala tingkatan masyarakat sasaran di segala ruang dan waktu.

Oleh karena itu, metode-metode ini hams terus dikembangkan mengikuti lajunya zaman, dan pesatnya ilmu pengetahuan serta canggihnya teknologi, melalui pendekatan-pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, agar tetap up-to-date, aktual dan rasional. Artinya, dengan metode itu, juru dakwah hams mampu menjabarkan kebenarankebenaran sesuai dengan keperluan, kebutuhan, permintaan dan tuntutan masyarakat sasaran, dengan tetap berpijak di atas acuan yang bersifat standar universal serta rujukan yang tetap autentik dari Rasulullah saw. sebagai manusia sumber yang tetap diakui keabsahan dan validitasnya, maupun kesolidan dan aktualitasnya sepanjang masa. (Al Ahzab: 21).
Metode klasik yang masih tetap up-to-date itu adalah:
1. Metode sembunyi-sembunyi, pendekatan kepada sanak keluarga terdekat, terang-terangan atau dekralatif.
2. Metode bil lisan, bil qolam, bil hal dan bil 'amal.
3. Metode bil hikmah, mau'izlatil hasanah, mujadalah billati hiya ahsan (disebut juga sistem)
Metode:
Tabsyier wat Tandzier
Targhieb wat Tarhieb
Amar ma'ruf nahi mungkar
Ta'awanu alal birri wat taqwa, wala ta'awanu alal itsmi wal 'udwan
Dana 'ala khairin
Tawashau bil haq wash shobr
Tadzkirah
Taghyier Tabligh Di'ayah Fastabiqul khairat, ilal maghfirah wa jannah
Da'a ilallah (yang disebut juga Teknis).

Di dalam metode-metode tersebut sudah tercakup pengertian metode langsung dan tidak langsung. Kemudian, metode, sistem, dan teknik dakwah tersebut masih bisa dikembangkan lagi menjadi beberapa pola dan cara yang sedang berkembang di dalam masyarakat dengan bermacam-macam istilah baik yang tradisional, formal maupun yang ilmiah.
11.51 | 0 komentar

Mendidik Anak Menjadi Saleh

Dalam Bahasa Arab, ‘saleh’ atau aslinya “shalih”, menunjukkan lawan dari kerusakan, yakni selalu ingin berbuat baik dan mendamaikan. Dalam hubungan ini, kota Mekah disebut sebagai kota kesalehan, karena ditempat itu ada Ka’bah yang merupakan tempat, dapat memperbaiki diri dan bertobat ( Maqayis Lughat : 574 ).

Menurut mufasir Al-Jazairi, yang disebut anak saleh ialah “Mereka yang mampu melaksanakan kewajibannya dengan baik. Terhadap Allah SWT dan kepada sesama manusia. Atau anak yang saleh ialah dominan amal baiknya dari amal jeleknya”( Juz II : 5O4).

Dari pengertian tersebut dipahami, anak saleh itu ialah anak yang taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan taat kepada kedua orangtuanya serta berprilaku baik kepada sesama manusia dan lingkungannya (termasuk negaranya).Atau anak saleh ialah anak yang selalu siap mendamaikan, memperbaiki yang jelek serta mempunyai keterampilan yang berguna kepada masyarakat. Bukan dimonopoli hanya orang yang kuat ke mesjid dan banyak membaca tasbih, seperti pengertian klasik.

Dalam Alquran:
Dalam Alquran terdapat 29 ayat yang memberi gambaran, betapa pentingnya kesalehan itu diorbitkan, doa-doa yang mendukung untuk dimunajatkan orang tua kepada Allah, agar anaknya menjadi anak yang saleh. Diantaranya :

(l) “Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak ... Jika mereka miskin, Allah akan memberi kurniaNya. (QS.24:32).

(2) “ …Kami tuliskan dalam Lauh (Mahfudz), bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh” (QS.2l:lO5).

(3) “(Ya Allah) Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh” (QS.l2:lOl).

Dari tiga ayat tersebut dipahami, bahwa dalam rangka pembinaan manusia saleh, maka jenjang pertama adalah membangun dasar-dasar perkawinan yakni dengan membentuk keluarga bahagia. Dengan memilih pasangan hidup yang mukmin dan saleh (Taat menjalankan agama), erta melihat keturunannya agar dapat memperoleh hasilnya karena menggunakan bibit unggul.

Kemudian pada ayat kedua, digambarkan pentingnya pembinaan keluarga, harus didukung kemampuan ilmu dan keterampilan, dalam kapasitas manusia sebagai pewaris dari hamba-hamba Allah yang terpilih dan mampu menggali, mengolah dan memberdayakan sumberdaya alam dan memeliharanya. Artinya, kesalehan itu bukanlah mereka yang suka membuat kerusakan di dunia, atau yang mencari keuntungan pribadi, sekalipun harus mengorbankan ekosisten bumi.

Kemudian pada ayat ketiga, dianjurkan perlunya lahir anak-anak saleh dengan selalu berdoa kepada Allah, agar dikurniai keturunan muslim yang saleh, yang dapat memakmurkan bumi.
Konsepsi pembinaan manusia menjadi saleh menurut Alquran dapat diciptakan yang esensinya, dengan mengikuti nasehat-nasehat Lukman al- Hakim kepada anaknya, yang diabadikan Alquran, yaitu:

(l) Janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, karena sesungguhnya mempersekutukan Allah benar-benar kezaliman yang besar.

(2) Bersyukurlah kepada Allah dan berterima kasihlah kepada kedua orangtuamu.

(3) Jika orangtuamu memaksamu menjadi musyrik, janganlah ditaati (tetapi), tetap berbuat baik kepada keduanya di dunia.

(4) Ingatlah, sekecil apapun perbuatan yang kamu lakukan, Allah akan membalasnya.

(5) Dirikanlah salat, berbuatlah yang makruf dan cegahlah perbuatan mungkar.

(6)Janganlah kamu bersombong, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong.

(7)Berjalannlah dengan langkah sederhana dan lunakanlah suaramu. (QS.3l:l3-l9)

Ketujuh ayat tersebut, titik beratnya ada 3. Pertama, akidah harus diperkuat, jangan sampai rusak lantaran harta atau pangkat atau pengaruh pemurtadan budaya barat. Hendaknya diyakini bahwa Tuhanlah pemberi rezeki dan mensyukur pemberiannya. Kedua, hendaknya meyakini, kejahatan dan korupsi sekecil apapun akan mendapat balasan di dunia dan akhirat. Ketiga, harus banyak beribadah, berbuat baik dan mencegah kemungkaran.

Didalam hadis :
Pembentukan anak saleh dijabarkan melalui hadis, diantaranya:

(l) Rasulullah mengazan telinga cucunya Hasan, ketika lahir (HR.A. Dawud ).

(2) “Perintahkanlah anak-anakmu melakukan salat di usia 7 tahun… “(HR.Muslim)

(3) Berilah anakmu nama yang baik , makanan yang halal, pisahlah dari tempat tidurnya dan kawinkanlah setelah dewasa (HR.Annasai).

Khalifah Umar memerintahkan kepada Gubernur, “ Ajarlah anak-anakmu berenang, berpanah dan menunggang kuda “( termasuk keterampilan ), seperti menjadi sopir, penulis, ahli komputer).

Imam Al-Gazali melengkapi bahwa hakikat mendidik anak saleh, agar anak tidak diberi makanan yang syubhat apalagi haram, baik zatnya atau cara memperolehnya. Sebab semua bibit yang kotor ( misalnya hasil korupsi ), hasilnya pasti kotor pula.

Akhirnya, kaifiat Alquran mendidik anak saleh, dimulai tauhid yang kuat, hanya Allah yang disembah, lalu latihan ibadah, keterampilan dan akhlak, kemudian memberi makanan halal serta selalu mendoakan setiap selesai salat

10.09 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung