Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan. Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan menghubungi Admin (Abu Azka). Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^

Nilai Kejujuran

Written By Rudianto on Sabtu, 19 Februari 2011 | 17.10

Segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan-Nya kepada junjungan kita, baginda Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beserta ahlul bait-nya, para shahabat Salaffus Shalih, para tabi'in, tabi'ut tabi'in serta seluruh umat Islam yang setia dan menegakkan ajaran-risalah beliau hingga akhir zaman.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Berikut ini beberapa renungan seputar kejujuran, kami memandang penting untuk disampaikan agar ia menjadi jalan hidup orang-orang yang jujur dan perilaku orang-orang beriman. Betapa butuhnya kita untuk merenungkan aib diri kita, serta kekurangan kita dalam hal kejujuran ini. Sisi kejujuran yang begitu penting telah menjadi fenomena kelemahan manusia di masa ini, sehingga telah tersebar di kalangan mereka lawan dari sikap jujur (dusta). Maka saya (penulis) dengan rasa senang hati menyusun tulisan ini -atas izin Allah - agar menjadi bahan renungan untuk kita semua.

Alangkah bagusnya ungkapan yang menggambarkan tentang kejujuran, sebagaimana bait berikut:

Kejujuran adalah satu keharusan atasmu
Walaupun dirimu terbakar oleh panasnya janji
Carilah olehmu keridhaan al-Maula
Celakalah orang yang membuat murka Allah
dan mencari ridho manusia


Renungan Pertama
(Tentang Definisi)
Kejujuran adalah lawan dari dusta dan ia memiliki arti kecocokan sesuatu sebagaimana dengan fakta. Di antaranya yaitu kata "rajulun shaduq (sangat jujur)", yang lebih mendalam maknanya daripada shadiq (jujur).
Al-mushaddiq yakni orang yang membenarkan setiap ucapanmu, sedang ash-shiddiq ialah orang yang terus menerus membenar-kan ucapan orang, dan bisa juga orang yang selalu membuktikan ucapannya dengan perbuatan.
Di dalam al-Qur'an disebutkan (tentang ibu Nabi Isa), "Dan ibunya adalah seorang”shiddiqah." (Al-Maidah: 75). Maksudnya ialah orang yang selalu berbuat jujur. (Lisanul Arab 10/193-194)
Kejujuran merupakan simbol Islam dan neraca keimanan, pondasi agama, dan menjadi tanda kesempurnaan orang yang memiliki sifat ini. Ia menempati kedudukan yang tinggi di dalam agama dan dalam urusan dunia. Dengan kejujuran akan terpilah orang yang beriman dan orang munafik, terpilih penghuni surga dari penduduk neraka. Dengannya seorang hamba akan dapat meraih kedudukan al-Abrar (orang baik), dan dengannya akan men-dapatkan keselamatan dari api neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disifati dengan "ash-shadiqul amin" (jujur dan terpercaya) , dan sifat ini telah diketahui oleh orang Quraisy sebelum beliau diutus menjadi rasul.
Demikian pula Nabi Yusuf ’alaihis salam juga disifati dengannya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ
(Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru),"Yusuf, hai orang yang amat dipercaya." (QS.Yusuf:46)
Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga mendapatkan julukan ini (ash-shiddiq).
Ini semua menunjukkan hawa kejujuran merupakan salah satu perilaku kehidupan terpenting para rasul dan pengikut mereka.
Dan kedudukan tertinggi sifat jujur adalah "ash-shiddiqiyah" Yakni tunduk terhadap rasul secara utuh (lahir batin) dan diiringi keikhlasan secara sempurna kepada Pengutus-Nya (Allah subhanahu wata’ala).
Imam Ibnu Katsir berkata, "Jujur merupakan karakter yang sangat terpuji, oleh karena itu sebagian besar shahabat tidak pernah coba-coba melakukan kedustaan baik pada masa jahiliyah maupun setelah masuk Islam".
Kejujuran merupakan ciri keimanan, sebagaimana pula dusta adalah ciri kemunafikan, maka barang siapa jujur dia akan beruntung. (Tafsir Ibnu Katsir 3/643)
Renungan ke Dua
(Al-Qur'an dan Kejujuran)

Al-Qur'an menyebutkan sifat jujur dalam banyak ayat serta menganjurkan kepada kejujuran, dan bahwa ia merupakan buah dari ikhlas dan takwa.

Di antara ayat-ayat tersebut adalah:

1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَكُونُواْ مَعَ الصَّادِقِينَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119)
Maksudnya ialah; "Jadilah kalian semua bersama dengan orang-orang yang jujur dalam ucapan mereka, dalam perbuatan dan segala keadaan mereka. Mereka adalah orang-orang yang yang ucapannya jujur, perbuatannya dan keadaannya tiada lain kecuali kejujuran semata, bebas dari kemalasan, kebosanan, selamat dari tujuan-tujuan yang buruk, dan selalu memuat keikhlasan dan niat yang baik. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 355)

2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

يَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ
"Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya." (QS. al-Ahzab:24)
Yakni mereka memperoleh semua itu dengan sebab kejujuran mereka dalam ucapan, keadaan dan interaksi mereka dengan Allah subhanahu wata’ala, serta kesesuaian mereka antara lahir dengan batinnya.( Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)
3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

قَالَ اللّهُ هَذَا يَوْمُ يَنفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ
"Allah berfirman, "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka." (QS. al-Maidah [5]:119)
Kejujuran mereka ketika di dunia akan memberikan manfaat kepada mereka di hari Kiamat. Dan tidak ada sesuatu yang bermanfaat bagi seorang hamba pada hari Kiamat serta tidak ada yang menyelamatkannya dari adzab Allah kecuali kejujuran.
4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

الَّذِينَ آمَنُواْ أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِندَ رَبِّهِمْ
"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka." (QS.Yunus [10]:2)
Maksudnya yaitu keimanan yang benar (jujur), bahwasannya mereka kelak akan mendapatkan "qadama shidqin" yakni balasan yang tak terhingga, pahala yang amat banyak di sisi Rabb mereka dengan sebab apa yang dulu pernah mereka lakukan berupa amal shalih dan kebenaran (jujur). (Tafsir Ibnu Sa’di hal 661)
Ibnu Abbas z berkata, "Qadama shiqin" maknanya adalah rumah kejujuran (di surga, red)," dan diriwayatkan darinya juga, "Pahala yang baik karena perbuatan mereka dahulu (di dunia) yang baik." (Al-Jami’ Liahkamil Qur’an 8/306)

5. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
"Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar [39]:33)
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, "Kejujuran saja belum cukup bagimu, bahkan merupakan keharusan untuk membenarkan (mempercayai) orang-orang yang jujur. Amat banyak manusia yang jujur namun dia menolak untuk membenarkan (mempercayai) orang lain yang jujur, entah karena sombong atau karena hasad atau selain keduanya." (Madarij as-Salikin 1/306)

6. Allah subhanahu wata’ala menyifati Diri-Nya dengan kejujuran dan kebenaran, sebagaimana firman-Nya;

قُلْ صَدَقَ اللّهُ فَاتَّبِعُواْ
"Katakanlah, "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah".
(QS. Ali Imran[3]:95).

Dan juga firman-Nya,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ حَدِيثاً
"Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah."
(QS. An-Nisa' [4]:87)

7. Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang:


"qadama shidqin", "lisana shidiqin", "maq'ada shidqin" dan juga "mudkhala/mukhraja shidqin".

Penjelasannya adalah sebagai berikut;

1. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُواْ أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِندَ رَبِّهِمْ
"Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi (qadama shidqin) di sisi Rabb mereka".
(QS.Yunus [10]:2)

Ibnu Abbas berkata radhiyallahu ‘anhu (sebagai-mana tersebut di atas), "Makna qadama shidqin ialah rumah kejujuran, disebabkan oleh perbuatan mereka yang telah lalu (di dunia)."

2. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

وَوَهَبْنَا لَهُم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيّاً
"Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi (lisana shidqin)."
(QS. Maryam [19]:50)

Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas i]radhiyallahu ‘anhu, bahwa makna firman Allah "lisana shidqin" adalah pujian-pujian yang baik.

3. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍفِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi (maq'adi shidqin) di sisi (Rabb) Yang Maha Berkuasa.”
(QS. Al-Qamar [54]:54-55)

Makna "maq'adi shidqin" yaitu majlis (tempat duduk) yang haq yang tidak ada kesia-siaan dan ucapan kotor di dalamnya yakni surga. (Al-Jami’liahkam Al-Qur’an 17/150)

4. Firman Allah subhanahu wata’ala artinya,

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ
Dan katakanlah: "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar"
(QS. Al-Israa' [17]: 80)
Artinya adalah "Jadikan permulaan (mulai) dan pengakhiran (selesai) dari segala sesuatu adalah dalam rangka ketaatan kepada-Mu, dan dalam keridhaan-Mu." Ini disebabkan karena memuat keikhlasan dan kesesuaian dengan apa yang diperintahkan. (Tafsir Ibnu Sa’di hal 465)
Imam Ibnul Qayyim berkata, "Kelima macam ini (yang tersebut di atas, red) merupakan hakikat kejujuran, yaitu kebenaran yang berkesinambungan, terhubung dengan Allah subhanahu wata’ala dan sampai kepada-Nya, yaitu segala sesuatu yang sesuai dengan perintah Allah dan dilakukan karena-Nya berupa ucapan dan perbuatan.”
Maka balasan dari semua itu di dunia dan di akhirat adalah (taufik untuk) masuk (mulai) perbuatan dengan benar dan keluar (selesai) darinya dengan benar, yaitu dari awal hingga akhirnya adalah haq, eksist, dan dengan petunjuk Allah serta dalam rangka mencari keridhaan-Nya. (Madarij as-Salikin 2/270). Wallahu a'lam.

Sumber: Majalah “Al Jundi Al Muslim” No.121 Ramadhan 1420, oleh Syaikh Sulthan Fuad Al-Thubaisyi. bagian ke 1 dari 4 edisi.
17.10 | 0 komentar

Disini Kita Musafir Perjalanan

Written By Rudianto on Jumat, 18 Februari 2011 | 21.18

Perjalanan ini berupa kehidupan yang tidak kita ketahui kapan akan berakhir. Kita adalah seorang anak manusia yang terbentuk dari setetes air mani dan tumbuh menjadi manusia dewasa. Betapa cepatnya waktu yang berjalan tanpa disadari telah kita tinggalkan masa-masa bermain dan masa-masa remaja, ingin rasanya hidup ditengah cerianya anak-anak yang bermain, ingin rasanya menikmati keadaan itu yang sungguh terasa tanpa beban, tertawa bersama teman-teman, hangat dalam dekapan orang tua, dan masih banyak yang sulit untuk diungkapkan. Sungguh kehilangan salah satu episode yang merupakan bagian kehidupan, dan pasti akan kita dapati episode kehidupan berikutnya yang belum diketahui keadaannya.

Jika menilik pada diri sendiri maka ada perubahan yang berbeda dari sebelumnya, apalagi kalau bukan perubahan tubuh dan perubahan pemikiran. Kagetkah kita saat bercermin ternyata muka anak-anak yang ceria kini menjadi muka orang dewasa, kagetkah saat kita menatap badan kita yang ternyata sudah dianggap sebagap orang dewasa? “ Engkau kan sudah dewasa jadi bisa mengambil keputusan atau pilihan tersendiri” itulah mungkin salah satu kata yang terucap oleh orang tua, teman, atau saudara. Ya, dewasa apa maknanya, perubahan pola pikir menjadi seorang yang mampu membuat suatu keputusan bijak atau mampu hidup tanpa tergantung pada orang lain mungkin salah satu maknanya. Merasa dewasa tentu maknanya berbeda dengan berfikir dan bertindak dewasa, karena banyak orang merasa mampu berbuat dan ternyata tidak mampu saat menghadapi masalah. Kita tentu paham bahwa dewasa bukan berarti fisik seperti orang dewasa, karena betapa banyak seseorang yang dewasa secara fisik tetapi berfikir seperti anak kecil.

Sangat penting bagi kita untuk mulai belajar dan berbuat dari sekarang agar kita bisa menangani berbagai macam problema kehidupan. Ilmu yang terpenting dari segalanya adalah ilmu Dien atau ilmu agama, yang hukumnya wajib bagi kaum muslimin tanpa memandang usia, kedudukan atau status social. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan sebagai seorang muslim padahal masalah wudlu saja tidak tahu, masalah sholat tidak paham, lalu bagaimana ia dikatakan seorang yang dewasa sedangkan dasar agama saja tidak tahu. Oleh karena itu bentuk kedewasaan sesungguhnya ialah seseorang semakin paham tentang keadaan dirinya untuk apa dia hidup yang kemudian mati tidak lain satu tujuan suci dan paling utama dari harta dunia dan seisinya yaitu beribadah kepada Allah SWT. Menilik silih bergantinya manusia yang mendiami bumi tentu kita sadar bahwa kita tak selamanya hidup di dunia ini, hal ini sangat penting untuk disadari bahwa salah satu poin penting adalah kita niat hidup ini untuk beribadah penuh kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan hidup selamat dunia akhirat.
21.18 | 0 komentar

Siapakah orang miskin?

Written By Rudianto on Kamis, 17 Februari 2011 | 05.05

Waktu dalam perjalanan dapat kita lihat banyak orang meminta-minta di jalan baik anak-anak, orang dewasa, sampai orang yang tua renta. Fenomena zaman sekarang banyak orang yang telah terasuki paham materialisme yang mengakibatkan tertindasnya salah satu pihak. Bagaimana tidak saat orang kaya berlomba-lomba di shaf terdepan dalam merauk harta sebanyak-banyaknya, orang yang lemah semakin tertindas karena sulitnya mencari kerja. Apalagi semakin bobroknya keadaan ekonomi Negara kita yang semakin menambah beban orang lemah.

Jika seandainya melihat orang miskin dan kita pikirkan, memang malang nasib mereka, sudahlah perut kelaparan, badan dingin karena tidak ada pakaian yang membalut tubuh mereka, gigi menggigil karena tidak ada yang di minum untuk menghangatkan badan, kemudian dia datang kepada kita kemudian tega-teganya kita ucapkan kata-kata pedih kepada mereka, siksaan yang luar biasa. Perut lapar, badan telanjang , hati pedih luka bukankah itu yang disebut Allah SWT “ Kami akan coba kalian sedikit saja dari rasa lapar, rasa takut, dan sedikit kekurangan harta” kalau seandainya manusia yang hidup berkecukupan tidak akan merasakannya, orang miskin merasakannya setiap harinya. Dalam keadaan seperti itu masih juga banyak orang yang memaki atau dengan ucapan yang tidak layak. Oleh karena itu berulang-ulang dalam Al qur’an disebutkan agar jangan menyakiti hati orang miskin, hati mereka sensitive seperti hati orang tua. Sekalipun mereka papa tetapi mereka masih memiliki jiwa, masih memiliki malu, kalau dia datang kepada kita dan kita katakan tidak! merona wajah mereka. Hendaklah kita ucapkan dengan kata-kata yang baik “Insya Allah” tetapi bukan dengan janji-janji palsu dan ini sangat luar biasa dalam kehidupan ini. Manusia sering ketika dalam masalah harta sebelum dapat dia sering mengumbar janji, namun saat mendapatkan harta dia pegang erat itu harta.

Di sisi lain pejabat-pejabat kaya semakin menjadi-jadi dalam menumpuk harta mereka. Dengan segala jalan tanpa memandang halal haramnya itu harta, mereka merasakan kemiskinan yang sebenarnya dan selalu kekurangan di tengah-tengah tumpukan emas,banyaknya mobil mewah, rumah mewah, rekening bank yang banyak, namun dengan keadaan itu tidak sanggup memenuhi kebutuhannya yang dia anggap kurang dan terus berkurang. Keadaan mereka seperti orang yang meminum air laut yang tidak akan pernah mengobati rasa hausnya, jadilah orang itu hidup dalam kegelisahan dan serba kekurangan.

Lalu siapakah orang kaya, siapakah orang misikin?

Jangan menahan-nahan sedekah

Dari Abu Umamah r.a., katanya Rasulullah SAW bersabda: "Hai, anak Adam! Sesungguhnya jika engkau sedekahkan kelebihan hartamu, akan lebih baik bagimu daripada jika engkau tahan-tahan (simpan), yang malah akan berbahaya bagimu. Dan engkau tidak akan dicela jika menyimpan sekedar untuk keperluan. Dahulukan memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang di bawah." HR.Muslim No.994.

Jangan meminta-minta.
Dari Mu'awiyah r.a.katanya: "Hindarilah hadis hadis palsu, kecuali hadis-hadis pada masa Umar bin Khaththab. Sesungguhnya Umar sangat ditakuti orang mengenai hukum-hukum Allah, apalagi mengenai hadis-hadis palsu, karena tindakannya tegas. Aku mendengar Rasulullah SAW., bersabda: "Siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberi-Nya orang itu pengetahuan yang dalam tentang agama." Dan aku mendengar pula Rasulullah SAW bersabda: "Aku ini adalah seorang bendahara. Maka siapa yang kuberi (sedekah) dan diterimanya dengan hati bersih, maka dia akan memperoleh berkah dari harta itu. Tetapi siapa yang kuberi karena meminta-minta dan rakus, maka dia seperti orang makan yang tak pernah kenyang." HR.Muslim No.995

Dari Mu'awiyah r.a., katanya: 'Rasulullah SAW bersabda': "Janganlah kamu nyinyir meminta-minta. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang meminta kepadaku, yang tidak kupenuhi permintaannya. Tetapi, seorang yang kuberi dengan hati enggan, maka pemberianku itu tidak berkat baginya. Yang memberi pada hakikatnya ialah Allah SWT." HR.Muslim
996.

Tahukah Anda siapa orang miskin itu? Perhatikan Hadits Shahih dibawah
ini:
Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah SAW bersabda: "Yang dinamakan orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta keapada orang banyak, lalu peminta-minta itu diberi orang sesuap dua suap, atau sebutir dua butir kurma." Tanya para sahabat, "Kalau begitu, siapakah yang dinamakan orang miskin itu ya Rasulullah?" Jawab beliau, "Orang miskin sesungguhnya ialah orang yang tidak memiliki apa-apa untuk menutup kebutuhannya, namun keadaannya itu tidak diketahui orang supaya orang bersedekah kepadanya, dan tidak pula dia meminta-minta kesana-sini." HR.Muslim 998.

Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah SAW bersabda: "Yang disebut orang miskin itu bukanlah orang peminta-minta yang diberi orang satu atau dua biji kurma, atau sesuap dua suap makanan. Tetapi orang miskin sesungguhnya, ialah orang yang tahu menjaga diri (dari meminta-minta). Jika kamu mau, bacalah firman Allah SWT: "(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui." Qs.Al Baqarah (2): 273 HR.Muslim No.999

Allahu a'lam bis shawab, sekian dahulu. Semoga bermanfaat bagi yang membaca dan mengamalkannya. Alhamdulillahirabbil'alamiin.
05.05 | 0 komentar

Berhenti Sejnak

Written By Rudianto on Rabu, 16 Februari 2011 | 01.29

Sejenak kita melepas dari penatnya keadaan aktivitas kehidupan kita untuk melihat kembali perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan. Orang yang memiliki mata hati tentu akan mengikat janji terhadap dirinya sendiri, seperti pedagang yang beker jasama dengan seorang mitra kerja , yang harus melaporkan pembukuannya setiap bulan atau setiap tahun. Melakukan instropeksi bisa kita lakukan kapan pun dan segera tanpa menunggu hari yang kita anggap tepat, muhasabah banyak sekali tahapannya, diantaranya dapat dengan melakukan;

Pertama kita secara jujur mengakui apa yang diperbuat dan tidak perlu malu untuk mengakui kesalahan. Kesalahan ini bisa kita indikasikan dengan mengingat perbuatan buruk kita kepada orang tua, teman, atau saudara, kemudian dapat kita ketahui dengan kritik atau teguran yang disampaikan kepada kita terhadap perbuatan buruk kita, dan dapat melalui teman atau guru yang dengan jujur member i nasehat tentang kelemahan-kelemahan kita. Dalam membentuk kepribadian setelah kita berpemahaman agama dengan benar tentu akan adanya perubahan akhlak pada kepribadian. Kalaulah kita melihat kelemahan diri kita tentu sangat banyak dan kita tidak memikirkan kelemahan orang lain, ketika melihat orang lain tidak membaca buku atau al-qur’an setelah melihat diri kita ternyata keadaan kita lebih malas dalam membaca. Kalaulah kita jujur berapa kali kita membaca buku maupun al-qur’an setiap harinya, tentunya fakta membuktikan dalam sehari saja kita malas untuk membaca.

Kedua adalah tekad atau kesungguhan untuk berubah karena yang namanya muhasabah tanpa diiringi tekad maka tidak ada manfaatnya. Orang yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok jika tidak ada I’tikad yang kuat akan sangat sulit meninggalkannya, mungkin satu atau dua hari masih bisa tetapi karena azzam yang lemah bisa jadi satu atau dua minggu malah mencoba lagi dan akahirnya kembali ke kebiasaannya tersebut.

Ketiga menghukum diri sendiri atas kelalaian, menginstropeksi diri sendiri dan melihat adanya kelalaian padanya atau dia telah melakukan suatu kesalahan, maka kita tidak boleh meremehkannya. Karena dalam keadaan ini terlalu mudah untuk melakukan keburukan-keburukan dan sulit untuk meninggalkannya. Sehingga menghukum diri sendiri atas kesalahan tentu sangat diperlukan, hukuman kepada diri sendiri dapat kita arahkan kepada hal-hal yang positif seperti berpuasa sunnah, wajib membaca al-qur’an setiap hari kita target satu juz misalnya. Tentunya kita harus berani dalam bertindak terhadap diri sendiri, dan jenis hukuman tentunya harus membuat kita lebih baik kedepannya.
01.29 | 0 komentar
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahu. (QS. Al-Baqarah:261)

DONASI

TEBAR DAKWAH FILM ISLAM

Teknik Support Streaming

DJ ONLINE

IP

Visitor

free counters

TAFSIR IBNU KATSIR

NURIS TV

AGENDA TV

STREAMING RADIO RUQO FM

STREAMING RADIO RUQO FM
Radio Dakwah Ruqyah Syariyyah

RUQO FM

Server Luar Negeri

Dengarkan Nurisfm Disini

Total Tayangan Halaman

Pengunjung